Di dunia yang dikepung miliaran Monster ciptaan entitas purba Vitallion, kedudukan manusia ditentukan oleh seberapa agung Anima yang mereka panggil di Aula Kebangkitan.
Kael Ardyn, putra tunggal mendiang pahlawan militer, mendapati takdirnya hancur dalam semalam. Bukan makhluk Mitologi agung yang ia bangkitkan, melainkan Morthas (Sang Penuai Nyawa)—entitas Kelas Misterius berwujud Malaikat Maut yang terhapus dari sejarah ribuan tahun.
Dicap sebagai ancaman haram oleh Kerajaan Barat yang korup, Kael dijatuhi hukuman eksekusi mati. Diselamatkan di detik-detik terakhir oleh pendiri Guild Scar Horizon, Kael dilarikan ke alam liar di luar Dinding Peradaban.
Bersama persekutuan empat jiwa abnormal penguasa Anomali—Phoenix Api, Mammoth Purba, dan Kraken Kinetik—Kael menempa jiwanya untuk menguasai energi Kematian murni.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LANGKAH AWAL DI ANTARA EMPAT RANAH
BAB 5: LANGKAH AWAL DI ANTARA EMPAT RANAH
Setelah penjelasan panjang mengenai sejarah kelam yang melahirkan miliaran Beast di luar dinding, Grand Master Alden akhirnya bangkit dari kursi kayunya.
Ia menepuk pundak Kael pelan, menyalurkan sedikit kehangatan spiritual yang menenangkan. “Pikirkan itu nanti, Anak Muda. Untuk sekarang, tugas utamamu adalah memulihkan wadah jiwamu yang retak.”
“Istirahatlah sehari lagi, dan pastikan kau menghabiskan eliksir yang dibawa Elena,” pesan Grand Master Alden sebelum melangkah keluar bersama yang lainnya.
Keesokan paginya, matahari fajar baru saja mengintip dari balik kabut tebal Lapisan Kedua ketika pintu kamar Kael diketuk pelan.
Sosok tambun Hugo muncul membawa aroma roti gandum hangat. Cengiran polosnya merekah begitu melihat Kael sudah duduk di tepi ranjang dalam kondisi bugar.
“Wah, Kael! Kau sudah bisa duduk!” seru Hugo bersemangat sambil meletakkan nampan sarapan. “Bagaimana perasaanmu? Jika tubuhmu sudah tidak kaku, maukah kau kuajak berkeliling melihat markas Guild Scar Horizon?”
Kael tersenyum tipis dan mengangguk setuju. Berada di lingkungan baru membuatnya harus segera memetakan situasi dan peta kekuatan guild ini.
Setelah menghabiskan sarapan singkat, Kael menyusuri koridor-koridor batu luas bersama Hugo menuju lapangan latihan di tengah markas.
Begitu mereka tiba di tepi lapangan, dentingan logam yang memekakkan telinga bergaung keras, diiringi gelombang kejut yang menerbangkan debu.
“Hyaaa! Rasakan ini, Senior!” teriak Ren si rambut merah yang bergerak lincah di tengah arena.
Aura spiritual kebiruan menyelimuti tubuhnya, memanifestasikan tentakel-tentakel kinetik dari Animanya—Kraken Rin—yang mencoba mengunci lawan.
Namun, lawan bertarung Ren berdiri kokoh tanpa bergeming. Seorang pria paruh baya bertubuh kekar berzirah berat tampak menatap serangan Ren dengan santai.
Di belakang punggung pria itu, bermanifestasi sesosok Banteng Tanduk Baja yang sangat masif. Setiap kali tentakel kinetik Ren memukul, pria itu hanya mengayunkan lengan zirahnya yang dilapisi aura keemasan tebal, menghancurkan serangan Ren menjadi serpihan energi.
“Sialan! Kuat sekali!” gerutu Ren seraya melompat mundur dengan napas terengah-engah.
Kael memperhatikan pertarungan itu tanpa berkedip. “Tekanan energinya jauh berbeda. Makhluk banteng itu bahkan bukan Kelas Mitologi, tapi kenapa Ren tidak bisa menyentuhnya sama sekali?”
Hugo terkekeh di sampingnya. “Jangan melihat jenis Animanya, Kael. Senior itu namanya Kapten Gareth. Anima-nya memang hanya Kelas Tinggi biasa, tapi ranah jiwanya sudah mencapai tingkatan Emas.”
“Sementara Ren baru di tingkat Perunggu. Skala kekuatan mereka seperti kurcaci melawan raksasa,” tambah Hugo.
