NovelToon NovelToon
Putri Kesayangan Raja Iblis

Putri Kesayangan Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Iblis / Fantasi Wanita / Menjadi bayi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama Baru dari Raja Iblis

Menunggu ternyata lebih melelahkan daripada berlari.

Aelora sudah mencoba duduk di ranjang, membaca buku, menghabiskan setengah mangkuk sup, lalu berpindah ke kursi dekat jendela. Tidak ada satu pun yang membuat waktu berjalan lebih cepat. Setiap kali terdengar langkah di lorong, ia menoleh. Setiap kali langkah itu melewati pintunya, ia kembali memandang halaman istana dengan perasaan semakin tidak enak.

Kael berjanji kembali sebelum malam.

Langit di luar sudah berubah merah tua.

“Kalau terus menempelkan wajah ke kaca, hidungmu akan menjadi pipih,” kata Eirna dari meja.

“Aku tidak menempel.”

Bekas embun berbentuk lingkaran di kaca mengatakan sebaliknya.

Eirna tidak membahasnya. Sejak siang, tabib itu duduk di kamar sambil menyusun obat, membaca laporan, dan sesekali memeriksa suhu tubuh Aelora tanpa diminta. Ia tampak sengaja mencari pekerjaan agar tidak perlu mengakui bahwa dirinya juga sedang menunggu kabar dari perbatasan.

Orin masuk membawa teko baru.

“Belum ada berita?” tanya Aelora.

“Belum.”

“Itu yang kau bilang setengah jam lalu.”

“Karena memang belum ada berita setengah jam lalu.”

“Sekarang?”

Orin meletakkan teko di atas meja. “Masih belum.”

Aelora mengembuskan napas panjang.

Piko duduk di pangkuannya. Sejak memperingatkan bahwa para pemburu datang untuk membunuhnya, boneka itu kembali diam. Aelora sudah mengguncang, membujuk, bahkan mengancam akan menyerahkannya kepada Eirna. Tidak ada jawaban.

Ia mulai curiga Piko hanya berbicara ketika ingin membuat masalah lebih buruk.

“Pasukan perbatasan cukup kuat,” kata Orin. “Yang Mulia juga tidak pergi sendirian.”

“Dia selalu tidak sendirian sebelum akhirnya melakukan semuanya sendiri.”

Orin berhenti menuangkan teh.

Aelora menyadari kalimat itu terdengar seperti pengalaman, bukan dugaan.

Eirna menatapnya dari balik laporan. “Apakah itu bagian dari mimpimu?”

“Sedikit.”

“Kael terluka?”

“Aku tidak tahu.”

Itu bukan sepenuhnya bohong. Ingatannya tentang pemburu Gereja Fajar bercampur dengan terlalu banyak peristiwa lain. Ia ingat Kael pernah kembali dari perbatasan dengan luka cahaya di bahu. Namun ia tidak ingat kapan. Bisa jadi bertahun-tahun kemudian. Bisa juga malam ini.

Aelora mengetukkan ujung sandal ke kaki kursi.

Orin meliriknya. “Anda akan membuat kaki Anda sakit lagi.”

“Aku tidak melakukan apa-apa.”

“Kaki kiri Anda sudah mengetuk meja selama dua belas menit.”

Aelora berhenti.

“Kalau Kael tidak kembali sebelum malam, apa yang terjadi?”

“Pasukan kedua dikirim.”

“Siapa yang memimpin?”

“Komandan Daren.”

Nama itu masih dikenal Aelora. Daren akan kehilangan sebelah matanya dalam perang, tetapi tetap memimpin pertahanan istana sampai hari terakhir.

Sekarang ia bahkan belum menjadi komandan utama.

Aelora menatap bulan yang mulai muncul di balik menara.

“Sudah malam.”

“Belum sepenuhnya,” kata Orin.

“Bulan sudah kelihatan.”

“Bulan di Nocthara sering muncul sebelum matahari tenggelam.”

“Itu curang.”

Orin hampir menjawab ketika lonceng gerbang berbunyi.

Satu kali panjang.

Lalu dua kali pendek.

Orin langsung menoleh ke jendela. Eirna berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser.

Aelora sudah turun dari kursi.

“Pasukan kerajaan kembali,” kata Orin.

Aelora berlari menuju pintu.

Eirna menangkap bagian belakang mantelnya. “Jalan.”

“Aku jalan cepat.”

“Itu namanya berlari.”

