"Tolong hentikan, tolong!" teriak Zena.
Saat ini gadis dalam ketakutan itu hanya pasrah, tidak bisa berbuat apa-apa, pria yang sudah pasti dipengaruhi alkohol itu melecehkannya dengan menyobek pakaian Zena.
Tidak ada satupun yang menolong gadis malang itu.
"Tolong jangan lakukan itu!"
"Tolong..."
"Tolong...."
Zena menghindar dengan memukul-mukul dada pria tersebut.
"Aaaaaaaaaa!" Zena seketika berteriak menahan rasa sakit disaat tubuhnya digagahi tanpa ampunan.
Zena pada akhirnya pasrah dengan air matanya menetes, dengan penuh hawa nafsu pria di atas tubuhnya terus mencari kenikmatan.
Zena tampak setengah sadar dengan mata yang terbuka, namun pasrah, sosok pria di atas tubuhnya benar-benar tidak terlihat dan hanya kalung yang tampak bergoyang dan perlahan mata Zena tertutup.
Siapakah sosok pria misterius tersebut dan apakah Zena mampu menjalani kehidupannya setelah kejadian kelam?
Jangan lupa untuk membaca dari bab 1 sampai akhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 Apa Mungkin Dia Pelakunya
Zena dan Anggi saat ini sedang berada di salah satu Restoran
di mana keduanya tampak makan dengan duduk bersama.
"Kamu serius sikap Samudra belakangan ini aneh kepada kamu?" tanya Anggi memastikan setelah temannya itu bercerita.
"Ya, seperti yang aku katakan kepada kamu sebelumnya, aku juga tidak mengerti apa yang ada di kepala Kak Samudra, dia belakangan ini tidak terlalu mengajakku bertengkar, tidak mencari-cari kesalahan dan bahkan sepertinya dia juga tidak bertemu dengan Ariana," jawab Zena.
"Hmmmm, mungkin saja kepalanya terbentur batu dan langsung amnesia atau langsung disadarkan oleh Tuhan, seharusnya orang seperti dia itu bisa menerima keadaan dan bukan merasa sok suci yang seolah-olah tidak punya kesalahan!" tegas Anggi.
Zena tidak berkomentar sama sekali.
"Lalu bagaimana Zena, jika memang Samudra menyadari kesalahan yang terlalu berlebihan kepada kamu dan memperlakukan kamu kurang baik, lalu jika dia mengajak kamu perbaikan dan melanjutkan pernikahan kalian, kamu mau, dia benar-benar menerima kamu apa adanya, mungkin awalnya dia berpikir bahwa kamu telah mengkhianati pernikahan kalian atau justru kamu terlalu bebas tidak bisa menjaga diri, tetapi pada akhirnya dia simpati kepada kamu karena mengetahui bahwa apa yang terjadi kepada kamu bukanlah keinginan kamu sendiri," ucap Anggi ingin mengetahui jawaban dari sahabatnya itu.
"Aku akan menyerahkan semua kepada Allah, apapun petunjuk yang diberikan kepadaku suatu saat akan menjadi keputusan, setiap seseorang memiliki kesempatan asalkan beliau benar-benar berubah," sahut Anggi.
"Tetapi bukankah kamu memiliki tekad yang bulat untuk menemukan orang yang telah memperkosa kamu dan memperlihatkan kepadanya?" tanya Anggi.
"Kamu benar! kembali lagi aku hanya berserah diri kepada Allah," sahut Zena yang tidak bisa memberikan jawaban apapun.
"Hmmmm, bagaimana dengan pria yang dijodohkan dengan kamu, apa kalian sudah bertemu?" tanya Anggi.
"Assalamualaikum!" di tengah pembicaraan mereka tiba-tiba saja ada yang menyapa membuat keduanya menoleh kepada seorang pria yang tak lain adalah Rian teman Samudra.
"Wa-walaikum salam, kok kamu ada di sini?" Anggi terlihat begitu panik dan sementara Zena kebingungan melihat ekspresi dari sahabatnya itu.
"Tadi kebetulan tidak sengaja lewat dan saya melihat kamu, juga Zena," ucap Rain.
"Kalian berdua saling mengenal?" tanya Zena yang mengetahui bahwa pria itu adalah sahabat dari suaminya karena memang mereka berteman sejak SMA, ada juga pria itu sering datang ke rumahnya.
"Hmmm, Zena, aku belum menyampaikan kepada kamu bahwa ini Rain pria yang dijodohkan denganku dan memang ini sangat aneh sekali bahwa ternyata dia adalah temannya Samudra," sahut Anggi.
"Benarkah!" Zena sampai tidak percaya.
"Benar, saya juga tidak menyangka, tetapi waktu itu saya bertemu dengan Anggi, saya mengetahuinya bahwa dia adalah sahabat kamu, pernah saya melihat di akun sosial media kamu, dunia ini memang terlalu kecil, tetapi memang inilah kenyataannya," sahut Rain.
"Hmmmm, saya kemarin baru saja pulang dari Amerika, tadi saya lewat dan saya ingin memberikan hadiah untuk kamu, karena saya baru saja bertemu dengan kamu dan lupa menitipkan kepada Samudra," pria tersebut memberikan paperbag putih untuk Zena.
"Repot-repot sekali," sahut Zena merasa tidak enak mendapat hadiah dari teman suaminya.
