Di hari ulang tahun suaminya, Nadia berjalan dengan hati penuh bunga. Dua garis merah di tangannya adalah hadiah terindah yang ingin ia persembahkan untuk Arkan–suaminya.
Namun, kejutan manis itu berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan dunianya.
Di balik pintu sebuah restoran mewah, Nadia memergoki Arkan tengah memeluk mesra Ghea—kakak tirinya sendiri.
Bukan hanya dikhianati, Nadia juga harus menelan pil pahit saat mendengar kenyataan bahwa pernikahan mereka hanyalah kedok busuk Arkan untuk menguras habis seluruh harta warisan mendiang ayah Nadia.
Di ambang keputusasaan, di bawah guyuran hujan yang menyamarkan air matanya, Nadia hampir kehilangan nyawanya dan bayi di kandungannya. Tepat saat itu, sebuah tangan kekar menyelamatkannya.
Devan Alister. Pria berkuasa, sekaligus musuh bebuyutan suaminya di dunia bisnis, hadir dan menawarkan sebuah aliansi berbahaya.
"Ikut denganku, kita hancurkan mereka bersama. Sebagai gantinya, jadilah istri sandiwaraku selama satu tahun."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayamgoreng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kontrak?
Suasana lobi mansion berangsur-angsur tenang setelah tubuh Arkan diseret keluar tanpa ampun oleh para pengawal. Beberapa pelayan dengan cekatan langsung membersihkan lantai marmer yang terkena tetesan darah Arkan, memastikan tidak ada sedikit pun kekotoran yang tersisa.
Devan membalikkan badannya. Aura membunuh yang memancar dari tubuhnya beberapa saat lalu mendadak surut, digantikan oleh tatapan mata yang dipenuhi kecemasan samar. Dia melangkah mendekati Nadia yang masih berdiri mematung.
"Kamu syok? Perutmu kram lagi?" tanya Devan, suaranya kembali menjadi bariton yang berat namun lembut.
Nadia menggeleng pelan. Dia menatap Devan, lalu beralih menatap buku-buku jari tangan kanan Devan yang tampak sedikit memerah akibat pukulan tadi. Tanpa sadar, Nadia mengulurkan tangannya, menyentuh lembut pergelangan tangan Devan.
"Tanganmu... pasti sakit" bisik Nadia, merasa bersalah karena masalah masa lalunya kembali merepotkan pria ini.
Devan tertegun sejenak menatap jemari lentik Nadia yang menyentuh kulitnya. Getaran aneh yang hangat menjalar di dadanya, namun dengan cepat dia menguasai diri dan menarik tangannya perlahan.
"Ini bukan apa-apa dibanding apa yang sudah pria itu lakukan padamu selama setahun ini" jawab Devan datar. Dia berjalan menuju sofa ruang tengah dan mengisyaratkan Nadia untuk ikut duduk.
Nadia duduk di sofa seberang Devan. Keheningan malam menyelimuti mereka selama beberapa saat sebelum Nadia akhirnya memberanikan diri menyuarakan pertanyaan yang mengganjal di hatinya sejak tadi.
"Devan... tentang ucapanmu pada Arkan tadi–" Nadia meremas pelan gaun tidurnya. "Kamu bilang, anak di kandungan ini adalah milikmu. Bukankah kesepakatan kita hanya sebatas pernikahan sandiwara?"
Devan menyandarkan punggungnya pada sofa, menatap Nadia dengan intensitas yang membuat jantung Nadia berdebar tidak karuan.
"Secara hukum, jika kamu bercerai dari Arkan dalam kondisi hamil, dia masih memiliki hak untuk menuntut hak asuh anak setelah lahir" jelas Devan dengan nada bicara yang sangat terstruktur. "Satu-satunya cara untuk menutup celah itu adalah dengan mendaftarkan anak itu sebagai anakku segera setelah kita menikah."
Devan menjeda kalimatnya, matanya menatap lurus ke arah perut Nadia. "Aku tidak akan membiarkan darah daging pria brengsek itu memiliki kuasa atas hidupmu lagi. Anak itu akan lahir, tumbuh, dan memegang nama belakang Alister. Tidak ada yang bisa merebutnya darimu, bahkan Arkan sekalipun."
Mendengar penjelasan rasional itu, ada secercah rasa lega di hati Nadia, namun di sudut hatinya yang lain, ada rasa kecewa yang samar. “Tentu saja, ini semua hanya bagian dari strategi bisnis dan hukumnya” batin Nadia mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terlalu terbawa perasaan.
Keesokan paginya, Leo datang ke mansion dengan membawa sebuah koper penuh berkas. Wajah asisten pribadi Devan itu tampak sangat puas.
"Pagi Nyonya Nadia, Tuan Devan" sapa Leo sopan. "Gugatan cerai Anda sudah resmi terdaftar di pengadilan agama dan akan diproses secepat mungkin atas perintah tuan Devan. Sidang pertama dijadwalkan dua hari lagi."
