NovelToon NovelToon
CAMPUS COUPLE

CAMPUS COUPLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama
Popularitas:344
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Laila

Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEMESTER 5 - Part 1

“Ninaaaaa!”

Gea langsung memeluk sahabatnya begitu dia melihat sosok mungil itu berdiri di depan pintu rumah. Tanpa membuang waktu, Gea membawa kedua tamunya hari itu masuk ke dalam, langsung menuju ruang tengah tempat sang Ibun yang sedang asyik bersantai di depan televisi, menikmati tayangan drama korea favoritnya.

“Nina? Ya ampun, apa kabar?” sapa Ibun ramah, menyambut dengan cupika-cupiki dan pelukan

ringan.

“Sehat, Tante. Tante sendiri gimana kabarnya? Keliatan seger banget, nih,” balas Nina sopan sembari mengulas senyum lebarnya.

“Alhamdulillah, Tante sehat. Malik,” Ibun beralih menatap pria di sebelah Nina, yang langsung

maju untuk menyalimi tangan beliau. “Eh, Selamet ya! Tante denger dari Gea kamu kepilih jadi ketua himpunan baru ya.”

“Iya, Tante. Terima kasih banyak,” sahut Malik. Ia tersenyum canggung sembari refleks mengusap

tengkuk lehernya yang tidak gatal. Merasa agak malu dipuji seperti itu.

“Keren loh kamu,” puji Ibun sekali lagi dengan binar bangga.

“Bun, aku sama anak-anak ke atas dulu ya,” pamit Gea memotong percakapan sebelum Malik makin salah tingkah.

“Iya. Itu sekalian dimsumnya dipanaskan dulu di microwave, ya.”

Gea mengangguk. Dia menyuruh kedua sahabatnya untuk naik lebih dulu dan menunggu di ruang tengah lantai dua, sementara dirinya melipir ke dapur untuk menyiapkan minuman dan

menghangatkan dimsum buatan sang ibu.

“Makanan nyokap lo emang gak pernah gagal,” puji Malik tulus setelah menyuap sepotong dimsum hangat ke mulutnya.

“Lo kapan sampe dari Bandung, Nin?” tanya Gea ke Nina yang duduk di dekatnya.

“Tadi pagi. Gue langsung seret pacar gue ini buat langsung ke sini,” jawab Nina, menunjuk Malik dengan dagunya.

Gea memotong dimsum di piringnya, mengunyahnya pelan dengan kening berkerut. “Tiba-tiba banget? Ada apa emangnya?”

“Ada apa? Ada apa?” suara Nina meninggi, menirukan nada bicara Gea dengan gemas. “Babe,” panggilnya pada Malik, “temen kamu kayaknya udah mulai gak waras deh.”

Gea langsung menoleh penuh selidik ke arah Malik. “Lo habis cerita apa aja ke Nina?”

Malik menghela napas, meletakkan garpu dimsumnya. “Lo lagi berantem lagi sama cowok lo? Dan jujur, ini bukan hal baru yang gue denger. Udah berapa kali sih, Ge, lo cerita lo berantem sama cowok lo?”

Gea hanya bisa melepaskan tawa sarkas dan berkata, “udah jadi makanan sehari-hari gue kayaknya deh, Mal.”

“Kalian gak pernah ngobrol ini baik-baik, emangnya?” tanya Nina, nadanya kini melunak,

digantikan rasa khawatir.

“Bukannya gue gak mau ngobrol, Nin,” sahut Gea, tatapannya mendadak kosong menatap gelas di depannya. “Gue gak cuma sekali denger dia minta maaf. Tapi masalahnya, tiap kali dia minta

maaf, di saat yang sama dia juga akan memaparkan kesalahan gue di mata dia. Tanpa mau denger penjelasan atau pendapat gue. Dia selalu kesel tiap kali ada cowok di deket gue. Jangankan orang lain, sama Malik aja dia cemburu setengah mati. Ini kalau dia tahu Malik lagi main ke rumah gue, dia pasti bakal ngamuk lagi .”

