Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.
Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...
Benarkah rumah itu membawa kutukan?
Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 - Akad Nikah
Mentari pagi mulai menyinari halaman rumah Hanifah. Sejak subuh, beberapa kerabat dekat sudah berdatangan untuk membantu mempersiapkan akad nikah yang akan berlangsung beberapa jam lagi. Tidak ada dekorasi mewah ataupun pelaminan yang megah. Hanya beberapa rangkaian bunga sederhana yang menghiasi ruang tamu.
Di dalam kamar, Hanifah duduk diam di depan cermin. Seorang perias sedang merapikan jilbab putih yang mengenakannya. Riasan di wajahnya tampak sederhana. Namun, matanya yang sembap masih menyisakan bekas tangis semalam.
"Ada yang terlalu kencang, Mbak?" tanya perias itu ramah.
Hanifah menggeleng pelan. "Tidak."
Perias itu tersenyum tipis. "Pengantin memang biasanya gugup."
Hanifah hanya membalas dengan senyum kecil. Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk.
"Ibu boleh masuk?" tanya sebuah suara dari luar.
"Boleh, Bu."
Ibu Hanifah melangkah masuk sambil membawa segelas air hangat. "Minum dulu."
Hanifah menerimanya dengan tangan sedikit gemetar. "Terima kasih, Bu."
Perias itu kemudian berpamitan keluar agar memberi waktu kepada ibu dan anak tersebut berbicara. Suasana kamar mendadak sunyi.
Ibu Hanifah berdiri di belakang putrinya. Tangannya perlahan membenarkan ujung jilbab Hanifah yang sedikit bergeser. "Cantik."
Hanifah menatap pantulan wajah ibunya di cermin. "Bu..."
"Iya?"
"Hanifah minta maaf."
Ibu Hanifah menghentikan gerakannya. Beberapa detik beliau hanya diam, menatap dalam-dalam manik mata putrinya lewat cermin. "Kamu sudah meminta maaf berkali-kali."
"Tapi Hanifah belum bisa memaafkan diri sendiri." Kalimat itu membuat hati sang ibu terasa sesak. Beliau memutar tubuh Hanifah hingga mereka kini saling berhadapan.
"Dengarkan Ibu." Hanifah mengangguk. "Apa yang sudah terjadi memang tidak bisa diulang. Tapi setelah hari ini, kamu harus belajar menjadi istri yang baik."
Air mata Hanifah mulai menggenang. "Iya, Bu."
"Jangan ulangi kesalahan yang sama."
"Hanifah janji."
Ibu Hanifah tersenyum tipis. Beliau mengusap air mata putrinya menggunakan ibu jari. "Hari ini jangan terlalu banyak menangis. Nanti riasannya rusak."
Hanifah justru tertawa kecil di sela tangisnya. "Maaf..."
Tanpa berkata apa-apa lagi, ibu Hanifah langsung memeluk putrinya. Pelukan itu terasa hangat. Hanifah memejamkan mata. Sudah lama ia tidak dipeluk erat seperti ini.
"Terima kasih, Bu."
"Jadilah perempuan yang kuat."
"Iya."
......................
Di rumah Arkana, suasana tidak jauh berbeda. Arkana baru saja mengenakan baju koko putih lengkap dengan peci hitam yang sudah disiapkan ibunya. Ia berdiri di depan cermin sambil menarik napas panjang. Tangannya terasa dingin.
Pintu kamar terbuka. Ayah Arkana masuk sambil tersenyum tipis. "Sudah siap?"
Arkana mengangguk pelan. "Insyaallah."
Ayahnya berdiri di samping Arkana. Beliau ikut melihat pantulan wajah putranya di cermin. "Dulu... Ayah juga segugup ini waktu menikahi ibumu."
Arkana tersenyum kecil. "Benarkah?"
Ayahnya mengangguk. "Waktu itu tangan Ayah sampai berkeringat."
Mereka berdua tertawa pelan. Untuk pertama kalinya sejak semua masalah itu terjadi, suasana di antara ayah dan anak itu terasa sedikit lebih hangat. Ayah Arkana kemudian membenarkan letak peci putranya.
