NovelToon NovelToon
Setelah Taksi Itu Berlalu

Setelah Taksi Itu Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.

Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.




#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sindiran Keluarga Besar

Pintu aula utama resort keluarga Pratama di kawasan pegunungan Puncak terbuka lebar, memperlihatkan kemegahan pesta akhir pekan yang dihadiri oleh puluhan kerabat dari berbagai cabang keluarga besar. Lampu-lampu kristal berkilauan memantulkan cahaya ke atas lantai marmer yang bersih, sementara alunan musik instrumental klasik mengalun lembut di latar belakang, menciptakan atmosfer kehangatan keluarga yang tampak sempurna dari luar.

Namun, di salah satu sudut meja panjang yang dipenuhi hidangan prasmanan mewah, atmosfer itu terasa sangat kontras bagi Kirana.

Gadis itu berdiri mengenakan midi dress berwarna rose gold berpotongan elegan dengan detail mutiara di bagian kerah—salah satu pakaian berharga mahal yang sengaja disiapkan oleh mertuanya untuk acara kumpul keluarga ini. Rambut panjangnya ditata half-up do dengan hiasan jepit mutiara kecil, memperlihatkan leher jenjangnya yang mulus. Dari segi penampilan, ia tampak seperti menantu bangsawan yang sempurna.

Tetapi di dalam dadanya, Kirana merasa seperti sedang berdiri di atas bara api.

Semenjak insiden malam badai di pusat perbelanjaan beberapa hari lalu, di mana ia pulang dalam keadaan basah kuyup dan demam tinggi tanpa sedikit pun perhatian dari suaminya, sesuatu di dalam diri Kirana telah berubah. Demam itu memang sudah sembuh, namun rasa dinginnya tertinggal di dalam tulang. Hari ini, ia datang ke acara keluarga besar bukan dengan antusiasme seorang pengantin baru, melainkan dengan topeng ketenangan yang dipasang setebal mungkin.

Beberapa langkah dari tempatnya berdiri, Arka tampak sedang dikelilingi oleh para paman dan sepupu laki-lakinya di dekat area bar mini. Suaminya itu mengenakan setelan jas abu-abu arang yang pas di badan, tampak sangat berwibawa, karismatik, dan menjadi pusat perhatian. Arka tertawa kecil menanggapi obrolan bisnis, meneguk wiski dari gelas kristalnya dengan sikap elegan yang selalu berhasil memukau siapa saja yang melihatnya.

Pria itu sama sekali tidak melirik ke arah Kirana. Sejak mereka tiba di resort dua jam lalu, Arka memperlakukan Kirana layaknya seorang kolega bisnis yang kebetulan duduk di meja yang sama—berjarak, dingin, dan tidak tersentuh.

"Wah, lihat pengantin baru kita. Serasi sekali, ya... tapi kelihatannya ada yang berbeda dari biasanya," sebuah suara wanita yang bernada manis namun menyindir meluncur tajam dari samping Kirana.

Kirana menoleh pelan. Di dekatnya, berdiri Clarissa—sepupu jauh Arka dari pihak bibi yang terkenal memiliki lidah paling tajam di keluarga besar Pratama. Clarissa mengenakan designer dress hijau zamrud yang mencolok, berdiri menyilangkan tangan di dada sambil menatap Kirana dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan senyum sinis yang tertahan di sudut bibirnya.

Beberapa kerabat wanita paruh baya yang berdiri di dekat mereka ikut menoleh, memusatkan perhatian ke arah Kirana.

"Berbeda bagaimana, Clarissa?" tanya seorang tante senior penasaran.

Clarissa terkekeh pelan, sengaja mengeraskan sedikit suaranya agar beberapa orang di sekitar mereka—termasuk beberapa pria di sudut ruangan—bisa mendengar dengan jelas.

"Ya ampun, Tante, semua orang juga tahu siapa Kirana sebelum dinikahi Arka," ujar Clarissa dengan nada mengejek yang dibungkus senyuman ramah palsu. "Anak tunggal kesayangan keluarga Hartono yang hidupnya dari kecil dibalut beludru. Kerjanya cuma mondar-mandir kebutik desainer internasional, nongkrong di kafe hipster tiap sore, dan menghabiskan ratusan juta kartu kredit dalam semalam tanpa pernah tahu bagaimana cara mencari uang sendiri."

Clarissa melirik Kirana sekilas, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin memancing perhatian. "Makanya aku sempat heran waktu Arka mau dijodohkan dengannya. Arka kan tipe pria mandiri yang gila kerja, perfeksionis, dan membangun perusahaannya setengah mati. Dapat istri yang manja, cengeng, nggak bisa masak, dan kerjanya cuma tahu menghabiskan uang suami... wah, kasihan sekali Arka. Rumah tangga mereka pasti cuma jadi beban buat Arka."

