Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: JEJAK PERTAMA DI TANAH BORNEO
Langkah Rangga berhenti di depan area penjemputan terminal kedatangan. Tangannya masih menggenggam erat gagang koper, sementara pandangannya menyapu keramaian di sekelilingnya. Orang-orang datang silih berganti, sebagian berpelukan dengan keluarga yang telah lama menunggu, sebagian lagi bergegas mengejar jadwal perjalanan berikutnya.
Di antara kerumunan itu, berjejer puluhan papan nama yang diangkat tinggi-tinggi. Nama perusahaan perkebunan, kontraktor tambang, hingga perusahaan logistik memenuhi pandangan. Hampir seluruhnya menunggu tamu dari luar daerah yang datang membawa kepentingan masing-masing.
Rangga mengeluarkan telepon genggam dari saku celananya. Sebuah pesan terakhir dari Pak Dimas masih terpampang di layar.
"Setibanya di bandara, Mas Rangga akan dijemput oleh perwakilan kami. Namanya Pak Panji. Beliau sudah mengetahui jadwal penerbangan Mas."
Ia mengangguk pelan, lalu memasukkan kembali ponselnya.
Belum sempat melangkah lebih jauh, seorang pria paruh baya melambaikan tangan dari balik kerumunan.
"Mas Rangga?"
Suara berat itu membuat Rangga menoleh.
Pria tersebut berjalan mendekat dengan langkah mantap. Tubuhnya tegap, kulitnya legam terbakar matahari, sementara kemeja safari cokelat yang dikenakannya tampak rapi meski menunjukkan bekas pemakaian di lapangan. Di wajahnya tergambar senyum ramah yang memancarkan ketegasan seorang pekerja berpengalaman.
"Betul, Pak. Saya Rangga."
Pria itu segera mengulurkan tangan.
"Selamat datang di tanah Borneo, Mas Rangga. Saya Panji. Dari tim manajemen proyek PT Aruna Karya Nusantara."
Jabat tangan mereka berlangsung singkat, tetapi cukup kuat untuk memperlihatkan karakter masing-masing.
"Perjalanan lancar?" tanya Pak Panji.
"Alhamdulillah, lancar, Pak."
"Syukurlah. Barang bawaannya sudah lengkap semua?"
"Sudah."
Pak Panji mengangguk puas.
"Kalau begitu kita langsung berangkat saja. Perjalanan menuju mes cukup jauh. Kalau terlalu sore, beberapa ruas jalan biasanya mulai dipenuhi kendaraan proyek."
Rangga mengikuti langkah pria itu menuju area parkir.
Begitu pintu otomatis terminal terbuka, hawa hangat langsung menyelimuti tubuhnya. Tidak menyengat, tetapi berbeda dengan udara Jakarta yang padat oleh asap kendaraan. Aroma tanah yang lembap berpadu dengan wangi dedaunan yang terbawa angin membuat napasnya terasa lebih panjang.
Untuk sesaat, ia menghentikan langkah.
Pandangan Rangga terarah ke langit yang membentang luas tanpa dihimpit gedung-gedung pencakar langit.
Entah mengapa, dadanya terasa sedikit lebih lega.
Seolah-olah pulau ini menyambutnya dengan cara yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata.
"Pertama kali ke Kalimantan, ya, Mas?" tanya Pak Panji sambil tersenyum tipis.
"Iya, Pak."
"Biasanya memang begitu. Hampir semua orang yang pertama datang akan diam beberapa saat. Katanya udaranya terasa berbeda."
Rangga tersenyum kecil.
"Mungkin karena saya terlalu lama tinggal di Jakarta."
Pak Panji terkekeh pelan.
"Nanti Mas akan lebih merasakannya lagi kalau sudah masuk pedalaman."
Mereka terus berjalan hingga tiba di sebuah mobil kabin ganda berwarna hitam yang telah dipenuhi lapisan debu kemerahan pada bagian roda dan bodinya. Lumpur yang mengering di sela-sela ban menjadi pertanda bahwa kendaraan itu lebih sering melintasi jalan tanah daripada aspal kota.
Pak Panji membuka pintu belakang.
