"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.
Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.
Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.
Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17 — Dua Puluh Detik
Sepulang dari daerah gempa, Surya kembali ke OK dengan debu yang seolah masih menempel di ingatan.
dr. Taufik memberinya daftar tindakan sederhana. "Mulai dari operasi kecil. Jangan merasa semua kasus harus dibuat spektakuler."
Surya menerima tanpa protes. Menyelamatkan pasien tidak menjadi kurang penting hanya karena prosedurnya kecil.
Namun sebelum tindakan pertama dimulai, rombongan VIP memasuki bangsal. Pak Santoso, pengusaha besar yang pernah membantu pendanaan rumah sakit, datang membawa ayahnya untuk konsultasi. Dia langsung meminta Surya sebagai dokter utama tim.
dr. Taufik masih memegang daftar operasi kecil ketika Pak Bambang berkata, "Pasien VIP memilih Surya setelah membaca rekam klinisnya. Dok Taufik dapat membantu penjadwalan ulang."
Rizki berbisik, "Tamparannya datang terlalu cepat."
Surya menyikutnya agar diam.
Kasus yang kemudian mengubah seluruh bangsal berasal dari Pak Sukarno, lelaki tua dengan perdarahan otak masif. Sebelum kesadarannya hilang, dia sudah terdaftar sebagai calon donor organ dan meninggalkan pernyataan yang disaksikan keluarga.
"Kalau otak saya tidak bisa diselamatkan," katanya dalam rekaman, "periksa apakah jantung saya bisa menolong istri saya. Jangan ambil kalau melanggar aturan. Tapi kalau diizinkan, jangan kubur jantung yang masih sehat."
Istrinya menderita gagal jantung terminal dan berada dalam daftar transplantasi. Pemeriksaan menunjukkan kecocokan luar biasa.
Tim independen menetapkan kematian batang otak melalui pemeriksaan berulang tanpa keterlibatan dokter transplantasi. Komite etik, koordinator transplantasi, keluarga, dan otoritas terkait menilai alokasi. Permintaan Pak Sukarno tidak otomatis mengalahkan daftar tunggu, tetapi setelah seluruh kriteria medis dan administratif terpenuhi, istrinya ditetapkan sebagai penerima yang sah.
Surya berdiri di antara dua OK.
Di satu ruangan, tim mengambil jantung Pak Sukarno dengan penghormatan penuh. Di ruangan lain, istrinya terhubung ke mesin bypass jantung-paru.
"Mulai waktu iskemia," kata koordinator.
Organ dipindahkan. Surya memimpin penyambungan di bawah tim konsultan transplantasi: atrium, pembuluh besar, arteri pulmonalis, dan aorta. Setiap jahitan diperiksa sebelum klem dilepas.
Mesin bypass mulai dikurangi.
Jantung donor masih diam.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Tak seorang pun di OK berbicara.
Lima belas detik.
Surya memegang instrumen, siap melakukan langkah berikutnya.
Pada detik kedua puluh, jantung itu berkontraksi.
Sekali.
Kemudian lagi, lebih kuat.
Monitor membentuk irama teratur. Tekanan darah penerima naik seiring mesin bypass dihentikan.
Beberapa perawat bersorak pelan. Dokter anestesi mengangkat ibu jari. Surya menatap jantung yang kini berdetak di dada seorang perempuan, membawa keputusan terakhir suaminya menjadi kehidupan.
Kegembiraan tidak membuat tim melupakan tahap berikutnya. Mereka memeriksa perdarahan, fungsi ventrikel, suhu, dan keseimbangan cairan sebelum memindahkan pasien ke ICU transplantasi. Obat imunosupresif dimulai sesuai protokol, bersama pemantauan infeksi dan penolakan organ.
Surya menemui keluarga donor lebih dulu. Dia tidak mengatakan operasi berhasil seolah kematian Pak Sukarno menjadi kabar bahagia.
"Pernyataan beliau dihormati dan prosedur donor selesai dengan layak," katanya. "Terima kasih sudah mempertahankan keputusan beliau pada saat keluarga sedang berduka."
Putra Pak Sukarno menahan tangis. "Apakah Ibu sudah sadar?"
"Belum. Kondisinya stabil, tetapi dua puluh empat jam pertama masih kritis."
Mereka baru melihat sang ibu dari balik kaca setelah tim ICU mengizinkan. Monitor dan perban membatasi pertemuan tersebut. Koordinator transplantasi kembali menjelaskan kebutuhan obat serta kontrol seumur hidup.
