Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.
Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.
Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Pesta Para Pembohong dan Malam Pembantaian
Dermaga Whiskey Peak dipenuhi oleh hiruk-pikuk yang memekakkan telinga. Alunan musik dari akordeon dan biola berpadu dengan sorak-sorai ratusan warga yang mengelu-elukan kedatangan kapal Tartarus. Konfeti berterbangan di udara, menempel pada kayu hitam legam kapal galleon tersebut.
Roy Mustang melangkah menuruni papan kayu menuju dermaga, disambut oleh seorang pria paruh baya berambut pirang ikal yang ditata menyerupai silinder meriam, mengenakan setelan jas hijau yang mencolok.
"Ma-ma-ma-maa!" tawa pria itu menggema, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. "Selamat datang, para pahlawan lautan! Saya adalah Walikota Whiskey Peak, Igaram! Kami adalah kota yang mendedikasikan diri untuk menyambut para pelaut hebat yang berhasil menaklukkan Reverse Mountain!"
Mustang menatap Igaram dengan senyum diplomatis yang sempurna. "Sebuah kehormatan, Walikota. Aku adalah Kolonel Mustang. Dan sejujurnya, setelah menghadapi cuaca Grand Line yang tidak masuk akal, sebuah sambutan hangat adalah hal yang paling kami butuhkan."
"Tentu saja, tentu saja! Silakan ikuti kami, panggung perjamuan telah disiapkan!" Igaram menunjuk ke arah pusat kota dengan antusias.
Di belakang Mustang, Vivi (Miss Wednesday) dan Mr. 9 berjalan dengan senyum lega yang dibuat-buat. Mereka segera berbaur dengan kerumunan, saling melempar pandangan penuh arti dengan Igaram. Sandiwara ini adalah rutinitas yang telah mereka lakukan ratusan kali. Memabukkan bajak laut, membuat mereka tertidur, lalu menyembelih mereka untuk ditukarkan dengan uang buronan guna mendanai organisasi Baroque Works.
Dan di barisan paling belakang, Muzan Kibutsi melangkah turun dari kapal. Jubah hitamnya menutupi seluruh tubuhnya, tudung kepalanya ditarik rendah. Tidak ada warga kota yang memperhatikannya; di mata mereka, Muzan hanyalah seorang pelayan pembawa barang yang tidak memiliki nilai jual.
Namun, di balik tudung itu, sepasang mata hitam yang dingin sedang membedah setiap inci kota ini.
Ratusan pembunuh bayaran tingkat rendah. Mereka bahkan tidak memiliki kemampuan Haki atau Buah Iblis, batin Muzan dengan tenang. Otak superkomputernya, yang didukung oleh 636 Poin Kekuatan Mental, menguraikan setiap detak jantung palsu, setiap hembusan napas yang menyembunyikan ketegangan, dan setiap pergerakan tangan yang bersiap meraih belati di balik jubah mereka. Organisasi Baroque Works yang dipimpin Crocodile mengandalkan kuantitas di perbatasan ini. Sangat tidak efisien.
Muzan tidak menolak undangan pesta tersebut. Ia dan Mustang mengikuti arahan Igaram menuju alun-alun kota yang telah disulap menjadi area perjamuan luar ruangan yang megah. Meja-meja panjang dipenuhi dengan tong-tong anggur, bir gandum, daging panggang raksasa, dan berbagai hidangan lezat.
Pesta pun dimulai.
Warga kota—yang sebenarnya adalah agen-agen rendahan Baroque Works (Millions dan Billions)—mengerumuni Mustang. Mereka bersulang, menuangkan anggur tanpa henti ke dalam gelas sang Kolonel, dan memuji-muji kehebatannya dengan kata-kata manis.
"Minumlah, Tuan Kolonel! Anggur Whiskey Peak adalah yang terbaik di seluruh Grand Line!" bujuk seorang wanita cantik, menyodorkan segelas penuh anggur merah.
Mustang tertawa renyah, menerima gelas tersebut. "Kalian benar-benar tahu cara memanjakan tamu." Ia mendekatkan gelas itu ke bibirnya dan meneguknya hingga habis. Sorak-sorai meledak dari para pembunuh bayaran di sekitarnya.
Namun, tak satu pun dari mereka menyadari keajaiban mikroskopis yang terjadi di dalam gelas itu.
