Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.
Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.
Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Langkah kaki terdengar beriringan saat keluar dari kamar satu demi satu. Tak ada yang berani berlari, meski ketakutan masih membayangi. Begitu melewati undakan tangga, atmosfer udara terasa berubah; tak lagi sedingin dan semencekam beberapa saat lalu. Setibanya di lantai satu, Bu Mimi bergegas mengunci pintu depan tiga kali putaran. Dengan jemari sedikit gemetar, ia kembali menempelkan selembar kertas kecil bertuliskan BISMILLAH di atas kusen pintu.
Ayo," bisik Bu Mimi, suaranya nyaris teredam angin pagi. "Kita harus sampai ke panti secepat mungkin."
Jalanan pagi mulai ramai. Tukang sayur sibuk menawarkan sayurannya, dan gerombolan anak sekolah berpakaian putih-abu-abu tampak berjalan santai. Tapi, isi kepala kelima orang ini berada di dunia yang berbeda, memikirkan hal ganjil yang baru saja melintasi nalar mereka. Tiap kali tertahan di lampu merah, Tio tak bisa menahan diri untuk melirik kaca spion, menengok ke belakang dengan cemas. Tiap ada raungan motor yang lewat terlalu dekat, Serra spontan mencengkeram jaket Wulan.
Sedangkan Anya bersandar lemas pada punggung Bu Mimi. Matanya terpejam rapat. Ia tidak sedang tidur, melainkan sibuk merapalkan Ayat Kursi berulang kali dalam hati, menjadikannya perisai tak kasat mata.
Begitu masuk ke gang panti asuhan. Cat dinding bangunan sudah memudar di beberapa sudut, berpadu dengan pagar besi yan mulai berkarat.
Namun, suasananya terasa bertolak belakang dengan kosan mereka. Halamannya riuh oleh tawa anak-anak. Mereka sedang asyik menendang bola plastik. Seorang ibu pengasuh bernama Bu Lilis langsung berjalan mendekat begitu menyadari kedatangan mereka.
"Bu Mimi! kenapa datang lagi? Apa ada barang yang ketinggalan?" tanya Bu Lilis heran.
Bu Mimi memaksakan seulas senyum di bibirnya yang pucat. "Mau menengok Bibah, Bu. Anak yang tadi subuh menerima sisir."
Raut wajah Bu Lilis seketika berubah agak heran. "Oh... Bibah? Dia sedang ada di ayunan belakang."
Mereka berlima bergegas melangkah menuju halaman belakang. Di sana, sebuah ayunan dari ban bekas tampak bergerak maju mundur. Di atasnya, seorang anak perempuan berusia tujuh tahun berambut pendek dengan pita kuning di kepalanya sedang tertawa riang, berayun tinggi-tinggi ditemani dua orang temannya.
Pemandangan itu justru membuat jantung Anya seolah terlepas dari tempatnya. Dari balik saku gaun katun yang dikenakan Bibah, menyembul ujung sebuah sisir plastik berwarna merah muda. Sisir yang patah.
"Bibah," panggil Bu Mimi pelan.
Bibah mengerem ayunannya dengan tumit. Ia melompat turun dari ban, lalu berlari riang menghampiri mereka. "Bu Mimi!" Mata kecilnya kemudian bergeser menatap Anya. Senyumnya merekah lebar. "Kak Anya!"
Anya jongkok di hadapan anak itu. Tangannya gemetar hebat saat terulur hendak menyentuh pipi Bibah. "Sayang... bagaimana kabarmu?"
Bibah tertawa polos, matanya berbinar bersih tanpa dosa. "Alhamdulillah baik, Kak. Tadi aku ketemu Kakak yang cantik banget!"
Gerakan tangan mendadak kaku, saat ia ingin menyentuh pipi bibah."Kakak... siapa, Sayang?" Anya mati-matian menahan suaranya agar tidak terdengar bergetar.
Bibah memajukan wajahnya, berbisik pelan seolah sedang membagikan sebuah rahasia besar. "Ada Kakak cantik. Rambutnya paaaanjang sekali, baunya wangi bunga melati." Anak itu tertawa kecil, geli. "Terus, dia menyisir rambutku pakai sisir ini."
Bibah merogoh sakunya, mengeluarkan patahan sisir pink yang ujungnya ternyata masih basah. Di belakang Anya, Serra spontan membekap mulutnya sendiri demi menahan jeritan. Wulan meremas jemari Tari begitu kencang, sementara Tio langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman dengan was-was, seolah takut ada sepasang mata gaib yang sedang menguping pembicaraan mereka.
