NovelToon NovelToon
I Love You, Kak

I Love You, Kak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Basket / Cintamanis / Teen
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anggun Kartika Mundikasih

Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MODUS TOKO BUKU DAN PENGAKUAN (3)

Pukul enam lewat sepuluh menit, Nara dan Naya sampai di depan rumah Naya. Nara benar-benar menepati janjinya untuk mengantar Naya pulang sebelum setengah tujuh. Ia bahkan memeriksa waktu dua kali selama perjalanan.

Di depan rumah, Reksa sudah berdiri di teras. Posisi tangannya masih sama seperti ketika Naya dan Nara hendak pergi siang tadi, terlipat di depan dada. Wajahnya terlihat seperti seseorang yang telah menunggu bukan hanya kedatangan Naya, tetapi juga kesempatan untuk menilai seluruh perjalanan mereka.

Naya melepaskan safety belt dan keluar dari mobil Nara menghampiri Reksa disusul oleh Nara yang terlebih dahulu mematikan mesin.

“Pukul enam sepuluh menit,” kata Nara sambil menunjukkan jam tangannya di lengan kiri. “Dua puluh menit lebih awal.”

Reksa mengabaikan ucapan tersebut. Tatapannya justru tertuju kepada kantong buku di tangan Naya.

“Kalian benar-benar pergi ke toko buku.”

Nara mengangkat alis. “Kau meragukannya?”

“Aku hanya memastikan.”

“Terima kasih.” Ujar Naya berjalan di samping Reksa dan berhadap-hadapan dengan Nara.

“Untuk bukunya, makan siang di café atau perjalanannya?” Tanya Nara.

“Kesemuanya.”

Nara tersenyum puas dengan jawaban Naya.

Reksa memperhatikan interaksi mereka dengan sorot mata penuh kecurigaan.

“Kalian melakukan apa lagi selain membeli buku?”

Naya langsung terlihat gugup sedangkan Nara, sebaliknya, tampak terlalu tenang.

“Kami makan siang di café tempat sepupuku,” jawabnya.

“Hanya itu?”

“Kak Reksa,” potong Naya. “Aku sudah pulang lebih dari tepat waktu.”

“Aku hanya bertanya.”

Nara melirik Naya. Tatapan mereka bertemu sesaat. Senyum kecil muncul di wajah Nara, membuat Naya khawatir lelaki itu akan mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya.

“Aku pulang,” kata Nara akhirnya.

Reksa mengangguk. “Besok final. Jangan terlambat bangun.”

“Kenapa kau terdengar seperti pelatihku?”

“Karena kalau kau bermain buruk setelah pergi bersama Naya, aku akan merasa bersalah telah membiarkan hal itu terjadi.”

Nara tertawa kecil. “Aku tidak akan bermain buruk.”

“Pastikan.”

Nara kembali menatap Naya. “Sampai besok.”

Naya mengangguk. “Sampai besok.”

Nara mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Reksa dan Naya. Naya tetap berdiri di dekat pagar sampai kendaraan itu menghilang di ujung jalan. Ketika ia berbalik, Reksa masih memperhatikannya.

“Apa?” tanya Naya.

“Kau tersenyum.”

“Aku tidak boleh tersenyum?”

“Kau tersenyum sejak keluar dari mobilnya.”

Naya segera mengubah ekspresi. “Aku senang karena mendapatkan buku baru.”

Reksa mengambil kantong buku dari tangannya dan melihat isinya.

“Dia yang membelikan?”

Naya mengangguk.

Reksa menghela napas panjang dan mengajak Naya masuk ke dalam rumah. “Dasar anak orang kaya! Kalian berbicara tentang apa saja?”

“Banyak hal.”

“Contohnya?”

Naya mengambil kembali kantong bukunya. “Itu urusan kami.”

Reksa mengangkat alis. “Sungguh kemajuan besar.”

“Apa?”

“Dulu kamu selalu mengatakan Nara menyebalkan. Sekarang kau sudah memiliki urusan yang hanya boleh diketahui kalian berdua.”

“Kakak terlalu banyak bertanya.”

“Dia menyatakan perasaannya?”