“Hmph, kau selalu saja melebih-lebihkan sesuatu, Gendut.” Sebuah suara ketus yang sangat familiar terdengar dari balik punggung mereka.
Elena berjalan mendekat dengan jubah abu-abunya yang berkibar. Sepasang mata merah menyala miliknya melirik sekilas ke arena sebelum terkunci padanya.
“Kau sudah bangun rupanya,” ucap Elena datar.
Kael membalas tatapan itu dengan tenang. “Ya. Energi di dalam Ranah Jiwaku juga sudah kembali mengalir normal.”
Elena membuang muka dan melipat tangan di dada. “Hmph, aku tidak menanyakan kondisi Ranah Jiwamu. Aku hanya memastikan obat kakek tidak terbuang sia-sia pada orang yang salah.”
Hugo mendadak mendekatkan wajahnya ke telinga Kael, berbisik pelan seraya menyenggol lengannya. “Hei, Kael... jangan dimasukkan ke hati. Ucapannya memang setajam silet, tapi dia sebenarnya peduli padamu. Jarang-jarang Elena mau menghampiri anak baru seperti ini, biasanya—”
WUSSS!
“Aaaakh! Panas! Panas! Ampun, Elena!”
Belum sempat Hugo menyelesaikan bisikannya, secercah api merah meletup dari ujung jari Elena dan membakar jubah belakang Hugo.
Asap hitam mengepul dan rasa panas yang menyengat membuat pemuda tambun itu menjerit heboh. Tanpa berpikir panjang, Hugo berbalik dan berlari kencang.
BYURRR!
Hugo menjatuhkan dirinya secara dramatis ke dalam kolam air besar di tepi lapangan.
Kael menggelengkan kepala melihat nasib malang temannya, sementara Elena hanya mendengus puas seraya memadamkan sisa api di jarinya tanpa penyesalan.
Sambil memperhatikan Ren yang terkapar kelelahan di kejauhan, sikap judes Elena perlahan melunak, berganti dengan nada serius.
“Karena kau sudah bisa berjalan, ada baiknya kau paham di mana posisimu sekarang, Kael,” ujar Elena tegas. “Di dunia ini, kekuatan manusia terbagi menjadi empat Ranah Jiwa yang mutlak: Perunggu, Perak, Emas, dan yang tertinggi adalah Berlian.”
Kael menyimak dengan saksama. “Empat Ranah... dan apa yang membedakan tingkatan di dalamnya?”
“Setiap Ranah memiliki dua tingkatan internal, yaitu Tingkat Awal dan Tingkat Puncak,” jawab Elena seraya menunjuk Kapten Gareth. “Perbedaannya bagai langit dan bumi. Seorang petarung di Ranah Perak Puncak bisa dengan mudah menghabisi sepuluh orang di Ranah Perunggu Awal hanya dengan kekuatan fisik murni.”
“Jadi, Ranah Jiwa adalah fondasi wadahnya, sedangkan Anima adalah senjata di dalamnya?” simpul Kael secara logis.
Elena melirik Kael sekilas, tampak sedikit terkesan dengan kecepatan tangkapnya. “Tepat. Wadah jiwa yang kuat menentukan seberapa besar energi yang bisa kau tampung.”
“Dan seperti yang kau tahu dari sejarah yang terhapus, Kasta Anomali terbagi menjadi dua kutub,” sambung Elena. “Kelas Mitologi yang menguasai elemen murni, dan Kelas Misterius yang memanifestasikan senjata konseptual.”
Elena berbalik penuh menghadap Kael, helai rambut merahnya bergoyang halus. “Kau memiliki Morthas, Sang Penuai Nyawa. Tapi dengan Ranah Jiwamu yang masih di tingkat Perunggu Awal...”
Elena menatap lurus ke dalam mata Kael. “Kau tak ubahnya seperti bayi yang dipaksa memegang pedang raksasa pemotong gunung. Satu ayunan yang salah, dan jiwamu sendiri yang akan terkoyak habis sebelum musuhmu mati.”
Kael mengepalkan jemarinya, merasakan getaran energi maut yang tertidur di dalam dadanya. Kata-kata Elena memang dingin, tetapi itu adalah kebenaran mutlak yang harus ia lalui jika ingin bertahan hidup.
Namun, sebelum Kael sempat membalas, sirine darurat di atas benteng Guild Scar Horizon mendadak meledak keras membakar udara!
NGUUUUUUUNG! NGUUUUUUUNG!
Cahaya kristal merah di sepanjang dinding markas menyala liar, menandakan invasi gelombang Beast Kelas Perak yang merobek jalur pertahanan Lapisan Kedua!