Melalui instruksi pasif Muzan, Mustang memanipulasi suhu dan kepadatan molekul udara di sekitar bibir gelas sesaat sebelum cairan itu masuk ke mulutnya. Ia menguapkan alkohol dan racun obat tidur ringan yang dicampurkan ke dalam anggur tersebut dalam sepersekian detik, hanya menyisakan rasa sari buah murni yang tertelan. Bagi mata biasa, sang Kolonel terlihat sedang menenggak literan alkohol yang mematikan.
Sementara itu, Muzan duduk diam di sudut meja yang paling gelap. Ia diberikan sepiring daging dan segelas air putih, yang sama sekali tidak ia sentuh. Ia bersandar ke dinding batu bata, matanya terpejam, berpura-pura tidur akibat kelelahan.
Empat jam berlalu.
Bulan purnama kini menggantung tinggi di tengah malam Grand Line yang membekukan. Suasana pesta yang tadinya riuh perlahan mereda. Dengkur halus mulai terdengar.
Di kursi utama perjamuan, Roy Mustang terlihat menelungkupkan kepalanya di atas meja kayu, tangannya masih menggenggam gelas kosong. Dengkurannya terdengar teratur dan berat. Ia tampaknya telah sepenuhnya takluk oleh alkohol dan obat tidur.
Di sudut ruangan, sosok anak kecil berjubah hitam (Muzan) juga tidak menunjukkan pergerakan sedikit pun, bernapas dengan ritme lambat orang yang tertidur pulas.
Kesunyian menyelimuti alun-alun. Angin malam berhembus menyapu sisa-sisa konfeti di atas meja.
Tiba-tiba, dari balik bayang-bayang gang dan atap bangunan di sekeliling alun-alun, ratusan siluet mulai bermunculan. Senyum ramah dan tawa hangat yang sebelumnya menghiasi wajah para warga kota kini menguap tak berbekas, digantikan oleh tatapan dingin dan haus darah.
Pedang, parang, tombak, dan senapan flintlock dicabut dari sarungnya, memantulkan cahaya bulan dengan kilau mematikan. Lebih dari seratus pembunuh bayaran Baroque Works kini mengepung meja tempat Mustang tertidur.
Igaram—yang kini melepaskan identitas walikotanya dan kembali menjadi Mr. 8—melangkah maju ke tengah lapangan. Di sampingnya berdiri Miss Monday, seorang wanita berotot raksasa dengan kulit gelap, serta Mr. 9 dan Miss Wednesday (Vivi).
"Ma-ma-ma-maa!" Igaram tertawa pelan, suaranya kini dipenuhi ejekan sinis. "Benar-benar sangat mudah. Bahkan pria berseragam militer yang tampak tangguh ini tidak berdaya menghadapi anggur nomor satu Whiskey Peak. Sebuah akhir yang menyedihkan bagi pahlawan lautan."
Mr. 9 memutar tongkat besinya dengan gaya akrobatik, tersenyum pongah. "Kukuku! Tadi sore dia bertingkah sangat sombong padaku di atas kapal. Lihatlah dia sekarang, tidur seperti bayi babi. Berapa nilai buronan pria ini, Mr. 8? Pakaiannya terlihat seperti perwira berpangkat tinggi. Mungkin Angkatan Laut akan membayar mahal jika kita menyerahkannya."
Igaram menarik sebuah gulungan perkamen kecil dari saku jasnya. "Sayangnya, aku tidak menemukan wajahnya di buku buronan mana pun. Dia mungkin hanya perwira gadungan, atau kontraktor lepas. Tapi kapalnya... kapal hitam di dermaga itu terbuat dari kayu kualitas tinggi. Kita bisa menjualnya dengan harga fantastis."
Miss Monday menggeretakkan buku-buku jarinya yang sekeras batu. "Kalau begitu, mari kita selesaikan ini dengan cepat. Aku akan menghancurkan tengkoraknya."
Wanita berotot raksasa itu melangkah mendekati meja Mustang. Ia mengangkat kepalan tangannya yang lebih besar dari kepala manusia normal, bersiap untuk menghantamkan pukulan maut ke kepala sang Kolonel yang sedang tertidur.
Namun, tepat sebelum kepalan tangan Miss Monday turun, sebuah suara bariton yang sangat tenang, dingin, dan jernih membelah kesunyian malam.
"Kau tahu... kualitas anggur kalian sebenarnya cukup mengerikan. Terlalu banyak campuran sedatif murahan. Merusak rasa buah aslinya."
