cerita pendek misteri dan horor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23_Suster ngesot part 2
"Ja... jangan mendekat!" teriak Maya histeris. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak lebar, bibirnya bergetar hebat, sementara seluruh tubuhnya gemetar ketakutan.
Suster itu berhenti sesaat. Kepalanya perlahan miring hingga terdengar suara...
Krek... Krek... Krek...
Lehernya seperti patah. Namun senyumnya justru semakin lebar.
"Pasien..." bisiknya lirih. Wajahnya yang penuh darah tampak mengerikan, sementara matanya yang putih kosong menatap mereka tanpa berkedip. "...kalian belum diperiksa."
"Sssreeettt..."
"Sssreeettt..."
Tubuhnya terus menyeret lantai, meninggalkan jejak darah hitam yang berbau busuk.
Dinda menjerit.
"AAAAAAAH!" teriaknya keras. Wajahnya dipenuhi kepanikan, napasnya memburu, sementara air matanya mengalir tanpa henti.
Fajar langsung menarik tangan Dinda.
"Lari!" bentaknya keras. Wajahnya berubah tegang, rahangnya mengeras, sementara jantungnya berdegup sangat kencang.
Mereka berempat berlari keluar ruang operasi.
Suara gesekan itu terus mengikuti.
Sssreeettt...
Sssreeettt...
Semakin cepat. Semakin dekat.
Raka menoleh ke belakang.
"Dia mengejar kita!" teriaknya panik. Wajahnya memucat, matanya dipenuhi ketakutan, sementara napasnya hampir putus.
Tiba-tiba...
Lampu di lorong berkedip sendiri.
Cetar... Cetar...
Gelap. Terang. Gelap. Terang. Setiap lampu menyala... Suster itu berpindah tempat.
Awalnya di ujung lorong. Lalu...Di tengah lorong. Kemudian... Hanya beberapa meter di belakang mereka.
Maya menjerit semakin keras.
"Dia makin dekat!" teriaknya histeris. Bahunya bergetar hebat, sementara kedua kakinya hampir tak sanggup berlari.
Fajar menoleh.
"Tidak mungkin..." gumamnya lirih. Wajahnya dipenuhi kengerian, sementara keringat dingin membasahi dahinya.
Makhluk itu sama sekali tidak berlari. Ia tetap menyeret tubuhnya. Tetapi setiap lampu berkedip...
Jaraknya semakin dekat.
"Sssreeettt..."
"Sssreeettt..."
"Sssreeettt..."
Dinda menangis.
"Dia tidak berjalan..." isaknya. Wajahnya dipenuhi kepanikan, sementara suaranya bergetar hebat.
"Dia berpindah!"
Brak!
Tiba-tiba seluruh pintu kamar pasien di kanan kiri lorong terbuka bersamaan.
BRAAAKKK!!
Semua langsung berhenti.
Dari dalam kamar...Puluhan ranjang kosong mulai bergerak sendiri. Roda-roda besinya berputar perlahan.
Ciiit...
Ciiit...
Ciiit...
Ranjang-ranjang itu keluar satu per satu. Mengepung mereka.
Raka memutar senter.
"Tidak..." bisiknya pelan. Wajahnya berubah pucat, sementara tangannya gemetar hebat.
Di setiap ranjang... Ada bekas ikatan kulit. Bekas darah. Dan bercak kuku manusia yang mencakar besi hingga bengkok.
Fajar mencoba mendorong salah satu ranjang. Tidak bergerak.
"Lewat sini!" bentaknya panik. Wajahnya berubah putus asa.
Namun...Semua ranjang menutup jalan. Tak ada jalan keluar.
Mendadak...Suara perempuan tertawa terdengar dari seluruh penjuru rumah sakit.
"Hihihihihi..."
"Hahahahaha..."
Suara itu berasal dari atas. Dari bawah. Dari belakang telinga mereka. Seolah ada puluhan wanita tertawa bersamaan.
Dinda menutup kedua telinganya.
"Berhenti..." teriaknya menangis. Wajahnya dipenuhi ketakutan, sementara tubuhnya hampir roboh.
Maya memeluk Dinda erat.
"Aku mau pulang..." isaknya. Air matanya mengalir deras, sementara bibirnya membiru karena ketakutan.
Tiba-tiba...
Tok...
Tok...
Tok...
Suara langkah kaki lain terdengar. Bukan suara suster.
Melainkan...Suara sepatu dokter. Seluruh lorong kembali sunyi.
