Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?
Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?
"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.
____
"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.
Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.
____
"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.
"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.
-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --
Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Lyra, Amel, Minda dan Rian selalu bersama
kriiiiiiingg......
Bel panjang tanda berakhirnya jam pelajaran sekolah berbunyi nyaring, menggema ke setiap sudut koridor SMA Bangsa.
Bagi sebagian besar siswa, suara itu adalah musik paling indah yang menandakan datangnya waktu kebebasan.
Brak! (Suara menutup buku keras)
Di dalam ruang kelas X-3, Rian langsung menutup buku catatan sejarahnya dengan sekali hentakan keras, lalu memasukkannya ke dalam tas ransel hitamnya yang sudah setengah terbuka.
"Lyra, cepatlah! Selesai juga siksaan hari ini," ujar Rian sambil menoleh ke arah bangku di sebelahnya.
Lyra, yang sedang merapikan kotak pensilnya dengan sangat presisi, hanya mendengus pelan.
"Sabar, Rian. Kalau ada yang tertinggal, kamu mau kembali ke kelas sendirian?" Rian terkekeh, menyampirkan tasnya di satu bahu sambil berdiri.
Tap.. tap.. tap...
Mereka berdua segera melangkah keluar dari kelas X-3, membaur dengan lautan siswa berseragam putih-abu-abu yang memenuhi koridor.
Lyra dan Rian saling kenal saat masa orientasi SMA. Lyra awalnya bersahabat lama dengan Amel dan Minda.
Awal masa Orientasi SMA, mereka bertiga bertemu dengan Rian, sehingga mereka sahabat berempat. Namun, di antara mereka ada yang berpisah kelas saat pembagian kelas yaitu Amel dari kelas X-6 dan Minda dari kelas X-5.
Sesuai kesepakatan di grup obrolan mereka saat jam istirahat kedua tadi, keempat sahabat ini berjanji untuk berkumpul di area tempat duduk semen di bawah pohon beringin besar dekat gerbang sekolah.
Tempat itu menjadi markas tidak resmi mereka setiap kali bel pulang sekolah berbunyi.
___________________
Saat Rian dan Lyra tiba di bawah pohon beringin, ternyata Amel sudah duduk di sana.
Gadis berambut dikuncir kuda itu sedang sibuk mengipasi dirinya sendiri dengan buku saku pramuka, wajahnya tampak sedikit ditekuk karena hawa sore Jakarta yang cukup menyengat.
"Lama banget sih kalian berdua! Kelas X-3 letaknya paling dekat tangga, padahal," keluh Amel begitu melihat Rian dan Lyra mendekat.
"Salahkan Lyra yang harus merapikan pulpennya sesuai kode warna," sahut Rian jenaka sambil mengambil posisi duduk di sebelah Amel.
"Itu namanya teratur, Rian. Biar awet," bela Lyra, lalu duduk di sisi lain meja semen tersebut.
"Lagipula, di mana Minda? Dia belum datang juga, kan?"
"Belum. Kelas X-5 tadi gurunya keluar agak telat, sepertinya," jawab Amel sambil meneguk sisa air mineral dari botolnya.
Tap..tap..
Tidak lama kemudian, sosok yang dibicarakan muncul.
Minda berjalan setengah berlari memotong lapangan basket, tas ranselnya bergoyang-goyang di punggungnya.
Wajahnya tampak kusut, tetapi senyumnya langsung merekah saat melihat ketiga sahabatnya sudah berkumpul lengkap.
"Maaf, maaf banget! Bu Retno tadi mendadak memberikan kuis lima menit sebelum bel pulang. Kepalaku rasanya mau pecah menghadapi rumus fisika," ujar Minda sambil menghempaskan tubuhnya di sebelah Lyra dengan napas sedikit terengah-engah.
Rian tertawa melihat ekspresi dramatis Minda.
"Tenang, Min. Tarik napas dulu. Yang penting sekarang kita sudah bebas dari penjara berkedok sekolah ini untuk hari ini."
"Jadi, bagaimana hari pertama setelah pekan ujian selesai?" tanya Lyra, membuka topik pembicaraan utama yang biasanya menjadi agenda wajib mereka.
Amel langsung mengacungkan tangan dengan antusias.
"Kalian tahu tidak? Di kelas X-6, tadi nilaiku untuk tugas sosiologi akhirnya keluar. Dan tebak? Aku dapat nilai delapan puluh lima! Aku sukses mengalahkan rekor nilai cowok menyebalkan di barisan depan kelas yang selalu pamer itu."
"Wah, selamat, Mel! Akhirnya begadangmu minggu lalu membuahkan hasil," kata Minda tulus, ikut senang mendengarnya.
"Kalau kelas X-5 bagaimana, Min? Aman?" tanya Rian.
Minda menghela napas, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi semen.
"Fisikaku tadi agak meragukan, tapi untuk pelajaran bahasa Inggris sepertinya aman. Oh ya, kalian dengar rumor tidak? Katanya bulan depan sekolah kita mau mengadakan festival budaya antar kelas."
Mendengar kata "festival", mata Amel langsung berbinar.
Sebagai siswi yang sangat menyukai kegiatan organisasi dan seni, hal seperti ini selalu berhasil menarik perhatiannya.
"Serius, Min? Festival budaya? Itu artinya kita bakal bebas dari pelajaran efektif selama beberapa hari untuk persiapan, kan?"