"Silakan taruh koper di sini."
Rangga mengangkat kopernya ke bak belakang bersama beberapa perlengkapan proyek yang sudah lebih dulu berada di sana. Selain koper, tampak gulungan peta, kotak peralatan survei, jeriken bahan bakar cadangan, serta beberapa peti logistik yang diikat kuat menggunakan tali pengaman.
"Sering bolak-balik ke lokasi, Pak?" tanya Rangga sambil membantu merapikan barang.
"Hampir setiap minggu."
Pak Panji menepuk salah satu peti kayu.
"Kalau proyek sudah masuk tahap pembangunan, jalan pulang itu kadang terasa lebih jauh daripada jalan berangkat."
Rangga mengangguk memahami.
Ia mulai menyadari bahwa proyek yang akan ditanganinya bukan pekerjaan biasa.
Ini bukan sekadar mencetak spanduk atau dokumen seperti yang selama ini ia kerjakan di Jakarta.
Di sini, setiap keterlambatan bisa memengaruhi pekerjaan banyak orang.
Setelah memastikan seluruh barang tersusun rapi, Pak Panji menutup bak belakang.
"Nah... sekarang kita berangkat."
Rangga membuka pintu penumpang depan, lalu duduk sambil mengenakan sabuk pengaman.
Mesin mobil menyala dengan suara berat.
Perlahan kendaraan itu meninggalkan kawasan bandara, membawa Rangga semakin jauh dari kehidupan lamanya, menuju sebuah perjalanan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Mobil melaju meninggalkan kawasan bandara, membaur dengan arus kendaraan yang tidak seramai jalanan ibu kota. Di sepanjang sisi jalan, deretan bangunan pertokoan, rumah makan, bengkel, dan kantor jasa ekspedisi berdiri berjajar tanpa saling berhimpitan. Sesekali truk-truk bertonase besar melintas membawa alat berat, pipa baja, hingga muatan logistik menuju berbagai penjuru pedalaman.
Rangga memandangi semua itu melalui jendela.
Kalimantan ternyata tidak sepenuhnya seperti yang selama ini ia bayangkan. Ia sempat mengira pulau ini hanya dipenuhi hutan lebat. Kenyataannya, kota tempat ia mendarat terus bergerak mengikuti denyut pembangunan. Meski begitu, nuansanya tetap terasa berbeda. Langit tampak lebih luas, pepohonan tumbuh di banyak sudut, dan gedung-gedung tinggi nyaris tidak mendominasi pandangan.
"Masih sempat melihat kota," ujar Pak Panji sambil mengendalikan kemudi. "Nanti setelah keluar dari sini, pemandangannya mulai berubah."
Rangga mengangguk.
"Lokasi proyeknya jauh sekali, Pak?"
"Cukup jauh."
Pak Panji melirik penunjuk bahan bakar, lalu kembali memusatkan perhatian ke jalan.
"Kalau cuaca bersahabat, sekitar lima sampai enam jam. Tapi kalau hujan deras turun semalaman, jangan kaget kalau bisa lebih lama."
"Lima sampai enam jam?"
Rangga spontan menoleh.
Pak Panji tersenyum melihat raut wajah tamunya.
"Baru juga mulai, Mas."
Keduanya tertawa pelan.
Beberapa menit kemudian, kawasan perkotaan mulai tertinggal di belakang. Jalan raya berubah menjadi lintasan panjang yang membelah hamparan hijau tanpa putus. Pepohonan tinggi berdiri rapat di kedua sisi jalan, membentuk lorong alami yang sesekali membiarkan cahaya matahari menembus celah-celah daunnya.
Rangga menurunkan sedikit kaca jendela.
Hembusan angin langsung menerpa wajahnya.
Udara yang masuk terasa sejuk meski matahari sedang bersinar terik. Aroma dedaunan basah bercampur tanah merah memenuhi rongga dadanya.
Tanpa sadar, ia menarik napas panjang.
Rasanya berbeda.
Tidak ada bau asap knalpot.
Tidak ada hawa panas yang memantul dari beton.
Yang terdengar hanya desir angin, gesekan dedaunan, dan suara ban mobil yang sesekali menghantam permukaan jalan.
