Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?
layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.
Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....
Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Ekhem.... " aku mendengar suara orang berdeham di dekatku sambil berdiri.
Aku menoleh sambil mengangkat pandangan menatap wajah yang sebenarnya aku sudah tahu itu siapa. Kudiamkan saja dulu, entah apalagi maunya.
"Ehm, Ran. Maaf, mengganggu waktu kalian berdua. Sebenarnya nggak pantas kalau aku kasih ini sekarang di sini. Tapi, mumpung ketemu jadi sekalian saja. Ini buat kamu." ujar lelaki itu sambil mengulurkan benda pipih panjang dalam kemasan plastik.
Aku tersenyum sambil menerima benda itu. "Ooo... Iya. Nggak papa, santai saja. Alhamdulillah, akhir nya kalian nikah juga. Selamat ya, Mbak Bia, Mas Yunus." ucapku sambil berdiri dan menjabat tangan mereka satu persatu.
"Terima kasih, Ran." ucap mbak Bia saat aku memeluk tubuhnya.
Aku tersenyum lalu menganggukkan kepala sambil melepas pelukan wanita itu. Bang Rengga juga ikut memberikan selamat atas pernikahan mereka.
Tidak banyak mengobrol, karena ada hati yang harus aku jaga. Dan rupanya, Mas Yunus paham dengan jalan pikiran ku. Akhirnya dia pamit. Aku dan Bang Rengga melanjutkan acara makan kami yang sempat tertunda.
##
"Assalamu'alaikum," ucapku dan Bang Rengga saat kami sampai di depan pintu rumah.
"Waalaikumsalam," jawab Bapak dan Ibu yang sedang bersantai sambil ngobrol dengan kakak-kakak ku di ruang tamu sambil menggelar tikar. Rupanya mereka baru saja makan bersama.
Aku langsung masuk ke dalam setelah mencium tangan semua yang ada di sana. Sedangkan Bang Rengga sudah duduk bergabung dengan mereka semua.
Beberapa saat setelah aku selesai memindahkan martabak manis dan martabak telor yang sengaja tadi kami beli ke piring, aku segera gegas ke depan.
Tepat jam sembilan malam, Bang Rengga pamit pulang. Dia juga sekalian pamit keluar kota besok. Jadi tidak bisa ikut menjemput Gaffi yang besok sudah boleh pulang.
*****
Sekitar jam Sembilan pagi, Gaffi dan Putri diperbolehkan pulang setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan. Aku tidak ikut menjemput karena banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, hanya Ibu dan kedua orang tua Putri saja. Sedangkan di rumah, sudah ada saudara yang tidak sabar menunggu kedatangan Gaffi.
Mereka berebut menggendong bayi gemoy itu setelah Gaffi sampai di rumah. Akhirnya, terdengar juga suara tangis bayi yang beberapa bulan ini kehadirannya sudah dinantikan.
Bapak sudah menyiapkan acara aqiqoh untuk Gaffi. Mumpung masih banyak saudara yang datang berkumpul, jadi ada yang membantu Ibu menyiapkan acara itu yang rencananya akan dilaksanakan besok malam.
Gaffi benar-benar jadi bintang di rumah.
Drrttt...
Drrrtttt...
Terdengar suara getaran ponsel yang tergeletak di atas meja. Sambil tetap melanjutkan pekerjaan, ku usap icon hijau pada layar datar tersebut hingga tidak lama nampak wajah tampan Bang Rengga.
"Assalamu'alaikum, Sayangku." sapa lelaki itu.
"Waalaikumsalam, Abang. Sudah nyampe mana?"
"Masih keliling Trenggalek, Yang. Gaffi jadi pulang hari ini?" tanyanya.
"Udah, tadi jam sembilan keluar dari rumah sakit. Rencananya besok malam habis Isya' Bapak mau bikin acara Aqiqoh buat Gaffi."
"Iya, semoga Abang udah balik ya. Biar bisa ikut datang. Gemes banget sama Si Gaffi. Gemoy banget tu bayi."
Aku tersenyum mendengar ucapan Bang Rengga. "Abang udah makan?"
"Ini baru mau makan, kamu udah makan belum, Yang?"
"Belum, tadi pesen lewat aplikasi. Lagi males keluar, lagi malas bawa bekal juga tadi."
"Ya udah, nanti kalau makanannya sampai cepet makan ya. Udah hampir sore lho ini. Kamu itu, kebiasaan lupa jam makan kalau udah banyak yang dikerjakan," omel lelaki itu.
"Iya, Abang sayang." jawabku pelan karena ada Nita di ruangan.
"Gitu dong, mood booster banget buat Abang denger kamu panggil sayang ke Abang. Ya udah, Abang tutup dulu ya telepon nya. Abang lanjut lagi, Insya Allah besok malam Abang datang."
"Iya, Abang hati-hati. Nggak udah ngebut ya."
"Iya, Sayangku. Assalamu'alaikum," pamitnya.
"Waalaikumsalam," jawabku.