Kepalan tangan Miss Monday berhenti di udara.
Mata Mr. 8, Mr. 9, dan Vivi seketika membelalak lebar. Jantung mereka seolah berhenti berdetak.
Di kursi utama, Roy Mustang perlahan mengangkat kepalanya dari meja. Tidak ada tanda-tanda kemabukan di wajahnya. Matanya yang gelap menatap lurus ke arah Miss Monday dengan ketajaman seekor elang yang menatap tikus tanah. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan anggun, menyilangkan kaki, lalu mulai merapikan sarung tangan putih di kedua tangannya.
"T-Tidak mungkin!" teriak Mr. 9 panik, mundur beberapa langkah. "Kau menenggak tiga puluh tong anggur yang dicampur obat penidur gajah! Bagaimana mungkin kau masih sadar?!"
Mustang menyeringai tipis, sebuah senyuman arogan yang membuat bulu kuduk para pembunuh bayaran itu berdiri.
"Obat penidur hanya berfungsi jika ia masuk ke dalam aliran darah," jawab Mustang, suaranya menggema penuh intimidasi. "Sebuah trik alkimia sederhana untuk menguapkan racun kalian bahkan sebelum menyentuh lidahku. Aku hanya menghargai usaha kalian menyelenggarakan pesta yang begitu meriah."
"Sialan! Dia mempermainkan kita!" geram Miss Monday, urat di dahinya menonjol. "Mati kau, Pria Sombong!"
Miss Monday mengayunkan tinju raksasanya dengan kekuatan penuh, mengincar wajah Mustang. Pukulannya memiliki kekuatan yang cukup untuk menghancurkan pilar batu.
Mustang bahkan tidak berdiri dari kursinya. Ia hanya mengangkat tangan kirinya dengan santai, mensejajarkan ibu jari dan jari tengahnya.
SNAP!
Sebuah jentikan jari memecah malam.
Udara di depan tinju Miss Monday mendadak terkompresi hingga padat, menciptakan perisai oksigen bertekanan tinggi sesaat sebelum percikan api menyambarnya.
BHOOOOM!
Ledakan api oranye yang sangat terfokus meledak tepat di kepalan tangan wanita berotot itu. Ledakan itu tidak menyebar, melainkan terkonsentrasi menjadi daya tolak kinetik yang luar biasa besar.
"GYYYAAAA!!!" Miss Monday menjerit kesakitan. Tangannya yang sekeras batu hangus seketika, kulitnya melepuh parah. Gelombang kejut dari ledakan itu menerbangkan tubuh raksasanya sejauh belasan meter ke belakang, menghantam dinding batu alun-alun hingga retak, sebelum akhirnya ia jatuh pingsan tak berdaya.
Keheningan horor menyelimuti seratus pembunuh bayaran Baroque Works. Mereka menatap wanita terkuat di pulau itu dikalahkan hanya dengan satu posisi duduk santai dan sebuah jentikan jari.
"A-Apa yang baru saja terjadi?!" teriak Igaram, keringat dingin membasahi wajahnya. Ia menarik senapan ganda yang tersembunyi di balik jas hijaunya. "T-Tembak dia! Semuanya, serang dia bersamaan! Jangan beri dia ruang untuk bernapas!"
Seratus agen pembunuh bayaran bersorak panik, mengangkat senapan laras panjang mereka dan mencabut pedang. Mereka bersiap membanjiri Mustang dengan peluru timah.
Namun, di saat itulah, sang Dalang yang sesungguhnya mulai menarik tirai pertunjukannya.
Di sudut meja yang gelap, sosok anak kecil berjubah hitam perlahan bangkit berdiri. Muzan Kibutsi menarik tudung jubahnya ke belakang, memperlihatkan wajahnya yang kini terlihat jauh lebih tajam dan dewasa, diterangi oleh cahaya bulan purnama. Mata hitamnya memancarkan ketiadaan emosi yang absolut.
"Kalian berbicara tentang memberi kami ruang untuk bernapas," ucap Muzan dengan suara yang tidak keras, namun entah bagaimana menembus setiap gendang telinga di alun-alun tersebut. "Kalianlah yang seharusnya memohon untuk bisa bernapas malam ini."