Langkah Naya berhenti. Hanya sesaat. Namun, itu sudah cukup untuk memberikan jawaban. Reksa menghela napas lagi.

“Kau menjawab apa?”

“Jawaban sementara.”

“Apa maksudnya jawaban sementara?”

Naya menoleh kepada kakaknya.

“Artinya aku masih ingin mengenalnya lebih jauh.”

Reksa menatapnya serius.

“Kamu sekarang menyadari dan mengakui bahwa kamu menyukainya?”

Wajah Naya memanas. Ia seharusnya dapat menghindari pertanyaan tersebut. Namun, setelah berani mengaku kepada Nara, menyangkalnya di hadapan Reksa terasa tidak perlu.

“Iya,” jawabnya pelan. Reksa terdiam. Naya menunggu reaksi kakaknya. Ia menduga Reksa akan memberikan ceramah panjang atau kembali mengingatkan mengenai reputasi Nara. Namun, Reksa hanya mengangguk.

“Baguslah kalau begitu. Artinya setidaknya dia gentleman, berani mengakui perasaannya langsung kepadamu dan tidak memaksamu untuk segera memberikan jawaban atas pernyataan cintanya kepadamu.”

Naya mengerutkan kening. “Hanya itu?”

“Kamu berharap aku marah padanya?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, masuklah. Papa dan Mama sudah menunggu kita untuk makan malam.” Kode Reksa menoleh kearah jendela ruang tamu dimana kedua orang tuanya tertangkap basah mengintip mereka dibalik gorden kemudian terburu-buru menutup gorden dan kembali ke ruang makan menunggu kedua anaknya.

Naya menghela napas memperhatikan kelakuan kedua orang tua mereka.

“Kakak benar-benar tidak keberatan?”

Reksa menatap ke arah jalan yang baru saja dilewati Nara.

“Aku tetap tidak sepenuhnya menyukainya.”

“Itu sudah jelas.”

“Tapi dia sudah membuktikan bahwa dia bisa belajar untuk berubah. Karena ternyata apa yang kulihat tentang sosok Kak Nara bisa jadi hanya dipermukaan saja. Kak Nara ternyata memang lebih hebat dari yang aku kira selama ini.” Naya membayangkan adegan betapa seriusnya Nara belajar bisnis dengan sepupunya, Ganendra.

Reksa mengalihkan tatapannya kepada Naya. Ia tak melihat sisa guratan keraguan tentang Nara seperti sebelumnya.

“Dan yang paling penting, kamu terlihat bahagia.”

Naya tersenyum. “Terima kasih, Kak.”

“Jangan terlalu senang. Aku tetap akan mengawasinya.”

“Aku tahu itu. Kakak memang orang yang paling mengerti aku.” Naya melingkarkan kedua tangannya di lengan kiri Reksa. Ia pun menyenderkan kepalanya ke Pundak Reksa dan berjalan masuk ke dalam rumah.

“Kalau dia membuatmu menangis…”

“Kakak akan membuatnya tidak bisa bermain basket selama sebulan bahkan selamanya. Aku sudah tahu itu.”

“Baguslah kalau kamu sudah tahu itu. Karena asal kamu tahu Nay, kamu sangatlah berharga bagi keluarga kita ini.”

“Iya Kak.”

Mereka masuk ke rumah untuk makan malam bersama. Malam itu, Naya segera melanjutkan membaca buku novelnya. Tiba-tiba terdengar bunyi pesan masuk dari ponselnya.

Aku sudah sampai rumah dengan selamat.

Naya pun segera membalas pesan dari Nara.

Terima kasih untuk hari ini.

Balasan Nara datang hampir seketika.

Terima kasih juga sudah menemani aktivitas rahasiaku, jawaban sementaraku.

Naya mendengus kecil. Jangan panggil aku begitu.

Baiklah. Selamat malam, orang yang menyukaiku.

Naya meletakkan ponsel di atas tempat tidur dan menutupi wajah dengan bantal. Beberapa detik kemudian, ia mengambil teleponnya kembali.

Selamat malam, orang yang terlalu percaya diri. Besok bermainlah dengan baik.

Pesan terakhir dari Nara datang sebelum ia mematikan layar.

