Semua orang menganggap Gunung Sumber Abadi hanyalah tempat wisata gagal yang dikutuk, tetapi bagi Rizky Santoso, warisan yang dibuang oleh seluruh keluarganya ini adalah awal dari segalanya. Tepat saat ia menerima beban hutang dan kawasan wisata yang hancur itu, sebuah sistem misterius bangkit dan memberinya kekuatan untuk mengubah gunung tandus menjadi destinasi kelas dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Suara ketukan palu terdengar menggema di sekitar area gerbang utama Gunung Sumber Abadi.
Tuk. Tuk. Tuk.
Rizky sedang sibuk memaku sekrup pada beberapa papan kayu bekas untuk menutupi jendela loket karcis yang pecah.
Meskipun hanya perbaikan sementara, bangunan kecil itu kini terlihat jauh lebih rapi dan layak dipandang.
Rizky mengusap keringat di lehernya menggunakan handuk kecil yang menggantung di pundaknya.
"Sekarang tinggal membuat papan harga tiket masuk perdana untuk besok pagi," gumam Rizky pada dirinya sendiri.
Dia mengambil sebuah spidol hitam dan mulai menulis di atas papan tulis putih kecil yang dia temukan di laci meja.
Harga Tiket Masuk Lima Puluh Ribu Rupiah.
Harga itu sebenarnya cukup mahal untuk standar tempat wisata di daerah pedesaan.
Namun Rizky tahu betul bahwa pengalaman menikmati Air Terjun Pelangi jauh lebih berharga dari nominal tersebut.
Tring. Tring.
Ponsel usang di saku celananya tiba-tiba bergetar dan mengeluarkan bunyi notifikasi beruntun.
Rizky segera merogoh sakunya dengan perasaan sangat antusias dan penuh harap.
"Pasti video dan fotoku sudah mulai viral dan banyak yang memuji keindahannya," ucap Rizky sambil tersenyum lebar.
Dia membuka aplikasi media sosialnya dan melihat ikon lonceng notifikasi menunjukkan angka lebih dari seribu interaksi.
Namun, senyum di wajah Rizky perlahan memudar saat dia mulai membaca deretan komentar teratas.
"Video apa ini, editannya kasar sekali dan efek pelanginya sangat mirip dengan editan murahan."
"Dasar penipu, semua orang tahu Gunung Sumber Abadi itu tempat buang sial yang sudah mati total."
"Jangan ada yang mau datang ke sana kawan-kawan, bulan lalu saja ada dua pendaki yang hilang diculik jin penunggu."
Rizky menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya dengan perasaan sedikit kecewa.
Dia lupa bahwa warganet di negara ini sangat kritis dan selalu curiga terhadap hal-hal yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan.
Bahkan ada beberapa akun tanpa foto profil yang terus mengirimkan komentar negatif dengan kalimat yang sama berulang kali.
"Ini pasti ulah akun bayaran dari tempat wisata saingan di kabupaten sebelah," batin Rizky sambil menyipitkan matanya.
Dia tidak mungkin membiarkan opini publik digiring ke arah yang salah sebelum tempat ini resmi beroperasi.
Jari-jari Rizky mulai bergerak lincah di atas layar ponselnya untuk membalas salah satu komentar paling pedas.
"Kalau kamu berani datang kemari besok pagi dan membuktikan ini hanya editan, aku akan mengganti uang tiketmu sepuluh kali lipat."
"Tapi kalau ternyata semua keajaiban ini asli, kamu harus menyapu seluruh area gerbang ini sampai bersih."
Balasan tantangan terbuka dari Rizky itu langsung memicu keributan baru di kolom komentar.
Para warganet yang menyukai keributan mulai menandai akun teman-teman mereka untuk ikut menonton drama ini.
"Wah, adminnya berani sekali menantang balik."
"Oke, aku akan datang besok pagi bersama teman-temanku untuk membongkar kebohongan tempat wisata gagal ini."