Igaram, Vivi, dan Mr. 9 menoleh ke arah Muzan. Hawa keberadaan remaja itu mendadak berubah. Jika sebelumnya ia hanyalah bayangan tak kasat mata, kini Muzan memancarkan aura dominasi yang membuat oksigen di sekitar mereka terasa berat.
"Siapa bocah ini?!" geram seorang pembunuh bayaran. "Bunuh dia juga!"
Muzan tidak merespons ejekan tersebut. Ia hanya mengulurkan kedua lengannya ke samping. Di dalam ruang mentalnya yang berkapasitas 636 Poin, ia memerintahkan sistem untuk membuka pintu neraka bagi Whiskey Peak.
"Giyu. Zenitsu. Bersihkan tempat ini."
Dari udara kosong di sisi kanan dan kiri Muzan, dua pilar cahaya yang sangat terang—satu berwarna biru samudra, satu berwarna kuning keemasan—meledak ke langit malam. Hembusan angin spiritual menyapu alun-alun, memadamkan beberapa obor yang menyala.
Partikel cahaya itu memadat dalam seperseribu detik.
Di sebelah kanan Muzan, berlutut dengan satu kaki, berdiri sesosok pemuda berambut hitam dengan haori dua warna. Tangannya sudah bertumpu pada gagang pedang Nichirin. Udara di sekitarnya seketika berubah menjadi sangat dingin dan lembab, membawa aroma lautan yang dalam dan sunyi.
Di sebelah kiri Muzan, dalam posisi menunduk dengan mata tertutup rapat, berjongkok seorang pemuda berambut kuning. Percikan listrik statis mulai berderak liar di sekeliling tubuhnya, menciptakan suara dengungan frekuensi tinggi yang membuat gigi para agen Baroque Works bergemeretak ngilu.
Vivi mundur selangkah. Kakinya gemetar di luar kendali. "M-Mereka... mereka muncul dari udara kosong? Ke-kemampuan macam apa ini?!"
"Bunuh mereka semua!" teriak Igaram putus asa, menembakkan senapan laras gandanya.
Rentetan tembakan meledak dari puluhan agen Baroque Works. Peluru timah melesat menembus udara, mengarah lurus ke arah Muzan dan ketiga bonekanya.
Namun, Muzan bahkan tidak berkedip. Fisik supernya dan matanya mampu melihat lintasan peluru itu melambat. Ia tidak perlu menghindar, karena perisainya telah bergerak.
"Giyu," bisik Muzan melalui telepati.
"Pernapasan Air, Bentuk Kesebelas: Ketenangan Mati (Lull)."
Giyu Tomioka bergerak dengan keanggunan yang melampaui tarian paling indah sekalipun. Pedangnya ditarik keluar dari sarungnya dengan gerakan yang nyaris tak terlihat.
Seketika, alun-alun itu terasa seperti tenggelam ke dalam dasar danau yang sangat hening.
Air ilusioner yang kental dan tenang menyelimuti area di sekitar Muzan. Puluhan peluru timah yang melesat dengan kecepatan tinggi tiba-tiba tertahan oleh bilah pedang Giyu yang bergerak dalam lintasan tak terlihat. Suara dentingan logam beruntun terdengar seperti lonceng angin.
Ting! Ting! Ting! Ting!
Seluruh peluru itu terbelah menjadi dua bagian sempurna, berjatuhan ke atas tanah berbatu tanpa ada satu pun yang berhasil menyentuh ujung jubah Muzan. Giyu berdiri dengan postur netral, pedangnya mengarah ke bawah, meneteskan air ilusi yang berkilau di bawah sinar bulan.
"Mustahil..." Igaram menjatuhkan senapannya. Mulutnya menganga lebar. Ratusan peluru dihentikan oleh satu pedang?!
"Giliranku, kurasa," gema suara Mustang dari arah meja perjamuan.
Mustang melangkah maju. Ia mengangkat kedua tangannya. Kali ini, ia tidak menggunakan jentikan jari kecil. Ia menyatukan kedua sarung tangannya.
"Biarkan aku menghangatkan malam kalian."
SNAP!
Pilar api raksasa meledak dari jalanan berbatu di sekeliling para penembak jitu yang berada di atap bangunan. Ledakan oksigen itu menyapu bersih barisan belakang Baroque Works. Puluhan agen menjerit, terlempar dari atap ke jalanan di bawah dengan tubuh yang hangus terbakar. Formasi mereka hancur berantakan dalam sekejap.
