NovelToon NovelToon
Satu Bulan Menunda Cerai

Satu Bulan Menunda Cerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.

Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 30: Rahasia Kecil Gisella

Dekapan hangat Adrian di perpustakaan tua siang itu perlahan memudar seiring berjalannya waktu, namun rasa aman yang ditinggalkannya tertanam begitu dalam di lubuk hati Gisella.

Masalah Julian telah selesai, draf perwalian hukum yang ekstrem telah hancur menjadi serpihan, dan es di hati sang profesor biokimia telah retak hingga tak bersisa.

Segala konflik eksternal yang mengancam nyawa dan reputasi mereka di kota Aethelgard tampaknya telah berhasil dimitigasi dengan sempurna.

Namun, bagi Gisella, masih ada satu ganjalan besar yang tersisa di dalam benaknya.

Sebuah rahasia kecil yang belum pernah dia bagikan kepada siapa pun di dunia fiksi ini—bahkan tidak kepada Adrian, pria yang kini memiliki detak jantungnya.

Rahasia itu bukan tentang masa lalu tubuh Gisella yang asli,

melainkan tentang bagaimana dia bisa berada di sini, dan sebuah kenyataan pahit tentang lini masa dunia yang sedang mereka tinggali.

Sabtu pagi, udara musim gugur di Aethelgard mulai terasa menusuk tulang.

Angin dingin menerbangkan daun-daun mapel kering di halaman depan kediaman Arthur. Hari ini adalah hari ketujuh belas sejak Gisella terbangun di rumah sakit, yang berarti mereka hanya memiliki tiga belas hari tersisa dalam janji satu bulan mereka.

Adrian harus berangkat ke universitas sejak pagi buta karena ada rapat darurat dengan dewan rektor terkait paten formula risetnya yang baru saja bersih dari tuntutan.

Kepergian Adrian memberikan Gisella kesempatan untuk melakukan sesuatu yang sudah dia rencanakan sejak kesepakatan mereka di perpustakaan.

Gisella duduk di meja kerja kecil di dalam kamar nomor dua.

Di hadapannya, sebuah buku catatan bersampul kulit cokelat tua terbuka lebar. Buku itu adalah "jurnal rahasia" yang dia beli secara sembunyi-sembunyi saat menemani Valerie ke galeri seni kota beberapa hari lalu.

Dengan pena bulu bertinta hitam, Gisella mulai menuliskan garis besar plot dari novel aslinya, Belenggu Cinta di Aethelgard.

Dia mencatat setiap detail yang dia ingat dari duniaku yang dulu:

nama-nama karakter, konflik politik faksi kampus yang akan mengincar Adrian di masa depan, hingga detail kecil tentang kesehatan Nyonya Arthur.

Sebagai seorang manajer humas yang andal, Gisella tahu bahwa cara terbaik untuk mencintai seseorang di dunia yang berbahaya ini adalah dengan menjadi perisai tak terlihat bagi masa depannya.

Dia tidak tahu apakah jiwanya akan menetap selamanya di tubuh ini setelah hari ketiga puluh, atau apakah takdir akan tiba-tiba melemparnya kembali ke dunianya yang semula.

 Oleh karena itu, dia harus meninggalkan sebuah "buku panduan mitigasi krisis" untuk Adrian.

"Sret. Sret."

Suara goresan pena bulu itu memenuhi keheningan kamar.

Gisella menuliskan bab terakhir yang dia ingat dari novel tersebut, sebuah bab di mana faksi saingan Adrian dari universitas seberang akan mencoba menyabotase pipa uap laboratorium utama pada bulan Desember mendatang.

"Jika aku masih di sini saat musim dingin

tiba, aku akan menghentikannya sendiri,"

gumam Gisella lirih, jemarinya mengusap tulisan tersebut.

"Tapi jika aku tidak ada... buku ini akan menjadi pelindungmu, Adrian."

Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang ritmis memecah konsentrasinya.

"Tok, tok, tok."

Gisella tersentak.

Dengan gerakan refleks yang cepat, dia menutup buku catatan cokelat itu dan menyelipkannya ke bawah tumpukan kain syal rajut di dalam laci meja riasnya.

Dia mengatur napasnya agar kembali tenang sebelum berjalan membuka pintu.

Valerie berdiri di ambang pintu dengan senyum lebar, memegang sebuah kotak kardus kecil yang dilapisi kain flanel merah.

"Gisella! Kau sibuk? Aku baru saja kembali dari pasar loak di distrik tengah dan menemukan sesuatu yang luar biasa!"