“The hell,” umpat Nina pelan, tidak habis pikir.

“Gue perlu bantu ngomong gak sih, Ge, ke cowok lo?” tawar Malik serius. “Biar gue perjelas ke

dia kalo kita itu cuma sahabatan. Lagian dia juga udah tau gue udah punya pacar.”

Gea cepat-cepat menggelengkan kepalanya. “Jangan, Mal. Yang ada dia malah makin jadi dan nuduh yang enggak-enggak. Diemin aja. Nanti dia juga tenang sendiri. Gue…," Gea memainkan jemarinya yang ada di atas pangkuannya, "gue lagi gak ada tenaga buat berantem sama dia. Semester lima ini rasanya lebih capek. Tugas kuliah makin gila, urusan himpunan, ditambah hubungan gue yang bentar-bentar berantem.”

“Makanya lo gak pernah ikut kalo anak-anak lagi pada ngumpul?” tanya Malik merujuk pada acara

hangout teman SMA mereka yang belakangan ini selalu absen dari kehadiran Gea.

“Kalo yang waktu itu, gue udah terlanjur janji sama dia buat ikut ke acara dia sama temen-temen SMA-nya. Makanya gue gak bisa ikut ngumpul sama kalian,” jawab Gea lirih.

Mendengar itu, Nina langsung bergeser mendekat dan memeluk Gea dari samping. Ia bisa merasakan bagaimana dada sahabatnya itu naik turun, mengembuskan napas yang terasa begitu berat dan dalam. Tak lama, keheningan di antara mereka pecah oleh deru napas Gea yang mulai bergetar, disusul suara sedu yang tertahan. Gea menangis siang itu.

Selama sembilan bulan bersama Jay, Gea selalu berusaha keras untuk terlihat kuat dan maklum. Ia tidak pernah mengizinkan dirinya menangisi kerikil dalam hubungannya. Tapi hari ini, di dalam pelukan sahabatnya yang bertubuh kecil itu, pertahanan diri Gea luluh lantak tak bersisa. Ia tidak bisa lagi membendung air matanya yang luruh, menumpahkan seluruh rasa sesak, lelah, dan tekanan yang selama ini ia kunci rapat-rapat di dalam dada.

“Lo tuh ya... kalo ada apa-apa jangan dipendem sendiri,” oceh Nina, matanya ikut berkaca-kaca sembari mengusap-usap bahu Gea.

“Lo tuh… ngomel-ngomel terus,” balas Gea terbata, mencoba terkekeh di sela tangisnya sembari meraih selembar tisu untuk mengeringkan air mata.

“Gue pinjemin Malik kalo lo emang butuh temen buat curhat, atau sekedar jalan, Ge. Kan gue udah sering bilang dari dulu. Lo kalo mau curhat, deep talk sama Malik, ngobrol aja. Lo tuh, terlalu mikirin standar ketakutan orang lain.”

Gea mengembuskan napas, mencoba menenangkan detak jantungnya. “It’s common sense, gak sih, Nin? Walau gue sama Malik sahabatan dari kecil, tetep harus ada batas jarak yang dijaga. Dia udah jadi cowok lo. Gue cuma gak mau nanti malah memicu prahara rumah tangga, Nina. Lo sahabat gue, begitu juga Malik. Gue gak bisa kalo ada apa-apa curhat ke Malik.”

“Tsk. Gue gak pernah mempermasalahkan itu ya. Gak ada di kamus gua cemburu-cemburu melihat kalian dekat, karena gue tahu kalian itu murni platonic relationship, nothing more,” sahut Nina, mencoba mengalihkan suasana. “Lagian, lo gak tahu apa gimana bucinnya sahabat lo ini ke gue?” Celetukan Nina sukses membuat Gea dan Malik spontan tertawa bersama.