Kepanikan absolut meledak. Para pembunuh bayaran yang tadinya merasa di atas angin kini berhamburan berlarian, mencoba melarikan diri dari alun-alun yang telah berubah menjadi ladang pembantaian.
"Lari! Mereka monster!"
"Jangan biarkan ada yang lolos," perintah Muzan dengan suara dingin yang mematikan.
Di sebelah kiri Muzan, pemuda berambut kuning yang memejamkan mata itu mengambil napas dalam-dalam. Oksigen ditarik masuk ke paru-parunya dengan suara deru guntur yang teredam. Otot-otot kakinya menegang hingga ke batas ekstrem.
"Zenitsu."
"Pernapasan Petir, Bentuk Pertama: Petir Kilat dan Kilatan (Hekireki Issen) - Enam Beruntun (Rokuren)!"
Sebuah ledakan sonic boom memekakkan telinga meledak di tengah alun-alun.
Zenitsu menghilang. Ia tidak berlari, ia berteleportasi. Sebuah garis cahaya kuning keemasan membelah kerumunan pembunuh bayaran yang sedang melarikan diri.
ZZZTTT—BAM!
BAM! BAM! BAM! BAM! BAM!
Kilatan petir kuning itu memantul dari satu dinding bangunan ke dinding lainnya sebanyak enam kali dalam waktu kurang dari satu detik. Setiap kali kilatan itu memantul dan mengubah arah, lintasan cahayanya membelah sepuluh hingga lima belas agen Baroque Works sekaligus.
Para pembunuh bayaran itu bahkan tidak menyadari bahwa mereka telah ditebas. Mereka terus berlari beberapa langkah sebelum akhirnya luka tebasan di dada, perut, atau punggung mereka menyemburkan darah akibat panas listrik yang membakar daging mereka.
Tiga puluh, lima puluh, delapan puluh orang tumbang secara bersamaan, berjatuhan ke jalanan berbatu layaknya daun-daun kering yang disapu oleh badai guntur.
Ketika kilatan kuning itu berhenti, Zenitsu mendarat dengan mulus di atas patung kaktus batu di tengah alun-alun. Ia secara perlahan menekan pedang Nichirin-nya masuk ke dalam sarung.
Klik.
Pada detik pedang itu terkunci, sisa agen Baroque Works yang berdiri di sekitarnya ambruk ke tanah secara serempak.
Hanya dalam waktu kurang dari dua puluh detik sejak Muzan memberikan perintah, lebih dari seratus pembunuh bayaran elit pinggiran dari organisasi rahasia terburuk di Grand Line telah disapu bersih. Darah dan bau daging hangus mewarnai malam Whiskey Peak.
Di tengah lautan tubuh yang mengerang kesakitan dan pingsan, hanya tersisa tiga orang yang masih berdiri.
Igaram, Mr. 9, dan Vivi.
Ketiganya berdiri mematung di tengah alun-alun. Wajah mereka sepucat mayat. Tubuh mereka gemetar di luar kendali. Kengerian yang menekan dada mereka membuat mereka bahkan lupa cara untuk bernapas. Ratusan anak buah mereka dibantai tanpa ampun oleh dua pemuda berpedang dan satu perwira pengendali api, sementara dalang utamanya bahkan tidak bergeser satu langkah pun dari tempatnya berdiri.
Muzan Kibutsi melangkah maju secara perlahan. Sepatu botnya melangkahi tubuh-tubuh yang terkapar di tanah, mendekati ketiga perwira Baroque Works yang tersisa. Giyu dan Mustang berjalan mengapitnya dari sisi kanan dan kiri.
Suara langkah Muzan terdengar seperti detak jarum jam kiamat di telinga Vivi.
Muzan berhenti tepat dua meter di depan Vivi. Ia menatap gadis berambut biru itu dengan matanya yang segelap malam tanpa bintang.
"Aku bisa membunuh kalian bertiga sekarang juga, menukarkan tubuh kalian dengan beberapa juta Belly ke Angkatan Laut, dan mengambil semua yang ada di pulau ini," ucap Muzan perlahan, nada suaranya mengalirkan otoritas seorang raja yang menghakimi rakyat jelata.
Mr. 9 menjatuhkan tongkatnya dan jatuh berlutut, menangis memohon ampun. Igaram menggertakkan giginya, mencoba melindungi Vivi dengan tubuhnya yang gemetar.
