Xu Ming adalah pemuda biasa dari Bumi yang sangat menggemari novel dan komik kultivasi. Suatu hari, keinginannya untuk menjadi tokoh utama benar-benar terkabul. Ia tiba-tiba terbangun di Dunia Tianxuan dan memperoleh Sistem Pembimbing Kultivasi. Namun, alih-alih menjalani petualangan besar, ia justru dipaksa berlatih pedang, berkebun, memasak, melukis, memainkan qin, menulis kaligrafi, hingga melakukan berbagai pekerjaan sederhana selama sepuluh tahun.
Saat Xu Ming mengira perjalanan sebagai seorang kultivator baru akan dimulai, sistem justru menghilang setelah menyatakan bahwa tutorial telah selesai.
Menganggap dirinya masih seorang mortal yang lemah, Xu Ming memilih tinggal di Desa Qinghe dan menjalani hidup tenang. Tanpa ia sadari, seluruh latihan itu telah membuatnya melampaui semua tingkatan kultivasi. Sementara Xu Ming terus meragukan kekuatannya, seluruh dunia justru memanggilnya Senior, menganggapnya sebagai pertapa agung yang menyembunyikan identitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 — Jalan Pulang yang Tidak Biasa
Matahari mulai condong ke barat.
Xu Ming meninggalkan Kota Qingyun dengan langkah ringan.
Keranjang bambunya kini kosong.
Di pinggangnya tergantung sebuah kantong kain kecil berisi koin tembaga hasil berdagang seharian.
Cling...
Cling...
Suara koin yang saling berbenturan membuat Xu Ming tersenyum puas.
"Syukurlah."
"Mulai sekarang aku tidak perlu khawatir kelaparan."
Ia memang bukan orang yang memiliki banyak keinginan.
Baginya, selama masih ada nasi, sayur, dan tempat untuk tidur, hidup sudah cukup bahagia.
Anjing hitam yang berjalan di sampingnya sesekali mengendus tanah.
"Hei, Xiao Hei."
Xu Ming menepuk kepala anjing itu.
"Kita berhasil hari ini."
"Besok mungkin kita bawa lebih banyak sayuran."
Anjing hitam itu mengibaskan ekornya pelan.
Di belakang mereka.
Dua sosok diam-diam mengikuti dari kejauhan.
Mereka adalah Li Qingxue dan Tetua Mu.
"Guru."
"Apakah kita benar-benar akan mengikuti Senior?"
Tetua Mu mengangguk.
"Jangan terlalu dekat."
"Aku hanya ingin mengetahui di mana Senior tinggal."
Li Qingxue tidak bertanya lagi.
Keduanya menjaga jarak hampir satu kilometer.
Namun...
Meski mereka merasa sudah sangat berhati-hati, Xu Ming tiba-tiba berhenti berjalan.
"Hm?"
Xu Ming menoleh ke belakang.
Li Qingxue dan Tetua Mu langsung menahan napas.
"Beliau menyadari kita?"
Tetua Mu berkeringat dingin.
Namun Xu Ming hanya menggaruk pipinya.
"Aneh."
"Barusan aku seperti mendengar langkah kaki."
Ia melihat ke kiri dan ke kanan.
Tidak menemukan siapa pun.
"Mungkin cuma kelinci."
Ia kembali melanjutkan perjalanan.
Tetua Mu menghela napas lega.
"Hampir saja..."
Padahal...
Xu Ming memang mendengar langkah mereka.
Hanya saja ia sama sekali tidak menyangka ada kultivator yang sengaja mengikutinya.
Perjalanan memasuki kawasan hutan.
Jalan setapak mulai sepi.
Sesekali terdengar suara burung dari atas pepohonan.
Xu Ming bersiul pelan sambil memikul keranjang.
Tiba-tiba...
"Berhenti!"
Lima pria bertubuh kekar melompat dari balik semak-semak.
Masing-masing membawa golok dan pedang.
Xu Ming langsung terdiam.
"Perampok?"
Pemimpin mereka tertawa.
