NovelToon NovelToon
DARAH PEWARIS DEWA

DARAH PEWARIS DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Penyelamat
Popularitas:534
Nilai: 5
Nama Author: Flaura Charisma

Darah Pewaris Dewa

Atlas dan Oliver menjalani hidup sebagai manusia biasa, hingga kematian ibu mereka membangkitkan kekuatan kuno yang tersembunyi dalam darah mereka.

Mereka ternyata adalah pewaris terakhir dari pendekar legendaris yang pernah melindungi Alam Dewa dari kegelapan.

Namun saat rahasia masa lalu mulai terbuka, mereka menemukan bahwa para dewa menyimpan pengkhianatan besar yang mengubah sejarah.

Dengan ancaman yang semakin dekat, Atlas dan Oliver harus mencari kebenaran tentang warisan mereka...

sebelum kekuatan dalam darah mereka menjadi penyebab kehancuran dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kebangkitan pencipta pertama

Tidak ada satu pun makhluk di Alam Dewa yang bergerak.

Bahkan para dewa tertinggi terdiam.

Karena dari balik retakan Jantung Keseimbangan...

sesuatu yang seharusnya tidak pernah kembali mulai bangkit.

Bukan monster.

Bukan dewa.

Bukan pewaris.

Melainkan sosok yang berada sebelum semuanya ada.

Pencipta Pertama.

KEDATANGAN YANG TERLUPAKAN

Retakan di ruang semakin melebar.

Cahaya putih dan kegelapan bercampur menjadi satu.

Dari dalamnya muncul sebuah sosok tinggi dengan jubah kuno.

Tidak ada aura mengancam.

Namun keberadaannya sendiri membuat seluruh dunia bergetar.

Aeron menatapnya dengan wajah pucat.

"Tidak mungkin..."

Atlas menoleh.

"Kau mengenalnya?"

Aeron mengangguk perlahan.

"Dia adalah awal dari semua hukum."

NAMA SANG PENCIPTA

Sosok itu membuka matanya.

Tatapannya bukan penuh kemarahan.

Melainkan kesedihan.

"Sudah lama sekali..."

"Sejak terakhir kali aku melihat dunia yang kubuat."

Sang Penguasa Singgasana berlutut.

"Tuanku..."

Atlas terkejut.

Bahkan para dewa memberikan penghormatan.

Namun Aeron tetap berdiri.

Karena ia mengetahui sesuatu.

KESALAHAN PENCIPTA

Sang Pencipta Pertama melihat sekeliling.

"Aku menciptakan dunia dengan harapan."

"Tapi apa yang terjadi?"

Tidak ada yang menjawab.

Ia melihat para dewa.

"Kalian mengubah perlindungan menjadi kekuasaan."

Ia melihat manusia.

"Kalian mengubah kebebasan menjadi keserakahan."

Ia melihat para pewaris.

"Dan kalian membawa warisan yang seharusnya sudah hilang."

ATLAS MENENTANG PENCIPTA

Atlas melangkah maju.

"Kau menyalahkan semua makhluk?"

Sang Pencipta menatapnya.

"Apakah aku salah?"

Atlas diam sejenak.

Lalu menjawab:

"Tidak."

"Makhluk hidup memang melakukan kesalahan."

"Tapi itu bukan alasan untuk menghapus semuanya."

Sang Pencipta terdiam.

Karena jawaban itu bukan yang ia harapkan.

TUJUAN KEBANGKITAN

Oliver melihat aliran waktu.

Dan wajahnya berubah.

"Dia tidak datang untuk menghancurkan."

Semua menoleh.

Oliver melanjutkan:

"Dia datang untuk memulai ulang."

Sang Pencipta mengangguk.

"Benar."

"Dunia telah mencapai batasnya."

"Aku akan mengembalikan semuanya ke awal."

PILIHAN YANG MENAKUTKAN

Kael mengepalkan tangannya.

"Jadi semua yang kami lakukan..."

"Semua perjuangan..."

"Semua pengorbanan..."

"Akan kau hapus begitu saja?"

Sang Pencipta menatapnya.

"Karena itu adalah satu-satunya cara agar kesalahan tidak terulang."