“Aku tidak sakit lagi.”

“Pergelangan kakimu belum setuju.”

Aelora mencoba melepaskan mantelnya, tetapi Orin sudah membuka pintu dan dua penjaga di luar langsung menghalangi jalan.

“Nona Aelora harus tetap di kamar.”

“Kael pulang.”

“Perintah Yang Mulia—”

“Perintahnya dibuat sebelum dia pulang.”

Para penjaga saling pandang. Mereka tidak tampak siap menghadapi perdebatan dengan anak tujuh tahun.

Eirna akhirnya melepaskan mantel Aelora. “Kita turun bersama. Pelan-pelan.”

Aelora mengangguk terlalu cepat.

Mereka baru mencapai ujung lorong ketika suara dari halaman terdengar. Kuda meringkik, sepatu besi menghantam batu, dan beberapa orang saling meneriakkan perintah. Bau asap masuk melalui jendela-jendela yang terbuka.

Aelora mempercepat langkah meski Eirna sudah memperingatkan.

Dari balkon atas aula, ia dapat melihat gerbang utama terbuka. Pasukan Nocthara memasuki halaman dalam dua baris. Beberapa membawa tahanan berjubah putih dengan tangan terikat ke belakang.

Kael berada di barisan paling depan.

Ia masih duduk di atas kudanya, tetapi mantel hitamnya robek pada bagian bahu. Ada noda terang seperti abu menempel di salah satu lengan. Rambutnya basah oleh hujan dan sebagian jatuh ke dahi.

Aelora langsung memeriksa apakah ada darah.

Tidak terlihat dari jarak itu.

Kael menuruni kuda, berbicara singkat dengan Daren, lalu mengangkat kepala.

Tatapannya menemukan Aelora di balkon.

Wajahnya langsung berubah tidak senang.

Bukan marah karena melihatnya. Lebih seperti seseorang yang baru mengetahui perintahnya tidak dipatuhi.

Aelora melambaikan tangan kecil.

Kael menatap Eirna.

Tabib itu mengangkat kedua telapak tangan. “Dia berjalan, bukan berlari.”

Aelora pura-pura tidak mendengar.

Beberapa menit kemudian Kael masuk ke aula. Dua penjaga mengikuti dengan membawa peti kayu panjang. Di belakang mereka, Daren menggiring tiga tahanan Gereja Fajar.

Aelora menuruni dua anak tangga terakhir dengan hati-hati.

“Kau terluka?”

Kael melihat bahunya sendiri. “Tidak.”

“Bajumu robek.”

“Baju bisa robek tanpa orang di dalamnya ikut robek.”

Aelora mendekat dan memeriksa lengan mantelnya. Noda abu putih masih berasap tipis.

Eirna langsung menyentuhnya dengan alat logam. Asap mendesis.

“Ini bekas sihir pemurnian.”

“Aku tahu,” jawab Kael.

“Kalau tahu, kenapa masih dipakai?”

“Karena aku belum sempat mengganti pakaian di tengah hutan.”

Eirna menatapnya seolah mempertimbangkan untuk memukul Raja Iblis dengan alat pemeriksaan.

Aelora menarik ujung lengan Kael. “Mereka benar-benar datang untukku?”

Kael menatap tiga tahanan di belakangnya. Salah seorang pemburu tampak masih sangat muda. Wajahnya tidak jauh berbeda dari pemuda desa biasa, kecuali lambang matahari yang dibakar pada lehernya.

“Ya.”

“Berapa orang?”

“Enam.”

“Yang lain?”

“Dua melarikan diri. Satu mencoba menelan racun.”

Aelora memandang tahanan paling muda. Ia menunduk dan tidak berani membalas tatapan.

“Apakah mereka tahu aku ada di istana?”

“Mereka tahu aku menemukanmu. Mereka belum tahu kamar atau bagian istana yang kautempati.”

Kael memberi isyarat kepada Daren. Para tahanan dibawa pergi menuju ruang pemeriksaan.

Aelora melihat peti kayu yang dibawa penjaga. Pada penutupnya terdapat lambang Gereja Fajar.

“Apa isinya?”

“Barang mereka.”

“Boleh kulihat?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Salah satu botol di dalamnya dapat membakar kulit iblis sampai tulang.”

Aelora menjauh dari peti.

“Baik. Aku tidak mau lihat.”

“Itu keputusan terbaikmu hari ini.”

