NovelToon NovelToon
Love, Kisah Manis Anya

Love, Kisah Manis Anya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Usaha dan Skenario yang gagal

Bagi Anya, kata menyerah tidak ada dalam kamus hidupnya, terutama jika itu menyangkut Edgard. Kejadian memalukan di meja makan seminggu lalu perlahan dia kubur dalam-dalam, digantikan oleh semburat ambisi baru. Jika Edgard menganggapnya anak kecil karena dia belum bekerja atau selalu membicarakan hal-hal sepele, maka Anya harus masuk ke dunia Edgard dengan caranya sendiri.

Pagi itu, suasana kantor pusat Baskoro Group tampak sibuk seperti biasa. Di lantai teratas gedung pencakar langit di kawasan Sudirman tersebut, Edgard sedang fokus memeriksa laporan keuangan kuartal kedua. Ketukan berirama di pintu ruangannya memecah keheningan.

"Masuk," ucap Edgard tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer.

Pintu terbuka, namun tidak ada suara langkah sepatu hak tinggi sekretarisnya. Yang terdengar justru langkah kaki yang agak ragu, disusul oleh aroma manis stroberi yang sangat familier. Edgard menghentikan jemarinya di atas papan ketik. Dia mendongak dan mendapati Anya berdiri di sana, mengenakan blazer formal berwarna krem yang ukurannya tampak sedikit kebesaran di tubuh kecilnya. Rambutnya dicepol rapi, mencoba meniru gaya wanita karier.

"Halo, Kak Edgard," sapa Anya dengan senyum paling manis yang bisa dia pamerkan. Di kedua tangannya, dia membawa sebuah kotak bekal berwarna pastel.

Edgard menghela napas pendek, menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. "Anya? Bagaimana kamu bisa masuk ke sini? Di mana Siska?"

"Oh, Mbak Siska tadi lagi ke toilet. Aku bilang aku adiknya Kak Edgard—maksudnya, calon... ah, maksudnya adik dari mitra Papa, jadi dijinin masuk," jawab Anya tangkas, menyembunyikan kegugupannya. Dia berjalan mendekat dan meletakkan kotak bekal itu di atas meja kerja Edgard yang rapi, tepat di samping tumpukan berkas penting.

Edgard melirik kotak itu, lalu beralih ke penampilan Anya. "Apa yang kamu lakukan dengan pakaian seperti itu? Dan apa ini?"

"Ini makan siang buat Kak Edgard! Aku tahu Kak Edgard pasti sibuk banget dan sering lupa makan. Ini aku sendiri yang masak, lho. Ayam teriyaki kesukaan Kakak," bohong Anya sedikit. Sebenarnya, dia hanya membantu memotong bawang, sisanya dikerjakan oleh koki di rumahnya. Tapi bagi Anya, niatnya tetaplah yang utama.

Edgard tidak menyentuh kotak itu. Dia justru melirik jam tangan peraknya. "Ini masih jam sepuluh pagi, Anya. Belum waktunya makan siang. Dan ini kantor, bukan tempat untuk bermain rumah-rumahan."

Kalimat dingin Edgard langsung menusuk ego Anya. Senyum di wajah gadis itu agak menyusut, namun dia berusaha bertahan. Dia menarik kursi di depan meja Edgard dan duduk di sana tanpa diminta.

"Aku enggak main-main, Kak. Aku sengaja ke sini karena aku peduli sama Kak Edgard. Aku juga pakai baju rapi begini supaya Kak Edgard tahu kalau aku sudah dewasa, aku bisa diajak bicara soal hal-hal serius," ujar Anya, memajukan tubuhnya dengan tatapan penuh kesungguhan.

Edgard menatap Anya lurus-lurus. Di matanya, usaha Anya justru terlihat menggelikan. Pakaian formal yang dikenakan gadis itu tidak membuatnya tampak dewasa, melainkan seperti anak kecil yang sedang meminjam baju ibunya untuk menghadiri pesta kostum.

"Anya, kedewasaan itu bukan diukur dari pakaian yang kamu pakai atau bekal yang kamu bawa ke kantor orang lain," kata Edgard, suaranya terdengar datar dan dingin, tanpa emosi. "Kedewasaan itu adalah tahu tempat dan situasi. Saat ini, saya sedang bekerja. Setiap menit saya di sini adalah uang dan tanggung jawab. Kamu berada di sini tanpa janji temu, mengganggu waktu saya, dan itu sangat tidak profesional."

Anya menggigit bibir bawahnya. Dadanya terasa sesak mendengar kata "mengganggu" keluar lagi dari mulut pria itu. "Aku cuma mau ketemu Kakak sebentar. Apa sesulit itu memberikan waktu lima menit buat aku? Kenapa kalau sama Kak Joana, Kak Edgard selalu punya waktu buat diskusi berjam-jam?"

