Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.
Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.
Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Reputasi yang Menyebar
Sementara Yang Chan masih sibuk dengan rutinitas paginya, hasil jerih payah keluarganya ternyata sudah melalang buana hingga ke pusat kota. Di sana, keramaian aula lelang bahan kultivasi modern tampak jauh lebih padat dari hari-hari biasa. Tempat bergengsi itu kini penuh sesak oleh para praktisi elit dan pedagang kaya yang saling sikut demi mengamankan barang terbaik.
Tepat di atas panggung kayu, seorang pedagang paruh baya berdiri dengan dada membusung. Kedua tangannya memegang sebutir lobak berukuran raksasa dengan sangat hati-hati, seolah benda itu adalah pusaka peninggalan dewa. Lobak itu berwarna putih bersih dengan urat-urat hijau halus yang memancarkan pendaran cahaya tipis.
"Lihat urat spiritualnya! Tanpa setetes pun residu monster! Aku berani bertaruh, ini setara dengan pil Qi tingkat dua!" teriak pedagang itu sembari mengetuk meja di depannya dengan keras.
Kerumunan penonton seketika riuh. Beberapa kultivator yang memakai pakaian modern berkelas langsung menjulurkan leher, berusaha mengamati kemurnian energi yang mengalir tenang di dalam sayuran segar tersebut tanpa berkedip sedikit pun.
Tidak jauh dari panggung, berdiri seorang pria misterius dengan jubah abu-abu polos yang tampak sangat kontras dengan keramaian sekitar. Pandangannya dingin, menyipit penuh perhitungan menatap lobak mutasi itu. Pria itu adalah mata-mata kiriman Keluarga Xian yang bertugas memantau pergerakan pasar.
"Sayuran semurni ini... mustahil berasal dari tanah fana biasa," gumam sang mata-mata dengan suara yang sangat pelan. Ia mengusap dagunya, memperhatikan sisa tanah spiritual yang masih menempel di ujung lobak. "Cari tahu jalurnya."
Braakk!
Suara hantaman keras pada permukaan meja kayu seketika memecah keheningan di sudut lain kota. Sebuah laporan perkembangan perkebunan yang dipenuhi data kini hancur lebur di bawah cengkeraman tangan kekar berhias cincin giok tebal.
Tetua Li Hao berdiri dengan dada membusung, sementara urat-urat di lehernya menegang menahan amarah yang meledak. Ia melempar gumpalan kertas hancur itu tepat ke arah wajah bawahannya yang sedang bersujud gemetar di lantai marmer yang dingin.
"Kalian babi-babi bodoh bilang hasil panen keluarga Yang itu hanya panen beruntung dari tanah mati tak berharga kan?!" bentak Li Hao dengan suara berat yang menggelegar di dalam ruang rapat tertutup itu. "Lalu dari mana asal sayuran premium yang membanjiri sektor utara ini?!"
Bawahan itu sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya. Dahinya ditekan rapat ke lantai, menyerap hawa dingin ruangan sembari gemetaran menerima tekanan mental dari sang tetua klan.
"A-ampun, Tetua!" sahut bawahan itu dengan terbata-bata. "Awalnya memang seperti itu, namun entah kenapa saat penyelidikan, kami mendapati Jalur distribusi palsu yang dibungkus dengan sangat rapi oleh para pedagang pasar. Namun setelah kami telusuri, akarnya jelas mengarah ke desa perbatasan mereka."
Li Hao mendengus kasar, lalu melangkah lebar mendekati peta Sektor Pinggiran yang terbentang di atas meja bundar. Dengan ujung kukunya yang tajam, ia menancapkan tekanan kuat hingga merobek kertas peta tepat di atas tulisan Desa Perbatasan.
"Rupanya serangga fana itu berani menyembunyikan sesuatu dari kita," gumam Li Hao dengan tawa dingin yang mulai menggema pelan di dalam ruangan.