Kael terdiam.

Karena dulu...

ia pernah berpikir hal yang sama.

EMPAT PEWARIS MELAWAN TAKDIR

Atlas melihat tiga pewaris lainnya.

Mereka semua mengerti.

Jika Sang Pencipta berhasil...

tidak akan ada perang.

Tidak akan ada penderitaan.

Namun juga...

tidak akan ada pilihan.

Aeron berkata:

"Dia bukan musuh karena dia jahat."

"Dia musuh karena dia sudah berhenti percaya."

UJIAN TERBESAR

Sang Pencipta mengangkat tangannya.

Seketika seluruh dunia berubah.

Para prajurit.

Para dewa.

Bahkan Alam Dewa sendiri...

mulai menghilang perlahan.

Bukan dihancurkan.

Tetapi dikembalikan ke awal.

Oliver mencoba menggunakan kekuatannya.

Namun waktu tidak merespons.

"Aku tidak bisa menghentikannya."

Atlas menatapnya.

"Kenapa?"

Oliver menjawab:

"Karena dia bukan bagian dari waktu."

HARAPAN TERAKHIR

Sang Pencipta menatap empat pewaris.

"Kalian memiliki darah Aurelian."

"Karena itu aku memberi kalian pilihan."

Atlas bertanya:

"Pilihan apa?"

Sang Pencipta menjawab:

"Kalian bisa ikut denganku."

"Atau menghilang bersama dunia lama."

Keempat pewaris saling menatap.

Karena kali ini...

mereka tidak hanya mempertaruhkan kemenangan.

Mereka mempertaruhkan keberadaan seluruh dunia.

Dunia perlahan memudar.

Gunung-gunung di Alam Dewa mulai berubah menjadi cahaya.

Istana para dewa kehilangan bentuknya.

Bahkan langit yang selama ribuan tahun menjadi tempat perlindungan mulai kembali menjadi kehampaan.

Sang Pencipta Pertama tidak menyerang.

Ia hanya mengembalikan semuanya seperti semula.

Dan justru itulah yang membuatnya lebih menakutkan.

PILIHAN YANG DIBERIKAN

Empat pewaris berdiri di hadapan Sang Pencipta.

"Kalian memiliki darah Aurelian."

"Kalian adalah bukti terakhir bahwa makhluk ciptaan mampu melampaui batasnya."

Sang Pencipta menatap mereka.

"Ikutlah denganku."

"Aku akan menciptakan dunia baru."

"Dunia tanpa perang."

"Dunia tanpa penderitaan."

Atlas menatap dunia yang perlahan menghilang.

Untuk sesaat...

ia membayangkan kehidupan tanpa kehilangan.

Tanpa perang.

Tanpa rasa takut.

Namun ia teringat sesuatu.

Ibunya.

Kata-kata terakhir yang pernah ia dengar.

Kekuatan bukan untuk menciptakan dunia sempurna.

Kekuatan adalah untuk menjaga dunia yang tidak sempurna.

JAWABAN ATLAS

Atlas mengangkat pedangnya.

"Aku menolak."

Sang Pencipta menatapnya.

"Kenapa?"

Atlas menjawab:

"Karena dunia tanpa kesalahan bukanlah dunia yang hidup."

"Makhluk hidup belajar dari kegagalan."

"Dan mereka berhak menentukan jalannya sendiri."

PANDANGAN OLIVER

Sang Pencipta beralih kepada Oliver.

"Kau adalah penjaga waktu."

"Kau tahu berapa banyak penderitaan yang bisa dicegah."

"Kau memiliki kemampuan untuk mengubah semuanya."

"Kenapa tidak memilih dunia yang lebih baik?"

Oliver terdiam.

Karena ia tahu...

godaan itu nyata.

Ia bisa mengembalikan banyak hal.

Ia bisa menghapus rasa sakit.

Namun ia juga tahu...

setiap perubahan akan mengambil sesuatu yang lain.

Oliver tersenyum kecil.

"Karena masa lalu membentuk kami."

"Jika semua rasa sakit dihapus..."

"maka semua pelajaran juga akan hilang."

KAEL DAN LUKA MASA LALU

Sang Pencipta menatap Kael.