Kael mulai berjalan menuju tangga.

Aelora mengikutinya.

“Ke mana?”

“Ruang dewan.”

“Aku ikut.”

“Tidak.”

“Mereka akan membicarakanku lagi.”

“Ya.”

“Berarti aku harus ikut.”

“Tidak.”

Aelora berhenti di tengah aula. “Kau selalu bilang tidak.”

“Karena kau terus meminta hal yang berbahaya.”

“Duduk di ruang dewan berbahaya?”

“Dengan anggota dewanku, kadang-kadang.”

Orin mendekat dari belakang sambil membawa mantel pengganti. “Yang Mulia, para kepala klan sudah berkumpul. Mereka mendengar kabar tentang penyusup sebelum pasukan tiba.”

Kael menerima mantel itu, tetapi tidak langsung memakainya.

“Apa yang mereka minta?”

“Status resmi Aelora.”

Aelora menatap Orin. “Status apa?”

Kepala pelayan terlihat tidak nyaman. “Dewan berpendapat perlindungan pribadi Raja tidak cukup jelas secara hukum.”

“Tadi mereka ingin aku pergi. Sekarang mereka peduli dengan hukum?”

“Dewan sangat menyukai hukum ketika hukum dapat dipakai untuk berdebat.”

Kael mengenakan mantel barunya. “Aku akan menyelesaikannya.”

Aelora memegang tangannya sebelum ia pergi.

“Bagaimana?”

Kael melihat jari kecil yang menggenggam sarung tangannya.

“Dengan memberi mereka jawaban yang tidak bisa diperdebatkan.”

Ia tidak menjelaskan lebih jauh.

Ruang Sidang Bulan jauh lebih ramai daripada pagi tadi.

Selain tujuh kepala klan, hadir pula pemimpin penjaga, tabib kerajaan, dua ahli rune, dan tiga pencatat hukum. Ketika Kael masuk bersama Aelora, percakapan langsung berhenti.

Ia akhirnya mengizinkan Aelora hadir.

Bukan karena bujukan.

Aelora berdiri di depan pintu dan menolak bergerak sampai Kael menyerah.

Sekarang ia mulai menyesali keberhasilannya.

Semua orang melihatnya.

Lady Varessa mengamati dari rambut sampai sandal kainnya. Lord Sevran tidak menyembunyikan ketidaksukaan. Beberapa orang lain terlihat lebih penasaran daripada marah, tetapi itu tidak membuat Aelora nyaman.

Kael menempatkannya pada kursi kecil di sebelah kursi takhta.

Kursi itu mungkin biasa digunakan pelayan atau juru tulis. Kaki Aelora tetap tidak mencapai lantai.

Piko duduk di pangkuannya.

Lord Sevran berdiri lebih dulu. “Yang Mulia membawa anak tersebut ke sidang?”

“Namanya Aelora.”

“Dia belum memiliki kedudukan di Nocthara.”

“Itulah sebabnya kita berkumpul.”

Kael duduk. Bayangannya jatuh panjang di belakang kursi, tetapi tidak menyentuh siapa pun.

Lady Varessa membuka sebuah gulungan hukum.

“Serangan Gereja Fajar membuktikan keberadaan anak itu berkaitan dengan konflik lintas alam. Selama statusnya tidak ditetapkan, dewan tidak dapat menentukan bentuk perlindungan atau batas kewenangannya.”

“Aku sudah menentukan bentuk perlindungannya,” kata Kael.

“Perlindungan pribadi Raja berakhir jika Raja tidak berada di istana.”

“Pasukanku tetap ada.”

“Pasukan tunduk pada hukum Nocthara, bukan perasaan pribadi.”

Aelora melihat rahang Kael mengeras.

Ia menyentuh ujung mantelnya dari bawah meja. Gerakan kecil itu membuat Kael menoleh sebentar, lalu kembali menghadapi dewan.

Lord Merek menyandarkan kedua tangan pada tongkatnya. “Kami tidak meminta anak itu diserahkan kepada Asteria. Setelah serangan hari ini, jelas Gereja Fajar tidak berniat membawanya pulang dengan aman.”

Aelora memandangnya. Ini pertama kalinya ada anggota dewan yang mengatakan sesuatu yang tidak terdengar seperti ancaman.

“Tetapi,” lanjut Merek, “dia tidak dapat tinggal sebagai tamu tanpa batas waktu. Tamu dapat diminta pergi. Tamu juga tidak memiliki hak perlindungan darah.”