Rizky tersenyum puas melihat reaksi berantai yang terjadi sesuai dengan dugaannya.
Kontroversi adalah bahan bakar paling efektif untuk mendapatkan perhatian publik di dunia maya secara gratis.
"Semakin banyak orang yang meragukan tempat ini, semakin banyak pula yang akan datang hanya untuk membuktikan rasa penasaran mereka," gumam Rizky.
Ding!
[Pemberitahuan Sistem!]
[Popularitas Gunung Sumber Abadi di dunia maya meningkat sebesar lima persen.]
[Terus ciptakan perbincangan panas untuk memancing lebih banyak pengunjung berbayar.]
Rizky tertawa pelan melihat sistem pun ternyata sangat mendukung taktik pemasaran jalur kontroversi ini.
Drrrtt. Drrrtt.
Tiba-tiba layar ponselnya berubah menampilkan panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Rizky menautkan alisnya sejenak sebelum menekan tombol terima panggilan.
"Halo, dengan siapa di sana?" sapa Rizky dengan nada suara tenang dan sopan.
Terdengar suara tawa berat dan serak dari ujung telepon yang membuat bulu kuduk sedikit merinding.
"Kamu bernyali besar juga anak muda, berani membuat anak buahku pulang dengan badan memar-memar."
Suara itu terdengar sangat arogan dan penuh dengan nada ancaman yang tersembunyi.
Rizky langsung menebak siapa identitas orang yang sedang meneleponnya saat ini.
"Oh, jadi Anda adalah bos lintah darat dari kelompok preman yang datang mengganggu saya pagi tadi?" tebak Rizky tanpa basa-basi.
"Namaku Juragan Darma, dan aku sarankan kamu menjaga nada bicaramu saat berbicara denganku, anak bau kencur."
"Hutang kakekmu sudah jatuh tempo, dan anak buahku bilang kamu meminta waktu satu bulan untuk melunasinya."
Rizky menyandarkan punggungnya ke dinding loket karcis dan menatap santai ke arah awan di langit.
"Benar, beri saya waktu satu bulan dan saya akan membayar hutang pokoknya saja secara lunas," jawab Rizky tegas.
Terdengar dengusan kasar dari Juragan Darma di ujung sambungan telepon.
"Kamu pikir kamu sedang berbisnis dengan siapa hah?" bentak Juragan Darma dengan suara meninggi.
"Aku tidak butuh uang cicilan recehan darimu anak miskin."
"Serahkan sertifikat tanah Gunung Sumber Abadi kepadaku besok siang, dan semua hutang kakekmu akan kuanggap lunas."
Mata Rizky langsung menajam seketika mendengar tuntutan sepihak dari bos preman tersebut.
Kini semuanya menjadi sangat jelas di kepala pemuda itu.
Juragan Darma tidak pernah benar-benar mengincar uang pelunasan hutang dari kakeknya.
Orang tua serakah itu sengaja memberikan bunga tidak masuk akal agar dia bisa merampas tanah gunung ini secara legal.
"Maaf Juragan Darma, tapi tanah warisan ini tidak akan pernah kujual atau kuserahkan kepada siapa pun," tolak Rizky dengan suara dingin.
"Besok kawasan wisata ini akan buka kembali dan aku akan mengumpulkan uang dari para pengunjung."
Tawa Juragan Darma kembali meledak, namun kali ini terdengar lebih merendahkan dari sebelumnya.
"Buka kembali katamu?" ejek Juragan Darma disela tawanya.
"Tidak akan ada satu pun orang waras yang mau datang ke gunung terkutuk itu, apalagi dengan karcis seharga lima puluh ribu."
"Aku sudah menyuruh anak buahku menyebar rumor buruk di desa agar warga melarang siapa pun naik ke atas sana."
Rizky mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih karena menahan emosi.
Ternyata pembenci di internet bukan satu-satunya masalah yang harus dia hadapi besok.