"Serahkan semua uangmu!"
Xu Ming menghela napas.
"Kenapa baru pertama kali dapat uang sudah dirampok..."
Ia mengeluarkan kantong kain kecil itu.
"Kalau kuberikan..."
"...bolehkah aku lewat?"
Kelima perampok saling tertawa.
"Tentu tidak!"
"Kami juga akan mengambil barang-barangmu!"
Xu Ming menggaruk kepala.
"Kalau begitu sulit."
Ia benar-benar tidak ingin bertarung.
Di matanya, lima pria itu terlihat jauh lebih kuat daripada dirinya.
Lagi pula, mereka membawa senjata sungguhan.
Sementara ia...
Hanya membawa keranjang bambu.
Di kejauhan.
Li Qingxue hendak maju membantu.
Namun Tetua Mu segera menahannya.
"Tunggu."
"Tapi Guru..."
"Kita lihat dulu."
Tetua Mu ingin memastikan satu hal.
Apakah Xu Ming benar-benar seorang ahli yang menyembunyikan kekuatan?
Atau selama ini mereka hanya salah paham?
Pemimpin perampok mengangkat goloknya.
"Cepat!"
Xu Ming menghela napas pelan.
"Baiklah."
Ia mengambil sebatang ranting kecil yang tergeletak di tanah.
Melihat itu, para perampok tertawa terbahak-bahak.
"Kau mau melawan kami pakai ranting?"
Xu Ming tersenyum canggung.
"Bukan."
"Aku cuma takut tanganku sakit kalau memukul."
Kalimat itu membuat Tetua Mu dan Li Qingxue saling berpandangan.
'Apa maksud Senior?'
Pemimpin perampok langsung menyerbu.
"MATI!"
Xu Ming secara refleks mengayunkan ranting itu.
Tap!
Suara benturan terdengar pelan.
Pemimpin perampok membeku.
Golok di tangannya berubah menjadi serpihan halus.
Pria itu sendiri terpental puluhan meter, menghantam sebuah pohon besar hingga pingsan.
Xu Ming ikut terkejut.
"...Eh?"
"Aku..."
"Kuat juga?"
Empat perampok lainnya langsung gemetar.
Mereka bahkan tidak melihat bagaimana Xu Ming bergerak.
"M-monster!"
Mereka menjatuhkan senjata dan melarikan diri tanpa menoleh lagi.
Xu Ming hanya berdiri memegang ranting.
Ia melihat ranting itu.
Lalu melihat pria yang pingsan.
"Hah..."
"Untung rantingnya tidak patah."
"Kalau patah, kasihan pohonnya."
Di balik pepohonan, Tetua Mu hampir tidak mampu berdiri tegak.
Tangannya gemetar hebat.
"Guru..."
Li Qingxue berbisik pelan.
"Itu..."
Tetua Mu menelan ludah.
"Satu ranting..."
"...menggantikan pedang."
"Beliau bahkan tidak menggunakan energi spiritual."
Wajah Tetua Mu berubah pucat.
Ia akhirnya benar-benar yakin.
Senior Xu bukan sekadar ahli tersembunyi.
Beliau telah mencapai alam yang bahkan tidak tercatat dalam sejarah Sekte Awan Hijau.
Sementara itu, Xu Ming berjalan menghampiri perampok yang pingsan.
Ia memastikan pria itu masih bernapas.
"Syukurlah."
"Aku hampir saja membunuh orang."
Xu Ming menggeleng pelan.
"Lain kali aku harus lebih pelan."
Kalimat sederhana itu membuat Tetua Mu merinding.
'Lebih... pelan?'
'Kalau tadi itu belum pelan... seberapa mengerikan kekuatan Senior yang sebenarnya?'
Di sisi lain, Xu Ming sama sekali tidak sadar bahwa satu ayunan ranting yang menurutnya biasa saja telah mengubah pandangan dua kultivator dari Sekte Awan Hijau untuk selamanya.
Bersambung...
terbaik/Facepalm/