"Pikiranmu cuma bolosnya saja, Mel," sela Lyra sambil tersenyum tipis.
"Tapi kalau benar ada festival, kelas kita masing-masing harus menampilkan sesuatu, dong? Wah, kelas X-3 belum membahas apa-apa tadi." Rian menyenggol lengan Lyra.
"Kelas kita kan ketua informasi cepatnya si Dimas, Ly. Dia pasti baru bergerak kalau sudah ada surat edaran resmi dari OSIS. Tapi, kalau boleh memilih, aku ingin kelas kita jualan makanan saja. Praktis dan pasti menguntungkan."
"Dasar oportunis," cibir Amel, yang kemudian memicu tawa dari mereka berempat.
Perbincangan di bawah pohon beringin itu terus mengalir, berpindah dari satu topik ke topik lainnya tanpa arah yang jelas, namun selalu terasa menyenangkan.
___________________
Angin sore bertiup perlahan, menggugurkan beberapa daun kering dari pohon beringin dan memberikan sedikit rasa sejuk di tengah kepungan udara panas.
Satu per satu siswa lain mulai meninggalkan area sekolah, membuat suasana di sekitar mereka perlahan-lahan menjadi lebih sepi dan tenang.
Bagi mereka berempat, momen-momen setelah bel pulang sekolah seperti inilah yang paling berharga.
Berada di kelas yang berbeda-beda seringkali membuat mereka jarang berinteraksi selama jam pelajaran.
Batasan dinding kelas X-3, X-5, dan X-6 seolah melebur runtuh setiap kali mereka duduk bersama di tempat ini.
Di sini, mereka bisa melepaskan semua ketegangan, kecemasan tentang nilai, atau kejengkelan terhadap tugas-tugas sekolah yang menumpuk.
"Kalian merasa tidak, sih?" Minda tiba-tiba berucap dengan nada sedikit melankolis, matanya menatap langit sore yang mulai berubah warna menjadi sedikit kejinggaan.
"Baru beberapa bulan lalu kita memakai seragam putih-biru, masih bingung mencari ruang kelas saat MOS. Sekarang kita sudah sering nongkrong seperti ini, mengeluh tentang nilai SMA yang susah setengah mati." Lyra mengangguk setuju, memperbaiki posisi duduknya.
"Iya, waktu berjalan cepat sekali. Kadang aku merasa tertekan melihat materi pelajaran yang makin lama makin rumit. Beruntung aku punya kalian untuk tempat berbagi cerita." Amel merangkul pundak Minda di sebelahnya dengan gemas.
"Duh, Minda tumben banget melankolis sore-sore begini. Kesurupan penunggu pohon beringin, ya?"
"Ihh, Amel! Merusak suasana saja!" protes Minda sambil mengerucutkan bibirnya, sementara Rian dan Lyra kembali tertawa terbahak-bahak melihat tingkah keduanya.
Rian kemudian menatap ketiga sahabat perempuannya itu dengan pandangan yang lebih hangat.
Sebagai satu-satunya laki-laki di dalam kelompok ini, dia seringkali menjadi penengah sekaligus target kejahilan mereka.
Namun, dia tidak pernah keberatan.
"Tapi Minda ada benarnya. Setidaknya, sesibuk apa pun kelas kita masing-masing nanti, kita harus tetap meluangkan waktu seperti ini setelah bel pulang. Sepakat?" Rian mengacungkan kepalan tangannya ke tengah meja.
Amel, tanpa ragu, langsung menumpukkan kepalan tangannya di atas tangan Rian.
"Sepakat! Siapa yang absen tanpa alasan jelas, wajib mentraktir es cincau di depan gerbang minggu depannya."
"Setuju sekali dengan aturan itu," kata Lyra sambil ikut menumpukkan tangannya.Minda tersenyum lebar, menyatukan tangannya paling atas. "Sepakat!"
Setelah ikrar kecil itu, mereka melepaskan tumpangan tangan mereka dengan tawa yang kembali pecah.
______________________
Jarum jam di pergelangan tangan Lyra sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.
klik.. (Suara kunci pintu terdengar)
Penjaga sekolah sudah mulai terlihat menutup beberapa pintu ruang kelas di lantai dasar.
"Yuk, pulang. Sudah makin sore, nanti dicari orang tua di rumah," ajak Lyra sambil mulai menggendong tas ranselnya.
Mereka berempat bangkit berdiri dari kursi semen, merapikan pakaian mereka, dan mulai berjalan beriringan menuju gerbang sekolah.
_________________
Rian berjalan di barisan paling luar, sesekali melempar candaan yang membuat Amel memukul lengannya gemas, sementara Lyra dan Minda berjalan di sisi lain sambil asyik membicarakan rencana mereka untuk berakhir pekan bersama.
Tap-tap
Langkah kaki mereka membawa mereka keluar dari gerbang SMA bangsa, bersiap menghadapi perjalanan pulang ke rumah masing-masing dengan membawa energi baru yang mereka dapatkan dari obrolan sore itu.
Bel pulang sekolah hari ini memang telah lama berhenti berbunyi, tetapi kebersamaan dan cerita keempat sahabat ini baru saja dimulai.
Bersambung~~~
Hallo gess!! Semoga suka cerita nya ya!! 🤗
Jangan lupa follow akun ini, like , komen dan share cerita nya ya!! 😉
Instagram: @dinndaayu_64
Wattpad: @dinda.glow
See you~~