Aku bertahan di rumah ini karena aku mencintaimu, Ardi. Tapi mulai malam ini, demi harga diriku, jangan harap aku akan diam saja saat keluargamu menginjak-injakku lagi."
Selama lima tahun, Sarah adalah menantu yang tak dianggap. Dia penurut, pendiam, dan selalu mengalah. Namun, ketika cinta dibalas dengan pengkhianatan ego, Sarah memutuskan untuk melawan. Ini bukan cerita tentang istri lemah yang menangis meratapi nasib, melainkan kisah Sarah yang mulai menuntut balik harga dirinya di dalam rumah tangga yang penuh tekanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmayani Mursid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Retakan Pertama
Dua minggu telah berlalu sejak kecerobohan manis di lantai tiga puluh menara The Grand Pinnacle. Bagi Ardi, tiga minggu kemarin adalah puncak dari kebebasannya. Sarah tidak pernah pulang, tidak pernah menelepon, dan keberadaannya bak ditelan bumi. Di rumah mewah mereka, Mama Widya dan Rika harus bersusah payah mengurus diri mereka sendiri, sementara Ardi menghabiskan hampir setiap malamnya di apartemen baru bersama Tyas, menenggelamkan diri dalam kemewahan hasil dana talangan.
Namun, siang itu di kantor pusat PT Reksa Tama, ilusi surga yang dibangun Ardi mendadak berganti menjadi hawa dingin yang mencekam.
Ardi duduk di kursi kebesarannya dengan dahi berkerut dalam. Di hadapannya, tiga lembar kertas dengan kop surat resmi PT Cahaya Abadi Investama tergelar. Itu adalah surat tagihan termin pertama beserta rincian akumulasi biaya operasional yang harus disetorkan hari ini.
Jari Ardi gemetar saat melihat angka yang tertera di baris paling bawah. Jumlahnya jauh melampaui estimasi kas yang dia miliki saat ini. Sebagian besar dari dana lima belas miliar kemarin sudah dia habiskan untuk memotong utang bank lama, membayar uang muka vendor proyek Jakarta, dan tentu saja—membeli unit penthouse serta perabot mewah untuk Tyas.
Bip. Interkom di mejanya berbunyi, memecah keheningan.
"Pak Ardi," suara sekretarisnya terdengar ragu. "Perwakilan dari PT Cahaya Abadi Investama sudah ada di lobi. Mereka datang untuk menjemput konfirmasi pembayaran termin pertama yang jatuh tempo hari ini."
Ardi menelan ludah yang terasa kesat di tenggorokan. Rasa tinggi hatinya yang selama dua minggu ini membumbung tinggi, mendadak runtuh separuh. Dia buru-buru meraih ponselnya, mencoba meninjau kembali berkas digital perjanjian yang dia tanda tangani dua minggu lalu. Sialnya, susunan kalimat hukum di dalamnya begitu rumit hingga kepalanya mendadak pusing.
"Suruh mereka masuk ke ruangan saya," perintah Ardi dengan suara yang diusahakan tetap berwibawa, meski jantungnya bertalu-talu.
Pintu terbuka, dan seorang pria klimis dengan setelan jas rapi melangkah masuk. Dia adalah utusan yang dikirim oleh Rendra, pengacara Sarah, tanpa sedikit pun Ardi sadari.
"Selamat siang, Pak Ardi. Saya rasa surat tagihan kami sudah Anda terima," ucap pria itu dengan senyuman formal yang terasa begitu dingin. "Sesuai kesepakatan, hari ini adalah batas akhir pembayaran termin pertama sebesar tiga miliar rupiah untuk pengamanan progres proyek."
Ardi berdeham, mencoba memperbaiki posisi duduknya demi menjaga sisa-sisa harga diri sebagai pengusaha kontraktor hebat.
"Ah, iya. Tentu saja saya sudah meninjaunya," Ardi memaksakan senyum sombong yang tampak kaku. "Tapi Anda tahu sendiri bagaimana bisnis konstruksi berjalan. Ada beberapa pencairan termin dari klien proyek Jakarta kami yang sedikit tertunda minggu ini. Masalah teknis perbankan biasa."