"Kau paling memahami diriku."

Kael terdiam.

"Kau tahu dunia ini penuh ketidakadilan."

"Biarkan aku menghapus semuanya."

Untuk sesaat...

Kael tidak menjawab.

Karena bagian dirinya masih menginginkan hal itu.

Menghapus semua rasa sakit.

Menghapus semua kenangan buruk.

Namun kemudian ia melihat bayangan ibunya.

Wanita yang tetap memilih melindunginya.

Bukan karena dunia sempurna.

Tetapi karena masih ada sesuatu yang layak diperjuangkan.

Kael menunduk.

"Aku pernah ingin menghancurkan semuanya."

"Tapi aku salah."

PILIHAN AERON

Sang Pencipta melihat Aeron.

"Kau dikurung oleh mereka."

"Kau dikhianati."

"Kau memiliki alasan terbesar untuk membenci dunia."

Aeron diam.

Lalu tersenyum tipis.

"Benar."

"Aku memiliki alasan untuk membenci."

"Tapi aku tidak ingin menjadi alasan dunia kehilangan harapan."

EMPAT PEWARIS BERSATU

Untuk pertama kalinya...

keempat darah Aurelian berdiri dengan tujuan yang sama.

Bukan melawan pencipta.

Bukan melawan dewa.

Tapi mempertahankan hak dunia untuk memilih.

Energi mereka mulai menyatu.

Merah.

Biru.

Hitam.

Dan cahaya keseimbangan.

Jantung Keseimbangan yang hampir menghilang kembali menyala.

PERLAWANAN TERAKHIR

Sang Pencipta memandang mereka.

"Kalian memilih dunia yang penuh penderitaan."

Atlas menggeleng.

"Tidak."

"Kami memilih dunia yang masih memiliki kesempatan."

Sang Pencipta mengangkat tangannya.

Kekuatan penciptaan memenuhi seluruh ruang.

Namun kali ini...

empat pewaris tidak melawan dengan kekuatan.

Mereka melawan dengan sesuatu yang bahkan pencipta tidak bisa buat.

Pilihan.

Benturan dua kekuatan mengguncang seluruh lapisan dunia.

Untuk pertama kalinya...

Sang Pencipta Pertama mundur satu langkah.

Bukan karena kalah.

Tetapi karena melihat sesuatu yang tidak pernah ia duga.

Makhluk ciptaannya...

telah memilih jalan mereka sendiri.

Namun sebelum pertarungan berakhir...

Sang Pencipta berbisik:

"Kalau begitu..."

"aku akan menunjukkan alasan mengapa aku menciptakan dunia."

Sebuah pintu kuno terbuka di belakangnya.

Dan dari dalamnya muncul rahasia terakhir penciptaan.

Pintu kuno di belakang Sang Pencipta Pertama perlahan terbuka.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada kegelapan.

Hanya ruang kosong yang tampak seperti awal dari segalanya.

Empat pewaris Aurelian berdiri diam.

Karena mereka merasakan sesuatu dari balik pintu itu.

Sesuatu yang bahkan lebih tua daripada Sang Pencipta.

RAHASIA DI BALIK PENCIPTAAN

Sang Pencipta berjalan menuju pintu.

"Kalian mengira aku menciptakan dunia karena aku ingin menjadi penguasa."

Atlas menatapnya.

"Bukankah begitu?"

Sang Pencipta menggeleng.

"Tidak."

"Aku menciptakan dunia karena aku takut."

Semua terdiam.

Bahkan para dewa tidak pernah mendengar pengakuan itu.

KETAKUTAN SANG PENCIPTA

Sang Pencipta menunjukkan sebuah gambaran.

Sebelum dunia pertama ada...

ia sendiri hanyalah sebuah kesadaran yang sendirian.

Tidak ada kehidupan.

Tidak ada suara.

Tidak ada tujuan.

Hanya kehampaan tanpa akhir.

"Aku menciptakan kehidupan karena aku tidak ingin kesendirian itu kembali."

Oliver melihat gambaran itu.

"Jadi..."

"Kau menciptakan dunia karena ingin memiliki sesuatu yang berarti?"