Beberapa kerabat yang mendengar sindiran itu tertawa kecil. Ada yang menatap Kirana dengan pandangan geli, ada pula yang melayangkan tatapan merendahkan, seolah membenarkan ucapan Clarissa. Di dalam lingkaran sosial kelas atas seperti mereka, wanita yang tidak memiliki kontribusi finansial atau karier mandiri sering kali dipandang sebelah mata sebagai parasit yang elegan.

Dada Kirana berdenyut nyeri. Tenggorokannya terasa tercekat, dan telinganya berdenging hebat.

Dulu, saat pertama kali ia mendengar sindiran semacam itu, Kirana mungkin akan langsung menangis, merajuk, atau membela diri dengan suara tinggi sambil memanggil suaminya. Ia adalah nona manja yang tidak tahan dihakimi. Namun hari ini, di bawah tatapan tajam dan cibiran terselubung dari para kerabat suaminya, Kirana tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

Ia menarik napas pelan-pelan, menelan rasa panas yang membakar tenggorokannya. Kirana menegakkan punggungnya, merapikan letak tas kecil di tangannya, lalu menatap lurus mata Clarissa tanpa gentar. Tidak ada lagi binar ketakutan di matanya; yang ada hanyalah tatapan kosong yang begitu tenang, begitu dingin, hingga membuat Clarissa sedikit salah tingkah.

"Terima kasih atas perhatiannya mengenai gaya hidup saya di masa lalu, Clarissa," jawab Kirana dengan suara tenang, lembut, namun terdengar sangat jelas di tengah keheningan meja tersebut. "Keluarga saya memang mendidik saya dengan limpahan materi yang cukup untuk menikmati hidup. Tapi setidaknya, saya tidak pernah menggunakan waktu luang saya untuk bergosip atau mengurusi urusan rumah tangga orang lain."

Skakmat. Kalimat itu meluncur tanpa nada tinggi, namun ketajamannya berhasil membuat senyum di bibir Clarissa membeku seketika. Beberapa kerabat yang tadi tersenyum sinis langsung mengalihkan pandangan, merasa canggung.

Clarissa mendengus kesal, wajahnya memerah karena merasa dipermalukan di depan umum oleh wanita yang selama ini dianggapnya lemah. "Wah, berani juga ya sekarang ngomongnya. Coba kita lihat sampai kapan kamu bisa mempertahankan gaya sombong itu kalau suatu hari Arka bosen sama kamu dan menendangmu keluar dari rumahnya."

Sebelum Clarissa sempat melanjutkan kalimatnya, sebuah suara deheman tegas terdengar dari arah belakang mereka.

"Ada apa ini? Kenapa berkumpul di sini beramai-ramai?"

Suara berat yang sangat berwibawa itu milik Arka. Pria itu baru saja melangkah mendekat, meninggalkan kelompok diskusinya setelah melihat kerumunan kecil terbentuk di dekat meja Kirana. Wajah Arka tampak kaku, garis rahangnya mengeras, dan tatapan matanya menyapu orang-orang di sekitar dengan aura intimidasi yang kuat.

Clarissa langsung mengubah ekspresinya menjadi manis, memasang wajah seolah-olah ia adalah korban yang dizalimi. "Arka! Syukurlah kamu datang. Tadi aku cuma ngobrol biasa sama Kirana, ngingetin dia soal pentingnya belajar mandiri buat bantu kamu di perusahaan. Tapi Kirana malah jawab ketus banget..."

Clarissa sengaja memutarbalikkan fakta, berharap Arka—yang selama ini dikenal sangat membenci sikap manja Kirana—akan langsung menegur atau memarahi istrinya di depan semua keluarga besar. Itu akan menjadi pemandangan yang sangat memuaskan bagi Clarissa untuk menjatuhkan harga diri Kirana hingga ke titik nadir.

Semua mata di sekitar meja kini tertuju kepada Arka. Para kerabat menunggu reaksi sang CEO. Mereka tahu persis bagaimana dinginnya Arka terhadap istrinya selama acara berlangsung.

Kirana perlahan mengalihkan pandangannya menatap Arka. Di dalam hatinya, sebuah harapan kecil yang sangat rapuh tiba-tiba berbisik. Meskipun mereka hidup dalam aturan yang dingin, meskipun Arka tidak mencintainya, bukankah setidaknya di hadapan keluarga besar, seorang suami memiliki kewajiban moral untuk menjaga kehormatan istrinya dari serangan orang lain? Bukankah Arka akan melangkah maju, membela harga diri wanita yang menyandang nama belakangnya?

Kirana menatap mata hitam Arka lekat-lekat, menunggu.

Namun, detik demi detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan.

Arka tidak membelanya.