Gisella mengembuskan napas lega, tersenyum menyambut adik iparnya.

"Masuklah, Valerie. Apa yang kau temukan?"

Valerie melangkah masuk dengan antusias, meletakkan kotak itu di atas tempat tidur.

Ketika dia membuka penutupnya, seonggok piringan hitam (vinyl) tua dengan sampul bergambar menara jam kota kuno terlihat di dalamnya.

"Ini adalah rekaman orisinal dari konser piano simfoni Chopin tahun 1975 yang dimainkan oleh pianis legendaris Arthur Rubinstein!" seru Valerie dengan mata berbinar.

"Aku tahu kau menyukai Chopin, dan Kak Adrian... yah, dia selalu berpura-pura tidak peduli, tapi aku tahu dia sering diam-diam mendengarkan rekaman klasik di ruang kerjanya saat stres. Aku berpikir kita bisa memutarnya di gramofon ruang tengah sore ini untuk menyambutnya pulang."

Melihat ketulusan dan perubahan sikap Valerie yang kini begitu menyayanginya, hati Gisella menghangat.

Sandiwara dingin di rumah ini benar-benar telah pudar, digantikan oleh jalinan keluarga yang nyata.

"Ini hadiah yang luar biasa, Valerie. Terima kasih,"

ucap Gisella tulus, memeluk singkat bahu adik iparnya.

"Ayo kita siapkan gramofonnya sekarang."

Pukul lima sore tepat.

Langkah kaki Adrian yang tegas menggema di koridor utama.

Begitu pintu depan terbuka, sang profesor disambut oleh sesuatu yang tidak biasa.

Bukan alunan piano langsung dari jemari

Gisella, melainkan suara statis lembut dari jarum gramofon tua yang berputar, mengalunkan melodi Piano Concerto No. 1 karya Chopin yang megah namun syahdu.

Adrian meletakkan tas dan mantelnya di sofa, matanya langsung mencari keberadaan sang istri.

Gisella sedang berdiri di dekat jendela besar, mengenakan gaun beludru berwarna merah marun yang membuatnya tampak sangat anggun di bawah pendar lampu dinding yang hangat.

Di dadanya, bros perak berbentuk kunci G pemberian Adrian tersemat dengan sempurna.

Adrian melangkah mendekat, mengabaikan Valerie yang sengaja melarikan diri ke dapur dengan dalih membantu Bibi Martha menyiapkan makan malam.

Pria itu berhenti tepat di hadapan Gisella, melepaskan kacamata peraknya dan menatap istrinya dengan kehangatan cair yang kini sepenuhnya mendominasi sepasang mata elangnya.

"Hari ini kau menggunakan media mekanis untuk menggantikan tugas utamamu, Nyonya Arthur?"

goda Adrian, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang menawan.

Gisella terkekeh, melangkah satu langkah maju hingga dada mereka nyaris bersentuhan.

"Valerie yang menemukan piringan hitam langka ini untukmu, Adrian. Aku hanya bertugas sebagai operator suasana."

Adrian tidak membalas dengan kata-kata.

Dia mengulurkan kedua tangannya,

melingkarkannya dengan sangat protektif di sekeliling pinggang ramping Gisella, menarik tubuh wanita itu ke dalam dekapan hangatnya.

Gisella menyandarkan kepalanya di dada bidang Adrian, mendengarkan detak jantung suaminya yang berdegup dengan ritme yang tenang dan beraturan.

Di tengah pelukan yang begitu intim itu, diiringi oleh alunan concerto Chopin yang megah, Gisella memejamkan matanya. Rahasia kecil tentang buku catatan cokelat di dalam lacinya terasa seperti beban manis yang siap dia tanggung sendirian.

Dia telah memutuskan: tidak peduli apakah dia adalah penjelajah waktu, transmigran, atau roh asing, di sisa tiga belas hari ini dan seterusnya, dia akan menggunakan seluruh pengetahuannya untuk memastikan pria yang mendekapnya ini mendapatkan akhir cerita yang paling bahagia di dunia ini.

"Aku mencintaimu, Adrian,"

 bisik Gisella sangat lirih, hampir tenggelam oleh suara simfoni gramofon.

Adrian mempererat dekapannya, mengecup puncak kepala Gisella dengan kelembutan yang mutlak.

"Aku tahu, Gisella. Dan logikaku mengatakan bahwa perasaan itu adalah satu-satunya kebenaran yang tidak akan pernah berubah dalam hidupku."

1
Mar lina
lanjut Thor ceritanya
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...
Mar lina
Aku mampir, Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!