NovelToon NovelToon
Terikat Janji dengan Mantan Mesum

Terikat Janji dengan Mantan Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Percintaan Konglomerat / Dark Romance / Mantan / Romansa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.

Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.

Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.

Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Areksa semakin meresahkan

Aroma parfum maskulin yang ditinggalkan Areksa masih tertinggal di udara, berbaur dengan keharuman lavender butik yang kini terasa mencekik bagi Zevanna. Butuh waktu beberapa menit bagi kedua desainer yang kembali masuk untuk menyadari kalau calon pengantin wanita di hadapan mereka sedang menahan gemetar di sekujur tubuhnya.

"Nona Valerius? Anda baik-baik saja? Wajah Anda kelihatan lumayan pucat," tanya salah satu desainer senior dengan nada cemas, jemarinya memegang meteran kain dengan ragu-ragu.

Zevanna menarik napas dalam-dalam, memaksa paru-parunya bekerja normal. Ia menegakkan bahu, memasang kembali topeng ketenangan yang sempat diacak-acak oleh Areksa. "Aku baik-baik saja, kok. Tolong ukurnya agak dipercepat ya, aku nggak punya banyak waktu."

Proses pengukuran itu berjalan seperti siksaan yang lambat. Setiap kali jemari sang desainer menyentuh pinggang atau punggungnya, Zevanna teringat lagi akan kehangatan kasar telapak tangan Areksa beberapa menit yang lalu. Kata-kata terakhir pria itu—tentang gaun satin dan malam pertama—terus berputar di kepalanya bagai kutukan yang manis sekaligus mengerikan. Areksa memang tahu betul tombol mana yang harus ditekan buat mengacaukan kewarasannya.

Setelah hampir satu jam yang melelahkan, Zevanna akhirnya melangkah keluar dari butik. Matahari Jakarta sudah meluncur ke barat, menyisakan semburat jingga kemerahan di langit Menteng. Di dalam mobil yang membawanya pulang, Zevanna cuma menatap kosong ke luar jendela. Pikirannya melayang pada draf perjanjian yang tergeletak di kamarnya.

Aturan.

Pihak Kedua wajib tinggal di kediaman pribadi Pihak Kesatu.

"Dia benar-benar berniat mengurungku," gumam Zevanna lirih, jarinya mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil. Ada rasa takut, tapi jauh di dalam hatinya, ada percikan emosi lain yang menolak buat padam. Areksa mungkin pikir dia bisa menjinakkan Zevanna seperti dulu, tapi Zevanna yang sekarang bukan lagi cewek polos yang bakal menangis cuma gara-gara gertakan es sang Vareksa.

Sesampainya di kediaman Valerius, suasana rumah terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Pelayan mondar-mandir dengan wajah kaku, dan suara batuk berat Tuan Danuel terdengar dari arah ruang makan utama. Zevanna melangkah masuk dan langsung mendapati seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan panjang.

Kakek Danuel duduk di ujung meja, wajahnya tampak lebih tirus dan pucat dari dua hari lalu. Di sisi kanan duduk paman Zevanna, Bram, bersama Melinda yang selalu menatap Zevanna dengan pandangan merendahkan. Dan tentu saja, Valerie, yang kini sudah berganti pakaian dengan gaun malam formal, menatap Zevanna dengan senyum penuh kemenangan yang misterius.

"Lama banget kamu, Zevanna," tegur Bram dengan nada dingin saat Zevanna mendekati meja. "Masa biarkan Kakekmu yang lagi sakit begini nungguin kamu cuma demi urusan baju pengantin? Nggak sopan."

"Maaf, Paman. Ukur bajunya tadi makan waktu lebih lama dari yang kukira," jawab Zevanna tenang, mengambil tempat duduk di sisi kiri Kakeknya, pas berseberangan dengan Valerie.

Tuan Danuel mengangkat tangan, menghentikan omelan Bram yang sudah siap meluncur. "Sudah, jangan diributkan. Zevanna, gimana tadi ketemu Areksa di butik? Semuanya aman?"

Zevanna merasakan tatapan Valerie langsung menajam. Ia memotong daging steak di piringnya perlahan sebelum menjawab. "Aman kok, Kakek. Tuan Vareksa... cuma memastikan sendiri gaun yang kupilih sesuai sama standarnya." Termasuk standar mesumnya, tambah Zevanna dalam hati dengan geram.

"Ya iyalah dia datang," sela Valerie tiba-tiba dengan nada manis tapi beracun. "Keluarga Vareksa itu kan serba profesional. Mana mau calon pengantinnya bikin malu nama besar mereka gara-gara selera panti asuhan. Oh ya, Zevanna, kau sudah baca draf perjanjian yang dikirim tim hukum Kak Arthur tadi pagi belum?"

Zevanna menghentikan gerakan pisaunya. "Sudah." Ia agak kesal, padahal Valerie kan sudah tahu tadi pagi.

