NovelToon NovelToon
Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Kebahagiaan Setelah Bercerai Denganmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: E.N Viana

Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.

Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.

Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.

Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Tuan yang Kehilangan Kendali

Aroma kopi yang berpadu dengan wangi bunga lily segar memenuhi setiap sudut ruangan Kinan’s Blossom & Bakery. Di lantai dua ruko tersebut, di sebuah ruang kerja berinterior kayu yang hangat, Kinanti duduk tegap di belakang meja kerjanya. Penampilannya tampak teramat sangat elegan. Dia mengenakan gaun hamil modern berwarna pastel yang dipadukan dengan blazer putih tanpa lengan, memberikan kesan seorang wanita karier yang anggun, mandiri, dan berwibawa.

Di hadapannya, beberapa dokumen laporan keuangan bulanan kafe dan laporan pasokan gabah dari pabrik beras di desa tertata rapi. Kinanti membubuhi tanda tangannya di atas lembar berkas dengan coretan pena yang tegas tanpa ragu sedikit pun.

Tidak ada lagi bayang-bayang gadis desa yang selalu meragukan keputusannya sendiri. Rasa dikhianati dan dibohongi oleh pria yang paling dia percayai telah menempa Kinanti menjadi sosok wanita yang berdiri kokoh di atas kakinya sendiri. Dia tidak perlu memohon perhatian Baskara, dia tidak perlu berteriak menuntut keadilan, dan dia tidak lagi menggantungkan kebahagiaan hidupnya maupun janin di kandungannya pada belas kasih keluarga Dirgantara.

"Nyonya Muda..." panggilan pelan dari Bi Asih yang khusus diminta Kinanti mendampinginya di kafe memecah keheningan ruangan.

Kinanti mendongak, menyunggingkan senyum tipis yang anggun. "Ada apa, Bi?"

"Di bawah... ada Pak Joko dari kantor pusat," ucap Bi Asih ragu-ragu. "Beliau menyampaikan pesan dari Pak Baskara. Katanya Pak Baskara ingin Nyonya Muda membatalkan semua janji siang ini karena beliau ingin mengajak Nyonya memeriksa kandungan ke dokter spesialis langganan di Rumah Sakit Pusat jam dua nanti."

Mendengar nama Baskara, raut wajah Kinanti sama sekali tidak berubah. Tidak ada kilat kerinduan atau kebahagiaan yang dulu selalu terpancar setiap kali suaminya memberikan perhatian. Tatapan mata Kinanti tetap sedingin es.

"Sampaikan pada Joko, aku tidak bisa," jawab Kinanti datar, suaranya tenang tanpa nada emosi. "Hari ini jadwal kontrol kandunganku memang ada, tapi aku sudah membuat janji dengan dokter wanita di rumah sakit lain sejak minggu lalu. Dan aku akan pergi sendiri diantar supir kafe."

Bi Asih menghela napas pelan, bisa merasakan ketegangan yang teramat pekat. "Tapi Nyonya... Pak Baskara bilang beliau sendiri yang akan menjemput ke sini..."

"Katakan padanya, tidak usah repot-repot," potong Kinanti tegas namun tanpa menaikkan nada suaranya. "Beliau adalah pria yang sangat sibuk dengan 'urusan luar'-nya. Aku tidak ingin mengganggu waktu berharganya. Bi Asih bisa kembali ke bawah."

Kata-kata tenang yang sarat akan penolakan mutlak itu menyiratkan pesan yang sangat jelas,Kinanti telah menutup pintu bagi Baskara untuk mencampuri urusan pribadinya dan calon bayinya.

Sementara itu, di dalam mobil mewah yang sedang membelah kemacetan jalanan kota menuju ruko kafe Kinanti, Baskara menatap layar ponselnya dengan rahang yang mengeras rapat.

Pesan balasan dari Joko yang menyampaikan penolakan Kinanti baru saja masuk.

“Pak, Nyonya Muda menolak didampingi. Nyonya bilang beliau sudah janji dengan dokter lain dan berangkat sendiri. Nyonya juga minta Bapak tidak usah datang ke kafe.”

Baskara meremas ponsel di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa cemas, marah pada diri sendiri, dan ketakutan akan kehilangan yang mendalam bergejolak hebat di dalam dada sang tuan pemaksa. Selama hidupnya, tidak ada satu pun orang yang berani menolak perintahnya apalagi mengabaikan keberadaannya secara terang-terangan seperti ini.

