Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.
Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.
Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.
Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.
Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.
Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.
Happy reading 🌷🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
Sinar matahari pagi membias cerah menembus deretan pohon maple yang berjejer di sepanjang area pelataran Universitas Los Angeles.
Kompleks kampus berarsitektur modern itu sudah mulai dipadati oleh lalu lalang mahasiswa yang berlarian menuju gedung fakultas masing-masing.
Di dalam kabin mobil sport hitam yang terparkir di slot privat dosen dan staf elit, suasana termanis dan hangat. Braxton menghentikan mesin mobilnya, lalu memutarkan tubuhnya menghadap Lux.
Pagi ini, Lux tampil sangat elegan. Gadis itu mengenakan blus berbahan chiffon lengan panjang berwarna krem dengan kerah tinggi yang tertutup rapi—memastikan tidak ada satu pun jejak kemerahan dari percintaan panas mereka semalam yang terlihat oleh mata-mata jahil di kampus. Rambut hitamnya dibiarkan terurai halus, membingkai wajah cantiknya yang tampak teramat segar dan berseri.
"Ingat janji kita, Nyonya Desmon," ujar Braxton lembut, meraih jemari lentik Lux lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat di punggung tangannya. "Kalau ada hal sekecil apa pun yang membuatmu tidak nyaman, langsung telepon aku. Ruangmu dan ruang dosenku hanya terpisah dua lantai."
Lux menyunggingkan senyuman manisnya yang amat memikat. "Aku tahu, Braxton. Kau tidak perlu sekhawatir itu. Aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Aku tahu kau sangat sanggup, Sayang. Tapi tetap saja... suamimu yang tampan ini selalu khawatir," goda Braxton dengan senyum narsisnya yang seksi.
Lux terkekeh geli, menepuk pelan dada bidang Braxton sebelum akhirnya membuka pintu mobil. "Aku masuk kelas dulu, Tuan Desmon."
Lux melangkah keluar dari mobil dengan anggun. Setiap derap langkah kakinya melintasi lorong Fakultas Seni dan Desain selalu berhasil mencuri perhatian. Namun, di balik kemewahan dan reputasinya sebagai mahasiswi berprestasi, atmosfer di dalam lingkungan kelas Universitas Los Angeles sejujurnya tidak seindah yang dibayangkan orang luar.
Fakultas ini adalah arena persaingan yang teramat ketat dan berdarah. Di sini, bakat saja tidak pernah cukup. Puluhan mahasiswa bertalenta bertarung secara terbuka maupun terselubung untuk memperebutkan rekomendasi galeri internasional, beasiswa eksklusif, hingga penilaian sempurna dari para profesor papan atas.
Sikap saling sikut, memotong jalan, hingga menjatuhkan mental lawan melalui gosip busuk sudah menjadi makanan sehari-hari.
Lux melangkah masuk ke dalam ruang kelas teori sejarah seni yang luas. Kehadirannya seketika membuat beberapa percakapan berbisik di barisan bangku tengah mendadak terhenti. Lux bersikap acuh tak acuh, melangkah tenang menuju bangku favoritnya di barisan teratas dekat jendela.
Namun, di barisan depan, sepasang mata menatap kedatangan Lux dengan kilat kebencian yang amat pekat.
Mata itu milik Ambar.
Ambar adalah mahasiswi yang selalu merasa dirinya adalah pusat gravitasi di angkatan mereka. Berasal dari keluarga kaya yang terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang dan pengaruh, Ambar selalu menganggap Lux sebagai kerikil paling tajam yang menghalangi jalurnya untuk menjadi mahasiswi terbaik di fakultas.
Apabila Lux selalu berhasil meraih nilai sempurna dan pujian tertinggi dari para profesor melalui karya lukisannya, Ambar harus bersusah payah menggunakan koneksi orang tuanya demi mempertahankan posisinya.
Hal itulah yang memupuk rasa iri, dengki, dan kebencian yang mendalam di dalam dada Ambar terhadap Lux.
Ambar tidak pernah menyukai Lux. Sedikit pun tidak.
Bagi Ambar, penampilan Lux yang selalu tenang, anggun, dan berkelas tak lebih dari sekadar topeng kepalsuan. Karena tidak mampu menandingi bakat seni murni milik Lux, Ambar memilih menyerang Lux dari belakang—melalui cara paling licik yang biasa digunakan oleh orang-orang berjiwa kerdil: menyebarkan fitnah dan rumor beracun.