Sang Pencipta mengangguk.

"Ya."

KESALAHAN TERBESAR

Namun kemudian gambaran berubah.

Makhluk hidup mulai berkembang.

Mereka memiliki kehendak sendiri.

Mereka membuat pilihan.

Mereka menciptakan sesuatu yang bahkan tidak bisa diprediksi oleh penciptanya.

Dan di situlah Sang Pencipta mulai takut.

"Aku menciptakan kehidupan."

"Tapi kehidupan tidak lagi mengikuti kehendakku."

Kael menatapnya.

"Jadi kau takut kehilangan kendali."

Sang Pencipta terdiam.

Karena itulah kebenarannya.

JAWABAN PARA PEWARIS

Atlas melangkah maju.

"Kau menciptakan kami agar dunia memiliki kehidupan."

"Tapi kau tidak menerima bahwa kehidupan itu memiliki pilihan."

Sang Pencipta menatapnya.

"Apakah kau mengatakan aku salah?"

Atlas menggeleng.

"Aku mengatakan kau juga makhluk yang belajar."

Kalimat itu membuat seluruh ruangan sunyi.

Karena untuk pertama kalinya...

seseorang tidak melawan Sang Pencipta sebagai musuh.

Tapi berbicara kepadanya sebagai seseorang yang tersesat.

KEPUTUSAN SANG PENCIPTA

Sang Pencipta melihat empat pewaris.

Ia melihat Atlas yang memilih melindungi.

Ia melihat Oliver yang menerima masa lalu.

Ia melihat Aeron yang melepaskan kebencian.

Ia melihat Kael yang memilih harapan.

"Aurelian benar."

"Makhluk ciptaan memang memiliki sesuatu yang tidak kumiliki."

Oliver bertanya:

"Apa itu?"

Sang Pencipta tersenyum kecil.

"Kemampuan untuk berubah."

KESEIMBANGAN BARU

Perlahan kekuatan Sang Pencipta mulai menghilang.

Bukan karena dikalahkan.

Tetapi karena ia sendiri melepaskannya.

Jantung Keseimbangan kembali menyala.

Dunia yang hampir dihapus kembali muncul.

Namun sebelum menghilang...

Sang Pencipta memberikan satu pesan.

"Jangan ulangi kesalahanku."

"Jangan mencoba menciptakan dunia sempurna."

"Karena dunia yang sempurna..."

"...tidak membutuhkan kehidupan."

WARISAN AURELIAN SEBENARNYA

Empat simbol darah Aurelian bersatu.

Untuk pertama kalinya sejak ribuan tahun...

warisan keluarga mereka tidak lagi terbagi.

Mereka bukan penjaga yang berbeda.

Mereka adalah satu kesatuan.

PEWARIS KESEIMBANGAN DUNIA.

SETELAH PERANG

Alam Dewa kembali.

Langit yang retak mulai pulih.

Para dewa melihat dunia dengan cara berbeda.

Tidak lagi sebagai penguasa.

Tetapi sebagai penjaga.

Atlas berdiri melihat langit.

"Apakah semuanya benar-benar selesai?"

Oliver melihat aliran waktu.

Untuk pertama kalinya...

ia tidak melihat kehancuran.

Ia melihat kemungkinan.

"Kali ini..."

"masa depan belum ditentukan."

Kael berdiri tidak jauh dari mereka.

"Aku masih tidak terbiasa dengan ini."

Atlas tersenyum.

"Dengan apa?"

Kael melihat tiga pewaris lainnya.

"Dengan memiliki keluarga."

Namun jauh di luar Alam Dewa...

di tempat yang bahkan tidak bisa dilihat oleh para pencipta...

sebuah mata perlahan terbuka.

Sebuah suara terdengar.

"Menarik..."

"Sang Pencipta gagal."

"Para pewaris berhasil."

"Kalau begitu..."

"aku akan melihat apakah mereka mampu menghadapi akhir yang sebenarnya."

Karena meskipun perang besar telah berakhir...

sebuah kekuatan baru mulai bangkit.

Dan kali ini...

ancamannya bukan berasal dari masa lalu.

Melainkan dari sesuatu yang belum pernah dikenal dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!