“Lalu apa usulanmu?” tanya Kael.

“Perwalian kerajaan.”

Sevran langsung memukul meja dengan telapak tangannya. “Tidak.”

Beberapa anggota lain mulai berbicara bersamaan.

Aelora tidak memahami semua istilah yang mereka gunakan. Ada pembicaraan mengenai hak waris, tanggung jawab klan, batas garis darah, dan pengakuan takhta. Semakin lama, suara-suara itu menyatu menjadi keributan yang membuat kepalanya sakit.

Kael membiarkan mereka berdebat sekitar satu menit.

Kemudian ia mengetukkan cincin ke meja.

Bunyinya tidak keras, tetapi seluruh ruangan langsung diam.

“Aku tidak meminta kalian memilih.”

Varessa menutup gulungan hukum. “Kalau begitu, apa keputusan Yang Mulia?”

Kael berdiri.

Ia menatap Aelora, bukan anggota dewan.

“Berdirilah.”

Aelora turun dari kursinya. Piko masih dipeluk di dada.

“Ke sini.”

Ia berjalan mendekati Kael. Semua orang mengikuti gerakannya.

Kael melepas cincin kerajaan dari jari telunjuk. Cincin itu terbuat dari logam hitam dengan batu berbentuk bulan merah. Ia meletakkannya di atas meja, lalu mengambil belati pendek dari pinggang.

Aelora langsung menatap Eirna.

Tabib itu menggeleng kecil, memberi tanda bahwa tidak ada yang akan menyakiti dirinya.

Kael menarik ujung belati pada telapak tangannya sendiri.

Darah hitam muncul.

“Kenapa harus pakai darah?” bisik Aelora.

“Karena hukum Nocthara tua dan dramatis,” jawab Kael.

Beberapa kepala klan tampak tersinggung, tetapi tidak berani membantah.

Kael meneteskan darah pada cincin kerajaan. Batu merah di tengahnya menyala.

“Ulurkan tanganmu.”

Aelora memberikan tangan kanan.

Kael tidak melukai kulitnya. Ia hanya menyentuhkan cincin yang sudah berlumur darah ke bagian tengah telapak tangan Aelora.

Cahaya ungu membentuk lingkaran di bawah kaki mereka.

Lady Varessa berdiri. “Yang Mulia, ritual nama perlindungan mengikat anak itu pada mahkota.”

“Aku tahu.”

“Jika garis darahnya berasal dari Elyrion, ikatan dapat dianggap sebagai pencurian pewaris langit.”

“Dia dibuang Asteria dan diburu Gereja Fajar. Elyrion kehilangan kesempatan menyampaikan keberatan dengan sopan.”

Sevran maju setengah langkah. “Ritual ini tidak bisa dibatalkan.”

Kael menatapnya. “Itulah tujuannya.”

Aelora memandang cincin pada telapak tangannya. Cahaya ungu merambat ke pergelangan, bertemu dengan tanda sayap tersembunyi. Untuk sesaat kedua warna itu saling mendorong.

Kemudian bayangan Kael melingkari cahaya putih, bukan untuk memadamkannya, melainkan seperti dinding yang melindungi nyala lilin dari angin.

Kael berbicara menggunakan bahasa Nocthara lama.

Aelora tidak memahami seluruh kata. Namun ia mengenali namanya sendiri di tengah kalimat.

“Aelora Arvand,” kata Kael setelah kembali ke bahasa umum, “anak yang ditemukan di Hutan Hitam dan ditolak oleh tanah kelahirannya.”

Ia berhenti sebentar.

Aelora menatapnya.

“Mulai malam ini, kau berada di bawah nama dan perlindungan rumah Vesperion.”

Bisik-bisik terdengar di antara anggota dewan.

Kael tidak memedulikannya.

“Di hadapan Dewan Bulan, tujuh klan, dan takhta Nocthara, aku memberimu nama perlindungan.”

Cincin kerajaan bergetar di telapak Aelora.

Kael menutup jemari kecilnya di sekitar benda itu.

“Aelora Vesperion.”

Napas Aelora tertahan.

Ia pernah memakai banyak nama.

Anak kutukan.

Anak penyihir.

Tahanan gereja.

Kunci gerbang.

Namun belum pernah ada seseorang yang memberikan nama keluarga bukan untuk menandainya, menghakimi, atau menyembunyikannya.

