NovelToon NovelToon
ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

ANAK RAHASIA SANG PEWARIS TAKHTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 — KENANGAN YANG TIDAK MATI

​Malam merayap turun menyelimuti Istana Valerian dengan lapisan kegelapan yang tebal. Angin dingin dari pegunungan utara berhembus menembus lorong-lorong batu, membawa desir daun kering yang bergesekan di atas lantai marmer.

​Di dalam kediaman Putra Mahkota, Pangeran Adrian berdiri sendirian di balkon kamarnya. Jubah hitam tebalnya melambai perlahan diterpa angin malam. Di tangannya, sebuah cangkir berisi anggur merah yang belum tersentuh sama sekali mendidih oleh pantulan cahaya rembulan.

​Pikirannya melayang jauh ke masa lalu. Ke tujuh tahun yang lalu.

​Sensasi saat ia mengangkat Elian di taman tadi pagi—berat tubuh anak itu, tawanya yang nyaring, dan aroma gandum serta minyak kayu putih yang menguar dari pakaiannya—seolah-olah telah membongkar gerbang kenangan yang selama bertahun-tahun ia kunci rapat-rapat di dalam ruang tergelap dalam jiwanya.

​Adrian memejamkan mata. Seketika, bayangan Alena tujuh belas tahun kembali hadir di ingatan.

​Ia teringat bagaimana Alena biasa tertawa di balik rak-rak buku tua perpustakaan istana. Suara tawa yang halus, sedikit tertahan karena takut ketahuan pengawas, namun begitu jernih hingga sanggup memadamkan kelelahan Adrian setelah seharian berlatih pedang atau mendengarkan perdebatan membosankan para dewan. Ia teringat bagaimana Alena selalu mencuri-curi waktu di sela tugas penyalinan dokumennya hanya untuk menemuinya di Taman Mawar, membawa sepotong roti hangat atau sekadar catatan kecil berisikan bait puisi tua.

​Dan ia teringat malam terakhir itu. Malam ketika ia menyerahkan liontin batu mawar perak dan mengikrarkan janji yang kini terasa seperti ejekan kejam dari takdir.

​“Ini bukan perpisahan. Ini hanya penundaan.”

​Adrian menggerakkan jemarinya, meremas cangkir perak di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

​Selama tujuh tahun, ia memelihara rasa benci. Ia memaksa dirinya percaya bahwa Alena adalah wanita dangkal yang memilih melarikan diri bersama pria lain karena tak sanggup menanggung tekanan menjadi pasangan seorang calon raja. Surat yang ditinggalkan Alena—kata-kata dingin yang menyatakan bahwa cinta mereka hanyalah kebodohan musim panas—telah menjadi racun yang mengubah Adrian dari seorang pemuda idealis menjadi pangeran dingin tanpa emosi.

​Namun sekarang... setelah melihat Elian... setelah melihat ketakutan yang teramat sangat di mata hijau hazel milik Alena setiap kali ia mendekati anak itu...

​Tembok keyakinannya runtuh tanpa sisa.

​“Mungkinkah... dia tidak pernah mengkhianatiku?” bisik sebuah suara di dalam hatinya.

​Sebuah pemikiran yang mengerikan mulai merekah di benak Adrian. Mungkinkah surat kejam itu ditulis bukan karena keinginan Alena sendiri? Mungkinkah ada tangan gaib di balik tembok istana ini yang telah mengancamnya, memaksanya menulis kebohongan itu, dan mendorongnya keluar dari Aveloria dalam keadaan hamil?

​Jika dugaan itu benar... artinya selama tujuh tahun ini, Adrian tidak hanya telah gagal melindungi wanita yang dicintainya, tetapi ia juga telah membenci orang yang justru mengorbankan seluruh hidupnya demi menyelamatkan darah daging mereka.

​Rasa sakit yang menghantam dada Adrian begitu dahsyat hingga ia harus bertumpu pada pembatas batu balkon untuk menjaga keseimbangannya.

​Sementara itu, di Paviliun Barat, Alena duduk di tepi ranjang Elian yang sudah tertidur lelap. Lilin di meja samping tempat tidur telah meleleh hampir separuhnya, memancarkan cahaya kekuningan yang redup dan hangat.

