"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"
Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.
Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.
Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
invasi di balik pintu terlarang
Pagi hari di rumah Elio—atau yang lebih tepatnya kusebut 'Istana Es'—terasa sangat sunyi. Terlalu sunyi. Tidak ada suara anak-anak panti asuhan yang berebut sarapan, tidak ada suara kran air yang bocor, hanya ada suara detak jam dinding yang membuatku ingin mengantuk.
Sudah tiga hari sejak pernikahan "konyol" itu, dan Elio benar-benar menjalankan perannya sebagai pria dingin yang hampir tidak pernah terlihat. Dia selalu berangkat kerja sebelum matahari bangun dan pulang saat aku sudah hampir terlelap.
Aku bosan. Benar-benar bosan.
Langkahku terhenti di depan pintu kayu besar berwarna gelap di lantai dua. Ini adalah ruang kerja Elio—'Zona Terlarang' yang dia bicarakan waktu itu.
Ceklek.
Tidak dikunci.
"Wah, Bapak CEO ini ceroboh juga," gumamku sambil mendorong pintu hingga terbuka lebar. Ruangan itu sangat maskulin, didominasi warna abu-abu dan hitam. Di tengahnya, ada meja kerja besar yang penuh dengan dokumen.
Aku masuk begitu saja, lalu mataku tertuju pada sebuah mesin kopi canggih di sudut ruangan. Perfect.
Aku sedang asyik bereksperimen dengan mesin kopi itu—mencoba membuat latte art yang malah terlihat seperti gambar cacing tanah—ketika pintu ruangan terbuka dengan kasar.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk ke sini?"
Suara itu berat dan bergetar karena amarah. Elio berdiri di ambang pintu, kemeja kerjanya sedikit terbuka di bagian kerah, dan dia tampak baru saja menyelesaikan pertemuan online yang intens.
Aku menoleh dengan tenang, memegang cangkir kopi yang isinya tumpah sedikit ke atas dokumen pentingnya. "Selamat pagi, Pak Suami. Kopi? Saya buatkan spesial untuk menghilangkan stres Bapak."
Elio melangkah mendekat, matanya menatap dokumen yang kini terkena noda kopi cokelat. Wajahnya memerah—bukan karena malu, tapi karena menahan ledakan emosi.
"Aratala. Itu laporan keuangan kuartal ketiga yang harus aku kirim lima menit lagi," desisnya, menahan diri agar tidak berteriak.
Aku meringis melihat noda kopi itu. "Oh... ya ampun, maaf! Tapi tenang saja, tulisannya masih bisa dibaca kok. Lagipula, Bapak kan sudah kaya raya, masa cuma gara-gara noda kopi jadi hancur perusahaannya?"
"KELUAR!" teriaknya akhirnya, membuat vas bunga kecil di meja jatuh dan pecah.
Aku terdiam sejenak. Biasanya aku akan takut, tapi melihat Elio yang biasanya kaku kini kehilangan kontrol karena hal kecil seperti kopi, rasanya malah lucu. Bukannya keluar, aku malah melangkah maju, meletakkan cangkir kopi itu di atas meja yang tersisa bersih.
"Bapak tahu tidak?" kataku dengan nada suara yang melembut, sengaja mengabaikan perintahnya. "Dulu di panti, kalau saya salah, saya akan dihukum berdiri di depan tiang jemuran sampai siang. Bapak marah karena kopi ini, atau karena Bapak sebenarnya kesepian di rumah sebesar ini?"
Elio membeku. Dia menatapku tajam, tapi kali ini tatapannya bukan hanya penuh amarah, tapi juga sesuatu yang lain—sesuatu yang tampak seperti... kejutan.
"Jangan pernah mencoba membaca pikiranku, Aratala," bisik Elio dingin, tapi kali ini suaranya tidak lagi berteriak.
"Kenapa? Takut ketahuan kalau Bapak sebenarnya cuma manusia biasa?" Aku tersenyum miring, lalu berjalan mendekatinya, sengaja menabrakkan bahuku ke bahunya saat aku hendak keluar. "Oh ya, kopi tadi tambahan gula. Bapak terlalu banyak pahit dalam hidup, sekali-kali manis lah."
🌴🌴🌴
aku keluar dari ruangan itu dengan perasaan menang. Di belakangku, aku bisa mendengar Elio mengumpat dengan suara rendah yang terdengar seperti raungan singa yang terluka.
