Bagi Bara Mahendra, lima belas tahun lalu adalah malam jahanam yang merenggut segalanya. Di bawah guyuran hujan lebat, ia dipaksa menyaksikan kematian tragis kedua orang tuanya akibat sabotase keji.
Sebuah nama yang dibisikkan sang ibu sebelum mengembuskan napas terakhir melekat abadi di kepala Bara: Darma Amartya. Sejak detik itu, Bara bersumpah akan menukar masa mudanya demi satu tujuan tunggal—balas dendam.
Kini, Bara kembali sebagai pengusaha muda yang dingin, genius, dan penuh taktik. Baginya, kematian terlalu instan dan mudah untuk seorang Darma.
Pria tua itu harus merasakan penderitaan yang jauh lebih menyiksa, yaitu melihat permata paling berharga dalam hidupnya hancur berkeping-keping: Senja Amartya, putri tunggalnya.
Senja adalah perwujudan dari namanya sendiri, hangat, tulus, dan murni. Ia tidak tahu-menahu tentang dosa masa lalu sang ayah. Ketika perusahaan ayahnya berada di ambang kebangkrutan, Bara hadir layaknya seorang kesatria penyelamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafsienaff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melody yang kembali Berputar
Suara rintik hujan di luar jendela apartemen berangsur reda, digantikan oleh sunyinya malam yang kian larut.
Di dalam kamar utama, lampu sengaja diredupkan, hanya menyisakan temaram dari lampu tidur di sudut ruangan.
Senja masih terbaring lemah di atas ranjang. Napasnya kini sudah jauh lebih teratur dibandingkan pagi tadi, meski guratan lelah dan pucat masih tercetak jelas di wajah cantiknya.
Bara Mahendra duduk di kursi kayu tepat di samping ranjang. Jas kerjanya sudah lama dilepas, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung kasar hingga ke siku. Matanya yang biasa memancarkan kilatan tajam dan dingin, malam ini tampak redup dan dipenuhi keletihan yang amat sangat. Ia tidak beranjak dari posisi itu selama berjam-jam, terus memantau botol infus Senja dan mengganti kain kompres di kening istrinya setiap kali mengering.
Di atas meja nakas, terletak kantong plastik kecil berisi serpihan kayu dan logam kuningan. Itu adalah sisa-sisa kotak musik peninggalan ibu Senja yang dihancurkan Olivia semalam.
Bara menatap kantong itu cukup lama. Ego dalam dadanya kembali berbisik, mengingatkan bahwa kehancuran barang itu adalah bagian dari penderitaan yang pantas diterima oleh anak Darma Amartya. Namun, setiap kali pandangannya beralih pada bekas luka tusukan serat kayu di ujung jari Senja yang diperban, bisikan ego itu langsung senyap, digantikan oleh rasa sesak yang tak mampu ia jelaskan.
Bara mengembuskan napas panjang. Ia meraih kantong plastik tersebut, lalu berjalan perlahan keluar kamar menuju ruang kerjanya yang luas agar tidak mengganggu tidur Senja.
Di bawah pendar lampu meja kerjanya, Bara mengeluarkan semua serpihan kayu yang retak. Ia menyalakan lilin kecil, mengambil sebotol lem perekat khusus kayu, penjepit besi kecil, dan beberapa peralatan presisi yang biasa ia gunakan untuk merawat jam tangan mewahnya. Dengan jemari besarnya yang biasa menandatangani dokumen bernilai miliaran rupiah, Bara mulai menyusun kembali potongan-potongan kayu ukiran melati itu satu per satu dengan teramat hati-hati.
Proses itu tidak mudah. Sudut kayu yang patah harus disatukan dengan presisi agar tidak menyisakan celah yang kentara. Beberapa kali Bara harus menahan napas saat memasang kembali engsel kuningan kecil yang sempat bengkok akibat benturan. Jam dinding terus berputar, melewati angka dua, lalu angka tiga dini hari, namun Bara seolah tidak peduli dengan rasa kantuk yang mendera. Fokusnya sepenuhnya tersedot pada benda mati yang kini menjadi simbol kerapuhan hidup Senja.
Setelah hampir tiga jam berkutat dengan detail-detail kecil, bagian tersulit pun tiba: membetulkan tabung silinder pemutar melodi di bagian dalam. Logam itu sempat bergeser dari porosnya. Menggunakan obeng sekrup terkecil, Bara memutar perlahan pengait pegasnya, menyetel ulang gerigi besi agar bisa kembali menyentuh sisir logam pembentuk nada.
Bara memutar tuas kecil di bagian belakang kotak musik yang kini sudah kembali utuh itu selama tiga kali putaran. Ia menahan napas, menunggu.
Ting... ting... tong... ting...
Sebuah melodi klasik yang lembut, jernih, dan menenangkan perlahan mengalun memenuhi ruang kerja yang sunyi. Nada-nadanya berputar dengan ritme yang sempurna, persis seperti sedia kala sebelum dihancurkan.
Mendengar melodi itu, Bara terpaku di kursinya. Dadanya bergemuruh hebat. Untuk pertama kalinya setelah lima belas tahun hidup dalam kegelapan dendam, sebersit rasa hangat yang asing menyusup ke dalam relung hatinya. Sesuatu di dalam dirinya mendadak melunak. Ia sadar, kotak musik ini bukan sekadar kayu usang, melainkan jiwa Senja yang rapuh. Dan dengan memperbaikinya, Bara seolah sedang mencoba menjahit kembali kepingan hati istrinya yang telah ia robek tanpa ampun.
Bara mematikan musiknya, menutup kotak kayu itu rapat-rapat, lalu membawanya kembali ke kamar utama. Ia meletakkan kotak musik yang sudah utuh itu di atas meja nakas, tepat di samping jangkauan tangan Senja agar benda itu menjadi hal pertama yang dilihat istrinya saat terbangun nanti.
Pukul empat pagi, Bara kembali duduk di kursi samping ranjang. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh kening Senja dengan punggung jarinya. Rasa panasnya sudah jauh menurun. Kulit Senja kini terasa hangat dan sedikit lembap oleh keringat kesembuhan.
Melihat Senja yang mulai bernapas lega dalam tidurnya, ketegangan di bahu Bara perlahan mengendur. Tanpa sadar, Bara menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat kedua tangannya di dada, dan membiarkan matanya terpejam. Di samping ranjang wanita yang seharusnya ia hancurkan, sang predator akhirnya tertidur dengan damai, ditemani oleh rahasia penebusan dosa yang belum siap ia akui pada dunia.
Bersambung