Bu Mimi ikut berjongkok, menyamakan tinggi badannya dengan Bibah. Ia memaksakan wajahnya tetap tenang, meski guratan cemas tak bisa Ia sembunyikan. "Lalu... Kakak cantik itu bilang apa lagi padamu?"
Bibah mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari kecilnya. berpikir sejenak. "Katanya...titip salam untuk Kak Anya." Bibah menoleh kembali ke arah Anya, tersenyum riang. "Bilang ke Kak Anya, nanti malam jam dua belas kita main petak umpet, ya? Yang kalah... harus sembunyi di kamar mandi lantai dua."
Deg.
Dunia Anya seakan berhenti berputar. Hawa dingin menjalar dari telapak kakinya. Bu Lilis yang berdiri mematung di belakang mereka langsung mengernyitkan dahi. "Lho? Main apa? Kok malam-malam?"
Bu Mimi dengan sigap langsung berdiri, menyentak lengan Anya agar ikut bangkit. "Gak apa-apa, Bu Lilis. Anak-anak kan memang suka mengarang cerita," kilah Bu Mimi cepat.
Namun, Anya bisa merasakan telapak tangan Bu Mimi terasa sedingin es, cengkeramannya pada lengannya begitu kuat. Tiba-tiba, ponsel di saku celana Anya bergetar.
Drrrt... Drrrt...
Suara getaran itu terdengar begitu jelas di tengah keheningan yang tegang. Dengan ujung jari yang basah oleh keringat dingin, Anya merogoh sakunya dan mengeluarkan benda pipih itu secara perlahan.
Satu pesan masuk. Dari kontak bertuliskan: Ibu 💗
"Nak, bagaimana kabarmu? Kamu baik-baik saja di sana?"
Pertahanan yang Anya bangun sejak tadi, runtuh seketika. Air matanya menetes di pipinya."Ibu..." bisiknya dengan suara pecah.
Serra yang tak tega melihatnya, langsung maju. Ia mengusap air mata Anya menggunakan ibu jarinya. "Itu benar-benar ibumu, Nya. Balas, Nya."
Dengan jemari yang gemetar. Anya mengetik balasan di layarnya yang buram oleh air mata.
"Ibu... aku kangen. Aku baik-baik saja di sini. Ibu jangan khawatir, ya."
Belum sempat Anya memasukkan kembali ponselnya, sebuah notifikasi baru langsung masuk kembali.
Ibu 💗: "Alhamdulillah. Soalnya tadi malam Ibu mimpi buruk. Ibu mimpi kamu menangis di dalam kamar mandi, lalu ada suara yang memanggil-manggil namamu terus. Ibu langsung bangun dan cemas sekali. Kau benar gak apa-apa, Nak?"
Anya membekap mulutnya sendiri. Isakan kecil yang menyakitkan lolos dari bibirnya. Melihat hal itu, Bu Mimi langsung menarik tubuh ringkih Anya ke dalam pelukannya, mendekapnya erat-erat. "Nak... sudah, Nak. Nangis aja, gak apa-apa. Tumpahkan semua..."
Wulan dan Tari yang berdiri di dekat mereka tak sanggup menahan air mata. Mereka ikut terisak pelan. Sementara Tio memilih memalingkan wajah ke arah lain, pura-pura mengusap matanya yang mendadak perih.
Bu Mimi berbisik lembut tepat di telinga Anya, "Allah sedang memberi petunjuk kepada ibumu, Nak. Doa seorang ibu itu menembus langit. Makanya kita harus kuat, biar ibumu di rumah tidak ikut menanggung beban ini."
Anya mengangguk pelan dalam dekapan hangat Bu Mimi. Sambil terus terisak, ia memaksakan diri mengetik pesan terakhir.
Anya: "Aku cuma kecapekan, Bu. Banyak tugas kuliah. Nanti hari Minggu aku pulang ke rumah, ya. Ibu doakan aku terus. Titip salam untuk Bapak, Kak Revi, dan Kak Aryan ya, Bu."
Balasan dari seberang sana masuk dengan sangat cepat, seolah sang ibunya memang sedang menggenggam ponselnya sejak tadi.
Ibu 💗: "Iya, Sayang. Nanti Ibu sampaikan ke Bapak dan kakak-kakakmu. Ibu setiap habis salat tidak pernah absen menyebut namamu. Jaga diri baik-baik di sana, jangan begadang, dan jangan sampai telat makan."
Setitik senyuman muncul di bibir Anya yang bergetar di sela tangisnya. Ia mengetik kalimat penutup.
Anya: "Iya, Bu. Love you."
Ibu 💗: "Love you too, Nak. Jangan tinggalkan salatnya."
atau Anya kerja sambil kuliah thor?