 Namun kini, istri kecil yang dulu selalu menatapnya dengan binar kepatuhan dan kepasrahan, justru memperlakukannya seperti angin lalu.

Baskara merasa kehilangan kendali secara utuh atas hidupnya sendiri.

Di tengah gejolak emosi yang membakar pikirannya, ponsel Baskara kembali bergetar. Kali ini panggilan telepon langsung dari Valerie. Baskara mengusap layarnya dengan kasar dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya dengan nada bicara yang tidak sabar.

"Ada apa lagi, Val? Aku sedang ada urusan penting," tegur Baskara berat.

Di seberang telepon, suara Valerie terdengar mendesah lemah dan tersendat-sendat oleh isak tangis yang memilukan—sebuah akting manipulatif yang telah ia rancang dengan sangat rapi. "Bas... maafkan aku... aku pusing sekali, pandanganku gelap... tadi aku mencoba mengambil air di dapur tapi aku jatuh... kaki dan tanganku sakit sekali, Bas... tolong aku..."

Mendengar rengekan dan rintihan itu, naluri perlindungan Baskara kembali terpicu oleh rasa bersalah masa lalu, meskipun dalam hatinya ada rasa enggan yang teramat sangat. Pria itu menggeram rendah, dilanda dilema yang menyiksa. Di satu sisi, dia ingin meluncur deras ke kafe Kinanti untuk mengejar istrinya dan menuntut penjelasan atas sikap dingin wanita itu; namun di sisi lain, bayang-bayang 'tanggung jawab' dan rasa tidak tega pada Valerie menariknya ke arah yang berbeda.

"Bertahanlah. Aku ke sana sekarang," ucap Baskara akhirnya dengan nada terpaksa, memilih untuk memutar balik arah mobilnya menuju gedung apartemen mewah Valerie. Sebuah keputusan salah yang kian menuntunnya masuk ke dalam lubang jebakan yang lebih dalam.

Tiba di unit apartemen mewah lantai dua belas, Baskara langsung membuka pintu dengan kartu akses yang ia pegang. Dia melangkah masuk dengan wajah tegang.

Di dalam ruangan yang remang-remang dengan gorden tertutup rapat, Valerie tampak terbaring di atas sofa dengan jubah tidur sutra yang sengaja disingkap sedikit, memperlihatkan bahu dan sebagian paha mulusnya. Wajahnya dipoles sedikit pucat dengan riasan tipis agar terkesan benar-benar sakit.

"Bas... kamu datang..." bisik Valerie dengan nada suara yang dibuat sangat lemah. Begitu Baskara mendekat dan membungkuk untuk memeriksa kondisinya, Valerie dengan cepat melingkarkan kedua lengan mulusnya di leher tegap Baskara, menarik tubuh pria itu agar mendekat ke dadanya.

Baskara tersentak. Bau parfum menyengat yang sangat kuat dari tubuh Valerie seketika menusuk indra penciumannya—aroma yang sama yang dibenci oleh Kinanti semalam. Baskara mencoba melonggarkan cengkeraman tangan Valerie pada lehernya. "Valerie, lepas. Jika kamu sakit, aku akan panggilkan dokter pribadi sekarang juga ke sini."

"Tidak mau dokter, Bas... aku hanya butuh kamu di sini... Tolong jangan tinggalkan aku lagi seperti dulu..." ratap Valerie, semakin mengeratkan pelukannya dan menyurukkan wajahnya di dada bidang Baskara.

Di saat yang bersamaan, tanpa disadari oleh Baskara yang sedang berusaha melepaskan diri dari gelayutan Valerie, ponsel pintar milik Valerie yang diletakkan tertelungkup di atas meja samping sofa sedang menyala. Layar ponsel itu menampilkan moda kamera tersembunyi yang sedang merekam seluruh adegan mesra dan posisi kompromistis mereka berdua dari sudut yang teramat presisi.

Valerie menyunggingkan senyum licik yang teramat tipis di balik bahu Baskara. Foto dan rekaman video ini adalah senjata utama yang sedang ia kumpulkan. Sebuah amunisi beracun yang akan ia gunakan untuk menghancurkan sisa-sisa kepercayaan Kinanti, memaksa wanita hamil itu untuk pergi selamanya, sehingga dirinya bisa bertengger manis sebagai Nyonya Besar Dirgantara yang baru.

