NovelToon NovelToon
SANG NAGA PURBA

SANG NAGA PURBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action / Fantasi
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

Di Benua Canglan, kekuatan tidak diukur dari kerja keras—tapi dari kemurnian darah yang mengalir sejak lahir. Tian Xue, dibuang sejak bayi karena dianggap tak berdarah, dibesarkan di neraka tambang bawah tanah.
Namun altar itu tidak menolaknya. Ia hanya tak sanggup menampung keagungan Garis Darah Naga Purba yang telah lama dihapus dari sejarah.
Kini, dengan sekutu tak terduga di sisinya dan rahasia dunia yang jauh lebih luas dari yang pernah diketahui empat klan agung, Tian Xue melangkah menuju panggung yang akan mengguncang seluruh tatanan Benua Canglan—satu takhta sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BARISAN DEPAN DAN STRATEGI BERTAHAN

Langkah tumpuan kaki Vael, Tian Xue, dan Lu Shi mendarat mantap di atas lantai batu pos komando utama.

Yang berada di benteng perbatasan timur.

Bau amis darah dan kabut hitam membumbung tinggi, menyelimuti area sekitarnya.

Di tengah kesibukan prajurit yang lalu-lalang mengangkut korban terluka.

Komandan Rojh tampak sedang memberikan instruksi dengan raut wajah panik.

Namun, saat matanya menangkap dua sosok pemuda yang melangkah berdampingan di samping Vael.

Tubuh raksasa itu seketika mematung.

"Kalian...?!" seru Komandan Rojh terbelalak, tak mempercayai penglihatannya.

Ia mengingat betul betapa parahnya luka yang dialami Tian Xue dan Lu Shi saat dihantam oleh Kohl sepuluh hari yang lalu.

Bagaimana mungkin mereka berdua bisa berdiri tegap di sini tanpa celak sedikit pun?

Rojh dengan cepat memutar pandangannya ke arah Vael.

"Nona Muda! Kenapa Anda membawa mereka berdua ke tempat berbahaya ini?!"

"Abaikan perselisihan kalian sebelumnya!" potong Vael dengan nada suara yang teramat tegas.

Memutus keraguan Komandan Rojh.

"Mereka adalah tamu agung yang diizinkan langsung oleh Patriark Eldrin untuk membantu kita."

"Sekarang, bagaimana kondisi barisan depan?"

Guncangan dari ketegasan Vael membuat Komandan Rojh langsung tersiap tegak.

"Ma... Maafkan saya, Nona Muda!" ucap Rojh seraya menarik napas panjang untuk mengendalikan emosinya.

Tanpa membuang waktu, Komandan Rojh membentangkan gulungan peta kulit raksasa di atas meja batu.

Wajahnya kembali diliputi keseriusan yang mendalam.

"Kondisi barisan depan sangat mengkhawatirkan, Nona," lapor Rojh seraya menunjuk titik perbatasan bagian luar.

"Tetua Ketiga—maksud saya Kohl—baru saja melesat turun ke barisan terdepan."

"Dia sudah tidak sabar dan langsung menerobos kerumunan musuh. Saya sudah berusaha menahannya, tapi..."

Vael memijat pelipisnya seraya menghela napas berat.

Ia sangat paham betul dengan watak keras kepala dan impulsif dari pamannya yang maniak bertarung itu.

"Lanjutkan laporanmu, biarkan si bodoh itu melampiaskan tenaganya dulu," sahut Vael dingin.

Di sisi lain meja, Tian Xue tidak terlalu mendengarkan keluhan tentang Kohl.

Tatapan matanya yang tajam tertuju lurus menatap ke arah medan pertempuran yang pecah di bawah benteng.

Ribuan gelombang serangga purba tampak merayap saling bertumpuk.

Menciptakan pemandangan yang mampu merindingkan bulu kuduk siapa pun.

Tiba-tiba, Lu Shi menyenggol lengan Tian Xue seraya berbisik dengan raut wajah polos.

"Tian Xue... menurutmu, kalau serangga-serangga besar itu kita tangkap lalu dimasak bumbu pedas, rasanya enak tidak ya?"

Celetukan santai dari gadis rubah itu seketika memecah ketegangan di pos komando.

Vael dan Komandan Rojh yang sedang serius meneliti peta seketika melongo kaku.

Sepasang mata mereka membelalak menatap Lu Shi.

Seolah baru saja melihat makhluk paling aneh di muka bumi.

Di tengah invasi ribuan monster pemakan garis darah, gadis ini justru memikirkan resep masakan?

