Bagi Davina, Barra adalah cinta pertama masa kecil yang tiba-tiba menghilang. Sepuluh tahun berlalu tanpa kabar, Barra kembali ke desa, bukan lagi sebagai pemuda hangat yang ia kenal, melainkan pria asing yang dingin. Tanpa basa-basi, Barra menyodorkan penawaran gila: pernikahan kontrak.
Demi membiayai pengobatan neneknya, Davina terpaksa setuju. Namun, berharap bahagia, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Setelah menikah, Barra bersikap sangat kejam, hingga puncaknya pria itu pergi keluar negeri dan mengabaikannya selama dua tahun.
Saat masa kontrak hampir habis, Barra mendadak pulang. Anehnya, sikap pria itu berbalik 180 derajat menjadi sosok yang lembut, hangat, dan penuh perhatian, persis seperti Barra yang dulu ia cintai.
Perubahan drastis membuat Davina didera kecurigaan. Mengapa di saat kontrak akan berakhir, Barra justru ingin mempertahankannya? Rahasia besar apa yang sebenarnya disembunyikan Barra selama sepuluh tahun ini? Apa motif dibalik pernikahan kontrak mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SYARAT DI BALIK KEPASRAHAN.
Restoran mewah yang terletak di lantai teratas hotel bintang lima itu telah dipesan sepenuhnya oleh Barra. Hanya ada mereka berdua malam ini. Alunan musik instrumental piano yang lembut mengalir tenang, berpadu dengan gemerlap lampu ibu kota yang terlihat memukau dari balik dinding kaca setinggi langit-langit. Di atas meja, lilin-lilin kecil bergoyang lembut, memantulkan cahaya temaram pada kelopak mawar merah yang ditata rapi.
Namun, kemewahan itu sama sekali tidak bisa menenangkan gemuruh di dada Davina. Ia duduk dengan kaku, jemarinya bertautan erat di atas pangkuan. Pengakuan Barra di kantor tadi siang masih berputar-putar di kepalanya bagai kaset rusak.
Barra memotong daging steak di piringnya dengan perlahan, lalu menatap Davina yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk minumannya. Pria itu mengembuskan napas panjang, menyingkirkan pisau dan garpunya, lalu memajukan tubuhnya ke depan meja.
"Vina," panggil Barra, suaranya terdengar begitu tulus dan rendah. "Aku tahu, kata maaf saja tidak akan pernah cukup untuk membayar semua air mata dan rasa sakit yang kuberikan padamu dua tahun lalu. Sikap kasarku, kata-kata tajamku... semuanya adalah hal yang paling kubenci dari diriku sendiri. Tapi demi Tuhan, aku tidak punya pilihan lain saat itu."
Davina mendongak, menatap sepasang mata elang yang kini meredup penuh penyesalan.
"Aku memohon kepadamu, Vina," Barra mengulurkan tangannya di atas meja, mencoba menyentuh jemari Davina yang dingin, namun Davina dengan cepat menarik tangannya kembali. Barra tersenyum getir, lalu melanjutkan, "Mari kita lupakan kontrak gila itu. Mari kita mulai semuanya dari awal lagi. Sebagai suami istri yang sesungguhnya. Aku ingin menebus semua waktuku yang hilang untuk membahagiakanmu."
Mendengar kalimat selembut itu, jantung Davina berdegup sangat kencang. Sudut hatinya yang paling dalam, yang masih menyimpan sisa-sisa cinta pertamanya, seketika bergetar hebat. Ia hampir saja terbuai oleh tatapan penuh permohonan itu. Ia hampir saja luluh dan menyerahkan seluruh hatinya kembali pada pria di hadapannya.
Namun, tepat sebelum benteng pertahanannya runtuh, kilasan memori dua tahun lalu kembali melintas di benaknya. Bayangan saat ia menangis sendirian di rumah besar ini, bayangan saat Barra memandangnya seperti sampah di rumah sakit, dan rasa trauma ditelantarkan tanpa kabar selama dua puluh empat bulan langsung menyentak kesadarannya.