Pertanyaan bernada cemburu itu membuat alis Edgard bertaut. "Joana adalah rekan diskusi yang sepadan. Kami bicara tentang bisnis yang menguntungkan kedua perusahaan. Sedangkan kamu? Kamu ke sini hanya untuk memuaskan keinginan kekanak-kanakanmu."

"Aku bukan anak kecil, Edgard!" Kali ini Anya kelepasan. Dia tidak memanggilnya dengan sebutan 'Kakak' lagi. Matanya mulai memanas, memerah menahan air mata yang mendesak ingin keluar.

Edgard tertegun sejenak mendengar bentakan Anya, namun ekspresi wajahnya kembali mengeras. "Jika kamu tidak ingin dianggap anak kecil, bersikaplah seperti orang dewasa. Tolong ambil bekalmu, dan keluar dari ruangan saya. Saya harus melanjutkan pekerjaan."

Anya berdiri dengan sentakan kasar. Dia menyambar kotak bekalnya dengan tangan gemetar. Rasa malu, marah, dan sakit hati bercampur menjadi satu di dadanya. Dia telah menghabiskan waktu dua jam untuk bersiap-siap, menembus kemacetan Jakarta dengan harapan bisa melihat senyum atau setidaknya apresiasi kecil dari Edgard. Namun yang dia dapatkan lagi-and-lagi adalah penolakan yang begitu telak.

"Kak Edgard jahat! Kak Edgard enggak punya hati!" tangis Anya pecah. Dia berbalik dan berlari keluar dari ruangan kerja Edgard tanpa memedulikan tatapan heran dari Siska, sekretaris Edgard yang baru saja kembali dari toilet.

Edgard hanya memandangi pintu yang tertutup rapat itu dengan pandangan datar. Dia tidak mengejar, tidak juga merasa bersalah. Baginya, Anya hanyalah gadis remaja yang sedang mengalami fase cinta monyet yang berlebihan. Dia percaya, bersikap dingin adalah cara terbaik agar Anya sadar dan berhenti melakukan hal-hal konyol seperti ini. Edgard kembali memfokuskan matanya pada layar komputer, melanjutkan analisis keuangannya seolah badai emosi Anya tidak pernah singgah di ruangannya.

Sementara itu, Anya berlari menuju lift dengan air mata yang mengalir deras di pipinya. Di dalam lift yang sepi, dia memandangi pantulan dirinya di dinding kaca. Maskara yang dipakainya sedikit luntur di sudut mata. Dia merutuki dirinya sendiri yang terlihat begitu menyedihkan.

Sampai di lobi gedung, Anya berjalan dengan kepala tertunduk, memeluk kotak bekalnya erat-erat. Dia berjalan keluar menuju area parkir untuk mencari taksi. Namun, karena tidak fokus memperhatikan jalan, kakinya yang menggunakan sepatu hak tinggi setinggi lima sentimeter—yang belum terbiasa dia pakai—tersandung undakan semen pembatas taman.

Bruk!

Anya jatuh terduduk di atas paving blok. Kotak bekalnya terlempar, penutupnya terbuka, dan ayam teriyaki yang dibuatnya dengan susah payah kini berserakan di atas tanah, kotor terkena debu. Rasa sakit di pergelangan kakinya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Anya duduk di sana, di tengah terik matahari Jakarta, menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya yang begitu malang.

Beberapa orang yang lewat memandangnya dengan iba, namun tidak ada satu pun dari mereka yang mengenalnya. Di saat-saat seperti ini, Anya menyadari betapa rapuhnya dia. Segala cara kreatif, nekat, dan melelahkan yang dia lakukan selama ini untuk menarik perhatian Edgard selalu berakhir menjadi sebuah lelucon yang tidak lucu. Sikap Edgard yang selalu biasa saja dan sedingin es benar-benar mulai mengikis rasa percaya dirinya.

Namun, di balik tangisnya yang pilu, sebuah ego yang terluka di dalam diri gadis delapan belas tahun itu mulai berbisik. Dia menolak untuk kalah secepat ini. Dia akan mencari cara lain, cara yang lebih besar, yang tidak akan bisa diabaikan begitu saja oleh seorang Edgard Baskoro. Anya tidak pernah menduga bahwa langkah nekat berikutnya justru akan membawanya pada sebuah kenyataan yang akan menghancurkan seluruh harapannya berkeping-keping.

1
Adinda
visualnya bule thor
Alia Chans
Jadi ingat lirik sebuah lagu nih thor🤭🤭
Irene: 😍🤭🤭 judulnya apa ya?
total 1 replies
Skyline Scribe
mampir kak
semangat nulisnya 💪
Irene: Terimakasih kak 😍
total 1 replies
Irene
😍😍😍
Irene
Semangat Anya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!