Tian Xue yang sudah terbiasa dengan kelakuan ajaib rekannya itu hanya bisa menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

Ia berdeham pelan seraya menoleh ke arah Komandan Rojh.

"Abaikan saja ucapannya... Lanjutkan laporannya, Komandan," ujar Tian Xue datar.

Komandan Rojh berdeham canggung, mencoba memfokuskan kembali pikirannya pada gulungan peta.

"Ehem... Baik," lanjut Rojh.

"Meski kita mungkin masih bisa bertahan beberapa waktu untuk menahan gempuran awal mereka."

"Masalah utamanya adalah jumlah pasukan kita yang teramat terbatas."

"Efek racun pengikis garis darah dari serangga-serangga itu sangat cepat menyebar."

"Kita harus menerapkan sistem rotasi pasukan secara ketat agar ketahanan fisik para prajurit tidak terkikis habis!"

Vael melangkah ke tepi barikade batu, melayangkan pandangannya jauh ke sekeliling medan perang.

Raut wajah cantiknya dipenuhi kekhawatiran yang teramat dalam.

Bantuan prajurit tambahan dari kota yang diperintahkan Patriark Eldrin tentu memerlukan waktu untuk bersiap.

Kecepatan mobilisasi prajurit biasa tidak akan pernah bisa menyamai kelajuan terbang mereka bertiga tadi.

Di tengah situasi yang kian mendesak, Tian Xue memutar poros tubuhnya secara perlahan.

"Aku punya saran," cetus Tian Xue tenang.

Lontaran kalimat itu seketika membuat Vael dan Komandan Rojh menoleh serentak.

Komandan Rojh yang memiliki harga diri tinggi sebagai veteran perang refleks menimpali dengan nada skeptis.

"Saran? Saran seperti apa yang bisa diberikan oleh seorang pendatang baru sepertimu dalam situasi perang masif ini?"

Namun Vael langsung memotong dengan nada tegas.

"Katakan! Masukan apa pun, selama itu masuk akal dan sanggup menahan gempuran musuh sampai bala bantuan tiba, aku akan mendengarkannya!"

Tian Xue melangkah mendekati meja batu.

Sepasang mata emasnya yang tajam langsung berfokus menatap gulungan peta perbatasan yang terbentang.

"Komandan Rojh, di mana saja titik-titik area serangan utama mereka saat ini?" tanya Tian Xue cermat seraya menunjuk bagian garis perbatasan.

Vael yang melihat keseriusan Tian Xue langsung berbalik menatap bawahannya.

"Jelaskan padanya, Komandan Rojh. Tunjukkan titik-titiknya!"

Rojh yang tidak bisa membantah perintah sang Nona Muda akhirnya menunjuk ke satu titik di area paling ujung peta.

"Di sebelah utara ini, Nona... Tuan Muda."

"Gelombang serangga di sana seolah tidak pernah ada habisnya."

"Padahal area itu hanyalah celah tebing batu yang sempit, namun kuantitas mereka di sana terus melonjak tajam."

Tian Xue menatap detail celah tebing utara dan penyebaran beberapa titik serangan di sekitarnya.

Otaknya bekerja kilat menganalisis pola kegagalan Suku Kirin selama ini.

"Celah utara itu adalah sungai utamanya," ulas Tian Xue tenang.

"Kalian pasti sudah tahu bahwa itu adalah titik awal kedatangan mereka sebelum menyebar ke beberapa wilayah perbatasan ini, bukan?"

Komandan Rojh menghela napas berat, raut wajahnya menggelap.

"Tentu saja kami tahu! Kami sudah berulang kali mencoba menahan celah utara itu!"

"Tapi setiap kali kami memusatkan pasukan di sana, gelombang musuh yang lolos di titik lain justru mengepung kami dari segala arah."

"Ujung-ujungnya barisan kami pecah, dan perluasan serangan mereka malah makin liar!"

Tian Xue tersenyum tipis. Analisisnya terbukti tepat sasaran.

"Sebab itulah kalian selalu gagal," balas Tian Xue tegas.

"Kalian mencoba menahan seluruh garis perbatasan secara merata sambil membagi pasukan kuat kalian di banyak titik."

"Saat serangga itu meluas, fokus kalian ikut terpecah."

Tian Xue mengepalkan tangannya di atas peta, tepat di atas titik celah utara.

"Ubah strateginya sekarang."

"Biarkan prajurit biasa tetap melakukan perang penahanan di titik-titik lain untuk menjaga ritme, jangan ditarik mundur."

"Namun... tempatkan seluruh petarung terkuat yang kita miliki murni di celah tebing utara ini!"