Kael melanjutkan dengan suara lebih rendah.

“Putri Bulan Kecil Nocthara.”

Cahaya di bawah kaki mereka naik.

Tidak meledak. Tidak membakar.

Cahaya itu mengalir lembut ke seluruh ruangan, menyentuh pilar, meja, dan lambang-lambang klan. Bayangan di dinding membungkuk satu per satu.

Aelora menggenggam cincin di tangannya.

“Apakah itu berarti aku benar-benar putri?”

Kael menatapnya. “Secara hukum, ya.”

“Aku harus memakai mahkota?”

“Tidak setiap hari.”

“Harus belajar etika?”

“Sayangnya.”

“Boleh menolak?”

“Tidak.”

Aelora memikirkan itu beberapa saat, lalu bertanya, “Boleh tetap dipanggil Aelora?”

Wajah Kael melunak sedikit.

“Selalu.”

Lady Varessa menundukkan kepala lebih dulu.

“Dewan mengakui nama yang diberikan takhta.”

Lord Merek mengikuti. Satu per satu anggota dewan melakukan hal yang sama. Sevran menjadi yang terakhir. Ia menunduk hanya sedikit, seperti lehernya mendadak kaku.

Namun ia tetap menunduk.

Aelora melihat mereka semua, lalu memandang cincin di tangannya.

Benda itu terlalu besar untuk jarinya.

Kael mengambilnya kembali, memasang cincin tersebut pada rantai tipis, lalu menggantungkannya di leher Aelora.

“Jangan hilangkan.”

“Aku tidak pernah menghilangkan barang.”

Kael melihat Piko yang kehilangan satu mata dan hampir tidak memiliki telinga kiri.

“Pernyataan itu meragukan.”

“Piko sudah rusak sebelum bersamaku.”

Boneka itu mendadak mengeluarkan bunyi kecil seperti orang tersinggung.

Semua kepala menoleh.

Aelora cepat-cepat menutupi mulutnya dengan tangan.

“Dia batuk.”

Tidak ada yang percaya.

Jauh di atas awan yang tidak pernah disentuh malam, Elyrion berdiri dalam cahaya abadi.

Menara-menara putih menjulang di antara sungai yang mengalir di udara. Sayap para penjaga bergerak pelan saat mereka melintasi jembatan kaca. Tidak ada hujan. Tidak ada bayangan.

Lalu langit retak.

Suara pecahannya terdengar sampai ke aula terdalam.

Para malaikat berhenti.

Sebuah garis hitam muncul di kubah cahaya, tipis pada awalnya, lalu melebar seperti luka. Dari celah itu keluar sinar putih bercampur ungu.

Di ruang pengadilan, tujuh lonceng suci berbunyi sendiri.

Seorang lelaki bersayap enam membuka mata.

Di hadapannya, permukaan kolam ramalan menampilkan seorang anak kecil berdiri di samping Raja Iblis. Di lehernya tergantung cincin Vesperion.

Lelaki itu menyentuh air.

Gelombang menyebar, dan sebuah nama terdengar dari dasar kolam.

Aelora Vesperion.

Putri Bulan Kecil Nocthara.

Wajah lelaki bersayap itu berubah.

“Tidak mungkin.”

Di belakangnya, sosok lain berdiri dari singgasana cahaya. Wajahnya tertutup topeng emas berbentuk matahari.

“Jadi Kael akhirnya memberinya nama.”

“Segelnya seharusnya tetap tidur.”

“Segel itu tidak bangun sendiri.”

Sosok bertopeng berjalan mendekati kolam. Ketika melihat wajah Aelora, jari-jarinya menegang pada tongkat putih yang dibawanya.

“Darah Seraphiel telah ditemukan.”

Retakan di langit Elyrion kembali melebar.

Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, seluruh alam malaikat mendengar tangisan seorang anak dari dunia di bawah.

Bukan tangisan ketakutan.

Tangisan lega.

Sosok bertopeng memandang pantulan Kael yang sedang memasangkan rantai pada leher Aelora.

“Raja Iblis telah memberinya rumah.”

Suaranya terdengar tenang, tetapi cahaya di sekelilingnya mulai membakar lantai.

“Sekarang kita harus mengambilnya sebelum ia belajar mencintai tempat itu.”

1
Carina Yuda
Okee kak. Udah update yaaa
Septriani Margaret
lanjutannya kk
Carina Yuda: Okee kk. Sudah update yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!