“Kenapa lo bisa segitunya percaya sih, Nin, sama Malik?” tanya Gea setelah tangisnya mereda.

Nina terdiam sejenak. Dia menatap kekasihnya yang duduk di single arm chair. Pria itu membalas tatapannya, memberikan sebuah senyuman kecil dan sorot mata yang teramat hangat padanya.

“Gak tau?” Nina tertawa, “Ya udah gue percaya aja sama dia, begitu juga sebaliknya. Mungkin karena ada perasaan aman yang dia kasih ke gue, makanya gue juga gak masalah dia bergaul sama

siapa juga. In the end, di hati dia cuma gue.”

Malik mengangguk setuju, lalu menatap Gea lekat. “Mungkin kalian harus bangun dari sana, Ge. Rasa percaya.”

“Gua percaya sama dia, Mal,” sahut Gea dengan nada getir, “dia yang gak bisa percaya sama gue.”

“Makanya, Neng, nanti diobrolin ya kalau situasinya udah sama-sama mendingan,” timpal Nina lagi. “Kalau lo udah tenang, dan dia juga udah tenang. Siapa tau dia punya trauma masa lalu, pernah diselingkuhin mantan terdahulunya jadi luka di hatinya masih kebawa, atau apalah yang lo sendiri juga gak tau karena dia gak bisa terbuka sama elo. Atau… bisa jadi dia sebenarnya krisis percaya diri. Lo cantik, manis, pinter. Dia? Biasa aja.”

Gea langsung tertawa lepas mendengar analisis frontal sahabatnya. “Lo kayak yang udah pernah ketemu langsung aja sama Jay.”

Nina pun ikut tertawa, berkata, “eh, gue gak perlu ketemu dia langsung juga gue udah bisa liat dari

fotonya kalo dia gak seganteng itu, bego. Cakepnya ya standar aja.”

“Maliiik! Mulut cewek lo emang gak ada remnya ya!” adu Gea sambil menunjuk Nina, membuat ruang tengah itu kembali dipenuhi gelak tawa lepas, seolah beberapa menit lalu tidak pernah ada air mata yang jatuh di sana.

“Lah bener, kan? Jangan sampe dia gua labrak gegara bikin lo sedih terus ya.”

“Babe,” panggil Malik memotong dengan nada suaranya tenang penuh peringatan jenaka.

“Abis. Cowok kok posesifnya merugikan orang lain gitu banget. Heran aku.”

“Lo soalnya langsung ketemu sama yang bentukannya kayak Malik.”

“Ya makanya! Cari cowok yang kayak abang-abang lo gitu, Ge. Yang nunjukin sayangnya ke elo.”

“Jadi inget dulu gimana lo nge-crush-in Bang Jamal,” ledek Gea.

“Yaa… gimana ya,” Nina tertawa lepas. “Cuma seru-seruan anak SMA, nothing serious, Ge.”

“Tapi dulu kamu yang paling semangat tiap kita main ke sini,” ledek Malik, ikut-ikutan menyudutkan kekasihnya sendiri.

Ribut kecil yang terdengar manis di antara pasangan itu membuat Gea tersenyum lebar.

Jauh di dalam sudut hatinya, Gea mendadak merasakan iri. Ia juga ingin memiliki hubungan yang sehat seperti itu. Hubungan yang penuh rasa aman, di mana konflik hanyalah sebuah candaan lucu, bisa membicarakan dengan tenang saat ada masalah, dan tidak ada ego yang saling meremukkan.

“Ke Solaria deh yuk, daripada lo sedih terus.”

“Gue gak sedih ya,” elak Gea, yang langsung dibalas Nina dengan putaran bola mata malas.

“Ngomong sama pantat gue sini.”

Gea akhirnya menyerah kalah, kembali terkekeh. “Gue mau Kwetiau ya, Nin.”

Nina tertawa puas, berkata, “hapal gue, makanya gua ajak lo ke sana. Yuk ah, cabut.”

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!