NovelToon NovelToon
Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.

Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kepulangan yang membawa badai

Adrian memilih pesawat pribadinya agar bisa pulang secepat mungkin — tak ada yang boleh menundanya. Meski sempat ada kendala teknis kecil, segalanya segera diperbaiki sepenuhnya demi keperluannya, seolah seluruh dunia harus tunduk pada keinginannya. Begitu pesawat lepas landas, ia melesat tanpa henti menempuh ribuan kilometer hanya dalam dua belas jam — membelah langit benua lain, menembus awan gelap, tak peduli pada apa pun selain keinginan untuk segera tiba. Di dalamnya segalanya lengkap dan mewah bagaikan istana yang melayang di angkasa — kursi kulit yang empuk, lampu gantung berkilau, minuman dan makanan yang tak ternilai — namun bagi Adrian setiap detik terasa berjalan lambat sekali, seolah waktu sengaja berhenti membiarkannya menderita dalam keraguan. Hatinya dipenuhi kegelisahan yang bercampur curiga dan amarah yang makin membesar setiap jam yang berlalu — ia ingin tiba secepatnya dan melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi selama ia pergi, dan siapa yang bersalah di sini.

Malam itu suasana rumah sunyi dan berat — seolah udara sendiri menekan dada. Aku duduk termenung di depan cermin, pikiran kacau tak beraturan terus mengingat kejadian menyakitkan siang tadi — tamparan, cambukan, jeritan Fara yang masih berdenting di telingaku. Dalam hati berjanji dengan tegas dan bulat: “Mulai sekarang aku harus jauh lebih waspada. Tak akan beri Nyonya Elina celah sedikit pun untuk melukai kami berdua lagi. Namun pertanyaan itu terus mengganggu benakku berulang-ulang: “Bagaimana mungkin hati seseorang bisa sekejam itu? Hanya karena kesalahan yang sama sekali tak disengaja? Bagaimana bisa seseorang begitu menikmati rasa sakit orang lain?”

Melangkah perlahan ke pintu kamar Fara, aku mengetuk pelan, memanggil namanya dengan suara yang nyaris tak terdengar — namun tak ada jawaban dari dalam. Mungkin ia sudah terlelap karena kelelahan, atau mungkin ia hanya tak ingin terlihat lemah di hadapanku — tak ingin menambah beban yang sudah kupikul. Akhirnya kembali ke kamarku, berbaring namun sama sekali tak bisa memejamkan mata — bayangan rasa sakit yang harus ia tanggung sendirian terus terlintas berulang kali, setiap kali memejamkan mata aku melihat punggungnya yang berdarah, mendengar jeritannya yang tertahan.

Sementara itu di balik pintu yang tertutup rapat itu, Fara berjuang keras menahan rasa perih yang menyengat di punggungnya — setiap gerakan tubuh terasa seperti disayat ribu pisau. Tangan yang gemetar hebat berusaha membalut luka sendiri dengan canggung, sesekali ia menggigit bibirnya kuat hingga berdarah agar tangisnya tak terdengar keluar dari kamar. Tak ingin menambah beban yang sudah kupikul — tak ingin aku tahu betapa hancurnya ia saat ini. Setelah selesai merawat luka dengan susah payah, ia duduk diam menatap pantulan diri di cermin, air mata menetes perlahan tanpa suara — hatinya hancur berkeping-keping, bercampur takut mendalam dan malu yang tak terlukiskan. Ia merasa kotor, dipermalukan, dan tak berharga.

Keesokan harinya, cahaya matahari yang menyelinap masuk lewat celah tirai pun tak mampu membawa kehangatan sedikit pun ke hatiku — pagi ini terasa dingin dan kelabu. Bersiap berangkat sekolah seperti biasa, namun setiap gerakan terasa berat dan lambat, seolah kakiku terikat rantai tak kasat mata. Melirik pintu kamar Fara yang masih tertutup rapat — kecemasan kembali menyelimuti hatiku, namun aku tetap melangkah pergi dengan harapan bodoh bahwa segalanya akan membaik dengan sendirinya.