"Mulai hari ini... kamu akan menjadi suami." Arkana menundukkan kepala, menyimak wejangan itu. "Jangan pernah berhenti menghormati istrimu. Jangan membentaknya. Jangan meninggikan suara. Kalau ada masalah, selesaikan dengan kepala dingin."
Arkana mengangguk. "Saya akan mengingat semua nasihat Ayah."
Ayahnya tersenyum. "Laki-laki bukan dinilai dari seberapa keras suaranya. Tapi dari seberapa besar tanggung jawabnya."
Kalimat itu kembali terngiang di kepala Arkana. Ia menggenggam jam tangan pemberian ayahnya yang kini melingkar di pergelangan tangan.
"Terima kasih, Yah."
Ayah Arkana menepuk bahunya pelan. "Sudah. Penghulu sebentar lagi datang. Jangan sampai calon istrimu menunggu."
Arkana mengangguk sambil tersenyum tipis. "Iya."
......................
Tak lama kemudian, mobil yang membawa keluarga Arkana memasuki halaman rumah Hanifah. Beberapa kerabat yang berada di luar langsung membantu menyambut mereka.
Arkana turun dari mobil. Ia mengenakan pakaian serba putih yang sederhana. Tatapannya langsung tertuju ke pintu rumah Hanifah. Dadanya kembali berdebar.
Hari ini, ia akan mengucapkan janji yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Di dalam rumah, Hanifah menarik napas panjang saat mendengar suara kendaraan berhenti di depan rumah. Ia tahu Arkana telah datang. Hari yang selama beberapa hari terakhir memenuhi pikirannya akhirnya benar-benar tiba.
Ia memejamkan mata sejenak. Lalu berbisik pelan, "Ya Allah... mudahkanlah semuanya."
Suasana ruang tamu mendadak hening ketika penghulu mulai mempersiapkan berkas akad nikah. Beberapa saksi telah duduk di tempat yang disediakan. Arkana duduk bersila di hadapan penghulu dengan wajah yang tampak tenang, meski jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari biasanya.
Ayah Hanifah duduk tepat di samping penghulu. Tatapannya sesekali mengarah kepada putrinya yang berada di balik tirai pembatas bersama para tamu perempuan.
Hanifah menggenggam ujung pakaian ibunya erat. Telapak tangannya mulai berkeringat.
"Tenang, Nak," bisik ibunya, mengusap punggung Hanifah.
Hanifah mengangguk pelan. Namun rasa gugup itu tidak juga hilang.
Penghulu membuka acara dengan membacakan khutbah nikah. Semua orang mendengarkan dengan khusyuk. Setelah itu, beliau memandang kedua belah pihak.
"Apakah seluruh persyaratan sudah lengkap?" tanya penghulu.
"Sudah," jawab ayah Arkana.
"Sudah," sahut ayah Hanifah.
Penghulu mengangguk pelan. "Kalau begitu, akad nikah dapat kita mulai."
Suasana kembali sunyi, bahkan suara detak jam dinding pun seolah meredam. Ayah Hanifah menarik napas panjang. Tangannya perlahan menggenggam tangan Arkana dengan jabat erat. Untuk sesaat, lelaki paruh baya itu memejamkan mata. Ia seakan sedang mengikhlaskan putri semata wayangnya. Meski kenyataannya, mengikhlaskan bukanlah perkara mudah.
Dengan suara yang berat, beliau mulai mengucapkan ijab. Arkana mendengarkan setiap kata dengan penuh perhatian. Begitu ijab selesai, semua mata langsung tertuju kepadanya.
Arkana menarik napas pelan. Lalu dengan suara mantap ia mengucapkan kabul tanpa ragu sedikit pun. "Saya terima nikah dan kawinnya Hanifah Shafiqa binti Dimas dengan mas kawin tersebut, tunai."
Kalimat itu terdengar jelas di seluruh ruangan. Beberapa detik berlalu dalam ketegangan.
"Sah!"
"Sah!"
"Sah!" suara para saksi terdengar hampir bersamaan.
"Alhamdulillah," gumam hadirin yang ada di sana. Ucapan syukur memenuhi ruangan.
