Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33: Penyesalan yang Terlambat
Telepon Arman malam itu membuat kalimat Edwin tidak pernah selesai.
Boonwen dibawa ke ruang keamanan hotel, Rudi menghilang sebelum polisi dipanggil, dan video keributan di ballroom menyebar di beberapa grup WhatsApp keluarga dalam hitungan jam. Selama tiga hari setelah itu, Liana sengaja tidak membuka banyak pesan. Ia bekerja, pulang ke Golden Crown, membantu Tiara memasak sederhana, lalu tidur lebih cepat dari biasanya.
Namun suara Edwin di dalam mobil tetap tertinggal.
Liana, dari awal aku...
Setiap kali mengingatnya, Liana memaksa dirinya menutup pikiran itu.
Ia tidak boleh menebak-nebak terlalu jauh.
Pada hari keempat setelah perayaan kacau itu, Albert menunggu di depan gedung fakultas UI Depok. Liana datang bukan untuknya, melainkan mengantar beberapa dokumen lama yang diminta Profesor Linus melalui asistennya. Ia baru keluar dari lobi ketika melihat Albert berdiri di dekat taman kecil dengan wajah kusut.
"Liana."
Langkah Liana berhenti. "Albert."
Ia tidak lagi memanggil laki-laki itu dengan marah. Justru karena tidak marah, jarak di antara mereka terasa lebih mutlak.
Albert mengusap tangan ke rambutnya. "Aku cuma mau bicara sebentar."
"Kalau soal pengadilan, bicara lewat Dennis."
"Bukan. Ini soal Jayden."
Nama anak itu membuat Liana tidak langsung pergi.
Albert menarik napas. "Setelah malam itu, dia terus bertanya siapa laki-laki yang datang. Yuni tidak mau menjawab. Aku juga..." Ia berhenti, seolah kalimat berikutnya terlalu pahit. "Aku juga tidak tahu harus percaya apa."
"Itu urusanmu dengan Yuni."
"Aku tahu." Albert menunduk. "Tapi dulu, kalau ada masalah anak, rumah, keluarga, aku selalu tinggal bilang padamu. Kamu yang mengurus semuanya. Sekarang semua hal kecil saja terasa berantakan."
Liana menatapnya lama.
Dulu, kalimat seperti itu mungkin membuat hatinya lunak. Ia akan memikirkan makan malam Albert, obat Kim Hwa, tugas Jason, tagihan listrik. Ia akan menelan letih karena mengira dibutuhkan sama artinya dengan dicintai.
Sekarang ia tahu bedanya.
"Albert," katanya pelan, "aku dulu mengurus semuanya bukan karena itu tugasku seorang diri. Aku melakukannya karena aku menganggap kita keluarga."
Wajah Albert menegang.
"Aku bodoh," katanya serak. "Kadang aku mikir, dulu aku terlalu bodoh sampai menyia-nyiakan kamu."
Angin Depok membawa bau rumput basah dan kopi dari kantin. Beberapa mahasiswa lewat sambil melirik, mengenali dosen mereka yang berdiri dengan mantan istrinya.
Liana tidak ingin menjadi tontonan lagi.
"Penyesalanmu tidak mengubah apa pun," jawabnya. "Aku sudah keluar dari rumah itu. Kalau kamu sungguh menyesal, jangan tarik aku kembali ke kekacauan yang kamu pilih sendiri."
"Aku tidak minta kamu kembali."
Liana menatapnya. Albert tidak sanggup mempertahankan tatapan itu.
"Setidaknya belum berani minta," kata Liana.
Kalimat itu tidak keras, tetapi cukup membuat wajah Albert pucat.
"Jaga Jayden," lanjut Liana. "Dia anak kecil. Jangan jadikan dia korban pertengkaran orang dewasa."
Liana berbalik sebelum Albert bisa menjawab.
Albert tetap berdiri di tempatnya. Untuk pertama kalinya, ia tidak punya alasan untuk memanggil Liana kembali. Tidak ada obat Kim Hwa yang bisa ia jadikan alasan, tidak ada jadwal Jason, tidak ada tagihan rumah. Semua pintu kecil yang dulu membuat Liana selalu kembali sudah tertutup.
Lalu ia melihat Hendra Png di ujung jalan kampus.
Hendra tidak mendekat dengan terburu-buru. Ia hanya berdiri menunggu, tetapi cara matanya mengikuti langkah Liana membuat dada Albert terasa sesak dengan rasa yang terlambat ia kenali sebagai cemburu.
