Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Siang hari di kampus terasa cukup terik, namun angin yang bertiup pelan di antara lorong-lorong beton membuat suasana tetap nyaman.
Di bawah pohon ketapang yang rimbun di dekat kantin fakultas, Kanza Arumi dan Tasya duduk santai, menikmati waktu kosong di antara jadwal kelas yang padat.
Kanza menggigit es krim cokelat yang mulai meleleh di tangannya, sementara Bella menyendok bubur kacang ijo hangat yang baru saja dibelinya.
"Tas," bisik Kanza sambil menyikut pelan lengan temannya.
"Lo ngerasa gak sih... jadi istri tuh rasanya kayak hidup di reality show yang kameranya nyala 24 jam tanpa jeda iklan?"
Tasya menoleh cepat, alisnya terangkat hampir menyentuh dahi.
"Apaan lagi nih, Kanza? Baru juga duduk udah curhat high-level."
Kanza memutar bola matanya malas sebelum membuka layar ponsel yang terus bergetar.
"Nih ya, baru aja pantat gue nempel di bangku kayu ini dua detik, langsung dapet chat: ‘Kanza, jangan duduk di bawah pohon. Mas lihat dari jauh, anginnya kencang. Nanti masuk angin lagi.’"
Tasya mendelik, lalu menengok ke sekeliling dengan waspada.
"Dari jauh apaan? Emang suami lo itu punya mata batin atau jangan-jangan dia pasang drone di atas kepala lo?"
Kanza cemberut, pipinya menggembung kesal.
"Kayaknya Mas Hanan tuh punya sistem GPS pribadi yang cuma connect ke molekul tubuh gue. Gak tau pake teknologi apa, tapi niat banget tuh cowok jadi intel rumah tangga!"
Tasya tertawa terbahak-bahak sampai nyaris tersedak kacang ijo.
"Woy, itu bukan suami lagi namanya, itu alat pelacak canggih versi syariah!"
Kanza ikut tertawa kecil, lalu menghela napas panjang yang terdengar sangat dramatis.
"Dulu gue pikir, nikah sama dosen alim nan dingin itu bakal tenang, adem, dan syahdu kayak di film religi. Nyatanya? Baru senyum tipis ke abang parkir aja biar dikasih jalan, langsung ada chat: ‘Itu siapa, Kanza? Ramah sekali sepertinya.’ Lah, Mas... itu manusia yang ngebantu gue ngeluarin motor dari jepitan naga!"
Tasya menutup mulut dengan tangan, menahan tawa agar tidak menyemprotkan bubur.
"Jadi lo hidup di bawah pengawasan sekelas CCTV masjid pusat 24 jam, ya?"
Kanza mengangguk khidmat, seolah sedang mengakui takdir yang berat.
"Fix. Gue tuh istri sah plus-plus: sah di mata agama, plus dimonitor ketat kayak limbah bahan berbahaya."
Tiba-tiba Tasya menyipitkan mata, menunjuk ke arah taman kecil dekat gedung fakultas dengan dagunya.
"Eh, itu bukan Zahira? Si mahasiswi teladan yang lo ceritain tempo hari, yang katanya punya 'radar khusus' buat suami lo? Kok dia jalannya ke arah gedung dosen dengan gaya seanggun itu?"
Kanza langsung refleks berdiri sedikit, melongok ke arah yang dimaksud dengan mata yang mendadak tajam.
"Buset... dia beneran masuk? Kirain tadi lagi sibuk nyiapin materi kajian. Gila, ini mah vibes-nya langsung berubah jadi film Jodoh Dunia Akhirat, edisi bini sah vs ustadzah idola kampus!"
Tasya menyeringai nakal.
"Fix. Hidup lo bakal jadi sinetron prime time dengan rating tertinggi. Judulnya: Dua Hati, Satu Hanan, Banyak Drama dan Istighfar."
Kanza mengerucutkan bibir, namun tangannya mulai mengetik sesuatu di ponsel dengan kecepatan cahaya.
"Gue harus pasang strategi pertahanan tingkat tinggi. Ini udah bukan sekadar cinta-cintaan remaja... ini duel kekuatan batin antara yang sah dan yang merasa layak."
Tasya tertawa lagi, merasa terhibur.
"Langkah pertama, pasang status WhatsApp yang 'nyenggol' halus. Biar tajem dikit kena ulu hati."
Kanza mengangguk mantap.
"Sip. ‘Suamiku bukan cuma dosen biasa, dia dosen bergelar suami sah yang sudah dikunci hatinya. Mohon mundur perlahan, sebelum disiram air wudhu satu ember.’ Gimana, Tas?"
"Muantap! Pedes tapi tetap berlandaskan akhlakul karimah. Cocok!"
Mereka tertawa bersama, suara tawa mereka memecah ketegangan siang itu.
Meski konflik mulai mengintai dari balik siluet Zahira di kejauhan, Kanza tetap menunjukkan bahwa di balik sisi absurd dan kelakuannya yang kadang barbar.
Ia siap memperjuangkan kedaulatan rumah tangganya, tentu saja dengan gaya yang khas: penuh kelakar, sedikit nekat, namun dilandasi rasa percaya diri yang tak tergoyahkan.
Siang menjelang sore, suasana kampus mulai lengang. Beberapa mahasiswa tampak sudah bersiap pulang, sementara sebagian lainnya masih sibuk menyelesaikan tugas kelompok di selasar.
Dari arah parkiran, seorang pria mengenakan kemeja putih bersih dengan celana bahan abu gelap berjalan santai sambil menenteng tas makan berisi bekal.
Langkahnya tenang, tapi jelas dia tahu ke mana arah tujuannya.
Hanan Arkan, dengan wajah kalem khas dosen idealis sekaligus suami posesif part-time, tengah dalam misi mulia: mengantarkan bekal makan siang untuk istrinya tercinta, Kanza Arumi.
Aroma masakan rumah yang tercium samar dari balik tas kain itu seolah menjadi penyemangat Hanan di tengah teriknya matahari yang mulai condong ke barat.
Namun takdir berkata lain.