Pukul lima sore, Kinanti baru saja selesai menjalani pemeriksaan kandungan di Rumah Sakit Ibu dan Anak. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa janin di dalam kandungannya tumbuh sangat sehat dan aktif, membuat sedikit beban di dadanya terangkat.

Saat Kinanti sedang berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju mobil jemputannya, sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor tidak dikenal bergetar di ponselnya.

Kinanti menghentikan langkah kakinya di dekat pilar besar. Dia membuka pesan tersebut.

Tidak ada tulisan apa pun di dalam pesan itu. Hanya ada sebuah lampiran foto beresolusi tinggi.

Jantung Kinanti seketika berhenti berdetak untuk beberapa detik. Matanya membelalak sempurna, menatap layar ponselnya yang menampilkan gambar Baskara sedang berada di dalam sebuah kamar apartemen mewah, dalam posisi menunduk memeluk seorang wanita berambut cokelat gelombang yang mengenakan pakaian terbuka di atas sofa.

Dunia di sekitar Kinanti seolah runtuh seketika. Seluruh persendian di tubuhnya terasa melorot lemas, dan napasnya tertahan di tenggorokan. Dugaannya selama ini, rasa curiganya setiap malam, dan aroma parfum asing di kemeja suaminya—segalanya kini telah terbukti secara telanjang dan nyata di depan matanya sendiri.

Kinanti perlahan memegangi perut buncitnya dengan tangan yang gemetar hebat. Setitik air mata dingin lolos dari sudut matanya, membasahi pipinya yang pucat. Namun, tangisan itu tidak berlangsung lama. Kinanti mengusap air mata itu dengan sangat kasar hingga tak tersisa.

Rasa sakit yang teramat sangat itu kini telah berubah menjadi kepastian yang bulat di dalam benaknya. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi ruang untuk maaf, dan tidak ada lagi alasan untuk bertahan di rumah yang penuh dengan kebohongan.

Kinanti menggenggam ponselnya dengan kuat, menatap lurus ke depan dengan tatapan mata yang teramat dingin, tajam, dan penuh ketegasan mutlak. Waktunya telah tiba bagi sang anggrek gunung untuk mengepakkan sayapnya, meninggalkan sang tuan pemaksa bersama puing-puing kebohongannya sendiri.

Hujan deras mengguyur kota sejak petang, menyapu kaca-kaca jendela kediaman Dirgantara dengan suara gemuruh yang mencekam. Suasana di dalam rumah utama terasa begitu dingin dan pekat, bagai sebuah ruang eksekusi yang tinggal menunggu ketukan palu terakhir.

Pukul delapan malam, Baskara melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah terburu-buru. Wajah pria matang itu amat sangat pucat dan gelisah. Hatinya tidak tenang sepanjang hari. Perasaan bersalah, bayang-bayang wajah dingin Kinanti, serta rasa tidak nyaman setelah meninggalkan apartemen Valerie membuat dadanya terasa sesak seolah dihantam bongkahan batu besar.

Namun, begitu Baskara menginjakkan kaki di ruang tamu utama, langkah kakinya seketika terhenti kaku.

Di tengah ruangan yang megah itu, Kinanti sedang berdiri dengan anggun di samping dua buah koper besar berwarna hitam yang sudah terkemas rapi. Gadis desa itu mengenakan gaun hamil simpel berwarna gelap, dipadu dengan selendang yang melingkar cantik di bahunya. Tidak ada raut wajah histeris, tidak ada mata sembap penuh air mata. Wajah Kinanti bersih, tenang, dan matanya memancarkan sinar keberanian yang teramat dingin dan tajam.

Di sofa ruang tamu, Juragan Ramli dan Pengacara Ikhsan sudah duduk dengan wajah yang teramat tegang dan murka. Natasha juga ada di sana, berdiri tepat di samping Kinanti dengan sepasang mata remaja yang menatap papanya penuh rasa kecewa yang mendalam.

"Kinanti... apa-apaan semua ini?" tanya Baskara, suaranya bergetar berat. Pria itu mencoba melangkah mendekat untuk mengikis jarak di antara mereka. "Koper siapa ini? Mau ke mana kau?"

"Jangan mendekat satu langkah pun, Mas Baskara," potong Kinanti dengan suara yang begitu tenang, jernih, dan bernada komando yang tak terbantahkan. Untuk pertama kalinya, Kinanti memanggil suaminya dengan sebutan 'Mas' secara terbuka namun sebutan itu tidak lagi terdengar manis, melainkan seperti bilah pisau yang dingin dan tajam.