Berbeda dengan ketegangan di markas Klan Li, suasana di tepi bukit kota justru terasa sangat damai. Di sebuah paviliun mewah yang terbuat dari kayu cendana wangi, angin sore bertiup lembut menggerakkan tirai sutra tipis milik Keluarga Xian.
Ting.
Suara halus keramik terdengar saat secangkir teh porselen diletakkan dengan sangat pelan di atas meja kayu.
Seorang Tetua Xian yang mengenakan jubah putih rapi tampak mengusap uap teh menggunakan tutup cangkir dengan gerakan yang sangat anggun. Air teh di dalam cangkir itu berwarna hijau jernih, mengeluarkan aroma wangi karena diseduh langsung menggunakan irisan tipis sayuran mutasi hasil panen Yang Chan.
Ia memejamkan mata sejenak, meresapi aliran energi murni yang menjalar hangat ke seluruh tubuhnya setelah meminum teh tersebut. Tangan kirinya kemudian terangkat sedikit, memberikan isyarat dua jari ke arah sudut ruangan yang gelap.
Dari balik bayang-bayang pilar paviliun yang sunyi, sesosok pria berpakaian hitam ketat mendadak muncul tanpa suara. Pria itu langsung berlutut dengan satu lutut menyentuh lantai kayu, menanti perintah dengan kepala tertunduk.
"Klan Li yang bodoh itu pasti akan menggunakan kekerasan," tutur Tetua Xian dengan nada lambat tanpa menoleh sama sekali. "Sebelum babi-babi itu merusak ladangnya, pastikan tanah itu jatuh ke tangan kita terlebih dulu."
"Sesuai perintah. Saya akan mengintai malam ini," jawab si pembunuh bayaran dengan suara sedatar es, sebelum tubuhnya kembali melebur lenyap ke dalam kegelapan lantai tanpa meninggalkan jejak.
Sementara itu, di tepi ladang Keluarga Yang, matahari senja mulai turun perlahan di balik bukit, memancarkan cahaya jingga hangat yang menerangi tanaman sayur yang bergoyang lembut ditiup angin sore.
Yang Chan baru saja menyeka keringat di lehernya menggunakan handuk kecil setelah selesai mencangkul petak tanah terakhir. Alat serbaguna misterius di genggamannya seketika melunak, melebur menjadi bentuk bola logam hitam kecil yang langsung ia masukkan ke dalam taman spiritualnya.
Namun, saat ia hendak memutar tubuhnya untuk kembali ke rumah, gerakan tubuhnya mendadak terhenti.
Hidungnya berkerut tipis, merasakan adanya keanehan pada aliran energi qi di sekitarnya. Pandangan matanya perlahan beralih ke arah batas hutan lebat di ujung ladang yang mulai menggelap. Perasaan tidak nyaman seketika merayap di hatinya, seolah ada sepasang mata asing yang sedang mengamatinya dari kejauhan.
'Apakah ada yang mengawasi ladang ini?' batin Yang Chan dengan tenang, namun kewaspadaan di dalam dirinya langsung meningkat tajam.
"Chan'er! Bersihkan badanmu, makan malam sudah siap!" teriak Bing Chan dari arah teras rumah kayu mereka yang sederhana sembari melambaikan tangan dengan ramah.
Mendengar panggilan ibunya, ekspresi wajah Yang Chan langsung berubah santai kembali dalam sekejap mata. Senyuman lebar menghiasi wajahnya yang segar, menutupi semua kecurigaan internal yang baru saja ia rasakan.
"Ya, Ibu! Aku datang!" sahut Yang Chan dengan nada ceria tanpa beban, lalu segera berjalan cepat menuju rumah.
Ia berjalan pergi meninggalkan ladang dengan langkah santai. Namun di belakangnya, dedaunan di batas hutan tiba-tiba bergesek aneh, dan suara jangkrik yang tadinya riuh di sekitar petak tanah mendadak berhenti berderik secara serempak.