Keesokan harinya, fungsi jantung donor tetap baik. Sang istri membuka mata dan menekan jari anaknya. Tim transplantasi mencatat keberhasilan awal tanpa menyebutnya akhir perjalanan.
dr. Taufik membaca laporan itu di meja dokter. Daftar operasi kecil yang semula diberikannya kepada Surya masih berada di bawah berkas transplantasi.
"Saya tidak akan menarik ucapan soal operasi kecil," katanya. "Dokter yang bagus tetap harus menghormati tindakan sederhana. Tapi saya mengakui, menaruhmu hanya di sana akan membuang kemampuan."
"Saya setuju pada bagian pertama, Dok," jawab Surya. "Tidak ada pasien kecil."
dr. Taufik mengangguk. Pengakuan itu tidak merendahkannya; justru membuat perubahan sikapnya terasa sah.
Keluarga donor dan penerima memberi rasa terima kasih pada waktu berbeda. Nilai Pahala bertambah sepuluh persen, lalu lima belas persen. Totalnya menjadi dua puluh lima persen.
Di bangsal VIP, masalah lain menunggu.
Dona Santoso, putri Pak Santoso, mendatangi Surya malam-malam dengan pakaian pesta dan alasan meminta konsultasi pribadi. Begitu pintu ditutup, nadanya berubah.
"Anindya tidak perlu tahu kita bertemu."
Surya membuka kembali pintu. "Kalau konsultasi medis, perawat harus berada dalam jangkauan. Kalau bukan, percakapan selesai."
Dona mendekat. "Anda bisa mendapat lebih banyak daripada gaji rumah sakit."
"Saya sudah punya Anindya. Dan saya tidak menukar hubungan dengan rekening."
Penolakan itu berubah menjadi serangan publik keesokan harinya. Di depan teman-temannya, Dona menyebut Surya lelaki desa yang memanfaatkan Anindya demi mobil dan status. Dia juga menuduh Surya memaksanya menjalani pemeriksaan hormon untuk mempermalukannya.
"Kalau Anda yakin saya berbohong, izinkan rumah sakit menjelaskan pemeriksaan itu," kata Surya. "Secara tertulis. Tanpa izin, saya tidak akan membuka data medis Anda."
Dona menandatangani pelepasan terbatas di depan kuasa hukum keluarga, yakin hasilnya normal. Dia bahkan memulai live streaming sendiri.
Laporan enam hormon menunjukkan kelainan endokrin yang memang membutuhkan tindak lanjut. Surya tidak menghubungkannya dengan moralitas atau menyebut penyakit sebagai bukti rayuan.
"Hasil ini hanya membuktikan alasan pemeriksaan medis," katanya. "Karakter Anda dinilai dari pesan tengah malam yang Anda kirim sendiri."
Dona sebelumnya mengunggah tangkapan layar terpotong. Versi lengkap dari ponselnya—yang dia setujui ditampilkan dalam mediasi—memuat ajakan merahasiakan pertemuan dan tawaran uang. Dua istri dari pria menikah yang pernah dia hubungi menyerahkan bukti resmi melalui pengacara.
Wajah Dona memucat.
Anindya datang sebelum dia sempat mengalihkan serangan.
"Surya tidak mengejar saya," katanya di depan semua orang. "Saya yang membelikan mobil karena kendaraannya tidak aman. Saya yang pernah pingsan dan dibantu olehnya. Saya juga yang menciumnya lebih dulu dengan permen impor."
Dia menggenggam tangan Surya.
"Jadi kalau Anda mau bilang dia tidak pantas, bicaralah kepada saya. Saya yang memilih."
Teman-teman Dona menurunkan ponsel. Tidak ada celah tersisa untuk mempertahankan cerita bahwa Surya memburu kekayaan Anindya.
Malam itu, Anindya membawa beberapa kotak ke rumah Surya.
"Obat, pakaian, dan dokumen darurat," katanya. "Bukan berarti kamu boleh mengatur seluruh hidup saya."
"Kita tinggal bersama dengan aturan yang jelas," jawab Surya. "Privasi, obat, jadwal kontrol, dan ruang untuk bertengkar tanpa menghilang."
Anindya mengulurkan tangan. "Setuju."
Mereka belum selesai menata kotak ketika Pak Hendra menelepon.
"Pak Santoso setuju menjalani operasi kanker," katanya. "Kasusnya bisa sepuluh jam lebih. Bu Mawar terus bilang akan berterima kasih seumur hidup kalau suaminya selamat."
Panel Nilai Pahala berpendar di sudut pandangan Surya.
Entah kenapa, sistem tidak ikut bereaksi pada ucapan Bu Mawar.