NovelToon NovelToon
PERMAINAN TAKDIR

PERMAINAN TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Nourayl

Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.

Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.

Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.

Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.

Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.

Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.

Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permainan Terakhir

Pintu baja di ujung lorong terbuka perlahan.

Suara gesekan logam menggema di seluruh laboratorium tua.

Niel dan Aluna saling berpandangan.

Tidak ada lagi keraguan di mata mereka.

Mereka sudah berjalan terlalu jauh untuk kembali.

"Ayo."

Niel mengulurkan tangannya.

Tanpa ragu, Aluna menggenggamnya.

Mereka melangkah masuk.

Di belakang mereka, Darren, Adrian, dan ayah Niel mengikuti dengan waspada.

Namun Leon hanya berdiri di depan pintu.

Tatapannya mengawasi mereka tanpa sepatah kata.

Seolah ia sudah mengetahui apa yang akan terjadi.

__________________________________________

Ruangan terakhir jauh berbeda dari laboratorium sebelumnya.

Tidak ada meja penelitian.

Tidak ada tabung kaca.

Tidak ada alat medis.

Yang ada hanyalah sebuah aula luas berbentuk lingkaran.

Di tengahnya berdiri sebuah pilar hitam setinggi dua meter.

Di atas pilar itu terdapat sebuah bola kaca yang memancarkan cahaya kebiruan.

Cahaya itu berdenyut perlahan.

Seperti jantung yang masih hidup.

"Apa itu?"

bisik Aluna.

Adrian menghela napas.

"Itulah Origin."

Semua orang terdiam.

"Bukan sebuah program."

"Bukan sebuah dokumen."

"Melainkan pusat dari seluruh sistem Proyek Takdir."

Niel mengernyit.

"Maksudmu... semua penelitian dikendalikan oleh benda itu?"

Adrian mengangguk pelan.

"Seluruh data."

"Seluruh rekaman."

"Seluruh hasil penelitian."

"Semuanya tersimpan di sana."

___________________________________________

Niel mendekati pilar itu.

Namun sebelum sempat menyentuhnya...

suara elektronik menggema.

"AKSES DITOLAK."

Cahaya biru berubah menjadi merah.

Lalu sebuah suara perempuan terdengar.

"Verifikasi Subjek Pertama."

Semua orang membeku.

Suara itu terdengar begitu nyata.

Namun tidak ada seorang pun di ruangan itu.

Niel melangkah maju.

"Aku Niel Arvandra."

Beberapa detik berlalu.

Kemudian sistem kembali berbicara.

"IDENTITAS DITERIMA."

"MENUNGGU VERIFIKASI SUBJEK A-07."

Semua mata beralih kepada Aluna.

Gadis itu menarik napas panjang.

Lalu melangkah ke samping Niel.

"Aluna."

Beberapa detik hening.

Lalu cahaya biru kembali memenuhi ruangan.

"VERIFIKASI BERHASIL."

Pilar hitam perlahan terbuka menjadi dua bagian.

Di dalamnya...

tersimpan sebuah kotak logam kecil.

_____________________________________

Niel mengambil kotak itu perlahan.

Tidak berat.

Namun entah mengapa...

ia merasa seolah sedang memegang seluruh masa lalunya.

Kotak itu hanya memiliki satu tombol.

Dan sebuah tulisan.

"Hanya untuk mereka yang memilih."

Aluna membacanya pelan.

"Memilih..."

Niel menatap ayahnya.

"Apa ini?"

Pria itu menjawab dengan jujur.

"Aku tidak tahu."

Semua langsung menoleh.

"Kau tidak tahu?"

Ayah Niel menggeleng.

"Origin selalu berada di luar kendali kami."

"Kami hanya membangun proyek di sekelilingnya."

Kalimat itu membuat Darren mengernyit.

"Jadi selama ini..."

"Kalian bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya kalian teliti?"

Adrian menjawab pelan,

"Itulah kesalahan terbesar kami."

_________________________________________

Tiba-tiba Leon melangkah masuk ke tengah ruangan.

"Jangan tekan tombol itu."

Niel menatapnya.

"Kenapa?"

Leon tidak menjawab.

Tatapannya tertuju pada kotak logam.

"Karena setelah itu..."

"Tidak akan ada jalan kembali."

Aluna menggenggam lengan Niel.

"Niel."

Pria itu menoleh.

"Kamu percaya dia?"

Niel terdiam.

Tidak.

Dia tidak percaya Leon.

Tapi dia juga tahu...

Leon tidak pernah berbicara tanpa alasan.

_____________________________________

Sebelum siapa pun sempat mengambil keputusan...

seluruh ruangan bergetar hebat.

Lampu berkedip.

Pilar kembali menyala.

Namun kali ini bukan warna biru.

Melainkan putih.

Begitu terang hingga semua orang harus menutup mata.

Suara sistem kembali terdengar.

Namun kali ini berbeda.

Lebih hangat.

Lebih manusiawi.

"Selamat datang, Niel."

"Selamat datang, Aluna."

"Aku telah menunggu kalian selama delapan belas tahun."

Napas Niel tertahan.

"Itu..."

Aluna menggenggam tangannya semakin erat.

Karena mereka berdua mengenali suara itu.

Suara seorang perempuan.

Suara yang selama ini hanya muncul samar dalam mimpi mereka.

Suara yang selalu berkata...

"Jangan takut. Pegang tangan satu sama lain."

Dan untuk pertama kalinya...

Niel mengingat wajahnya.

"Itu..."

bisiknya dengan mata berkaca-kaca.

"Ibu..."

Bersambung.......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!