"Ini hanya hadiah kecil saja, sebelumnya saya juga sudah memberikan kepada Anggi," sahut Rain ternyata orangnya benar-benar sangat humble.
"Begitu, kalau begitu saya ucapkan terima kasih," sahut Zena.
"Sama-sama. Hmmmm, kalian lanjutkan saja makannya, kebetulan teman saya menunggu di dalam mobil, saya tadi hanya mampir ingin memberikan hadiah untuk Zena saja," sahut Rain.
"Kenapa bukan temannya disuruh keluar secara gentleman," sahut Anggi dengan sindiran yang mendapat tatapan horor Zena.
"Aduh, untuk urusan rumah tangga saya tidak ikut-ikutan!" saya permisi dulu!"
"Assalamualaikum!" ucap Rain tidak ingin terlalu berlama-lama karena tidak enak juga jika salah satu wanita itu adalah istri dari temannya.
"Walaikum salam, sekali lagi terima kasih atas hadiahnya," ucap Zena.
Rain menganggukkan kepala dan kemudian berlalu dari hadapan kedua wanita tersebut.
"Huhhhh, suami kamu itu benar-benar laki-laki pengecut, punya gengsi tertinggi melebihi menara Eiffel dan seluas Samudera sama seperti namanya," kesel Anggi kembali duduk
"Sudahlah," sahut Zena yang mengeluarkan kotak hadiah tersebut ternyata terlihat sebuah botol parfum kecil.
"Rain kemarin mengatakan kepadaku bahwa dia sering sekali memberikan hadiah parfum kepada banyak orang jika dia ke luar negeri dan kamu tahu tidak parfume ini aromanya sangat wangi," ucap Anggi yang membuat Zena langsung mencoba dengan membuat di bagian ujung tangannya dan menghirup aromanya.
Tetapi tiba-tiba saja Zena merasa tidak asing dengan aroma dari parfum tersebut yang membuatnya memijat kepalanya terasa begitu menyengat dan tiba-tiba saja bayangan gelap itu muncul di hadapannya.
"Zena kamu baik-baik saja?" tanya Anggi menyadari sahabatnya itu tiba-tiba saja gelisah.
"Hmmm, entah mengapa aromanya sangat aneh," ucapnya.
"Ini sangat harum dan mana mungkin aneh," sahut Anggi.
"Apa Rain memakai parfum ini sehari-hari?" tanya Zena yang tiba-tiba saja merasa ada sesuatu pada parfum tersebut.
"Ya aku mana tahu, kami juga baru mengobrol kemarin mana mungkin juga menanyakan parfum apa yang dia pakai sehari-hari, yang aku tahu dia memberikan parfum ini sebagai hadiah dan juga sama seperti yang diberikan kepadaku," jawab Anggi.
"Ya, Allah, kenapa jantung hamba berdebar begitu kencang, kenapa seperti ada sesuatu pada parfum ini yang mengingatkan hamba pada kejadian waktu itu," batin Zena.
"Kamu baik-baik saja Zena?" tanya Anggi lagi.
"Iya aku baik-baik saja," jawab Zena dengan menghela nafas yang berusaha untuk setenang mungkin.
********
Zena malam ini ternyata kembali ke gedung tua tersebut, Zena selalu saja berada di lokasi di mana dirinya diperkosa, kali ini Zena membawa parfum tersebut, sudah pasti bayangan itu kembali menghantuinya ketika seolah-olah ada hal yang mendekatkan dirinya.
Dalam bayangan hitam hitam yang memperkosa dirinya, Zena memang tidak dapat melihat orang yang telah menggagahi tubuhnya, tetapi Zena bisa mencium aroma alkohol dan parfum yang sama seperti yang saat ini dia pegang.
Zena lagi-lagi seperti orang ketakutan, ternyata semakin dekat dengan kejadian pada malam itu dan bahkan Zena memang sengaja datang malam-malam ke gedung tersebut agar kejadian malam itu bisa kembali teringat olehnya karena waktunya yang bersamaan.
"Zena!"
"Aaaaaa!" Zena tiba-tiba saja ketakutan dengan berteriak membalikan tubuhnya.
Nafasnya naik turun ketika melihat orang yang memanggilnya tak lain adalah Rain yang ada di tempat tersebut.
"Rain....." lirih Zena.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Rain.
Zena berdiri, melihat Rain begitu serius, terlihat begitu panik, tubuhnya berkeringat, ketakutan terlihat jelas dari sorot matanya. Zena seolah-olah membayangkan bahwa Rain berjalan mendekatinya dengan wajah yang tidak terlihat jelas.
Semakin mendekatinya yang membuat langkah Zena perlahan mundur dan tiba-tiba saja dia tidak mampu mengendalikan dirinya yang berlari dari hadapan Rain.
"Zena....." panggil Rain.
"Zena...." Rain tidak mengerti mengapa tiba-tiba istri dari temannya itu berlari dengan kencang.
Zena memasuki mobil, sangat buru-buru menghidupkan mesin mobil sembari memakai sabuk pengaman, terlihat ketakutan dengan nafas yang saling memburu dan kemudian melajukan mobil tersebut dengan kecepatan tinggi.
Bersambung......
dan Ariana kamu salah cari lawan, kamu harus dibinasakan
nah samudra mau jalankan tugas negara kan? kak penulis buat saja ceritanya samudra dan rain itu kena tembak gitu dan koma atau buat saja meninggal sekalian, apa kedua perempuan sombong itu masih tetap sombong dan angkuh?