Di balik tirai, Hanifah langsung menutup mulutnya. Air mata haru dan lega mengalir tanpa mampu ia tahan. Bukan karena semua masalah telah selesai, melainkan karena hidupnya kini benar-benar berubah. Mulai hari itu, ia resmi menjadi istri Arkana.
Setelah doa bersama selesai, penghulu mempersilakan Hanifah keluar. Dengan langkah perlahan, Hanifah berjalan menuju ruang tamu. Arkana berdiri ketika melihat istrinya mendekat. Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, mata mereka bertemu tanpa ada rasa ingin menghindar.
Arkana tersenyum tipis. Hanifah membalas senyum itu, meski matanya masih basah. Penghulu menyerahkan buku nikah kepada keduanya.
"Mulai hari ini kalian adalah pasangan suami istri. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah," doa penghulu tulus.
"Aamiin," jawab semua orang.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sungkeman. Hanifah lebih dulu menghampiri kedua orang tuanya. Ia berlutut, lalu mencium tangan ayahnya.
"Yah..." suaranya bergetar. "Hanifah minta maaf."
Ayah Hanifah tidak langsung menjawab. Beliau hanya menatap putrinya cukup lama, lalu mengusap kepala Hanifah dengan lembut. "Kesalahanmu memang membuat Ayah kecewa. Tapi mulai hari ini... jadilah istri yang baik. Jaga rumah tanggamu. Jangan mudah menyerah."
Hanifah mengangguk sambil terisak. "Iya, Yah."
Ayah Hanifah akhirnya memeluk putrinya. Pelukan itu membuat Hanifah menangis semakin keras. Sementara ibu Hanifah yang melihat dari samping ikut menyeka air matanya. Setelah itu, Hanifah berpindah memeluk ibunya.
"Terima kasih sudah selalu ada buat Hanifah," bisiknya.
Ibunya tersenyum sambil membelai punggung putrinya. "Rumah ini akan selalu terbuka untukmu. Tapi..." Beliau tersenyum tipis. "...jangan pulang hanya karena bertengkar dengan suamimu."
Hanifah tertawa kecil di sela tangisnya. "Iya, Bu."
Kini giliran Arkana. Ia berlutut di hadapan kedua orang tuanya. "Ayah... Ibu... maafkan Arkana."
Ayahnya mengangkat Arkana agar berdiri. "Mulai hari ini... jadilah laki-laki yang bertanggung jawab. Jangan sia-siakan kesempatan yang sudah diberikan keluarga Hanifah."
"Saya janji, Yah."
Ibunya memeluk Arkana dengan erat. "Jaga Hanifah seperti kamu menjaga Ibu."
Arkana mengangguk. "Iya, Bu."
Sebelum keluarga Arkana berpamitan, ayah Hanifah kembali memanggil Arkana. "Arkana."
"Iya, Pak," sahut Arkana, segera menghampiri.
Ayah Hanifah menatapnya dengan wajah tenang. "Mulai hari ini... Hanifah bukan lagi tanggung jawab saya. Dia adalah amanah untukmu. Kalau nanti kalian punya masalah... jangan langsung menyerah. Rumah tangga itu dibangun oleh dua orang yang sama-sama belajar."
Arkana kembali mengangguk. "Saya akan mengingat nasihat Bapak."
Ayah Hanifah menepuk bahunya pelan. "Semoga kamu membuktikan semua ucapanmu."
"Insyaallah, Pak."
Menjelang sore, para tamu mulai berpamitan. Rumah kembali lengang. Arkana berdiri di halaman sambil memperhatikan langit yang mulai berwarna jingga. Hanifah menghampirinya.
"Kamu capek?" tanya Arkana.
Hanifah tersenyum kecil. "Sedikit."
Arkana mengangguk. "Besok..." Hanifah menoleh. "Aku ingin mengajakmu melihat rumah yang pernah kuceritakan."
Hanifah terdiam beberapa saat, lalu mengangguk pelan. "Baik."
Arkana tersenyum lega. Ia berharap rumah itu bisa menjadi awal kehidupan baru mereka. Tanpa mereka sadari, langkah kecil yang akan mereka ambil esok hari akan membawa mereka memasuki ujian demi ujian yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.