Pria itu hanya berdiri tegak dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana bahan mewahnya. Wajah Arka tetap datar, tanpa ada sedikit pun perubahan emosi yang menunjukkan keberpihakan. Tatapan mata Arka beralih dari Clarissa ke arah Kirana, lalu kembali menatap lantai sesaat, seolah-olah pertengkaran kecil di antara para wanita itu adalah hal yang tidak penting dan membuang-buang waktunya.

Bagi Arka, menegur Clarissa di depan umum berarti menarik perhatian publik pada urusan rumah tangga mereka yang rapuh—sesuatu yang sangat dibencinya. Dan lagi, jauh di lubuk hatinya yang tertutup tembok es, Arka merasa bahwa apa yang dikatakan Clarissa ada benarnya: Kirana memang seorang wanita manja yang tidak tahu apa-apa tentang dunia luar. Membela Kirana di hadapan keluarga besar terasa seperti tindakan yang melelahkan dan tidak esensial.

"Kalian tidak punya pekerjaan lain selain berdebat di acara keluarga seperti ini?" suara Arka akhirnya memecah keheningan. Nadanya dingin, datar, dan tidak memihak siapa pun. "Clarissa, urusi urusanmu sendiri. Dan Kirana, jangan buat keributan yang tidak perlu."

Deg.

Hantaman itu jauh lebih menyakitkan daripada sindiran Clarissa barusan.

Kirana merasakan sekujur tubuhnya mendadak membeku. Kalimat itu—yang diucapkan suaminya tanpa sedikit pun rasa perlindungan—bukan sekadar teguran netral. Itu adalah bentuk pengabaian mutlak. Arka baru saja memilih untuk berdiri di garis tengah, membiarkan istrinya diserang, dan menganggap Kirana sebagai sumber keributan.

Clarissa tersenyum penuh kemenangan, melirik Kirana dengan ekor matanya seolah berkata, “Tuh kan, suamimu sendiri saja tidak peduli padamu.”

Para kerabat yang menyaksikan kejadian itu mulai berbisik-bisik pelan, menyimpulkan bahwa rumor mengenai keretakan dan ketidakharmonisan rumah tangga sang CEO Pratama memang benar adanya.

Kirana menarik napas dalam-dalam. Rasa sakit yang menghujam dadanya begitu hebat, namun di saat yang bersamaan, rasa sakit itu membakar habis sisa-sisa ketergantungan emosional terakhir yang masih ia miliki terhadap suaminya. Air mata yang sempat mendesak di pelupuk matanya langsung dipaksa surut oleh gelombang ketenangan yang dingin.

Tidak ada lagi harapan. Tidak ada lagi sisa-sisa cinta kekanak-kanakan yang menuntut pengakuan.

Kirana mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Ia menatap Arka tepat di dalam manik mata pria itu—tatapan yang begitu tenang, begitu kosong, dan tidak menyisakan secercah pun kehangatan yang dulu selalu terpancar setiap kali ia melihat suaminya.

"Maafkan saya, Tuan Pratama," ucap Kirana dengan suara yang sangat tenang, terdengar sangat formal dan berjarak, sengaja memanggil suaminya dengan sebutan asing di hadapan keluarga besar. "Saya tidak bermaksud membuat keributan. Saya rasa udara di dalam ruangan ini terlalu panas. Saya izin keluar sebentar untuk mencari udara segar."

Tanpa menunggu persetujuan Arka, tanpa memedulikan tatapan heran dari para kerabat, dan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Clarissa, Kirana berbalik badan. Ia melangkah anggun dengan sepatu hak tingginya, meninggalkan aula pesta yang megah itu menuju taman resort yang sepi di bagian luar.

Arka terpaku di tempatnya berdiri.

Ada sesuatu yang terasa salah—sebuah sengatan aneh yang mendadak menusuk dadanya saat mendengar Kirana memanggilnya dengan sebutan "Tuan Pratama" di depan banyak orang. Pria itu melihat punggung istrinya yang menjauh perlahan di balik pintu kaca, mengenakan dress rose gold yang berkilauan di bawah temaram lampu taman.

Untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka dimulai, Arka merasakan bayangan ketakutan yang asing merayap di dalam hatinya—ketakutan bahwa ia baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga yang tidak akan pernah bisa ia rebut kembali.

1
putmelyana
semangat thor 💪
Selie Noris: Kak, terima kasih ya.... ♥️
total 1 replies
Selie Noris
♥️♥️♥️
Sulicungliieee
ડɑ𝗍υ ƙɑ𝗍ɑ υ𐓣𝗍υƙოυ ɑ𝗋ƙɑ.......ડυ𝗈𝗈ƙ𝗈𝗋𝗋𝗋𝗋𝗋.....
Selie Noris: Kak, makasih sudah mampir....
total 1 replies
Yusria Mumba
seorang wanita kalau sudah sakit hatiny, susah d, obati,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
nyesalkan sudah terlambat,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
ti galon ajasumi kaya gitu,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!