Saat jam istirahat tiba, Sarah, Liora dan Diana segera sadar ada yang berbeda padaku hari ini — mataku cekung, pipiku lebih tirus, senyumku tak sampai ke mata. Aku hanya duduk diam tak banyak bicara, tatapanku kosong seolah memandang sesuatu yang jauh dan tak terlihat mata — sesuatu yang hanya bisa kurasakan. Sarah menyentuh bahuku dengan lembut, bertanya penuh perhatian: “Zara, ada apa sebenarnya? Kau terlihat sangat lelah… seolah tak tidur berhari-hari.” Aku hanya berusaha menampilkan senyum tipis yang paling bisa kubuat dan menjawab pelan bahwa semuanya baik-baik saja — namun sorot mataku tak mampu menyembunyikan kesedihan yang mendalam dan nyata. Melihat itu mereka mendekat dengan tulus, duduk lebih dekat: “Jangan simpan semuanya sendirian ya. Ingat, kami ada di sini untukmu — apa pun yang terjadi.” Aku hanya bisa mengangguk perlahan, menahan kuat agar air mata tak jatuh membasahi pipi di depan mereka.

Usai sekolah, aku mampir ke rumah sakit menjenguk adikku Aslan yang masih terbaring lemah tanpa tanda-tanda akan membuka mata. Duduk lama di samping tempat tidurnya, hanya memandang wajah kecilnya yang pucat sambil memohon dalam hati agar ia segera pulih — agar setidaknya ada satu hal di dunia ini yang berjalan baik.

Sesampainya di rumah, melihat Fara baru saja turun tangga. Bahunya sedikit membungkuk menahan rasa sakit, setiap langkahnya goyah dan berat seolah menahan beban yang tak terlihat. Segera kuhampiri dengan cemas yang meluap-luap: “Kak, bagaimana keadaan lukamu? Apakah masih sakit?” Namun ia hanya mengangguk singkat tanpa menatap mataku, lalu berjalan lewat begitu saja seolah tak saling kenal — menciptakan jarak dingin dan menyakitkan di antara kami yang tak bisa dijembatani apa pun.

Belum sempat aku memanggil namanya kembali, terdengar suara kendaraan mewah mendekat — deru mesin yang kukenal baik. Mobil hitam yang gagah berhenti tepat di depan pintu utama, tak lama turun Adrian bersama Yamal. Hatiku terkejut luar biasa — seharusnya ia baru pulang seminggu lagi! Wajahnya tegang sekali, rahangnya mengeras, tatapannya tajam menyimpan badai emosi yang ditahan sekuat tenaga — matanya merah, napasnya berat.

“Di mana Fara?” tanyanya lantang namun sangat dingin — suaranya menusuk hingga ke tulang.

Belum sempat aku menjawab atau menjelaskan apa pun, ia melangkah cepat ke arah Fara yang berdiri gemetar di tangga. Begitu Fara keluar menghadapnya, tanpa ragu sedikit pun Adrian langsung mencengkeram lehernya dengan kuat hingga tubuh Fara sedikit terangkat ke udara. Urat-urat di lehernya menonjol, matanya menyala penuh amarah. “Dari mana kau dapat keberanian sebesar itu? Berani sekali kau mempermalukan Bibi Elina di depan semua orang terhormat! Jawab aku sekarang!” bentaknya berat penuh kemarahan yang tak terbendung.

Fara terengah-engah berusaha mendapatkan napas kembali, wajahnya pucat total, air mata menetes deras — bukan hanya karena sakit, tapi karena hatinya hancur melihat betapa mudahnya kepercayaan berubah jadi kecurigaan buta dalam sekejap mata. Ia tak berdaya di tangan pria yang seharusnya melindunginya.

Aku segera berlari menghampiri, berusaha menarik tangan Adrian agar melepaskannya: “Lepaskan dia! Dia sama sekali tak bersalah, percayalah padaku! Itu kecelakaan murni!” Namun Yamal segera berdiri di hadapanku, menghalangi langkahku dengan sikap yang sopan namun tegas dan tak bisa diganggu gugat: “Mohon dimengerti, Nyonya. Jangan ikut campur, hal ini hanya akan mempersulit keadaan.”

Saat itulah aku paham sepenuhnya — Adrian mendengar cerita langsung dari Elina begitu ia tiba, yang tentu saja disusun sedemikian rupa seolah Fara sengaja melakukan kesalahan besar, seolah ia berniat mempermalukan wanita yang ia hormati itu. Semakin teringat kata-kata yang pasti diucapkan Elina, semakin kuat cengkeraman Adrian. Namun saat matanya menangkap tatapan Fara — tatapan yang penuh takut sekaligus kepolosan yang tulus, tatapan yang tak mampu dibohongi — keraguan perlahan tumbuh di hatinya yang penuh amarah itu. Akhirnya ia melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Fara terjatuh, lalu berucap dengan peringatan yang tajam sekali: “Sekali saja kau membuat kesalahan serupa, aku tak akan memaafkanmu lagi — tak peduli apa pun alasannya!”

Fara seketika jatuh berlutut di lantai yang keras dan dingin, napasnya lemah dan terengah-engah, tubuhnya gemetar hebat. Aku segera berlutut di sampingnya, memeluk bahunya yang masih gemetar, mataku berkaca-kaca penuh sedih sekaligus tekad yang bulat dan tak tergoyahkan — berjanji dalam hati suatu hari nanti pasti akan membongkar seluruh kebohongan yang kini menyelimuti nasib kami berdua. Biar berapa lama pun waktu yang dibutuhkan, aku akan membuktikan kebenaran.

Di tempat lain, berdiri kediaman megah bergaya Eropa klasik yang seluruhnya dilapisi marmer putih bersih dan mengkilap — rumah Nyonya Elina, tempat di mana kejahatan berpakaian kemewahan.

Di sudut taman yang sejuk dan tertata indah, ia duduk tenang menikmati waktu sendiri seolah tak ada beban sedikit pun di hatinya. Duduk di kursi klasik berlengan yang dibalut kain empuk berwarna cokelat susu yang lembut; sandaran lebar melengkung pas menopang punggungnya dengan sempurna, lengan bulat yang nyaman, rangka kayu kokoh yang terawat dengan baik. Ia duduk tenang, punggung bersandar sedikit namun tetap tegap dan anggun, tubuhnya ramping dan bahunya lembut namun tak kendur sedikit pun. Satu tangan bertumpu santai di lengan kursi, tangan lain memegang buku di pangkuan, kakinya disusun dengan sopan dan luwes — gambar kesempurnaan yang menakutkan.

Rambutnya disanggul rapi dan sempurna, wajahnya tenang dan anggun tanpa celah. Ia mengenakan setelan jas hitam yang elegan dengan kerah kemeja putih bersih yang menyilaukan, anting mutiara halus dan kalung emas yang berkilau lembut di leher putihnya. Di tangannya menggenggam cangkir teh porselen halus yang bernilai tinggi, setiap gerakannya lembut namun memancarkan wibawa yang tak bisa dibantah — itulah Nyonya Elina, wanita yang memegang kendali atas segalanya.

Namun di balik penampilan yang sempurna dan tenang itu, hatinya penuh kepuasan yang mendalam dan gelap. Sejak melihat keadaan Zara dan terutama Fara pulang kemarin — terluka, penuh ketakutan, hancur — ia merasa tujuan pertamanya telah tercapai dengan baik. Senyum licik tersungging di bibirnya saat membayangkan rasa sakit yang kini menghantui kedua gadis itu setiap detik kehidupan mereka.

Tak lama kemudian kepala pelayan menghampirinya dengan sangat hormat, namun suaranya terdengar ragu dan cemas: “Nyonya… apakah semua ini benar-benar tak akan membawa masalah nanti? Bagaimana jika Tuan Adrian mengetahui kenyataan sebenarnya dari mereka?”

Elina memutar gagang cambuk yang ada di tangannya sejenak, seolah masih bisa merasakan sentuhannya saat dipakai kemarin — dingin, keras, dan mematikan. Mendengar pertanyaan itu ia hanya tertawa kecil dengan tenang, menatap kepala pelayan dengan penuh keyakinan sekaligus keangkuhan yang nyata dan menakutkan. Menyerahkan cambuk itu ke pelayan, lalu memalingkan wajah memandang hamparan taman luas di depannya dengan tatapan yang penuh kepastian.

“Lalu apa yang terjadi jika ia tahu?” ucapnya dengan tenang penuh keyakinan yang tak tergoyahkan. “Ingat baik-baik siapa aku sebenarnya. Akulah yang membesarkan Adrian sejak usia lima tahun. Baginya aku jauh lebih berharga dari ibu kandungnya sendiri. Pikirkanlah — apakah ia akan percaya pada dua gadis tak punya apa-apa itu daripada aku? Hal itu sama sekali tak mungkin terjadi. Ia akan selalu memilihku. Selamanya.”