Baskara terpaku di tempatnya, dadanya bergemuruh hebat.

Kinanti perlahan meraih tas genggamnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal, lalu melemparkannya ke atas meja kaca di tengah ruangan dengan dentuman pelan namun tegas.

"Buka dan nikmati karya indah dari wanita masa lalumu,ucap Kinanti datar.

Dengan tangan yang gemetar hebat dan jantung yang berdegup kencang, Baskara mendekati meja. Dia membuka amplop cokelat tersebut. Di dalamnya terdapat belasan lembar foto beresolusi tinggi yang memperlihatkan adegan mesra dirinya bersama Valerie di sofa apartemen tadi siang. Sudut pengambilannya diatur sedemikian rupa hingga membuat Baskara terlihat seolah-olah sedang memeluk dan mencium Valerie dengan penuh gairah.

Seketika, darah di seluruh tubuh Baskara terasa membeku. "Ini... ini tidak seperti yang kau pikirkan, Kinanti! Ini jebakan! Aku hanya... dia tadi mengaku sakit dan—"

"Cukup, Mas!" sela Kinanti, mengangkat sebelah tangannya ke udara. Senyuman tipis yang teramat sinis dan dingin mengembang di bibirnya. "Jangan merendahkan harga dirimu sendiri dengan kebohongan murah yang semakin memuakkan. Kau bilang foto ini jebakan? Ya, tentu saja itu jebakan dari wanita yang sengaja kau pelihara di apartemen mewah menggunakan uangmu sendiri!"

Baskara tak sanggup bersuara. Bibirnya terkunci rapat, dilanda rasa panik dan keputusasaan yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.

"Aku sudah diam saat kau pulang larut malam," lanjut Kinanti, melangkah satu titik lebih dekat, menatap lurus ke dalam manik mata Baskara yang kini kehilangan seluruh wibawanya. "Aku sudah menahan diri saat mendapati aroma parfum murahnya di kemejamu. Dan aku sudah bersabar saat kau membohongiku soal gelang berlian itu. Tapi foto ini... foto ini adalah bukti bahwa kau telah menginjak-injak pernikahan ini, menginjak harga diriku, dan mengabaikan janin yang ada di dalam kandunganku!"

Kinanti menyentuh perut buncitnya dengan lembut, lalu kembali menatap Baskara dengan tatapan yang penuh penegasan mutlak.

"Dulu kau membawaku ke rumah ini sebagai gadis desa yang polos, yang bisa kau atur dan kau paksa sesuai keinginanmu. Tapi hari ini, aku berdiri di sini sebagai seorang ibu yang memegang penuh hak atas hidup dan anaknya! Mulai detik ini, aku kembalikan seluruh fasilitas Dirgantara padamu. Aku tidak butuh hartamu, aku tidak butuh kemewahanmu!"

Dari dalam tasnya, Kinanti mengeluarkan sepucuk surat bertuliskan tangan dan meletakkannya tepat di atas foto-foto haram tersebut.

"Itu surat gugatan cerai dan pernyataan pelepasan hak asuh anak. Kau bisa menandatanganinya besok melalui Pengacara Ikhsan," ucap Kinanti dingin.

"Kinanti! Tidak! Aku tidak akan pernah menandatangani surat cerai itu! Kau istriku! Anak di dalam kandunganmu adalah darah dagingku!" teriak Baskara, emosinya meledak. Pria tegap itu, mencoba menggapai jemari istrinya dengan keputusasaan yang teramat sangat. "Tolong, kinan... dengarkan aku dulu... aku salah... aku bersumpah demi Tuhan aku tidak pernah menyentuhnya seperti di foto itu! Jangan pergi, aku mohon!"

Kinanti menarik kakinya ke belakang, menghindari sentuhan tangan Baskara. "Penyesalanmu sudah terlambat, Mas Baskara. Kepercayaanku padamu sudah mati."

Juragan Ramli berdiri dari sofanya, menatap putra tunggalnya dengan pandangan paling kecewa. "Kau sudah menghancurkan berkah terbesar dalam hidupmu sendiri, Baskara. Jangan kejar Kinanti jika kau masih punya sedikit rasa malu sebagai laki-laki."

Natasha melangkah mendekati Kinanti, membantu memegang salah satu koper. "Aku ikut Tante Kinan, Papi. Aku malu punya Papi yang pembohong seperti Papi," ucap Natasha tajam sebelum berbalik pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!