"T-Tolong, jangan bunuh Miss Wednesday!" pinta Igaram putus asa. "K-Kami akan menyerahkan seluruh harta yang ada di kota ini! Kami punya jutaan Belly di brankas markas!"
Muzan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat mengerikan.
"Uang bukanlah apa yang kucari dari kalian, Igaram... atau haruskah kupanggil kau Kapten Pasukan Kerajaan Alabasta? Dan kau..." Muzan menatap lurus ke mata Vivi, yang kini membelalak dalam teror absolut karena identitas aslinya terbongkar. "...Putri Nefertari Vivi."
Vivi mundur selangkah, menutupi mulutnya. "B-Bagaimana kau..."
"Kami tahu segalanya. Kami adalah Erebus," potong Muzan dengan tenang. "Kalian sedang menyelidiki Baroque Works dan pemimpin mereka, Sir Crocodile, yang merencanakan kejatuhan kerajaanmu. Sebuah usaha infiltrasi yang heroik, namun sayangnya, sangat lemah."
Muzan mengulurkan tangannya ke depan.
"Aku menawarkan sebuah kesepakatan, Tuan Putri," lanjut Sang Dalang, suaranya kini terdengar seperti godaan iblis di tengah keputusasaan. "Crocodile adalah seorang Shichibukai. Pasukanmu yang menyedihkan ini tidak akan pernah bisa menyentuhnya. Tapi kami... kami memakan monster seperti Crocodile untuk sarapan."
Vivi menelan ludah dengan susah payah. Matanya melirik ke arah Giyu, Zenitsu, dan Mustang—pasukan yang baru saja meratakan seratus orang dalam hitungan detik.
"A-Apa yang kau inginkan dari kami sebagai balasannya?" tanya Vivi dengan suara gemetar, menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan iblis yang jauh lebih menakutkan daripada bos Baroque Works.
"Sederhana," Muzan menyeringai. "Berikan aku Eternal Pose menuju Alabasta atau Little Garden. Jadilah pemanduku untuk menembus jaringan inti Baroque Works. Sebagai gantinya, aku akan menghancurkan Crocodile, dan Alabasta akan tetap berdiri. Namun, saat debu pertempuran itu mereda, kerajaanmu harus ingat siapa yang memegang kendali atas kehidupan kalian."
Di bawah cahaya bulan Grand Line yang dingin, sebuah pakta iblis mulai terbentuk. Namun, sebelum Vivi sempat menjawab tawaran yang mustahil ditolak itu, sistem di dalam kepala Muzan tiba-tiba berdenting tajam.
«"DING! PERINGATAN RADAR PASIF!"»
«"Entitas dengan Kekuatan Tempur Setara Komandan Eksekutif (Tier Ungu Atas) mendekati radius 1 kilometer. Memiliki kemampuan penyusupan dan pembunuhan tingkat tinggi."»
Muzan menyipitkan matanya. Ia tidak menoleh, namun Haki Observasi minor yang mulai terbangun dalam dirinya merasakan sebuah perubahan atmosfir di atas atap bangunan di belakangnya.
"Menarik," gumam Muzan, menunda negosiasinya. Ia mengangkat wajahnya ke arah atap yang gelap. "Tampaknya wakil presiden Baroque Works tidak suka bawahannya diintimidasi. Keluarlah dari bayang-bayang, Miss All Sunday."
Di atas atap bata merah, kelopak-kelopak bunga ilusioner mulai berjatuhan ke udara. Dari tengah pusaran kelopak itu, seorang wanita tinggi berkulit eksotis, mengenakan topi koboi putih dan pakaian kulit ungu, muncul dengan senyum misterius yang penuh perhitungan.
Nico Robin menatap Muzan dan pasukannya dengan mata birunya yang dalam. Tangannya disilangkan di depan dada.
"Sebuah pembantaian yang sangat rapi," ucap Robin dengan suara dewasa yang lembut namun mematikan. "Faksi Erebus, benar? Presiden kami di Alabasta akan sangat tidak senang mendengar salah satu markas pendanaannya dihancurkan oleh anak-anak yang bermain perang-perangan."
Muzan Kibutsi tersenyum lebar. Matanya berkilat menatap sang Arkeolog Oharan.
Papan catur Alabasta kini telah terbuka sepenuhnya. Grand Line baru saja menyambut Dalang tergelap dalam sejarahnya.