Aku akan bermain sebaik mungkin. Kali ini, aku tahu siapa yang ingin kulihat setelah pertandingan selesai.

Naya menyimpan ponselnya di samping bantal. Ia menatap buku novel yang dibelikan oleh Nara hari ini. Untuk pertama kalinya, Naya tidak merasa perlu memikirkan bagaimana kisah itu akan berakhir. Ia hanya ingin menikmati setiap chapternya bersama Nara.

***

Di kamarnya sendiri, Nara menatap pesan terakhir dari Naya sambil tersenyum. Ia bangkit dari kursi belajarnya dan berjalan keluar turun menuju ruang keluarga, sepi seperti biasanya. Kedua orang tuanya selalu sibuk dengan bisnis mereka di luar negeri seolah melahirkan dirinya membuktikan bahwa mereka mampu memiliki keturunan untuk mewarisi seluruh bisnis mereka tanpa memikirkan perasaannya yang haus mencari perhatian mereka dengan segala prestasi selama ini berusaha ia capai namun tak juga membuat kedua orang tuanya bergeming memberikan curahan kasih sayang dan kebanggaan mereka atas dirinya. Mereka hanya mengatakan sudah sepantasnya dirinya memenuhi ekspektasi sebagai pewaris tunggal bisnis mereka.

Itulah yang menyebabkan ia sadar dan tidak sadar mencari perhatian dari orang-orang sekelilingnya hingga disadarkan dengan kedatangan Naya.

Besok, ia akan bermain di pertandingan final. Biasanya, malam sebelum pertandingan besar dipenuhi kegelisahan dan keinginan untuk membuktikan dirinya. Ia akan menonton rekaman permainan lawan berulang kali, membayangkan sorak-sorai penonton, dan memikirkan berapa banyak poin yang harus dicetak agar namanya kembali menjadi pusat perhatian.

Namun, malam itu terasa berbeda. Ia masih ingin menang. Ia tetap ingin membawa timnya menjadi juara. Tetapi kemenangan tidak lagi harus menjadikannya satu-satunya pahlawan.

Nara telah belajar bahwa mengoper bola bukan berarti kehilangan kesempatan. Meminta maaf bukan berarti kalah. Memberi seseorang waktu bukan berarti menyerah. Dan menyukai Naya bukan berarti ia harus segera memiliki jawaban atas semua hal.

Hubungan mereka belum memiliki nama. Namun, Nara tidak keberatan. Naya telah memberinya sesuatu yang lebih penting daripada status. Kepercayaan.

Kesempatan untuk dikenal bukan sebagai pemain basket terkenal atau senior yang narsis, tetapi sebagai dirinya sendiri.

Nara mengambil buku catatan strategi pertandingan. Di antara halaman-halamannya terdapat tulisan kecil yang diberikan Naya pada pertandingan pertama.

Jangan bermain seperti orang yang sedang marah.

Nara tersenyum. Di bawah kalimat itu, ia menambahkan tulisan sendiri.

Bermainlah seperti seseorang yang sudah belajar mempercayai dan jangan menumpukan semuanya di pundakmu seolah hanya dirimulah yang harus bertanggung jawab untuk semuanya.

Ia menutup buku tersebut, mematikan lampu, dan merebahkan diri. Besok, Naya akan berada di tribun. Namun, Nara tidak lagi membutuhkan gadis itu untuk hanya melihatnya mencetak poin. Ia ingin Naya melihat cara dirinya bermain untuk tim. Cara dirinya bangkit jika terjatuh. Cara dirinya menerima kemenangan ataupun kekalahan. Karena kali ini, Nara tidak sedang berusaha membuat Naya terkesan. Ia yang mencintai basket dan menikmati permainannya seperti Naya yang mencintai renang dengan segala keanggunan gerakannya.

Ia sedang berusaha menjadi seseorang yang pantas dipercaya oleh gadis itu. Dan mungkin, setelah pertandingan final berakhir, jawaban sementara Naya akan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih pasti.

***

1
Wawan
Salam kenal untuk Naya 💪✍️
Ayunda Permata
Sukses Selalu Thor 🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!