"Bagus deh," Valerie bersandar di kursi makannya, tersenyum sinis. "Kuharap kau sadar diri pas tanda tangan nanti. Poin soal tempat tinggal itu... Areksa sengaja tambah biar kau nggak kelayapan dan bikin malu. Rumah pribadi Areksa di Dharmawangsa itu ketat banget. Kau bakal diawasi 24 jam di sana. Kakek, bukannya aturan begitu terlalu mengekang buat Zevanna?"

Valerie pura-pura membela, padahal Zevanna tahu sepupunya itu cuma mau mengejeknya yang bakal jadi "tahanan" Areksa.

Tuan Danuel menatap Zevanna dengan pandangan dalam, kelihatan capek banget. "Zevanna, Kakek sendiri yang minta Arthur buat memastikan Areksa menjagamu sepenuhnya setelah nikah nanti. Di luar sana persaingan bisnis makin panas. Posisi Valerius lagi goyah, dan cuma Vareksa yang sanggup lindungi kamu kalau sampai terjadi apa-apa sama Kakek. Poin itu... demi kebaikanmu juga."

Zevanna menelan ludah yang terasa pahit. Kakeknya nggak tahu apa-apa soal sejarah kelam antara dirinya dan Areksa. Kakeknya mengira beliau lagi mengantar cucunya ke tempat aman, padahal kenyataannya, beliau menyerahkan Zevanna langsung ke sarang serigala kelaparan.

"Aku ngerti kok, Kakek," ucap Zevanna pelan. "Malam ini bakal aku tanda tangani."

Valerie mendengus pelan, kelihatan sebal karena Zevanna nggak histeris atau nolak sama sekali.

...

Malam merayap semakin larut. Kediaman Valerius sudah sepi dan tenang sejak pukul sebelas malam. Zevanna masih belum bisa tidur di kamarnya, duduk di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke halaman depan. Di pangkuannya tergeletak draf perjanjian yang sekarang sudah ada tanda tangannya dengan tinta hitam yang tegas.

Tepat pukul satu dini hari, sorot lampu mobil memotong kegelapan malam di luar. Zevanna mengernyitkan dahi. Sebuah mobil hitam mewah bergerak pelan tanpa suara mesin berisik, berhenti tepat di gerbang samping yang jarang dipakai, akses khusus yang cuma diketahui beberapa orang penting.

Jantung Zevanna mendadak berdegup kencang saat melihat siluet pria yang keluar dari kursi kemudi. Posturnya tinggi tegap, langkah kakinya santai tapi penuh intimidasi.

Areksa.

Ngapain tuh cowok di sini jam segini? batin Zevanna panik.

Nggak pakai pikir panjang, Zevanna menyambar jubah tidurnya, mengikatnya buru-buru di atas gaun malam satin tipisnya, lalu melangkah keluar kamar pelan-pelan biar nggak menimbulkan suara. Ia menuruni tangga menuju lantai bawah, mengandalkan lampu-lampu dinding yang agak redup.

Langkah kakinya membawa Zevanna ke arah perpustakaan pribadi Kakek Danuel. Benar saja, pintu kayu jati tebal itu agak terbuka, memancarkan seberkas cahaya kuning hangat dari dalam. Zevanna menahan napas, mendekatkan telinganya ke celah pintu.

"Umur Kakek paling cuma bertahan enam bulan lagi, Areksa," suara Kakek Danuel terdengar bergetar, jauh lebih lemah dibanding pas makan malam tadi. Ada rasa pasrah di nadanya. "Bram sudah mulai main belakang memindahkan aset. Kalau Kakek meninggal sebelum kalian nikah, Zevanna nggak bakal dapat apa-apa. Mereka bakal menghancurkan dia."

Suasana mendadak hening. Keheningan yang begitu pekat sampai Zevanna bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berkejaran.

"Anda tenang saja, Tuan Danuel," suara Areksa terdengar, berat, dingin, tapi punya getaran keyakinan yang mutlak. "Kontraknya sudah ditandatangani. Begitu Zevanna resmi jadi Vareksa, nggak bakal ada satu orang pun dari keluarga ini termasuk Bram yang berani menyentuh dia. Saya yang bakal pegang kendali penuh."

"Terus kalau dari kamu sendiri gimana, Areksa?" tanya Tuan Danuel lagi. "Kakek tahu masa lalu kalian... Kakek tahu apa yang terjadi delapan tahun lalu pas kalian masih SMA. Kau melakukan ini murni bisnis, atau... mau mempermainkan cucuku lagi?"

Pertanyaan itu bikin napas Zevanna tercekat. Jari-jarinya mencengkeram kusen pintu erat-erat sampai buku-buku jarinya memutih. Kakek tahu? Kakek tahu soal hubungan kami dulu?!