Di ujung jalan kampus, Hendra Png berdiri dekat mobilnya. Ia terlihat ragu apakah harus menyapa. Setelah Liana mendekat, ia tersenyum canggung.
"Liana. Mau saya antar keluar kampus? Saya kebetulan mau ke arah Jakarta Selatan."
Liana hampir menolak, tetapi langit mulai gelap dan antrean taksi online di area kampus panjang. "Kalau tidak merepotkan."
"Tidak sama sekali."
Di mobil, Hendra tidak langsung membahas Albert. Ia justru bertanya tentang pekerjaan Liana, tentang apakah ia sudah terbiasa dengan Loh Group, tentang Profesor Linus yang belakangan terlihat lebih tenang setelah Liana kembali menata hidupnya.
Percakapan itu sopan. Hangat. Tidak menekan.
Beberapa hari kemudian, Hendra muncul lagi di lobi gedung SCBD saat Liana lembur. Ia membawa payung karena hujan turun deras.
"Saya ada meeting di dekat sini," katanya, terlalu cepat.
Liana melihat jasnya yang sudah sedikit basah. "Pak Hendra, kalau memang sengaja datang, bilang saja sengaja."
Wajah Hendra memerah tipis.
Untuk seorang dosen yang biasa berbicara di depan kelas, ia terlihat sangat tidak siap.
"Baik," katanya akhirnya. "Saya sengaja datang."
Hujan memukul kanopi lobi. Di belakang mereka, karyawan kantor keluar masuk, tetapi jarak suara hujan membuat percakapan itu terasa lebih pribadi.
"Liana, aku..." Hendra berhenti, lalu tertawa kecil pada dirinya sendiri. "Maaf, saya gugup."
Liana menunggu.
"Aku serius," lanjut Hendra. "Aku ingin lebih dekat denganmu. Bukan karena kasihan, bukan karena ingin menjadi pahlawan setelah Albert gagal. Aku hanya... sejak melihat kamu berdiri untuk dirimu sendiri, aku merasa ingin mengenalmu sebagai Liana, bukan sebagai istri Albert."
Kejujuran itu membuat Liana diam lebih lama.
Ia tidak tersinggung. Hendra tidak buruk. Ia datang dengan sopan, tidak memaksa, dan tidak memakai masa lalunya sebagai alat menekan. Namun dada Liana tetap tenang. Tidak ada debar. Tidak ada rasa ingin menunggu pesan. Tidak ada suara yang berhenti di udara seperti malam di mobil Edwin.
"Pak Hendra," katanya lembut, "terima kasih sudah jujur. Tapi saat ini aku tidak ingin memulai hubungan apa pun."
Hendra mengangguk pelan, meski kecewa jelas lewat di matanya.
"Karena Edwin Loh?"
Pertanyaan itu terlalu tepat.
Liana menunduk sebentar. "Karena aku sendiri belum selesai memahami hatiku."
Hendra tersenyum pahit, tetapi tetap hangat. "Itu jawaban yang adil."
"Aku harap kita tetap bisa berteman."
"Bisa." Ia menarik napas. "Dan kalau suatu hari kamu berubah pikiran, aku masih di sini. Tapi aku tidak akan mengganggu."
"Terima kasih."
Hendra mengantarnya sampai mobil kantor yang dipesan Arman datang. Ia tidak memaksa membuka pintu, hanya memastikan Liana tidak kehujanan. Sikap itu membuat Liana menghargainya, sekaligus makin jelas memahami bahwa rasa hormat tidak selalu berarti cinta.
Malam itu, Liana pulang ke Golden Crown dengan pikiran penuh.
Tiara belum pulang dari kantor. Unit 1601 sepi. Liana menaruh tas, melepas sepatu, lalu duduk di sofa tanpa menyalakan televisi. Hujan masih menempel di kaca balkon. Di luar, lampu unit 1602 Lily menyala redup.
Ponselnya bergetar.
Liana mengira itu Tiara.
Ternyata Edwin.
Besok ada waktu? Saya ingin mengajakmu ke suatu tempat.
Pesannya singkat. Tidak ada penjelasan. Tidak ada emotikon. Sangat Edwin.
Namun jantung Liana tetap melompat satu ketukan, seolah kalimat yang terputus di mobil akhirnya mengetuk pintunya lagi.
Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
Temen2, dukung dan baca karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
/Pray/