Leo membuka salah satu map hitam. "Kami juga sudah mengamankan seluruh bukti perselingkuhan Arkan dan Ghea, termasuk aliran dana ilegal yang Arkan gunakan dari perusahaan ayah Anda untuk membelikan Ghea apartemen mewah."
Nadia menerima berkas itu dengan tangan bergetar karena amarah yang kembali tersulut. "Jadi, selama Papa sakit keras, Arkan sudah mulai menguras uang Papa untuk Ghea?"
"Benar, Nyonya" kata Leo. "Dan dengan bukti ini, Arkan tidak hanya akan kehilangan hak asuh atau harta, tapi dia juga terancam hukuman pidana atas penggelapan dana" lanjut Leo.
Devan yang sedang menyesap kopi hitamnya mendongak. "Kirimkan salinan berkas penggelapan dana itu ke meja Arkan siang ini. Biarkan dia tahu apa yang menantinya di pengadilan nanti jika dia menolak menandatangani surat cerai."
....
Sementara itu, di sebuah rumah sakit umum, Arkan duduk di tepi ranjang IGD dengan wajah yang diperban. Ghea berdiri di sampingnya dengan wajah cemberut, memegang ponsel yang terus-menerus berdering dari para penagih utang.
Tiba-tiba, seorang pria berpakaian rapi masuk ke ruangan Arkan dan langsung meletakkan sebuah amplop cokelat besar di atas pangkuan Arkan.
"Pesan dari Tuan Devan Alister dan Nyonya Nadiara" ucap orang tersebut lalu langsung berbalik pergi.
Arkan dengan tangan gemetar membuka amplop tersebut. Begitu membaca isinya, wajah Arkan yang tadinya pucat kini berubah menjadi seputih kertas. Surat gugatan cerai, bukti pidana penggelapan dana, dan ancaman penjara sepuluh tahun terpampang nyata di depan matanya.
"Arkan, apa itu?!" Ghea merebut kertas tersebut, dan seketika menjerit panik ketika matanya langsung di suguhkan tulisan hitam besar di atas kertas putih itu. "Penjara?! Kamu mau dipenjara, Arkan?!" Tanya Ghea syok.
Dia menatap nanar kertas putih itu lalu dia remes kuat kuat hingga mengkerut. "i-ini gak bener kan? INI GAK BENER KAN, ARKAN?!! INI PASTI SURAT PALSU KAN!" Teriak Ghea histeris sembari mengguncang tubuh Arkan yang hanya diam.
Arkan tidak mendengarkan teriakan Ghea. Pandangannya kosong. Dia baru menyadari bahwa menantang Devan Alister untuk merebut kembali Nadia adalah kesalahan terbesar yang menghancurkan seluruh sisa hidupnya.
"ARKAN JAWAB AKU! KENAPA KAMU HANYA DIAM SAJA SEPERTI ORANG BODOH!" Maki Ghea kesal.
Ghea mengacak rambutnya kasar melihat keterdiaman Arkan. "kalo kamu di penjara, terus aku kaya gimana?" lirih Ghea bingung.
Arkan menatap Ghea yang sedang menatap nanar kertas putih itu seperti melihat hal menyeramkan di dunia. "kamu kira aku gak bingung, ghe?" desis Arkan.
"AKU JUGA BINGUNG!" Bentak Arkan keras hingga Ghea terlonjak kaget.
Ghea menatap Arkan takut bercampur kesal melihat amarah Arkan yang meledak.
"aku tu pusing denger kamu ngomel ngomel, coba diam sebentar aja, Ghe. Sebentar aja" kata Arkan lagi.
Ghea mengerjab pelan, lalu mendengus. "kok kamu jadi ngebentak aku? Aku kan cuman nanya!" teriak Ghea balik. kesal.
Arkan menatap Ghea tajam. "ya makanya kamu diam, bantu aku cari solusi bukannya malah bikin aku tambah pusing?"
Ghea menghentakkan kakinya ke lantai, dia lalu pergi ke luar ruangan dengan wajah cemberut. "Setarah kamu aja. Pusing aku" kata Ghea lalu membuka pintu dengan keras hingga pintu itu berderit nyaring.
BLAM!
Arkan yang melihat kepergian Ghea menghela nafas kasar. Ghea memang seperti itu, dia akan selalu pergi jika merasa kesal dengan Arkan.
"Brengsek! Awas aja kamu Devan. Akan ku balas suatu hari nanti" desis Arkan penuh benci.
★★★
Wah, makin runyam ni urusannya. Jadi Kasian sama Ghea. Eh- tapi BOHONG. author paling gak suka sama yang namanya pelakor dan selingkuh. Kaya, kalo emng udh gk sayang sm pasangan nya hrusnya ngomong baik² gk sih cri jalan keluar brdua bukan malah selingkuh!😌