Selama dua bulan, Ainun hanya menjadi Istri Sementara.
Ia pikir semua akan berakhir saat kakaknya pulang. Namun, takdir justru menghadiahkannya dua garis merah di alat tes kehamilan.
Ketika wanita yang seharusnya menjadi istri Sagara benar-benar kembali, mampukah Ainun melepaskan pria yang perlahan mulai ia cintai... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sikap Sagara Yang Aneh
Ainun kini berada di perjalanan bersama Laras yang mengendarai sepeda motor. Angin malam berembus pelan, menerpa wajahnya yang sejak tadi hanya terdiam.
Tak lama kemudian, motor itu berhenti di depan rumah Sagara.
Ainun turun sambil merapikan tas selempang yang disandangnya.
“Tunggu sebentar di sini, ya, Ras,” ucapnya pelan. “Aku ambil koperku dulu.”
Laras mengangguk. “Iya. Aku tunggu.”
Tanpa membuang waktu, Ainun melangkah memasuki halaman rumah.
Suasana di dalam rumah begitu sunyi. Ia berjalan cepat menyusuri lorong menuju kamar kecil yang selama hampir tiga bulan menjadi tempatnya beristirahat.
Krek...
Pintu kamar terbuka. Tatapannya langsung tertuju pada koper yang telah ia siapkan.
Tanpa ragu, Ainun meraih gagang koper itu, lalu menyeretnya keluar kamar.
Ia mempercepat langkah menuju halaman depan.
Laras masih menunggu di atas motornya.
Begitu melihat Ainun datang membawa koper, kening Laras langsung berkerut.
“Titip dulu, ya,” pinta Ainun sambil menyerahkan koper itu. “Nanti kalau jadi berangkat, kita bawa sekalian.”
Laras menerima koper tersebut, meski raut wajahnya dipenuhi tanda tanya.
“Kenapa koper ini ada di rumah calon iparmu?” tanyanya heran.
Ainun terdiam sejenak.
Bibirnya mengulas senyum tipis yang terasa hambar.
“Semuanya akan aku jelaskan,” ucapnya lirih. “Tolong simpan dulu, ya?”
Laras menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan.
“Ya sudah. Tapi aku belum tahu kapan berangkatnya.”
Ainun mengangguk pelan. “Iya. Aku paham.”
“Kalau begitu aku pulang dulu, ya.”
“Maaf sudah merepotkan, Ras.”
Laras terkekeh pelan sambil menggeleng.
“Kamu ini. Sama aku masih pakai minta maaf segala.”
Ainun hanya tersenyum tipis.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” sahut Ainun.
Tak lama kemudian, suara mesin motor kembali terdengar.
Ainun memandangi motor itu hingga perlahan menghilang di ujung jalan.
Setelah benar-benar tak terlihat, ia berbalik dan kembali melangkah masuk ke dalam rumah.
Suasana kembali lengang.
Ainun mengembuskan napas pelan. “Salat Isya dulu... setelah itu istirahat,” gumamnya lirih.
. . .
Sementara itu, di ruang tamu, suasana masih dipenuhi obrolan yang tak kunjung usai.
Setelah makan malam selesai, Sagara kembali duduk di sofa bersama keluarga Abimana. Liona terus mengajaknya berbincang, sesekali diselingi tawa Bu Siti dan Pak Susanto. Pembicaraan mereka berpindah dari satu topik ke topik lain.
Namun, tak satu pun benar-benar menarik perhatian Sagara. Ia hanya menjawab seperlunya. Tatapannya beberapa kali menyapu sudut ruangan.
‘Kemana lagi si Ainun.’
Semakin lama, rasa janggal itu semakin mengusiknya.
“Di mana wanita itu?” tanyanya tiba-tiba.
Liona yang duduk di sampingnya menoleh.
“Ainun?” tanyanya memastikan.
Sagara mengangguk singkat.
“Buat apa cari dia?” Liona tersenyum tipis sambil menyentuh lengan pria itu. “Biarkan saja, Mas Sagara.”
Sagara tidak menanggapi..Tatapannya kembali menyusuri ruang tamu, lalu beralih ke setiap sudut ruangan.