​Alena mengusap rambut cokelat keemasan putranya yang bergelombang. Elian tersenyum tipis dalam tidurnya, bergumam pelan menyebut nama 'patung naga' yang dilihatnya tadi pagi bersama Adrian.

​Air mata hangat merembes dari pelupuk mata Alena, menetes pelan mengenai selimut Elian.

​Melihat Adrian memangku Elian tadi pagi di dekat kolam teratai telah membuka kembali luka lama yang dikiranya sudah membatu. Pemandangan itu begitu indah sekaligus menyiksa. Selama tujuh tahun, Alena membujuk dirinya sendiri bahwa ia telah melakukan hal yang benar dengan melarikan diri. Ia membayangkan bahwa Adrian telah melupakannya, telah bahagia dengan pernikahan politiknya bersama Seraphina, dan tidak pernah memikirkannya lagi.

​Namun tatapan mata abu-abu Adrian saat berbicara dengannya semalam... tatapan yang dipenuhi luka, kebingungan, dan keputusasaan yang dalam... memberitahu Alena hal yang sebaliknya.

​Adrian tidak pernah melupakannya. Pria itu menanggung luka pengkhianatan palsu itu setiap hari selama tujuh tahun.

​Alena merogoh sakunya, mengeluarkan liontin batu mawar perak yang pinggirannya mulai agak memudar karena sering disentuh. Ia menggenggam batu Saphira biru legam itu di atas dadanya, merasakan dinginnya logam perak yang kontras dengan rasa panas di matanya.

​Malam ketika ia meninggalkan Aveloria kembali terbayang dengan begitu jelas. Suara derit roda kereta kuda di Distrik Bawah, aroma gandum basah di bawah terpal gerobak, dan jeritan batinnya saat menatap siluet Istana Valerian yang menjauh di bawah sinar fajar. Ia ingat betapa ia ingin melompat dari gerobak itu, berlari kembali ke kamar Adrian, dan berlutut memohon perlindungan dari pria itu.

​Namun ancaman Penasihat Rowan dan bayangan pembunuh bayaran keluarga Ardent yang dikirim untuk menghabisi bayinya selalu berhasil menahannya.

​"Maafkan aku, Adrian..." bisik Alena pada keheningan kamar yang dingin. Suaranya pecah oleh isak tangis yang ditahannya agar tidak membangunkan Elian. "Maafkan aku karena harus menghancurkan hatimu... Maafkan aku karena harus membunuh diriku di dalam ingatanmu..."

​Ia tahu, jika kebenaran ini terungkap sepenuhnya sekarang, Adrian mungkin akan memaafkannya. Pria itu mungkin akan marah pada dewan dan mencoba melindunginya serta Elian.

​Namun Alena juga tahu harga dari perlindungan itu.

​Pernikahan Adrian dan Seraphina akan batal atau hancur. Aliansi dengan keluarga Ardent yang memegang kekuatan militer perbatasan utara akan pecah. Dewan kerajaan akan memisah dan Kerajaan Aveloria bisa terjerumus ke dalam Perang Saudara. Dan di tengah-tengah badai politik itu, Elian akan menjadi sasaran utama dari setiap belati rahasia yang disewa oleh musuh-musuh Adrian.

​Alena menunduk, mencium kening Elian yang hangat.

​"Ibu tidak boleh lemah," bisik Alena pada dirinya sendiri, menyapu air matanya dengan tegas. "Aku sudah bertahan selama tujuh tahun di kegelapan. Aku bisa menanggung kebenciannya sebentar lagi... asal anak ini tetap bernapas."

​Di dua sudut istana yang berbeda, dipisahkan oleh taman yang luas dan tembok-tembok batu yang dingin, dua insan yang pernah saling mencintai menatap rembulan yang sama. Keduanya menyadari satu hal yang pasti: masa lalu tidak pernah benar-benar mati, luka tujuh tahun lalu belum pernah sembuh, dan kebenaran yang tersembunyi kini bersiap untuk menuntut pembayaran yang teramat mahal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!