Sabotase dari dunia nyata pun sudah mulai digerakkan oleh bos preman licik ini.
"Kalau begitu kita buktikan saja besok Juragan," tantang Rizky tanpa rasa takut sedikit pun.
"Kita lihat apakah pengunjung akan datang atau tidak, dan sebaiknya Anda jangan mengirim anjing suruhan Anda lagi kemari."
Tut. Tut. Tut.
Rizky langsung mematikan sambungan telepon itu sepihak tanpa menunggu balasan amarah dari Juragan Darma.
Dia melempar ponselnya ke atas meja kayu dengan perasaan kesal yang mengganjal di dadanya.
"Orang tua bangka itu benar-benar mengira aku ini pemuda bodoh yang bisa ditekan dengan ancaman murahan," geram Rizky.
Dia harus memastikan lima pengunjung pertamanya besok benar-benar tiba dengan selamat di depan gerbang.
Jika preman-preman itu berani mencegat pengunjungnya di jalanan bawah, maka Rizky tidak akan segan menggunakan kekerasan.
Waktu perlahan bergulir hingga matahari mulai tenggelam di ufuk barat, mengubah langit menjadi berwarna jingga kemerahan.
Rizky duduk menyendiri di tepi kolam Air Terjun Pelangi sambil memandangi perubahan warna air magis tersebut.
Semakin gelap langitnya, pendaran cahaya tujuh warna dari aliran air itu justru terlihat semakin terang dan mempesona.
"Keindahan seperti ini tidak berhak disembunyikan hanya karena keserakahan satu orang mafia desa," bisik Rizky pelan.
Dia meraup sedikit air terjun itu dan membasuh wajahnya untuk menjernihkan pikiran yang sedang kacau.
Rasa segar kembali mengalir ke dalam nadinya dan memberikannya tambahan energi baru.
"Sistem, tampilkan kembali antarmuka toko poin wisata," perintah Rizky di dalam batinnya.
Ding!
Layar biru transparan langsung muncul mengambang di atas permukaan air kolam yang tenang.
[Menampilkan Katalog Toko Level 1]
[Saldo Poin Wisata Host saat ini 50 Poin.]
Rizky menggeser layar tersebut dengan pandangan matanya untuk mencari sesuatu yang berguna untuk besok pagi.
Dia tahu bahwa mengandalkan Perisai Angin yang harganya seratus poin tidak mungkin dilakukan sekarang karena saldonya tidak cukup.
Matanya tertuju pada sebuah barang yang terlihat sangat unik di bagian paling bawah katalog.
[Item Konsumsi Permen Kejujuran Harga 20 Poin.]
[Deskripsi Target yang memakan permen ini akan berbicara sangat jujur tanpa filter apa pun selama sepuluh menit penuh.]
Rizky tersenyum miring melihat efek dari barang magis muda tersebut.
"Ini sangat cocok untuk menghadapi orang-orang yang meragukan keaslian tempat ini besok," ucap Rizky dengan nada licik.
"Beli dua buah Permen Kejujuran sekarang, Sistem."
[Transaksi berhasil dilakukan.]
[Saldo Poin Wisata Host saat ini 10 Poin.]
Cring!
Dua buah permen bundar berwarna merah muda jatuh dengan mulus ke telapak tangan kanan Rizky.
Bentuknya sangat mirip dengan permen stroberi biasa yang banyak dijual di warung kelontong.
Rizky memasukkan kedua permen ajaib itu ke dalam saku celananya dengan hati-hati.
Dia kembali berjalan menuju area loket karcis untuk mempersiapkan alas tidurnya.
Malam ini adalah malam terakhirnya tidur dengan beralaskan kardus di lantai yang dingin.
"Besok adalah hari pembuktian, dan tidak ada satu orang pun yang boleh menghancurkannya," tekad Rizky sambil menutup mata.
Di bawah temaram cahaya pelangi dari kejauhan, Gunung Sumber Abadi bersiap menyambut fajar kebangkitannya.