NovelToon NovelToon
Satu Hukuman, Dua Hati

Satu Hukuman, Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Bel sekolah menandakan berakhirnya jam pelajaran terakhir berbunyi nyaring ke seluruh penjuru SMA Nusa Bangsa. Di saat murid-murid lain berhamburan keluar kelas dengan wajah berseri-seri menyambut akhir pekan, Alya justru mematung di samping mejanya. Pandangannya tertuju pada empat kotak karton besar berisi dua ratus kue buatan tangan dan ibunya yang masih tertumpuk rapi. Meski sebagian beban di hatinya telah terangkat setelah pembelaan Devan siang tadi, bayangan kekecewaan dan kerugian materi tetap menyorotkan rasa ganjal di dadanya.

Namun, sebelum Alya sempat memikirkan bagaimana cara membawa pulang empat kotak berat itu sendirian, sesosok tubuh tinggi tegap muncul di ambang pintu kelas 11 IPA 1 yang mulai sepi. Devan Narendra berjalan masuk dengan santai, jaket hitamnya tersampir di bahu. Tanpa ragu, ia langsung mengangkat dua kotak karton terbesar di kedua tangannya.

"Ayo, Al. Bawa sisa kotaknya, kita berangkat sekarang," ujar Devan singkat, memotong kebingungan Alya sebelum gadis itu sempat bertanya.

"Berangkat ke mana, Devan?" Alya mengerutkan dahi, menatap cowok di hadapannya dengan penuh tanda tanya. Adel dan Jesica yang masih merapikan tas pun ikut menoleh penasaran.

Devan menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan ketenangan. "Gua udah janji tadi siang, kue-kue buatan lo dan ibu lo gak akan ada yang terbuang sia-sia. Kita bagikan kue-kue ini ke Panti Asuhan Kasih Bunda di ujung jalan perumahan. Anak-anak di sana pasti seneng banget."

Alya tertegun sejenak. Kata "panti asuhan" yang meluncur dari bibir seorang Devan Narendra—sosok yang selama ini dikenal sebagai pangeran sekolah yang acuh tak acuh dan borjuis—terdengar begitu kontras. Namun, melihat ketulusan tanpa raut kepura-puraan di mata Devan, Alya akhirnya mengangguk pelan. Bersama Adel dan Jesica yang melambaian tangan memberi dukungan, Alya menyusul langkah Devan menuju area parkir.

Perjalanan menggunakan mobil serba hitam milik Devan berlangsung dalam keheningan yang cukup menenangkan. Tak butuh waktu lama, mobil itu membelok masuk ke sebuah pekarangan luas berdinding cat hijau muda yang mulai mengelupas, bertuliskan **Panti Asuhan Kasih Bunda**.

Begitu mesin mobil dimatikan dan Devan membukakan pintu untuk Alya, suasana hangat langsung menyambut mereka. Dari dalam bangunan sederhana tersebut, terdengar derap langkah kaki mungil yang berlarian mendekat.

"Kak Devan datang! Kak Devan datang!" jerit heboh anak-anak kecil berusia lima hingga sepuluh tahun yang berhamburan keluar dari teras. Wajah-wajah mungil itu memancarkan binar kebahagiaan yang begitu murni saat melihat Devan turun dari mobil.

Seorang wanita paruh baya berkerudung cokelat hangat, Ibu Maria—pemilik sekaligus pengasuh utama panti asuhan tersebut—keluar dari dalam bangunan dengan senyuman lebar yang sangat penyayang.

"Mas Devan... ya Allah, akhirnya datang juga. Anak-anak dari kemarin sore udah nanyain Mas Devan melulu," sapa Ibu Maria hangat, langsung menepuk-nepuk bahu Devan seperti pada anaknya sendiri. Keakraban yang terpancar di antara mereka menunjukkan bahwa Devan bukanlah tamu asing di tempat ini.

"Sore, Bu Maria," sahut Devan halus. Intonasi suaranya yang biasa dingin dan irit bicara di sekolah mendadak berubah menjadi sangat lembut dan sopan di hadapan wanita tua tersebut. "Maaf baru sempat mampir hari ini. Ini Devan bawa kue-kue enak buatan teman Devan buat anak-anak."

"Wah, kebetulan sekali! Anak-anak baru saja selesai mandi sore," jawab Ibu Maria riang, sebelum matanya beralih menatap Alya yang berdiri sedikit canggung di balik tubuh Devan sambil memeluk kotak mika. "Ehalah... ini teman Mas Devan yang bikin kuenya? Cantik dan manis sekali. Siapa namamu, Nak?"

"Alya, Bu..." jawab Alya santai sembari mencium tangan Ibu Maria dengan penuh rasa hormat.