'Jaga hati buat aku ya, Bang. Jangan kecewakan aku.' batinku. Karena aku tahu, siapa yang tidak akan menaruh hati pada Bang Rengga. Lelaki yang tidak hanya good looking, tapi juga good attitude.
****
Malam ini, di rumah kembali ramai dengan kedatangan para tetangga, tapi hatiku sedikit tidak tenang karena Bang Rengga belum datang, sedangkan ponselnya tidak bisa dihubungi sampai sekarang.
Hingga acara dimulai, lelaki itu juga belum menampakkan batang hidungnya. Tidak masalah buatku kalau memang dia tidak bisa datang. Setidaknya ada kabar yang memberitahukan jika dia baik-baik saja. Itu sudah lebih dari cukup buatku.
Berkali-kali aku melihat ke arah luar. Kebetulan, aku duduk di garasi bersama Ibu-ibu pengajian yang juga diundang ke acara tersebut.
"Ya Allah, Abang kemana ya?" ucapku dalam hati sambil sesekali melirik ponselku. Berharap ada kabar dari lelaki itu.
Hingga pada satu saat aku melihat sosok yang sedari tadi aku nantikan, terlihat berjalan memasuki halaman rumah. Aku segera berdiri, dan sedikit berlari ke arah lelaki tersebut.
"Abang kemana aja! Kenapa ponselnya nggak bisa dihubungi?" tanyaku sambil memeluk lelaki itu.
Bang Rengga terlihat terkejut, akupun tersadar dan segera melepaskan pelukan itu.
"Tadi jalanan macet panjang, Yang. Ada truk habis adu banteng."
"Terus, ponsel Abang kenapa nggak bisa dihubungi?" tanyaku. "Bikin orang khawatir aja."
"Iya, maaf. Abang baru tahu tadi pas macet kalau ponsel Abang habis daya. Power bank Abang ketinggalan, kabel cas yang buat mobil juga lupa nggak di bawa. Ini aja tadi Abang mampir di Pom bensin buat mandi. Maafin Abang ya, Sayang."
Aku mengangguk, "ya sudah. Masuk yuk!" ajakku.
Kemudian kami berjalan bersama. Bang Rengga bergabung dengan Bapak-bapak di teras depan. Sedangkan aku kembali ke garasi bersama Ibu-ibu.
Hingga akhirnya acara selesai, semua berjalan lancar.
"Abang, aku ambilin makan ya? Abang tadi kan belum makan."
"Kamu juga ya, kita makan sama-sama."
Aku mengangguk, kemudian berlalu mengambil makanan. Beberapa saat kemudian, aku sudah kembali dengan dua piring makanan, satu gelas teh manis hangat dan satu cangkir cappuccino hangat.
"Makan dulu, Bang." ucapku sambil meletakkan piring di depan Bang Rengga.
Lelaki itu mengangguk. Kami makan sambil membicarakan banyak hal. Terutama konsep pernikahan kami nanti. Intinya, aku hanya ingin sebuah pernikahan sederhana. Tidak terlalu mewah meski aku tahu lelaki itu sanggup mewujudkan apapun inginku.
"Kamu tadi kenapa, Yang. Tiba-tiba peluk Abang di depan banyak orang. Seingat Abang, kamu nggak pernah kayak gitu. Seringnya nggak nyaman kalau Abang peluk kamu. Ada apa? Cerita sama Abang, ya!"
Aku terdiam, haruskah aku ceritakan apa yang membuat hatiku resah beberapa hari ini.
"Yang, kenapa? Cerita aja sama Abang." pintanya.
Aku menarik nafas panjang lalu mengeluarkan pelan-pelan. Aku ambil ponsel yang ada di saku baju yang aku pakai saat ini. Setelah beberapa saat, kubuka aplikasi chating berwarna hijau, kutunjukkan satu room chat dengan sebuah foto yang ada di sana.
Bang Rengga menerima ponsel yang ku ulurkan dengan kening berkerut. Matanya terbelalak saat melihat foto yang kutunjukkan tadi.
Terdengar umpatan kasar dari mulut lelaki itu. "Siapa yang kirim foto receh macam gini ke kamu, Yang. Sumpah Demi Allah, Yang. Aku nggak pernah aneh-aneh di luaran. Meski kalau aku mau, itu semua bisa aku lakukan."
Aku diam, mencoba merenungi semua ucapannya. Pengalaman membuatku tidak mudah percaya dengan yang namanya lelaki. Bahkan hingga detik ini pun, tiap kali Bang Rengga mengungkapkan perasaan nya, aku hanya membalas dengan senyuman.
"Oke, kalau kamu nggak percaya sama Abang. Abang sudah pernah cerita kan, Abang juga pernah merasakan sakitnya di khianati. Bukan hal mudah buat Abang membawa kamu sampai di titik sekarang. Bodoh sekali kalau apa yang sudah Abang inginkan bisa Abang dapat, terus Abang sia-siakan begitu saja." jelas lelaki itu.
"Terus, gimana ceritanya bisa ada foto seperti itu?" tanyaku.