Nathan... bukan, Raka mengangkat senter ke ujung lorong.
Seorang dokter berdiri di sana. Jas putihnya penuh darah. Maskernya robek. Sebelah wajahnya hancur. Salah satu matanya menggantung keluar. Ia memegang gunting operasi besar.
Dokter itu berbicara pelan.
"Operasi..."Wajahnya perlahan mengangkat. "...dimulai."
Brak!
Seluruh ranjang pasien meluncur ke arah mereka bersamaan.
"Ciiiiittttt!!"
"Lariii!!" teriak Raka. Wajahnya dipenuhi kepanikan, sementara ia menarik Maya agar berlari.
Mereka berlari memasuki lorong lain.
Namun...Lorong itu berubah.
Dindingnya kini bersih. Lampunya terang. Rumah sakit tua itu mendadak tampak baru.
Dinda terengah-engah.
"Apa yang terjadi?" tanyanya lirih. Wajahnya dipenuhi kebingungan, sementara matanya bergerak ke segala arah.
Mereka mendengar suara orang-orang berbicara. Suara pasien. Tangisan bayi. Suara perawat. Seolah rumah sakit kembali hidup.
Seorang perawat berjalan melewati mereka.
Anehnya... Perawat itu sama sekali tidak melihat mereka.
Raka mengernyit.
"Apa kita..." ucapnya pelan. Wajahnya dipenuhi rasa tidak percaya. "...berpindah waktu?"
Belum sempat ada yang menjawab... Terdengar teriakan seorang wanita dari ruang operasi.
"Tolong!"
"Jangan lakukan!"
"Aku masih hidup!"
Semua langsung menoleh. Pintu ruang operasi terbuka perlahan.
Di dalamnya...Puluhan dokter mengelilingi seorang wanita yang masih sadar.
Wanita itu memakai seragam suster. Kedua tangannya diikat. Air matanya mengalir deras.
"Dokter..." tangisnya memohon. Wajahnya dipenuhi rasa sakit dan ketakutan. "Jangan ambil organ tubuhku..."
Salah satu dokter tertawa.
"Rumah sakit ini butuh uang." ucapnya dingin. Wajahnya tanpa belas kasihan. "Kau hanya perawat. Tidak ada yang akan mencarimu."
Pisau bedah perlahan diangkat. Suster itu menjerit.
"AAAAAAAHHHHH!!"
Brak!
Tiba-tiba seluruh pemandangan menghilang. Rumah sakit kembali gelap. Suster Ngesot kini berdiri tepat di depan mereka.
Jaraknya... Kurang dari satu meter. Senyumnya melebar hingga pipinya robek. Darah hitam menetes dari mulutnya.
Ia mengangkat satu tangan perlahan. Lalu menunjuk wajah Raka. Dengan suara yang parau, dingin, dan dipenuhi dendam, ia berbisik,
"Aku..."ucapannya tertahan. "...masih mencari dokter-dokter yang membunuhku."
Ia berhenti sesaat. Kemudian kepalanya berputar perlahan hingga seratus delapan puluh derajat.
Matanya menatap tepat ke arah kamera yang masih dipegang Raka. Lalu ia tersenyum semakin lebar.
"Dan..." bisik sosok itu pelan, kepalanya perlahan menunduk, sementara senyum tipis mulai menghiasi bibirnya.
"...malam ini..." lanjutnya lirih. Matanya perlahan terangkat, menatap tajam ke arah Nathan tanpa berkedip.
"...aku salah menangkap pasien." Sudut bibirnya semakin terangkat membentuk senyum yang tidak wajar, sementara bahunya bergetar pelan menahan tawa.
"...karena..." ucapnya dengan suara yang semakin berat.
"...aku menemukan dokter baru." Sosok itu tertawa lirih. Wajahnya dipenuhi kegembiraan yang mengerikan, matanya melotot lebar, sementara senyumnya melebar hingga tampak mustahil dilakukan manusia biasa.
Seketika lampu lorong padam seluruhnya.
Dalam kegelapan yang pekat...Hanya terdengar suara tubuh yang diseret semakin cepat.
SSSREEETTTT...!!
SSSREEETTTT...!!
SSSREEETTTT...!!
Lalu...
Jeritan empat mahasiswa itu menggema memecah kesunyian malam, sebelum tiba-tiba terputus begitu saja.
Rumah sakit kembali sunyi.
Seolah...Tak pernah ada siapa pun yang masuk ke dalamnya.