Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Namun suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan bahkan anak dari wanita lain.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musuh Dalam Selimut
Luna tengah bersiap di kamarnya untuk menghadiri acara fashion show. Jantungnya berdetak begitu cepat, ia merasa gelisah, untuk pertama kalinya ia menghadiri sebuah acara penting dan dirinya terlibat dalam acara itu.
"Nyonya, apa Anda benar akan memakai gaun itu?" tanya seorang make up artis yang sedang merias wajahnya.
Pertanyaan itu membuat lamunan Luna menjadi buyar. Ia menatap make-up artis melalui cermin yang ada di hadapannya.
Luna tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia justru menatap gaun yang Raka berikan padanya dengan tatapan penuh arti.
TOK … TOK … TOK
Sebelum Luna menjawab pertanyaan itu, suara ketukan pintu mendahului. Ia menoleh ke arah pintu lantas mempersilahkan orang itu untuk masuk.
Pintu terbuka dari luar, memunculkan sosok pelayan rumah itu dari baliknya.
"Nyonya," ucap si pelayan.
"Kenapa, Bi?" tanya Luna.
"Pak Raka meminta saya menyampaikan pesan pada Anda."
"Pesan apa, Bi?" tanya Luna dengan kening yang berkerut. "Bukannya mas Raka ada di bawah. Kenapa …"
Belum sempat Luna menyelesaikan ucapannya, ia mendengar suara mesin mobil menyala. Detik berikutnya suara mobil melaju dan semakin jauh sampai tak terdengar lagi.
Luna lantas menoleh ke arah si pelayan. Tatapannya seolah meminta penjelasan.
"Pak Raka meminta saya untuk mengatakan pada Anda … jika beliau pergi lebih dulu," jelas si pelayan. "Katanya masih ada banyak hal yang harus beliau urus sebelum acara."
Luna menghela napas. Lagi dan lagi, Raka meninggalkannya saat ada acara kantor. Benarkah karena pekerjaan atau yang lainnya.
Pandangan Luna beralih ke cermin yang ada di hadapannya. Kali ini tatapannya berbeda, lebih dingin.
"Kamu lakukan tugasmu. Aku mau tampil berbeda malam ini," perintah Luna make up artis yang berdiri di sampingnya.
"Baik, Nyonya." Make up artis itu membungkuk hormat. "Saya tidak akan mengecewakan Anda."
*****
Di tempat lain …
Vanessa berdiri anggun di tengah ballroom mewah yang dipenuhi lampu kristal. Gaun merah elegan membalut tubuhnya dengan sempurna. Senyum percaya diri tak lepas dari bibirnya sejak ia datang ke acara itu.
Di sekelilingnya berdiri beberapa rekan kerjanya yang juga merupakan desainer di perusahaan yang dikelola oleh Raka. Mereka sedang mengamati beberapa koleksi yang akan ditampilkan di atas panggung nanti.
"Vanessa, koleksi tahun ini benar-benar luar biasa," puji salah satu desainer itu. "Aku yakin perusahaan kita akan menjadi pusat perhatian malam ini."
"Aku juga berpikir seperti itu," timpal wanita lain. "Desainmu selalu berhasil memadukan kemewahan dan tren. Tidak heran pak Raka sangat mempercayaimu."
Vanessa sangat puas. Dadanya dipenuhi rasa bangga.
"Terima kasih," ucap Vanessa senang. "Aku memang menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk membuat semua ini. Jadi … hasilnya harus sempurna."
"Kalau malam ini kamu menang penghargaan, itu memang pantas."
Vanessa terkekeh pelan. "Aku juga berharap begitu."
Pujian demi pujian terus mengalir membuat rasa percaya diri Vanessa semakin tinggi. Namun, ada sesuatu yang ia tunggu dan akan semakin membuatnya senang.
Ia ingin mempermalukan Luna di hadapan semua orang malam ini.
Sudut bibir Vanessa terangkat perlahan, membentuk senyuman tipis yang sulit untuk diartikan.
Vanessa sudah membayangkan ekspresi para tamu saat melihat Luna mengenakkan gaun merah yang terbuka di bagian dada dan punggung. Ditambah lagi perhiasan palsu yang sengaja ia pilih, memang terlihat mewah, tetapi mudah dikenali sebagai barang palsu oleh orang yang mengerti perhiasan.
Vanessa sengaja meminta pada Raka untuk memberikan semua itu pada Luna, dengan alasan ingin membantu memilihkan pakaian yang pantas untuknya. Raka yang sudah terlalu percaya pada Vanessa setuju tanpa melihat apa pun lagi.
Padahal justru sebaliknya, Vanessa ingin membuat Luna menjadi bahan perbincangan buruk sepanjang malam.