Di belakang Lux, Ambar tidak pernah berhenti menghembuskan gosip murahan kepada anak-anak kampus. Ambar sering kali bersuara sinis di sela-sasa acara kumpul mahasiswa, menghasut orang-orang agar membenci Lux.
"Kalian pikir dia mendapatkan nilai A murni dari lukisannya?" begitu ucapan berbisa yang sering terlontar dari mulut Ambar di tempat nongkrong kampus. "Gadis seperti Lux itu jenis perempuan yang bakal rela manjat telanjang di depan ruangan profesor malam-malam demi dapat nilai bagus dan rekomendasi galeri! Jangan mau dibodohi sama wajah polosnya!"
Kalimat menjijikkan itu sudah menjadi makanan empuk bagi mahasiswa lain yang iri pada pencapaian Lux. Namun, Ambar adalah tipe pengecut yang sangat rapi.
Perkataan busuk dan fitnah murahan itu tidak pernah ia lontarkan secara langsung di hadapan Lux. Di depan Lux, Ambar akan berakting biasa saja atau sekadar melemparkan senyuman tipis yang dingin, lalu mulai mengusik dan menusuk Lux dari belakang saat gadis itu membalikkan tubuhnya.
Pagi ini pun tidak ada bedanya.
Melihat Lux duduk tenang seraya mengeluarkan buku catatannya, Ambar menyunggingkan senyum miring yang teramat sinis. Ia menoleh pada dua mahasiswi di sampingnya, lalu berbisik pelan dengan nada suara yang sengaja dibuat agar terdengar oleh beberapa orang di sekitar mereka.
"Lihat tuh, si putri porselen baru datang," bisik Ambar sinis, mengarahkan dagunya ke arah Lux. "Kemarin-kemarin masuk kelas dengan pakaian Seksi, sekarang datang memakai pakaian serba tertutup sampai kerah tinggi. Konon katanya habis ada 'proyek privat' dengan kurator ternama. Cepat sekali ya naik daunnya kalau pakai jalur belakang."
Dua temannya terkekeh kecil, ikut melirik Lux dengan tatapan meremehkan.
Lux yang duduk di barisan atas sebenarnya mendengar samar-samar gumaman di barisan depan, meski ia tidak mendengar secara spesifik kalimat busuk yang diucapkan Ambar. Namun, Lux bukanlah gadis polos yang tidak tahu peta persaingan kotor di kampusnya. Ia tahu betul siapa saja orang-orang yang sering membicarakan kejelekannya di belakang.
Mata abu-abu Lux menatap dingin ke arah punggung Ambar yang sedang tertawa kecil di bawah. Sebuah senyuman tipis—sangat tipis dan sarat akan dominasi yang tenang—terukir di bibir merona Lux.
Bagi seorang Lux Victoria Desmon, tikus-tikus kecil seperti Ambar yang hanya berani menggigit dari belakang sama sekali tidak layak mendapatkan panggung atau reaksinya. Namun, jika tikus itu mulai berani melompati batas dan mengusik ketenangannya secara terbuka... Lux tidak akan segan-segan menginjaknya hingga tak tersisa.
Pintu kelas mendadak terbuka, dan dosen pengajar melangkah masuk, menghentikan seluruh bisik-bisik beracun di dalam ruangan. Pelajaran dimulai, namun di balik keheningan kelas teori tersebut, benang-benang persaingan kotor dan ancaman baru perlahan-lahan mulai terbentang mengelilingi langkah sang Nyonya Desmon.
Ambar kemudian pura-pura tersandung saat melangkah melewati meja Lux, sengaja menyenggol cangkir kopi dingin milik Lux hingga cairannya meluber membasahi kertas sketsa di mejanya.
"Ups, maaf sengaja," bisik Ambar sangat pelan dengan nada meremehkan, menyunggingkan senyum kemenangan.
Lux tidak panik sama sekali. Dengan gerakan teramat anggun, ia menegakkan tubuhnya, menatap Ambar lurus-lurus dengan pendar mata abu-abu yang dingin dan menusuk.
"Kau hanya punya satu pilihan, Ambar," bisik Lux sangat tenang namun sanggup membekukan udara di antara mereka. "Bersihkan kekacauan ini dengan bajumu sekarang."
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux