Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DESEMBER - Part 3
Gea menyandarkan tubuhnya di kursi mejanya. Rasa kantuk menyerangnya dengan dahsyat. Bagaimana tidak? Semalaman dia sama sekali tidak tidur demi menyelesaikan maket untuk kolokium hari itu. Beruntung, ada Abangnya yang sigap mengantarnya ke kampus sehingga dia bisa menikmati lima puluh menit untuk tidur di sepanjang jalan.
“Nyawa gua masih melayang,” kata Karin, memijat pelipisnya sambari menyandarkan tubuhnya di kursi.
Nindy menarik kursinya ke meja Gea, bergabung bersama Karin, Gea dan Risa. “Liburan kemana
gaes?” tanya Nindy mengangkat kepalanya dari layar ponsel.
“Kerja,” sahut Karin lemas, “jadwal photoshoot gue sengaja dibanyakin pas liburan nih, kejar
setoran.”
“Gak balik Bandung dong?” tanya Nindy lagi.
“Balik, kok. Masih bisa curi-curi waktu nanti tiga empat hari buat balik. Lo kemana, Nin?”
“Belom ada rencana, sih.”
Karin tersenyum kecil, berkata, “ikut gue aja ke Bandung nanti. Kita short escape di sana,
kulineran.”
“Mau!” seru Nindy langsung bersemangat.
“Kalian ada rencana mau apa buat liburan?”
Saat mereka masih asik membahas rencana liburan semester mereka, sosok Jay datang
menghampiri. Tanpa suara, ia menempelkan sebotol teh botol dingin di pipi Gea, membuat
perempuan itu tersentak kaget karena sensasi dingin yang mendadak.
“Asli, parah banget! Gea doang yang dibeliin,” ledek Karin, pura-pura iri.
“Minta beliin coba sama fans lo, Rin,” balas Jay gak kalah tengil, membuat Karin mendengus sebal. Jay kemudian beralih menatap kekasihnya.
“Balik gak?” tanya Jay.
Gea langsung mengangguk cepat dengan wajah merajuk manja yang menggemaskan. Rasa lelahnya mendadak berkurang setengah.
“Duluan ya,” pamit Jay pada sahabat-sahabat Gea.
“Ati-ati lo bawa temen gue, Jay,” sahut Nindy mengingatkan.
Dengan wajah lesu yang sama, Risa bangkit dari duduknya, berkata, “balik juga yuk. Ngantuk banget gue. Mau tidur banget rasanya.”
Mereka bertiga pun ikut pulang bareng Gea dan Jay. Berjalan bersama sampai ke parkiran mobil
dan berpisah di sana.
Siang itu, Jay sengaja membawa mobil untuk mengangkut maketnya. Di sepanjang jalan, Jay tidak melepaskan genggaman tangannya pada jemari Gea, membiarkan alunan lagu pilihan Gea mengalir tenang menjadi backsound hangat mereka.
Mobil Jay perlahan berbelok dan berhenti di sebuah tempat makan.
“Yuk, turun. Makan dulu,” ajak Jay mematikan mesin. “Kamu kalau langsung sampai rumah pasti langsung tidur dan gak bakal makan.”
Gea hanya bisa memberikan cengiran lebar. Tebakan Jay seratus persen akurat.
Di dalam tempat makan, Jay memesankan nasi dengan beef slice sambel hijau yang lengkap dengan sayurannya untuk Gea, serta sepiring nasi kari chicken katsu untuknya.
“Enak?” tanya Jay, tersenyum melihat wajah senang dari kekasihnya begitu menyuap
makanannya.
“Enak banget!. Kamu tau aja tempat enak begini.”
“Waktu itu di ajakin kesini sama temen-temen SMA aku, Ya.”
Jay diam sejenak, menyelesaikan kunyahan sebelum kembali bertanya.
“Anyway, liburan kemana kamu, Ay? Udah ada rencana. Selain rapat buat acara anak baru sama bikin pameran fotografi, ya.”
Jay menumpu dagunya dengan satu tangan, menatap Gea lekat, berkata, “rencananya… aku mau ngajakin kamu nge-date."
Jawaban langsung itu seketika membuat kedua pipi Gea bersemu merah. Membayangkan kencan yang terencana dengan baik setelah penatnya urusan kuliah sukses membuat jantungnya berdegup sedikit lebih kencang.
“Oke,” jawab Gea singkat.
“Oke apa?” goda Jay, sengaja ingin melihat rona wajah merah di wajah kekasihnya semakin jelas.
“Ya.. oke, mau,” sahut Gea diikuti suara tawa renyah mereka berdua.
“Yaya,” panggil Jay lembut yang di sahuti dengan ‘hmm’ dari Gea yang menyuap makan siangnya.
“Gak apa-apa, kamu lucu kalo lagi ngantuk gini. Kayak kucing.”
“Kucing apaan, sih,” gerutu Gea, berusaha sekuat tenaga menahan senyum lebarnya agar tidak
makin diledek.
“Itu loh, video kucing yang lagi ngantuk tapi tetep makan.”
Jay merogoh sakunya untuk mengambil ponsel, menunjukkan video yang dia maksud. Suara Gea langsung melengking melihat betapa menggemaskan kucing di dalam video itu.
Dia menceritakan kalau dia pernah minta izin sama Papanya untuk memelihara kucing, tapi
dilarang oleh Papa dengan alasan “kamu aja kuliah kurang tidur, gimana nanti ngerawat
kucingnya. Pulang kuliah pasti ada kegiatan kampus.” Sejak saat itu, Gea tidak pernah lagi
membahas soal memelihara hewan, karena ia sendiri sadar bahwa waktunya saat ini memang
terlalu tersita oleh dunia perkuliahan.
...****************...
Awal bulan Januari akhirnya tiba, membawa serta janji kencan yang pernah Jay ucapkan. Ini adalah kencan resmi pertama mereka sejak libur semester dimulai. Hari itu, Jay mengajak Gea mencoba museum date dengan memanfaatkan transportasi umum. Setelah menjemput Gea, mereka melanjutkan perjalanan menggunakan TransJakarta.
Beruntung bagi mereka, siang itu matahari tidak bersinar terlalu terik, namun langit juga tidak menunjukkan tanda-tanda akan mendung. Cuaca yang sangat pas untuk menghabiskan waktu di luar ruangan.
Di setiap sudut, Gea tidak melewatkan kesempatan untuk meminta Jay mengambil foto dirinya. Beberapa mereka juga mengambil foto berdua, dan ada beberapa foto Jay sendirian yang diambil paksa oleh Gea, meskipun pria itu bilang dia tidak pandai berpose di depan kamera.
Gea menghiburnya dengan mengatakan, “not bad, Ay. Pose kamu gak kayak om-om yang kalau foto selalu pamer jempol, kok,” diikuti dengan gelak tawa ringan diantara mereka berdua.
Setelah puas berkeliling museum, mereka memutuskan untuk mengisi perut di gerai Solaria yang berada di pusat perbelanjaan terdekat. Begitu Gea kembali dari toilet, sepiring kwetiau siram seafood hangat sudah tersaji di depan kursinya, comfort food andalan Gea yang tidak pernah salah.
“Thank you, Ay,” ucap Gea riang.
“Habis ini mau kemana lagi?” tanya Jay, lalu wajahnya mengernyit melihat Gea menuangkan
menuangkan sambal yang banyak ke atas piringnya. “Itu gak kepedesan, Ya?”
“Enggak, kok. Kurang pedes malah.”
“Jangan pedes-pedes makannya. Kalo sakit maag gimana?” tegur Jay penuh perhatian.
“Aku gak ada riwayat sakit maag, Ay, santuy,” jawab Gea ringan sebelum mulai menyantap kwetiaunya.
Jay menatap heran, berkata, “tapi kalo begadang ngerjain tugas, kamu gak minum kopi. Aku kira
kamu ada sakit maag.”
Gea tertawa mendengar analisis salah sasaran dari kekasihnya, dan berkata, “gak boleh ngopi
malem-malem sama Ibun. Makanya, aku makan es krim biar melek. Itu juga shorbet gitu, Ay, Ibun
yang bikin.”
“Ibun kamu effort banget ya.”
“Iyaa, gitu deh. Ibun tuh emang suka banget bikin-bikin apa aja.”
Setelah menyelesaikan makan siang, mereka menghabiskan waktu dengan mengitari di dalam mall. Saat melintasi lorong toko kosmetik, Gea menarik tangan Jay untuk menemaninya mencoba satu per satu produk bibir yang sedang ia cari.
Selama Gea sibuk melihat-lihat dan swatches di punggung tangannya -mulai dari produk bibir, eyeshadow, hingga mencoba warna cushion- Jay hanya berdiri memperhatikan dengan senyum tipis. Diam-diam, Jay merogoh ponselnya, mencuri beberapa foto candid sang kekasih
yang tampak sangat serius memilih kosmetik, lalu mengunggahnya ke story Instagram miliknya.
Fase ini adalah momen di mana hati Jay kembali penuh; ia ingin dunia tahu betapa cantiknya
perempuan yang sedang bersamanya saat ini.
Setelah Gea menyelesaikan pembayarannya di kasir, mereka melanjutkan agenda dengan window shopping, mengitari beberapa toko sembari menikmati ice cream di tangan masing-masing.
“Oh iya, Ay, aku udah cerita sama kamu belum, sih?” tanya Gea tiba-tiba.
“Tentang?”
“Weekend nanti aku mau konseran.”
Jay mengingat-ingat kemudian berkata, “ooh, konser NCT yang sering kamu ceritain itu, ya?”
Gea menganggukkan antusias dengan binar mata penuh semangat.
“Udah dapet tiketnya?” tanya Jay lagi.
“Udah dong. Nanti aku berangkat sama temen aku juga kok, Ay.”
Jay tersenyum lega, lalu mengacak rambut Gea pelan. “Bagus deh, aku jadi tenang kalo kamu ada temennya nanti.”
...****************...