"Hentikan, Jose!"
"Kau akan menyesal!" ucap Eva merintih kesakitan.
Jose tak menggubrisnya sama sekali. Bahkan ia dengan tega meminta pengawalnya untuk memukul Eva lebih keras.
"Jangan bersandiwara, Eva. Kau telah menyakiti Luna."
Mata Eva membelalak, Eva tak menyangka disaat seperti ini suaminya masih membela gadis yang telah memfitnahnya.
"Kau salah, Jose. Aku tak pernah menyentuh Luna. Apa lagi menyakitinya," balas Eva.
"Cukup, Eva! Berhenti berpura-pura. Luna adalah korban. Jangan mencoba menyangkalnya," ucap Jose dingin.
"Baiklah, Jose. Aku menerima apapun. Tak aku tidak akan pernah memaafkan mu jika sesuatu terjadi padaku dan..."
"Pukul dia lebih keras!" potong Jose, seakan tak ingin lagi mendengar sepatah kata pun dari Eva.
Plak Plak Plak
"Hentikan...Aku mohon padamu," rintih Eva lagi, namun kini suaranya lirih dan sudah kehabisan tenaga.
Bulir bening mengalir begitu saja dari pipinya. Eva memegang erat perutnya merasakan sakit di dalam sana. Hingga ia menatap bawa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eva kembali mengingat semuanya
Eva menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah tanpa mampu dibendung lagi.
"Hiks... hiks... hiks..."
Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Air mata terus mengalir tanpa henti. Rasa sakit yang selama ini terkunci di balik amnesia kini kembali menghantamnya sekaligus.
"Anakku..."
Tangannya perlahan berpindah ke perutnya sendiri. Tatapannya kosong. Seolah-olah ia masih bisa merasakan kehidupan kecil yang dulu pernah tumbuh di sana.
"Dia... pernah ada di sini..."
Suara Eva begitu lirih.
"Dia pernah hidup..."
Lalu tangisnya kembali pecah.
"Kenapa...? Kenapa kau melakukan itu kepadaku, Jose?"
Jose tidak sanggup mengangkat wajahnya. Kedua lututnya perlahan menyentuh lantai.
DUK...
Seorang pria yang selama ini disegani di dunia mafia. Yang tak pernah berlutut di hadapan siapa pun. Kini berlutut di depan wanita yang telah ia hancurkan.
"Aku tidak punya jawaban..."
Suara Jose benar-benar hancur.
"Apa pun alasanku... semuanya tidak akan menghidupkan anak kita kembali."
Ia mengangkat wajahnya. Air mata terus mengalir tanpa bisa dihentikan.
"Kalau kau ingin membenciku... lakukanlah."
"Kalau kau ingin meninggalkanku... aku akan menerimanya."
"Kalau kau ingin melihatku dihukum... aku sendiri yang akan menjatuhkan hukuman itu."
Eva memandang Jose dengan tatapan penuh luka.
"Kau tahu..."
Suaranya bergetar.
"Selama ini aku terus bertanya-tanya... Kenapa setiap melihatmu... dadaku terasa sakit."
"Aku pikir itu karena aku takut pada orang asing."
Eva menggeleng pelan.
"Ternyata..."
Air matanya kembali jatuh.
"...aku takut pada suamiku sendiri."
Kalimat itu menghantam Jose lebih keras daripada peluru. Ia langsung menutup wajahnya.
Hiks... Hiks... Hiks...
Tangisan seorang pria dewasa memenuhi ruangan.
"Aku memang pantas ditakuti."
Dokter yang berdiri di samping ranjang hanya mampu menghela napas panjang. Bahkan para perawat mulai mengusap air mata mereka sendiri.
Eva kembali menatap Jose.
"Aku bertahan... Sampai detik terakhir... Aku masih memohon agar kau mempercayaiku."
Tangannya mengepal kuat.
"Bahkan saat darahku terus keluar... Aku masih memohon agar kau menyelamatkan anak kita."
Suaranya semakin meninggi.
"Tapi kau pergi! Kau benar-benar pergi! Aku memanggilmu berkali-kali!"
"Aku menangis! Aku merangkak! Tapi kau bahkan tidak mau menoleh!"
"AAAKKHHH...!"
Tangis Eva kembali pecah. Jose tidak sanggup lagi menahan dirinya. Ia membenturkan dahinya ke lantai.
DUK!
"Maaf..."
DUK!