Namun, sosok yang dicarinya tetap tidak terlihat.
Dadanya justru terasa semakin gelisah.
Perlahan, ia mengangkat pergelangan tangan kirinya. Jarum jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
‘Sudah selarut ini...’
Sagara kembali mengangkat pandangan ke arah Bu Siti, Pak Susanto, dan Liona.
“Aku harus pamit,” ucapnya tenang.
“Loh, kenapa cepat sekali?” Liona tampak kecewa. “Kita baru mengobrol. Bahkan kita belum sempat membahas pernikahan kita.”
Sagara bangkit dari duduknya sambil merapikan ujung jasnya. “Besok aku harus bekerja. Masih banyak pekerjaan yang belum selesai malam ini.”
Liona terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk pelan.
“Baiklah.”
Sagara menoleh kepada kedua orang tua Liona.
“Ayah, Ibu, saya pamit.”
“Iya, Nak.” Bu Siti tersenyum ramah. “Hati-hati di jalan.”
Sagara hanya mengangguk singkat.
“Aku antar, Mas,” ujar Liona sambil segera berdiri.
Tanpa memberikan jawaban, Sagara berbalik dan melangkah keluar rumah.
Langkahnya tenang, tetapi pikirannya masih dipenuhi bayangan Ainun yang sejak tadi tak lagi terlihat.
Sesampainya di teras, Liona kembali menghentikan langkahnya.
“Mas,” panggilnya pelan. “Mas Sagara harus segera mengurus surat perceraian Ainun.”
Sagara menghentikan langkah sejenak.
“Ya.” Jawabannya terdengar datar. “Itu urusan belakangan.”
Tak ada lagi kalimat yang keluar dari bibirnya. Ia kembali melangkah menuju mobil, membuka pintu, lalu masuk ke balik kemudi.
Beberapa detik kemudian, deru mesin memecah keheningan malam. Sebelum meninggalkan pelataran rumah, Sagara membunyikan klakson satu kali sebagai tanda pamit.
Mobil itu pun perlahan melaju, meninggalkan rumah keluarga Abimana yang kembali diselimuti kesunyian.
.
Setelah deru mesin mobil Sagara memudar di kejauhan, keheningan perlahan menyelimuti halaman rumah keluarga Abimana.
Liona masih berdiri di teras dengan tubuh menghadap ke arah gerbang. Tatapannya tak beralih sedikit pun dari punggung mobil yang perlahan mengecil, lalu menghilang di balik tikungan jalan.
Senyum tipis masih tersisa di bibirnya. Perlahan, ia mengangkat tangan kirinya.
Sorot matanya jatuh pada cincin berlian yang kini melingkar manis di jari manisnya. Kilau permata itu memantulkan cahaya lampu teras, membuat senyumnya semakin mengembang.
Jemarinya mengusap cincin itu dengan hati-hati, seolah memastikan benda tersebut benar-benar nyata.
‘Mas Sagara masih mencintaiku.’
Bibirnya melengkung semakin lebar.
‘Kalau enggak, mana mungkin dia memberiku cincin ini?’
Perasaan lega menghangatkan hatinya.
Selama perjalanan pulang dari Austria, berbagai kemungkinan sempat memenuhi pikirannya. Ia khawatir Sagara telah berubah hati setelah dirinya pergi menjelang hari pernikahan mereka.
Namun, kekhawatiran itu perlahan sirna.
Setidaknya, cincin yang kini melingkar di jarinya menjadi jawaban yang ingin ia dengar.
Liona mengepalkan jemarinya perlahan, seolah enggan melepaskan kilau berlian itu dari pandangan.
.
.
Malam semakin larut. Jalanan yang semula ramai kini mulai lengang. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal yang dilalui mobil Sagara.
Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil begitu sunyi. Hanya suara mesin dan hembusan pendingin udara yang terdengar samar.
Tatapan Sagara lurus menembus kaca depan.
Jemarinya mengetuk pelan lingkar kemudi.
‘Apa dia pulang lebih dulu?’
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, meski ia sendiri enggan mengakuinya.
Tak lama kemudian, mobil memasuki halaman rumah. Deru mesin perlahan mereda hingga akhirnya berhenti tepat di depan teras.