"Masa lalu ya masa lalu, Tuan Danuel," jawab Areksa datar, nggak terbaca emosinya. "Alasan saya apa, itu nggak penting. Yang perlu Anda tahu, apa yang sudah jadi milik Areksa Vareksa, bakal tetap jadi milik saya. Selamanya."

Mendengar langkah kaki yang bergerak mendekati pintu, Zevanna tersentak. Ia langsung balik badan dan berlari sekecil mungkin menuju koridor gelap ke arah taman dalam, mencoba bersembunyi di balik pilar besar sebelum Areksa keluar.

Tapi nasib sial lagi memihak Zevanna malam ini. Belum sempat dia mencapai bayangan pilar, sebuah cengkeraman tangan yang kuat dan dingin mendarat di pergelangan tangannya, menariknya dengan sentakan halus tapi tak terbantahkan ke lorong gelap dekat pintu keluar samping.

Zevanna hampir saja memekik sebelum telapak tangan besar yang hangat membekap mulutnya. Punggungnya langsung membentur dinding marmer dingin, dan di detik berikutnya, tubuh tegap Areksa sudah mengunci pergerakannya, menekan tubuh gadis itu tanpa jarak.

"Menguping itu bukan kebiasaan yang bagus lho, calon Nyonya Vareksa," bisik Areksa pas di telinga Zevanna. Napas hangatnya yang beraroma mentol menyapu kulit leher Zevanna, bikin getaran halus menjalar ke seluruh tubuhnya.

Areksa perlahan menurunkan tangan yang membekap mulut Zevanna, tapi wajahnya tetap dekat banget. Dalam kegelapan lorong, mata kelam Areksa berkilau berbahaya, menatap Zevanna yang terengah-engah di bawah kungkungannya.

"Lepasin aku, Areksa! Kamu ngapain di sini jam segini?! Terus maksud pembicaraanmu sama Kakek tadi apa?!" tuntut Zevanna setengah berbisik tapi penuh emosi, tangannya mencoba mendorong dada Areksa. Tapi pria itu sama sekali nggak bergeser.

Areksa malah menurunkan pandangannya, memperhatikan penampilan Zevanna. Jubah tidur gadis itu agak melonggar gara-gara tarikan tadi, memperlihatkan leher dan bagian atas gaun malam satinnya yang berwarna putih gading. Kilat puas muncul di mata pria itu.

"Kau pakai satin putih. Pas banget sama yang kubilang di butik tadi," gumam Areksa dengan suara rendah yang mengoda, mengabaikan pertanyaan Zevanna. Jarinya yang agak kasar meraba sepanjang tulang selangka Zevanna, bikin gadis itu merinding hebat. "Ini bentuk kamu mulai nurut sama aku, ya?"

"Jangan keperdataan deh, Vareksa! Ini cuma kebetulan!" desis Zevanna, wajahnya mendadak panas. Ia mencoba memalingkan wajah, tapi Areksa mencengkeram dagunya pelan tapi tegas, memaksa mata mereka buat saling kunci.

"Mau kebetulan atau nggak, aku nggak peduli," ucap Areksa santai tapi dingin. "Kau dengar kan yang kubilang ke kakekmu tadi? Mulai detik ini, hidupmu itu bukan milikmu lagi atau milik keluarga Valerius yang toxic ini. Kau itu urusanku."

"Kamu tuh bajingan egois ya," air mata kemarahan mulai menggenang di mata Zevanna. "Kamu manfaatin kondisi Kakek yang lagi sakit cuma buat mengurungku! Sebenarnya apa sih yang kamu mau dariku, Areksa? Mau mempermainkan aku lagi kayak dulu?!"

Mendengar kata 'mempermainkan', rahang Areksa langsung mengetat seketika. Tatapan matanya yang tadi penuh godaan mendadak berubah jadi sedingin es. Cengkeramannya di dagu Zevanna mengendur, digantikan tatapan tajam yang menusuk.

"Kalau aku cuma mau mempermainkanmu lagi, Nana... kau nggak bakal berdiri di sini masih pakai baju lengkap sekarang," bisik Areksa datar tapi kerasa horror banget. Ia memundurkan tubuhnya satu langkah, memberikan ruang yang mendadak terasa dingin buat Zevanna.

Areksa merapikan kerah kemeja hitamnya yang agak kusut, lalu menatap Zevanna buat terakhir kalinya malam itu. "Pulang ke kamarmu terus tidur. Simpan tenagamu buat hari pernikahan kita minggu depan. Soalnya begitu kau masuk ke rumahku... aku nggak bakal kasih kamu kesempatan buat istirahat."

Tanpa menunggu balasan dari Zevanna, Areksa berbalik dan melangkah pergi, hilang ditelan kegelapan malam, meninggalkan Zevanna yang mendadak lemas di lantai lorong.

"Kupikir Areksa sudah berubah, tapi dia makin gila! Gimana nasibku ke depannya coba? Aku cuma mau hidup tenang!" keluh Zevanna frustrasi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!