Aku tidak menunggu jawaban Elio. Aku langsung ngacir menaiki tangga dengan kecepatan atlet lari, napasku sedikit memburu. Jantungku berdegup kencang—bukan karena takut, tapi karena adrenalin. Berdebat dengan pria kaku seperti Elio ternyata jauh lebih menantang daripada menghadapi tumpukan cucian panti asuhan.
Sampai di lantai atas, aku membuka pintu kamar utama yang luas itu dengan bantingan pelan.
Kamar ini... sangat berbeda dengan seleraku. Dingin, minimalis, dan sangat rapi. Di tengah ruangan, ada sebuah sekat tipis yang seolah-olah menjadi tembok Berlin di antara kami. Di sisi kanan, ada kasur king size milik Elio yang selalu terlihat seperti baru dari hotel bintang lima. Di sisi kiri, ada kasur tambahan yang kupaksa Elio beli—sebuah kasur yang lebih kecil, tapi cukup nyaman untukku.
Aku langsung menghempaskan tubuhku ke kasurku, menatap langit-langit kamar dengan napas yang mulai teratur.
BRAK!
Pintu kamar terbuka dengan kasar. Elio berdiri di sana, dadanya naik turun dengan napas yang tidak beraturan. Dia pasti baru saja membersihkan tumpahan kopi di dokumennya, dan kini dia datang untuk "mengeksekusi" aku.
Dia berjalan mendekat, langkah kakinya terdengar berat di atas lantai marmer. Dia berdiri di depan kasurku, menatapku dari atas dengan tatapan yang bisa membekukan air.
"Apa yang kau lakukan barusan itu melewati batas, Aratala," suaranya rendah, penuh peringatan.
Aku memiringkan kepala, menatapnya tanpa rasa takut sama sekali. Aku bahkan sempat-sempatnya bermain dengan ujung bantal. "Melewati batas gimana? Saya cuma mau bertamu. Lagipula, kan kita suami istri. Masa saya tidak boleh masuk ke ruang kerja suami sendiri?"
Elio mendengus, matanya menyipit. "Kita bukan suami istri sungguhan. Dan kau tahu itu. Jangan bawa perilaku tidak sopanmu dari tempat asalmu ke dalam rumah ini."
Aku bangkit dari kasur, sengaja berdiri tepat di hadapannya sampai jarak kami sangat tipis. Aku bisa mencium aroma parfum cedarwood dan kopi yang tertinggal di kemejanya. "Memangnya kenapa kalau saya tidak sopan? Bapak terganggu? Atau Bapak sebenarnya merasa terancam karena ada orang yang tidak takut dengan wajah datar Bapak?"
Elio terdiam. Dia membuang muka, tapi tangannya yang terkepal di samping tubuh menunjukkan kalau dia sedang menahan diri mati-matian. "Besok kau harus bersiap. Ibu akan datang berkunjung."
"Oh, jadi Bapak takut dimarahi Ibu kalau saya tidak berperilaku baik?" aku terkekeh, lalu kembali menjatuhkan tubuh ke kasurku dan menarik selimut sampai sebatas leher. "Tenang saja, Pak CEO. Selama Ibu transfer uangnya tepat waktu, saya akan jadi istri paling manis di depan dia. Tapi setelah Ibu pulang... well, jangan salahkan saya kalau saya bikin kopi lagi di ruang kerja Bapak."
Elio hanya bisa berdiri mematung di sisi kasurnya, menatapku dengan tatapan seolah dia sedang menyesali keputusan hidup paling buruk yang pernah dia ambil
Elio tidak beranjak. Dia masih berdiri mematung di sana, seperti pilar yang kokoh, menatapku dengan intensitas yang tidak bisa kujelaskan. Tatapannya bukan lagi sekadar amarah; ada sesuatu yang lebih tajam, seolah dia sedang membedah setiap inchi diriku—mencari tahu apakah aku benar-benar berani, atau hanya berpura-pura.
Udara di kamar terasa mendadak tipis. Bulu kudukku meremang. Sifat cegil-ku yang biasanya berani menantang dunia, tiba-tiba ciut hanya karena tatapan mata cokelat gelapnya yang menghunjam.
Aku tidak tahan lagi. Gugup luar biasa, aku segera melompat dari kasur, hampir tersandung kaki sendiri saat buru-buru menyambar handuk.