"Maafkan aku..."
DUK!
"Maaf..."
Erick yang sejak tadi berdiri di dekat pintu langsung melangkah maju.
"Tuan!"
Namun Jose mengangkat tangan, menghentikannya.
"Biarkan..." Suara Jose parau.
"Rasa sakit ini... bahkan belum sebanding dengan apa yang Eva rasakan."
Ia kembali menatap Eva.
"Seandainya waktu bisa diputar... Aku akan memilih mempercayaimu. Aku akan memilih memelukmu. Aku akan menjaga anak kita. Tapi sekarang..."
Jose tersenyum pahit.
"...aku hanya seorang ayah yang gagal."
Eva memejamkan mata. Air matanya terus mengalir. Di dalam benaknya kembali muncul bayangan bayi kecil yang tak pernah sempat ia peluk. Tangis bayi itu terdengar samar.
"Maafkan Ibu..." bisik Eva sambil memeluk perutnya sendiri.
"Ibu tidak bisa melindungi mu..."
Ruangan kembali dipenuhi isak tangis. Tak ada seorang pun yang mampu mengucapkan sepatah kata. Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang menyiksa.
Akhirnya...
Eva perlahan membuka matanya. Tatapannya kembali tertuju kepada Jose yang masih berlutut di lantai. Dengan suara yang lemah, namun penuh ketegasan, ia berkata,
"Jose..."
Jose perlahan mengangkat kepalanya. Mulut Eva bergetar sebelum akhirnya mengucapkan kalimat yang paling ditakuti Jose.
"Aku menerima penyesalanmu..."
Jose membeku.
"...tapi aku belum bisa memaafkan perbuatanmu."
Air mata Jose kembali jatuh.
Eva melanjutkan,
"Mulai hari ini... jangan datang menemui ku lagi."
Jose memejamkan matanya, ia tahu semua ini pasti akan terjadi.
"Berikan aku waktu. Aku ingin belajar hidup tanpa rasa takut. Aku ingin mengubur anak kita dengan tenang di dalam hatiku. Dan aku ingin mencari tahu... apakah suatu hari nanti aku masih memiliki kekuatan untuk memaafkan mu." lanjut Eva.
Setelah mengucapkan kalimat itu, Eva perlahan memalingkan wajahnya ke arah jendela. Tangis Jose kembali pecah. Ia tahu... Hari itu, ia tidak hanya kehilangan seorang anak. Ia juga benar-benar kehilangan hati wanita yang paling dicintainya.
Dan tanpa ia sadari pula...
Di balik pintu yang baru saja tertutup, seseorang sedang berdiri mengawasi. Orang itu mengenakan topi dan masker hitam. Senyumnya perlahan terukir.
"Akhirnya... Aku tahu kelemahanmu."
"Jose... Permainan baru akan dimulai."
Senyum tipis di balik masker itu perlahan melebar.
Sorot matanya tertuju ke arah Jose yang masih berlutut di dalam ruangan.
"Jadi... inilah satu-satunya hal yang mampu menghancurkan Jose."
Pria itu bergumam pelan.
"Bukan peluru. Bukan ancaman. Tapi... Istri."
Ia melangkah menjauh dari pintu dengan tenang. Langkahnya nyaris tak menimbulkan suara. Sesampainya di ujung lorong, seorang pria bertubuh besar yang telah menunggu sejak tadi segera menghampirinya.
"Tuan."
"Bagaimana?" tanya pria bertopeng itu.
"Semuanya berjalan sesuai dugaan."
Pria bertopeng itu terkekeh pelan.
"Bagus."
Ia membuka sarung tangan kulit yang dikenakannya. Di jari manisnya terpasang sebuah cincin berukir lambang ular hitam. Lambang yang sangat dikenal di dunia bawah. Lambang organisasi...
Black Serpent.
Salah satu organisasi mafia yang selama bertahun-tahun menjadi musuh terbesar organisasi Jose.
"Ternyata selama ini, Jose sudah menikah. Dan itu akan mempermudah pekerjaan kita."
"Apalagi rumah tangga mereka sedang tidak baik-baik saja."
Pria bertubuh besar itu tersenyum.
"Apakah kita mulai sekarang?"
Pria bertopeng menggeleng.
"Belum. Biarkan luka itu semakin dalam. Semakin Jose dipenuhi rasa bersalah... Semakin lemah dia mengambil keputusan."
Ia kembali menoleh ke arah kamar Eva.