"Mas suka suasana seperti ini?" tanya Pak Panji.
"Suka."
Jawaban Rangga keluar tanpa berpikir panjang.
"Tenang sekali."
Pak Panji tersenyum tipis.
"Ketenangan itu ada harganya."
"Maksudnya, Pak?"
"Kalau sudah masuk kawasan proyek nanti, waktu terasa berjalan lebih cepat. Orang-orang di sana bekerja dari pagi sampai malam. Kadang baru sadar hari berganti setelah melihat matahari terbit lagi."
Rangga tersenyum kecil.
Ucapan itu mengingatkannya pada pesan Pak Dimas beberapa waktu lalu.
Proyek ini bukan sekadar peluang bisnis.
Ini adalah ujian untuk membuktikan apakah usahanya benar-benar siap berkembang ke tingkat yang lebih besar.
Mobil terus melaju.
Sesekali mereka berpapasan dengan kendaraan perusahaan yang membawa pekerja menuju lokasi berbeda. Beberapa truk tangki melintas dengan kecepatan sedang, disusul kendaraan pengangkut alat berat yang dikawal mobil pengaman.
"Semua proyek di sekitar sini saling terhubung, ya, Pak?" tanya Rangga.
"Betul."
Pak Panji mengangguk.
"Perkebunan, pertambangan, pembangunan jalan, sampai kawasan industri. Kalau satu jalur logistik terganggu, yang lain ikut terdampak."
"Itu sebabnya kebutuhan percetakan juga besar?"
"Persis."
Pak Panji melirik Rangga sambil tersenyum.
"Mas nanti bukan cuma mencetak spanduk."
"Dokumen proyek, peta kerja, papan keselamatan, identitas pekerja, formulir inspeksi, sampai kebutuhan administrasi harian. Semua harus cepat dan tepat. Kesalahan kecil saja bisa menghambat pekerjaan satu divisi."
Rangga mulai memahami mengapa Pak Dimas begitu serius ketika menawarkan kerja sama ini.
Apa yang akan ia bangun di Kalimantan bukan cabang usaha biasa.
Ia sedang memasuki dunia yang memiliki ritme, tekanan, dan tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada ruko kecilnya di Jakarta.
Perjalanan terus berlanjut.
Langit perlahan berubah semakin cerah.
Di kejauhan, hamparan hutan membentang seperti lautan hijau yang seolah tidak memiliki ujung.
Rangga memandang lurus ke depan.
Semakin jauh mobil melaju meninggalkan kota, semakin kuat perasaan bahwa setiap kilometer yang dilewatinya bukan sekadar menambah jarak dari Jakarta.
Perjalanan ini perlahan sedang mengubah dirinya.
Perjalanan memasuki jam ketiga ketika kondisi jalan mulai berubah. Aspal hitam yang sejak tadi membentang mulus perlahan berganti menjadi jalan berlapis batu keras. Di beberapa titik, permukaannya bergelombang akibat sering dilalui kendaraan bertonase besar. Mobil kabin ganda yang mereka tumpangi berguncang pelan setiap kali melewati cekungan.
Rangga spontan meraih pegangan di atas pintu.
Pak Panji terkekeh melihat reaksinya.
"Baru pemanasan, Mas."
"Kalau ini baru pemanasan..." Rangga tersenyum sambil menggeleng pelan. "Saya mulai penasaran seperti apa jalur utamanya."
"Nanti juga tahu sendiri."
Pak Panji memperlambat laju kendaraan ketika sebuah truk pengangkut alat berat melintas dari arah berlawanan. Debu kemerahan beterbangan, sesaat menutupi pandangan mereka sebelum kembali menghilang terbawa angin.
Beberapa kilometer kemudian, hamparan hutan kembali mendominasi pemandangan.
Pepohonan raksasa berdiri menjulang, seakan menjadi penjaga alam yang telah hidup jauh sebelum jalan itu dibuka. Sulur-sulur tanaman liar menggantung di batang-batang tua, sementara suara serangga dan burung sesekali terdengar dari balik rimbunnya dedaunan.