"A-aku... aku ada kuliah pagi jadi perlu mandi!" ucapku dengan nada yang sengaja kuberikan volume ekstra keras, padahal suaraku sedikit bergetar.
Aku tidak berani menoleh ke belakang untuk melihat ekspresinya. Dengan gerakan kaku, aku melangkah lebar dan menutup pintu kamar mandi dengan bunyi klik yang cukup keras—seolah-olah pintu itu adalah perisai terakhirku dari aura intimidasi Elio.
🌴🌴🌴
Di dalam kamar mandi yang dingin dan bernuansa marmer mewah itu, aku menyandarkan punggung ke pintu. Napasku memburu. Jantungku berdegup kencang seolah baru saja lari maraton.
Bodoh, Aratala. Kenapa harus takut? Dia cuma manusia, bukan hantu! rutukku dalam hati.
Di luar pintu, aku tidak mendengar suara langkah kaki Elio yang menjauh. Dia masih di sana. Berdiri diam di depan pintu kamar mandi, membuatku merasa seolah-olah dia sedang menunggu setiap detak jantungku yang kacau.
"Kuliah pagi..." gumamku pada diri sendiri sambil menatap cermin, mencoba mengatur napas agar tidak terdengar seperti orang yang baru saja tertangkap basah melakukan kejahatan.
Aku menyalakan shower, membiarkan air dingin mengguyur tubuhku, berharap itu bisa membasuh rasa gugup yang aneh ini. Tapi di kepalaku, tatapan intens Elio masih terbayang dengan jelas. Ini akan menjadi pagi yang panjang, dan entah kenapa, firasatku mengatakan kalau kuliah pagi hanyalah awal dari kekacauan yang sebenarnya.
🌴🌴🌴
Senyum miring yang sedari tadi disembunyikan Elio akhirnya terukir di wajahnya. Itu bukan senyum manis, melainkan senyum predator yang baru saja menyadari mangsanya melakukan kesalahan konyol.
Aku yang masih mematung di balik pintu kamar mandi baru tersadar saat tanganku meraba-raba dinding, mencari gantungan handuk yang seharusnya ada di sana. Nihil. Handuk itu masih tertinggal rapi di atas tempat tidurku—tepat di bawah tatapan mata elang pria itu.
Sial.
Aku memejamkan mata, merutuki kebodohanku sendiri. Kenapa tadi aku harus berakting se-drama itu?
Di luar sana, aku mendengar suara decitan halus per kasurku. Suara langkah kaki yang tenang, disusul suara gesekan kain saat Elio dengan santainya merebahkan diri. Dia tidak kembali ke kasurnya sendiri. Dia mengambil alih kasurku.
"Aratala?" suara Elio memecah kesunyian kamar, terdengar sangat santai, bahkan mungkin sedikit geli. "Sepertinya kau lupa sesuatu. Handukmu masih di sini."
Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat. Harga diriku sedang berada di titik nadir.
"Bisa... bisa kau letakkan di dekat pintu?" suaraku merendah, kali ini tanpa nada menantang. Aku benar-benar kikuk.
"Aku tidak dengar," jawabnya enteng. Aku bisa membayangkan dia sedang menatap langit-langit kamar dengan tangan tertaut di belakang kepala. "Kau tahu, kamar mandi ini kedap suara. Kalau kau butuh bantuan, kau harus memintanya dengan cara yang benar, bukan?"
Aku menempelkan dahi ke pintu yang dingin. Cegil atau tidak, ini benar-benar memalukan.
"Elio, tolong," ucapku lebih keras, berusaha menahan kekesalan sekaligus rasa gugup yang menjalar ke seluruh tubuh. "Jangan main-main, saya harus berangkat kuliah."
"Permintaan yang bagus," balasnya dari luar. "Tapi aku sedang malas bergerak. Kecuali... ada alasan yang cukup menarik untukku beranjak dari tempat tidurmu yang nyaman ini."
Aku memejamkan mata rapat-rapat. Dia sedang membalasku. Dia sedang menikmati betapa bingungnya aku di dalam sini. Ini bukan lagi sekadar soal handuk, ini soal Elio yang mulai belajar cara "menjinakkan" sifat nekatku.
Dan sialnya, aku terjebak.
🌴🌴🌴
Tunggu kedepannya yaaa🙏🏻😅
aduh mau di apain si cegil jangan kokop pula biar liur najis angel ilang
ko bisa sih Thor angel bebas masuk apa ga ada bodyguard satpam gitu