Sagara mematikan mesin, lalu membuka pintu tanpa membuang waktu. Ia turun dari mobil dengan langkah panjang, kemudian berjalan memasuki rumah.
Keadaan rumah tampak sunyi. Lampu-lampu di ruang tamu masih menyala, tetapi tak terlihat seorang pun berada di sana.
Sagara menutup pintu di belakangnya, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
Beberapa detik kemudian, telinganya menangkap suara samar dari arah dapur.
Langkahnya spontan berbelok menuju sumber suara itu.
Semakin mendekat, suara itu sangat jelas.
Sagara menghentikan langkah tepat di ambang dapur.
Tatapannya terpaku.
Seorang wanita berdiri membelakanginya di depan kompor. Rambut panjang yang biasanya tertutup jilbab kini terurai hingga melewati punggung. Daster sederhana yang dikenakannya membuat tubuh ramping itu terlihat begitu berbeda dari biasanya.
Untuk beberapa saat, Sagara hanya memandang tanpa bergerak.
Tenggorokannya terasa kering. Tanpa sadar, ia menelan ludah. Jemarinya mengepal di sisi tubuh.
‘Ainun...’
“Dari kapan kamu pulang?” tanyanya datar.
Suara itu membuat tubuh Ainun terkejut. Bahunya terangkat, lalu ia buru-buru menoleh.
“I-itu...” ucapnya gugup. “Tadi... setelah makan malam aku langsung pulang.”
Tatapan Sagara tetap tertuju padanya.
“Kenapa tidak menungguku?” tanyanya lagi.
Ainun menundukkan kepala.
“A-aku...”
“Jadi,” potong Sagara sebelum Ainun sempat melanjutkan, “ini alasan kamu terus memaksaku datang ke rumah orang tuamu?”
Ia melangkah satu langkah lebih dekat.
“Bahkan sampai rela melayaniku.”
Ainun menggigit bibir bawahnya pelan.
“Aku hanya ingin memberikan Mas Sagara kejutan... kalau Mbak Liona sudah kembali,” jawabnya lirih.
Sorot mata Sagara berubah semakin tajam.
“Berarti kamu sudah tahu sejak awal?”
Ainun mengangguk pelan. “I-iya...”
Beberapa saat keheningan memenuhi dapur.
Tatapan Sagara tak bergeser sedikit pun dari wajah wanita itu. Lalu, sudut bibirnya bergerak tipis.
“Menjijikkan,” gumamnya dingin.
Tanpa menunggu penjelasan apa pun, Sagara membalikkan badan.
Langkahnya menjauh meninggalkan dapur.
.
Keheningan kembali menyelimuti dapur setelah langkah Sagara benar-benar menghilang dari balik lorong.
Ainun masih berdiri di tempatnya.
Tatapannya tertuju ke arah pintu dapur yang baru saja dilalui pria itu. Dadanya yang sejak tadi terasa sesak perlahan mengempis ketika ia mengembuskan napas panjang.
Jemarinya yang semula mengepal perlahan mengendur.
“Kenapa Mas Sagara kayak nggak suka begini?” gumamnya lirih. “Padahal... harusnya beliau senang kalau Mbak Liona sudah kembali.”
Tak ada jawaban.
Hanya suara detak jam dinding yang terdengar samar di tengah sunyinya rumah.
‘Bukankah ini yang selama ini Mas Sagara tunggu?’
Ainun menundukkan kepala sejenak, lalu mengembuskan napas pelan.
‘Sudahlah. Itu bukan urusanku lagi.’
Ia berbalik menghadap meja dapur.
Segelas susu hangat yang tadi dibuatnya masih mengepulkan uap tipis.
Perlahan, Ainun meraih sendok, lalu mengaduk susu itu hingga butiran gula di dasar gelas larut sempurna.
Setelah itu, ia mengangkat gelas tersebut.
Kehangatan susu menyentuh bibirnya saat ia meneguknya perlahan, berharap rasa hangat itu mampu sedikit meredakan pikirannya yang kembali dipenuhi berbagai pertanyaan.
Ikut nunggu kelanjutannya , Semangat nulisnya Kak💪💪