"Ya sudah, ayo masuk dulu, Nak Alya, Mas Devan. Jangan berdiri di luar," ajak Ibu Maria ramah.

Anak-anak panti yang berjumlah sekitar tiga puluh orang itu langsung berkumpul dengan tertib di ruang tengah panti yang beralas karpet hijau. Devan, tanpa canggung sedikit pun dengan seragam sekolahnya yang mahal, langsung berlutut di atas karpet, dikerumuni oleh anak-anak yang memperebutkan perhatiannya. Cowok yang biasanya ditakuti oleh murid-murid bermasalah di sekolah itu kini tampak tertawa lepas, memangku salah satu anak balita sembari membuka kotak-kotak mika berisi Brownies Mini Cokelat dan Kue Lumpur Kentang.

Melihat Devan yang begitu sibuk dan lihai berinteraksi dengan anak-anak panti, Ibu Maria menuntun Alya untuk duduk di bangku kayu panjang di tepi ruangan, memberi ruang bagi Devan untuk membagikan kue-kue tersebut secara langsung.

"Nak Alya pasti kaget ya liat Mas Devan yang begitu dekat sama anak-anak di sini?" bisik Ibu Maria lembut sembari menatap ke arah Devan yang sedang menyuapi sepotong kue lumpur ke mulut salah satu anak laki-laki.

Alya mengangguk jujur, pandangannya tak lepas dari Devan. "Iya, Bu. Di sekolah... Devan terkenal sebagai sosok yang sangat pendiam, tertutup, dan jarang mau berbaur dengan orang baru."

Ibu Maria terkekeh pelan, mengusap punggung tangan Alya dengan penuh kehangatan. "Orang luar memang cuma bisa liat luarnya saja, Nak. Tapi Mas Devan itu punya hati yang sangat emas. Sudah hampir dua tahun ini dia rutin datang ke panti ini. Bukan cuma sekadar ngasih santunan materi dari uang tabungannya sendiri, tapi dia benar-benar meluangkan waktunya buat main sama anak-anak, mengajari mereka membaca, bahkan memperbaiki fasilitas panti yang rusak."

Ibu Maria menarik napas panjang, tatapannya dipenuhi kebanggaan. "Mas Devan gak pernah mau kegiatannya di sini dipublikasikan atau diketahui orang-orang sekolahnya. Dia murni melakukan ini karena ketulusan hatinya. Makanya, begitu Mas Devan bawa Nak Alya ke sini hari ini, Ibu kaget sekali. Mas Devan gak pernah membawa teman sekolahnya ke tempat ini sebelumnya, apalagi teman perempuan. Nak Alya pasti sangat spesial buat dia."

Mendengar penuturan tulus dari Ibu Maria, dada Alya berdesir hangat. Rasa hangat dan takjub yang luar biasa perlahan memenuhi rongga dadanya. Pandangan skeptis dan prasangka yang selama ini sempat terlintas di pikirannya tentang sosok Devan Narendra—seorang anak konglomerat yang acuh tak acuh—runtuh sepenuhnya tanpa sisa. Di balik sikap tegas dan kekuasaan besar yang dimiliki keluarganya, Devan menyimpan kebaikan hati yang begitu tenang, tanpa perlu dipamerkan demi mendapat pujian manusia.

Di tengah ruangan, gelak tawa anak-anak panti menggelegar riang saat mereka menikmati kelezatan brownies mini dan kue lumpur buatan Alya.

"Kak Devan! Kuenya enak banget! Manis kayak Kakak yang cantik itu!" seru salah satu anak perempuan kecil sambil menunjuk ke arah Alya, memicu sorakan dan tawa godaan dari anak-anak panti lainnya.

Devan mendongak, matanya yang tajam kini beradu pandang dengan mata jernih Alya dari seberang ruangan. Di bawah pendar lampu panti yang hangat, Devan menyunggingkan senyuman paling tulus dan paling tampan yang pernah Alya lihat seumur hidupnya. Alya tidak bisa menahan dirinya lagi; sebuah senyuman balasan yang indah dan penuh rasa terima kasih terukir manis di bibir gadis itu.

Malam minggu yang berawal dari rasa sakit hati dan kegagalan kini berubah menjadi momen paling berharga dalam hidup Alya. Di balik ujian berat yang dirancangkan oleh dengki manusia, Tuhan justru membukakan mata hatinya untuk melihat ketulusan sejati dari sosok Devan Narendra—cowok yang kini tak lagi asing di matanya, melainkan seorang pelindung yang berhati hangat.

1
Rini Riyanti
lanjut dong thor, suka sama ceritanya
fatih faa
lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!