Ajo dan Elsa dipertemukan dalam proyek film yang sama. Ajo sebagai produser dan Elsa sebagai pemeran utama. Sejak awal pertemuan, ketertarikan satu sama lain sudah terasa. Namun, status mereka yang berbeda – Ajo sebagai duda dan Elsa sebagai aktris yang sedang di puncak popularitas – menjadi penghalang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Ketegangan semakin meningkat ketika skandal masa lalu Ajo terungkap. Hal ini mengancam reputasi dan karir mereka berdua. Mereka harus berjuang melawan tekanan publik, gosip media, dan juga konflik batin mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan Jenderal dan Bunga Desa Gunung Salak
Suasana di lobi megah Ajo-Adam Pictures sore itu yang tadinya dibalut aura formal pasca-rilisnya film Cinta Dua Batas, mendadak mengendur. Para Staf dan kru film masih hilir mudik membawa papan klip dan berkas, tetapi di sudut sofa kulit eksekutif, tiga pria yang julukannya pernah menggetarkan industri perfilman itu sedang berkumpul.
Adam berdiri kaku di samping Ajo yang sedang menyesap kopi hitamnya. Matanya terus melirik ke arah pintu kaca utama lobi tempat Juli—yang baru saja tiba dari desa diantar Rina—sedang berdiri terpana melihat indahnya lampu-lampu gantung kristal gedung perkantoran ibu kota.
Gadis desa itu mengenakan gaun batik sederhana. Tanpa riasan tebal khas artis Jakarta, pesona alaminya justru berkali-kali lipat lebih menyengat. Lesung pipitnya terpancar tiap kali ia tersenyum bingung melihat eskalator yang bergerak sendiri.
Adam menelan ludah yang terasa seret. Dengan gerakan pelan yang sok misterius, ia membungkukkan tubuhnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Ajo, lalu berbisik dengan suara parau yang sangat tertahan.
"Jo... kau ini benar-benar tidak ksatria ya," bisik Adam, raut wajahnya dibuat-buat keningnya berkerut seolah sedang membahas dokumen rahasia puluhan miliar.
Ajo menghentikan cangkir kopinya di udara, menoleh heran. "Maksudmu apa, Dam?"
Adam melirik Juli sebentar, lalu kembali berbisik dengan nada penuh desakan, "Kenapa sepuluh tahun kita bersahabat dan bertengkar seperti orang gila... kau tidak pernah sekali pun bilang kalau punya sepupu yang cantiknya tidak masuk akal seperti Juli?!"
Ajo mematung sejenak. Ia menatap Adam lurus-lurus, memperhatikan wajah mantan miliarder angkuh yang kini memerah padam sampai ke leher, dengan mata membelalak penuh pengharapan konyol.
PFFFT!
Ajo tak sanggup lagi menahan tawa. Tawa renyah dan keras yang sangat jarang terdengar dari bibir sang produser bertangan dingin itu meledak seketika, memecah keheningan lobi.
"Bwahahaha! Astaga, Adam!" Ajo sampai memegangi perutnya, hampir menyemburkan kopi hitam yang baru saja disesapnya.
Jimi yang sedang mengobrol dengan Elsa dan Rina di dekat meja resepsionis seketika menoleh. Melihat Ajo tertawa terpingkal-pingkal sampai mengusap sudut matanya, Jimi dan Elsa saling bertatapan heran lalu melangkah mendekat.
"Ada apa ini? Kenapa produser paling kaku se-Indonesia ini bisa tertawa sampai mau menangis begitu?" tanya Jimi curiga sambil bersedekah tangan.
"Jangan dibilang-bilang, Jo! Awas kau ya!" ancam Adam setengah berteriak, wajahnya makin semerah buah naga matang. Ia berusaha menutup mulut Ajo dengan tangannya, tetapi Ajo dengan cepat menepisnya sambil terus tertawa.
"Jim... Elsa... kalian harus dengar ini," ujar Ajo dengan napas tersengal-sengal karena kebanyakan tertawa. "Si mantan Bos Distributor raksasa ini barusan berbisik... dia protes kenapa aku tidak pernah cerita kalau punya sepupu secantik Juli!"
Seketika itu juga, tawa Jimi meledak paling kencang di ruangan itu. "HA-HA-HA! Ya Tuhan, Adam! Jadi dari tadi kamu mondar-mandir merapikan kerah baju dan pakai minyak wangi melati itu cuma buat menarik perhatian Juli?!"
Elsa menutup mulutnya dengan kedua tangan, ikut terkekeh geli melihat tingkah Adam yang mendadak hilang wibawa sepenuhnya. Bahkan Rina yang biasanya sangat formal sampai menyunggingkan senyum lebar sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Aduh, Tuan Adam..." goda Elsa manis sambil melirik Adam. "Kalau mau pendekatan dengan Kembang Desa Gunung Salak, jalannya tidak bisa pakai gaya Bos Jakarta. Di sana tidak mempan pakai kartu kredit emas!"
"Tahu tidak, Dam?" pangkas Jimi sambil menepuk-nepuk bahu Adam yang makin merosot kaku. "Juli itu di desa penyuka pria yang jago memanggul keranjang cengkeh dan bisa menyeduh kopi tanpa salah pegang gagang cangkir! Waktu di desa kemarin, pegang cangkir saja tanganmu gemetar seperti kena gempa bumi!"
"Jimi! Kau ini sahabat atau musuh dalam selimut, sih?!" protes Adam panik. Pria itu menyapu rambut klimisnya dengan jari-jemarinya yang mendadak kaku, makin salah tingkah saat melihat Juli dari kejauhan mulai melangkah berjalan mendekati kerumunan mereka.
"Ada apa sih ini? Kok ramai banget pada tertawa?" tanya Juli polos, matanya yang bulat menatap mereka satu per satu, lalu pandangannya berhenti tepat di wajah Adam yang sudah kaku bagai patung lilin. "Mas Adam... kok wajahnya merah begitu? Masih sakit demam ya?"
"E-eh! Tidak, Mbak... eh, Juli! Ini cuma... udaranya hangat ya di Jakarta! Hehehe!" jawab Adam dengan tawa buatan yang sangat garing dan patah-patah, sambil memegang lehernya yang sama sekali tidak panas.
Ajo, Jimi, Elsa, dan Rina kembali tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Adam yang mendadak bertingkah bagai anak SMA yang baru pertama kali jatuh cinta.
Di tengah gelak tawa yang memenuhi lobi megah itu, Ajo merangkulkan tangannya di bahu Adam dan Jimi. Tidak ada lagi sisa-sisa dendam, rasa takut, atau bayang-bayang masa lalu. Yang ada hanyalah tiga sahabat sejati yang telah menemukan kembali tawa murni mereka—diiringi pendar cinta baru yang siap mekar di bawah naungan Gunung Salak.