Semakin banyak orang menertawakanmu nanti, semakin mudah bagiku untuk berdiri di samping Raka.
Ia kembali melihat ke arah pintu ballroom, keningnya mengerut saat tak mendapati kedatangan Luna.
"Kenapa dia belum datang?" batinnya.
"Kamu kenapa?" tanya salah satu rekan kerjanya. Ia ikut memerhatikan pintu masuk ballroom. "Apa ada yang kamu tunggu?"
Vanessa segera memasang senyum terbaiknya. "Pak Raka dan istrinya belum datang."
"Oh … palingan juga pak Raka datang sendiri lagi. Seperti sebelum-sebelumnya."
"Iya. Setiap ada acara kantor, pak Raka selalu datang lebih dulu. Mungkin dia malu sama penampilan istrinya yang biasa itu."
"Semoga saja penampilan istri pak Raka tidak memalukan seperti sebelumnya."
"Kayaknya kamu lebih cocok sama pak Raka deh dari pada istrinya "
"Iya itu benar."
"Tapi sayangnya kalian sama-sama sudah menikah."
Vanessa hanya tersenyum menanggapi ucapan teman-temannya. Dalam hatinya, Luna bicara.
Kalian tidak tahu saja jika sebenarnya aku juga istrinya Raka.
Vanessa benar-benar tidak sabar menanti kedatangan Luna. Tak sabar melihat Luna menjadi bahan tertawaan dan hinaan di acara itu.
Ia terus memerhatikan pintu masuk ballroom. Tidak berselang lama, Raka masuk, tidak bersama Luna melainkan sendiri.
"Lihat tuh pak Raka datang?"
"Sendiri lagi?"
"Benar kan apa yang aku katakan. Pak Raka pasti malu datang bersama istrinya yang sangat kampungan itu."
Vanessa tersenyum mendengar hinaan teman-temannya yang dilayangkan untuk Luna, tetapi di sisi lain Vanessa tidak merasa puas. Ia ingin melihat secara langsung bagaimana Luna dipermalukan.
"Ayo kita taruhan."
"Taruhan apa?"
"Istrinya pak Raka datang atau tidak."
"Oke," sahutnya. "Kalau menurutku dia datang dengan penampilannya yang biasa saja dan membosankan."
"Kalau aku … istrinya tidak datang."
"Aku juga."
"Kamu ikut tidak, Nes?"
Vanessa spontan menoleh. Ia tidak langsung menjawab, tapi diam seolah mempertimbangkan sesuatu. Mengingat Luna selalu mendengarkan ucapan Raka, wanita itu pasti datang dan itu yang sangat ia inginkan.
"Aku yakin dia akan datang," ucap Vanessa akhirnya. "Dan dengan penampilan yang berbeda."
"Hah … kamu yakin?"
Vanessa mengangguk. "Aku sangat yakin."
"Yakin penampilannya akan mengejutkan semua orang." Vanessa tertawa di dalam hatinya.
"Oh iya … aku lupa. Kamu deket sama istrinya pak Raka. Makanya kamu membelanya."
"Kata siapa aku membela? Justru malam ini aku ingin mempermalukannya hingga dia akan berpikir seribu kali untuk keluar rumah," batin Vanessa.
Tujuan utama Vanessa juga ia ingin membuat hubungan Luna dan Raka merenggang. Setelah ia sengaja memasukan lingerie miliknya ke dalam koper Raka, sekarang dengan gaun seksi dan juga perhiasan palsu.
Setelah itu, ia akan pelan-pelan mengambil hati ayah mertuanya.
"Lihat saja, sebentar lagi semua yang kamu punya akan menjadi milikku, Luna."
"Eh lihat … siapa yang baru saja masuk!" Salah satu perempuan menujuk ke arah pintu.
Spontan Vanessa dan yang lain ikut melihat ke arah yang sama.
Mata mereka membulat dengan sempurna.
"Itu … benar-benar istrinya pak Raka, kan?" tanya salah satu perempuan. Matanya pun ikut berbinar dan bibirnya mengulas senyuman. "Cantik sekali."
"Wah!"
Berbanding terbalik dengan Vanessa, ia merasa kesal dengan apa yang sedang ia saksikan.
Sementara itu, Luna melangkah dengan penuh percaya diri memasuki pintu ballroom. Jelas saja tidak dengan memakai pakaian dan perhiasan yang diberikan oleh Raka. Persetan jika nanti suaminya marah padanya.
emmmm kaya ga deh vanes ga jadi malu secara Raka mana mau lihat orang tersayang tersakiti
OMG kalau terjadi she so dammm sad man