Ardi menjeda kalimatnya, lalu memundurkan tubuhnya bersandar pada kursi dengan gaya sok kuasa. "Jadi, saya minta kebijakan dari PT Cahaya Abadi. Tolong sampaikan pada direksi Anda, saya meminta kelonggaran waktu satu minggu lagi. Bagi perusahaan sebesar kami, uang tiga miliar ini perkara kecil. Hanya masalah waktu saja."
Pria di hadapan Ardi tidak terkejut, tidak juga marah. Dia justru melebarkan senyumannya—sebuah senyuman penuh arti yang seharusnya membuat Ardi waspada.
"Meminta waktu, Pak Ardi?" tanya pria itu memastikan. "Apakah Anda sudah membaca dengan teliti pasal empat mengenai denda keterlambatan dalam Surat perjanjian yang Anda tanda tangani?"
"Tentu saja sudah," bohong Ardi cepat, enggan terlihat bodoh. "Keterlambatan biasa pasti ada bunganya, dan saya sanggup membayar itu minggu depan."
"Baik jika Anda sudah memahaminya, Pak Ardi," ucap pria itu seraya menjabat tangan Ardi pamit. "Saya akan menyampaikan permohonan penundaan ini kepada direksi kami. Semoga proyek Anda berjalan lancar."
Begitu pintu ruangan tertutup rapat, Ardi langsung menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi. Dia melonggarkan dasinya yang terasa mencekik leher. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ardi segera mengambil ponsel dan mengetik pesan kepada bagian keuangannya untuk memprioritaskan dana masuk, tanpa tahu bahwa dia baru saja melompat masuk ke dalam jebakan pamungkas Sarah.
Sementara itu, di sebuah kafe kelas atas yang sepi, ponsel di atas meja kayu milik Rendra bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari orang suruhannya: “Target resmi meminta tambahan waktu satu minggu. Poin denda keterlambatan tersembunyi yang jatuh tempo hari ini resmi aktif berjalan.”
Rendra membalikkan layar ponselnya ke hadapan Sarah yang sedang duduk dengan anggun di seberangnya. Sarah, yang siang itu mengenakan pakaian kasual berkelas yang jauh dari kesan 'wanita dasteran', menatap pesan itu dengan binar mata yang teramat dingin.
"Dia benar-benar meminta tambahan satu minggu lagi, Rendra," Sarah tersenyum sinis, lalu menyesap macchiato dinginnya perlahan.
"Benar, Sarah. Sesuai dengan poin denda tersembunyi yang kita masukkan tiga minggu lalu, per detik ini denda keterlambatannya akan melipatgandakan nilai utangnya setiap hari selama satu minggu ke depan," ujar Rendra dengan nada puas. "Dalam waktu tujuh hari lagi, jumlah dendanya akan langsung menyita seluruh sisa saham dan aset PT Reksa Tama miliknya tanpa ampun."
Sarah menyandarkan punggungnya, menatap ke luar jendela kaca kafe melihat kesibukan jalanan kota. Rasa sakit hati akibat pengkhianatan di ruang kerja suaminya tiga minggu lalu kini telah berubah menjadi kepuasan mutlak seorang pemburu yang melihat mangsanya masuk total ke dalam perangkap.
"Bagus. Biarkan si pengusaha hebat itu menikmati minggu terakhir 'sukses' palsunya ini," bisik Sarah penuh kemenangan. "Biarkan dia terus menghamburkan uang dan membohongi selingkuhannya selama tujuh hari ke depan. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya terbang setinggi langit, sebelum akhirnya jatuh terempas tanpa punya apa-apa lagi untuk diselamatkan nanti."
.
.
.
.
."Satu like dan komentar dari kalian sangat berarti untuk kelanjutan novel ini. Terima kasih sudah membaca!"✨️❤️