Mata Vael dan Komandan Rojh seketika membelalak.

"Tebing utara itu sempit," lanjut Tian Xue dengan mata emas yang menyala tajam.

"Jika para petarung terkuat mengunci celah sempit itu, kuantitas ribuan serangga musuh tidak akan ada artinya karena mereka hanya bisa maju secara bertahap."

"Begitu pasokan inti di celah itu tersumbat, aliran musuh ke wilayah lain perlahan akan melemah."

"Di saat itulah kita bisa mengalihkan seluruh fokus untuk meratakan mereka!"

Di sampingnya, Lu Shi mengangguk-angguk dengan wajah sangat serius.

Seolah-olah ia paham betul dengan penjelasan taktis tersebut.

Padahal di dalam benaknya gadis rubah itu sedang bersusah payah mencerna kerumunan kata-kata rumit Tian Xue.

Vael terperangah. Logika taktis ini sangat menusuk dan presisi!

Memanfaatkan kesempitan medan celah utara untuk menempatkan petarung tingkat tinggi.

Adalah cara terbaik untuk membalikkan keadaan tanpa perlu membuang nyawa prajurit biasa secara sia-sia.

Komandan Rojh yang berdiri mematung di depan peta seketika bungkam.

Pandangannya terhadap pemuda bermata emas di depannya berubah total.

Dari ragu menjadi kekaguman yang mendalam!

1
Septiana Athorid
Licik gue suka MC kayak gini
Septiana Athorid
kok bisa thor lushi membunuh mereka dengan mudah, harus nya tingkat 4 blodeline sama puncak qi tranformation sama bukan. apa karna pedang 9 nyawa 😁, pencerahan nya thor
Kausafiksi: ya benar, artefak pedang 9 nyawa lu shi bukan artefak biasa karna milik binatang suci rubah ekor 9.
total 1 replies
Septiana Athorid
hahaha kelakuan lushi konsisten, perut mulu😁
Kausafiksi: iya kan 😁
total 1 replies
Septiana Athorid
saran thor kasih sedikit romansa 😁🙏
Septiana Athorid
sudah jelas ada pihak ke 3, kalau tidak serangan mana mungkin teroganisir iya kan thor 😆
Kausafiksi: iya emang
total 1 replies
Day Chuk
lanjut🫢
Kausafiksi: 🫢
dabar
total 1 replies
Day Chuk
semakin luas worldbuilding nya thor
Septiana Athorid: malah makin penasaran 🫢🤣
total 2 replies
Day Chuk
bukan nya paksa sajah thor si tuan xue jarah sekalian 🤣
Kausafiksi: tian xue gak barbar buang 🫢
total 1 replies
Rosdianah 🌷
semangat kak author 💪🏻
Rosdianah 🌷
hallo kak ijin mampir
Rosdianah 🌷: siap kak
total 2 replies
Arni Arlinawati pratiwi
kabayang abrag na si lu shi!/Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi: apal ning.. 🤣🤣🤣
total 2 replies
Kausafiksi
🤣🤣🤣 sok atuh,
lumayan bandar siap nampung ceu
Arni Arlinawati pratiwi
yah peran utama na KO.. /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi: silaing nu nyieun na teu eucreug! /Facepalm/
total 2 replies
Arni Arlinawati pratiwi
belewe silaing mah tian xue! /Facepalm/
Arni Arlinawati pratiwi: ajig jauh jauh teuing kahim tina bujur hayam kana cuhcur.. /Facepalm/
total 2 replies
Arni Arlinawati pratiwi
kade ah kalah jadi teu ka tempo! 🤣🤣🤣
Arni Arlinawati pratiwi
puas.. hayu karungan wang jual lah, butuh dudung yeuh... kr kismin, lumayan tengkorak harimau 🤣🤣🤣
Arni Arlinawati pratiwi
nya heueuh atuh.. lamun mundur, maneh nu ku emak di karungan kahim! /Curse/
Arni Arlinawati pratiwi
cekek cekek.. talian karungan, bikeun ka gc nu kr rame, yakin ngaburial.. 🤣🤣🤣
Arni Arlinawati pratiwi
heueuh atuh geus cicing we silaing mah, indung heula nanaon ge.. piomongeun wae silaing mah! /NosePick/
Arni Arlinawati pratiwi
di danau beku mah di mana mana wae ge milu beku sateh.. komo anclum mah, beku kabeh jng siki siki na sateh, kahim.. /Curse//Curse//Curse/
Kausafiksi: 🤣🤣🤣🤣🤣 jiga beton nangka nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!