"Dan wanita itu..."
Tatapannya berubah tajam.
"...akan menjadi kunci untuk menjatuhkan seluruh kekaisaran Jose."
Di dalam kamar...
Jose perlahan berdiri. Tubuhnya terasa berat. Tatapannya tidak pernah lepas dari Eva yang masih membelakanginya. Ia ingin mengatakan banyak hal. Namun semua kata terasa sia-sia.
"Eva..." Suaranya lirih.
"Terima kasih..."
Eva tidak menoleh.Jose tersenyum pahit.
"Setidaknya... kau masih mau mendengarkan pengakuanku."
Ia mengusap air mata di wajahnya.
"Aku akan memenuhi permintaanmu. Aku tidak akan datang lagi. Tapi..."
Jose menarik napas panjang.
"...biarkan aku tetap menjagamu dari kejauhan."
Eva memejamkan mata. Tidak ada jawaban. Jose menatap punggung wanita itu selama beberapa detik. Kemudian ia membungkukkan badan pelan.
"Maafkan aku."
Untuk terakhir kalinya hari itu...
Ia berbalik dan melangkah menuju pintu.
KLIK...
Pintu perlahan tertutup. Begitu suara pintu menghilang...
Eva tidak lagi mampu menahan dirinya. Tangis yang sejak tadi ia tahan kembali pecah.
"Hiks... hiks..."
"Aku membencimu..."
Ia memeluk lututnya sendiri.
"Tapi kenapa... Kenapa hatiku masih terasa sakit saat melihatmu menangis?"
Di luar ruangan...
Jose bersandar lemas di dinding lorong. Ia memejamkan mata. Air matanya kembali jatuh.
Erick yang berdiri di sampingnya hanya mampu menundukkan kepala.
"Tuan..."
Jose menggeleng pelan.
"Mulai hari ini... Jangan izinkan siapa pun masuk ke kamar Eva tanpa pemeriksaan."
"Tambahkan penjagaan. Termasuk dokter, perawat, bahkan petugas kebersihan."
Erick mengangguk.
"Baik, Tuan."
Jose kembali berbicara dengan suara dingin.
"Dan satu lagi. Percepat penyelidikan terhadap Luna. Kalau memang semua bukti mengarah kepadanya..."
Sorot mata Jose berubah setajam pisau.
"...aku sendiri yang akan menjatuhkan hukumannya."
Di saat yang sama...
Beberapa ratus meter dari rumah sakit... Sebuah mobil sedan hitam berhenti di tepi jalan. Pria bertopeng tadi duduk di kursi belakang sambil menatap layar tablet. Di layar itu terpampang foto Jose, Eva, Luna... bahkan Escobar. Satu per satu foto mereka ia sentuh dengan ujung jarinya.
"Luna... Kau hanya bidak."
"Escobar... Kau raja tua yang mulai kehilangan taring."
"Jose... Kau raja yang sedang terluka."
Lalu jarinya berhenti tepat di foto Eva. Senyumnya kembali terukir.
"Sedangkan kau... akan menjadi alasan runtuhnya seluruh kerajaan mafia itu."
Mobil hitam itu pun melaju perlahan, menghilang di balik padatnya lalu lintas kota.
Tanpa disadari oleh Jose maupun Escobar...
Musuh yang jauh lebih berbahaya kini telah mulai mengamati mereka dari balik bayang-bayang. Permainan yang selama ini hanya melibatkan pengkhianatan keluarga, kini berubah menjadi perang antar organisasi yang mengancam semua pihak.
belajar sono dari Ragna yg punya bapak setengah sinting setengah waras sana.
jadi anak mafia kok bulol plus obses payah sih🤣
pak Escobar juga terlalu manjain sih. didik tuh anakmu dgn benar. bukan dukung jadi pelakor.
atau ada yg sengaja buat wajahnya semirip mungkin?
tapi, kau nggak tau, selingkuhan mu itu dekat dengan musuhmu
semangat.
jangan lupa mampir di karya aku..
udah nyiksa malah ngatain cinta.
dulu kemana, Jose?
mau ketemu sama tokoh aku nggak?
btw, Eva. kalau kau sudah dengar pengakuan Jose, jgn ampuni dia, ya.
padahal udah jadi mafia selama beberapa tahun loh.
pasti pengalamannya banyak dan udah bertemu banyak orang.
mudah banget dikibulin
nggak kayak bosmu