Davina menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya, dan menatap Barra dengan sorot mata yang sengaja dibuat sedingin mungkin.
"Untuk apa semua kemanisan ini, Barra?" tantang Davina, suaranya bergetar namun penuh penekanan. "Kontrak pernikahan kita akan berakhir dalam dua bulan lagi. Sisa waktu kita tinggal hitungan minggu! Bukankah kita seharusnya bersiap-siap untuk pergi ke pengadilan agama? Karena sejujurnya, aku ingin secepatnya bercerai dan bebas dari belenggu ini!"
Mendengar kata 'cerai' meluncur begitu tegas dari bibir Davina, ekspresi kelembutan di wajah Barra seketika lenyap. Rahang pria itu mengeras, dan binar hangat di matanya meredup dalam sekejap, digantikan oleh kilatan tajam yang sangat dingin, kilatan yang mengingatkan Davina pada sosok Barra dua tahun yang lalu.
Suasana romantis di sekitar mereka mendadak berubah menjadi sangat mencekam dan menegangkan. Barra bersandar pada kursi kemudinya, menatap Davina lekat-lekat dengan pandangan yang sulit diartikan. Keheningan yang panjang merayap di antara mereka berdua, hanya menyisakan suara instrumen piano yang kini terdengar seperti musik latar sebuah ketegangan.
"Kamu... benar-benar sekekeh itu ingin bercerai dariku, Davina?" tanya Barra. Suaranya tidak lagi selembut beludru, melainkan rendah, berat, dan dipenuhi oleh aura dominasi yang menekan.
Davina mengepalkan tangannya di bawah meja untuk menyembunyikan getar ketakutannya. "Iya. Sejak awal pernikahan ini adalah transaksi, dan jalannya transaksi ini sudah hampir selesai. Aku ingin kembali ke desa bersama nenekku."
Barra terdiam beberapa saat, menatap Davina dengan sorot mata yang menghunus tajam. Perlahan, seulas senyum tipis yang sarat akan makna misterius terukir di sudut bibirnya yang kokoh.
"Baik," ucap Barra akhirnya, menganggukkan kepalanya pelan. "Jika itu memang keputusan bulat yang kamu inginkan, aku akan memenuhi keinginanmu untuk bercerai setelah kontrak ini selesai."
Davina sempat mengembuskan napas lega, namun kalimat Barra berikutnya langsung membuat darah di sekujur tubuhnya terasa membeku seketika.
"Tapi, ingat satu hal, Davina," Barra memajukan tubuhnya kembali, menatap tepat ke dalam manik mata Davina dengan jarak yang begitu dekat hingga aura intimidasinya mengunci pergerakan wanita itu. "Sebelum waktu dua bulan itu benar-benar habis dan ketukan palu hakim pengadilan agama terdengar, kamu masih berstatus sebagai istri sahku yang mutlak. Dan itu artinya... mulai malam ini, kamu harus melakukan seluruh kewajibanmu sebagai seorang istri."
Davina membelalakkan matanya dengan sempurna, napasnya tertahan di tenggorokan. "M-maksudmu apa, Barra?"
Barra tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu berdiri dari kursinya, meninggalkan beberapa lembar uang ratusan ribu di atas meja tanpa memedulikan makanan mereka yang belum habis, lalu mencengkeram lembut namun tegas pergelangan tangan Davina untuk membawanya keluar dari restoran.
Sepanjang perjalanan pulang di dalam mobil, keheningan yang mencekam dan menegangkan menyelimuti mereka. Davina didera rasa penasaran sekaligus ketakutan yang luar biasa. Kewajiban istri seperti apa yang dimaksud oleh Barra? Apa yang sebenarnya direncanakan oleh pria penuh rahasia itu di sisa waktu dua bulan kontrak mereka? Permainan baru apa lagi yang sedang Barra mainkan untuk mengikatnya agar tidak bisa pergi? Semua pertanyaan itu menggantung di udara, membuat malam itu terasa sangat panjang dan penuh teka-teki yang mendebarkan.