Rangga menatap keluar jendela tanpa berkedip.
Ada sesuatu yang sulit dijelaskan setiap kali matanya menyapu bentangan alam itu.
Perasaan kecil.
Sekaligus kagum.
Jakarta mengajarkannya cara bertahan hidup di tengah hiruk-pikuk kota.
Namun, tanah yang kini ia pijak seolah mengingatkannya bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari alam yang begitu luas.
Pak Panji memecah keheningan.
"Mas tahu kenapa banyak orang gagal bertahan kerja di pedalaman?"
Rangga menggeleng.
"Karena mereka datang membawa cara berpikir kota."
"Maksud Bapak?"
"Mereka ingin semuanya cepat."
Pak Panji mengarahkan pandangannya lurus ke depan.
"Padahal di sini kita belajar mengikuti keadaan. Kalau hujan deras, jalan bisa tertutup. Kalau logistik terlambat, pekerjaan ikut bergeser. Kalau genset bermasalah, semua harus mencari solusi bersama. Di pedalaman, yang paling penting bukan siapa yang paling pintar."
Beliau berhenti sejenak.
"Tapi siapa yang paling mampu beradaptasi."
Kalimat itu menancap kuat di benak Rangga.
Ia tidak memberikan jawaban.
Hanya mengangguk pelan sambil menyimpan nasihat tersebut dalam hati.
Tak lama kemudian, mobil berbelok meninggalkan jalan utama.
Jalurnya kini lebih sempit.
Di kanan-kiri hanya tampak pepohonan tinggi yang sesekali diselingi area pembukaan lahan. Beberapa alat berat terlihat bekerja dari kejauhan, suaranya bergema samar di antara rimbunnya hutan.
Sekitar lima belas menit kemudian, Pak Panji menunjuk ke arah depan.
"Nah... kita sudah sampai."
Rangga mengikuti arah telunjuknya.
Di kejauhan tampak sebuah kawasan yang mulai dipenuhi aktivitas. Beberapa bangunan semi permanen berdiri berjajar. Kendaraan proyek keluar masuk membawa material, sementara para pekerja yang mengenakan rompi keselamatan hilir mudik dengan kesibukan masing-masing.
Di sisi lain kawasan itu, sebuah bangunan memanjang yang masih tampak sederhana berdiri tidak jauh dari gudang logistik.
"Itu mes karyawan."
Pak Panji kembali menunjuk.
"Sedangkan bangunan di sebelahnya akan menjadi tempat operasional percetakan yang nanti Mas kelola."
Mobil terus melaju hingga akhirnya berhenti di halaman berlapis tanah merah yang masih padat.
Mesinnya dimatikan.
Suasana mendadak berubah sunyi.
Yang terdengar hanya desir angin dan dengungan samar mesin alat berat dari kejauhan.
Rangga membuka pintu, lalu menapakkan kaki di atas tanah merah yang masih menyimpan hangat matahari siang.
Ia memandang sekeliling tanpa berkata apa pun.
Tidak ada gedung bertingkat.
Tidak ada papan reklame.
Tidak ada kebisingan kota.
Yang terbentang di hadapannya hanyalah kawasan proyek yang masih terus bertumbuh, dikelilingi bentangan alam yang seolah tidak memiliki ujung.
Untuk pertama kalinya sejak menerima tawaran dari PT Aruna Karya Nusantara, Rangga benar-benar memahami besarnya tanggung jawab yang kini berada di pundaknya.
Ia bukan lagi sekadar pemilik ruko percetakan di Jakarta.
Mulai hari ini...
Ia harus membuktikan bahwa usahanya mampu berdiri dan berkembang di tengah kerasnya pedalaman Borneo.
Pak Panji menepuk pelan bahu Rangga.
"Selamat datang di tempat perjuangan yang baru, Mas."
Rangga mengembuskan napas panjang.
Tatapannya kembali mengarah ke bangunan yang kelak menjadi pusat usahanya di tanah Borneo.
Lalu, dengan langkah mantap, ia berjalan mengikuti Pak Panji memasuki kawasan proyek.
Tanpa disadarinya, ujian pertama sudah menunggu tidak jauh dari sana.