Setelah mengucapkan itu, Elina kembali tersenyum penuh kepuasan, menyesap teh yang harum di cangkirnya dengan tenang seolah tak ada beban sedikit pun di hatinya. Baginya semua yang dilakukan hanyalah cara yang tepat untuk mengajarkan mereka tahu di mana sebenarnya kedudukan diri mereka yang sesungguhnya — di bawah kakinya, tempat yang pantas bagi mereka.

1
터닝
kasian Zara 🤧
Putry Chan: iya tapi semua akan baik baik saja mugkin
total 1 replies
Lasa Hardianti
Nyesek bgt, rumah yang dulunya hangat sekarang berubah total karena penyerangan itu
Putry Chan: benar sekali , sebenarnya cerita aslinya tuh GK Kek gini cuman dulu gara gara aku bikin banyak kesalahan karena pemula aku bikin ulang trus aku ubah sedikit ceritanya
banyak sih aku ubah kek lebih dark lah tapi Happy ending kok walaupun
total 1 replies
Lasa Hardianti
Terus keadaan ibunya gimna?😭
Putry Chan: mereka berdua baik cuman lagi bersembunyi dulu
total 1 replies
Lasa Hardianti
Kasian bgt ibunya sampai terluka demi melindungi anak-anaknya, moga aja mereka bertiga selamat, terutama ibunya/Scowl/
Putry Chan: tentu saja ibu dan ayahnya selamat karena sebenarnya asal usul mereka itu bukan adalah salah satu keluarga bangsawan , ketemu tapi masih lama mungkin antar hidup dan mati
total 1 replies
Lasa Hardianti
Hai kak, izin kasih masukan ya. Menurutku beberapa bagian narasinya mungkin bisa lebih dipersingkat atau diberi jeda supaya bacanya lebih enak. Terus, setiap kali ada pergantian POV, mungkin bisa diberi sedikit penanda atau transisi supaya perpindahannya nggak terasa tiba-tiba dan pembaca lebih mudah mengikuti alurnya. Semangat kak💪🏻/Determined/
Putry Chan: kasian udh mampir cantik semangat ya sama sama lagi berjuang 💪
total 3 replies
Kusyg Ki
sejujurnya aku suka baca ini kadang bikin senyum sendiri tapi aku lupa klo ini darkromansa jadi sebenarnya aku suka tapi di waktu yang sama aku benci greget bgt sama suaminya ngeselin bgt sumpah harus dpt karma sih aku GK peduli apapun alasannya
Putry Chan: di semangatin dong makacihh 🥰
total 7 replies
Kusyg Ki
Zara melawan nih bagus
Kusyg Ki
punya suami kok radar radar miring ya
Putry Chan: 🤧🤧🤧🤧🤧
total 1 replies
Arham Bugis
rekomen apa lagi bab nya uah banyak
Putry Chan: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Arham Bugis
baru baca lagi nih 🤭
Putry Chan: iyh kmu baru muncul lagi
total 1 replies
Wawan
Nah 🤭
Putry Chan: 🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Wawan
Iklan dan mawar buat cerita ini 💪✍️
Wawan: Clue cerita ini menarik .... 💪✍️
total 2 replies
Rian Aan
semangat 💪
Putry Chan: makasih 🥰
total 1 replies
터닝
Maya ini jahat bgt dah
putmelyana
ini chapter berapa perginya lama banget udah greget bgt soalnya gw bacanya harus cerai mereka jangan balikan pisahhh
Putry Chan: ngk salah sih emg itu nanti bakalan terjadi tapi bukan cerai , Zara sendiri yang memilih pergi , Adrian nyebelin ya tapi ada alasannya nanti juga berubah jadi obsesi parah smpai di borgol kaki istrinya ini biar GK kabur tapi masih jauh tenang aja Zara ini wanita yang kuat nanti juga Adrian dapat karma
total 1 replies
Kiara Maulida Aizaaa
saling support KK , Semangat mau
Putry Chan: tentu maksih ya udh mampir
total 1 replies
Rian Aan
suka nih KLO gini mau ngelawan
Rian Aan
apakah akan ada cinta segitiga
Putry Chan: ntah lah 😅
total 1 replies
Rian Aan
bininya di jadiin pembantu
Putry Chan: 🤧🤧🤧🤧🤧
total 1 replies
Su Ci
semakin menarik
Putry Chan: makasih kmu bikin aku terharu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!