Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. SBR
...~•Happy Reading•~...
Janet segera menghabiskan air mineral yang diberikan Reni. Dia jadi penasaran dengan issu yang dikatakan Reni. 'Apa ada yang tahu hubungan kami? Biarkan saja. Asal bukan aku yang sebar.' Bisik hati Janet, agar mengabaikan.
"Makasih, Ren. Besok-besok aku masuk pagi aja. Supaya gak payah seperti ini." Janet meletakan cangkir ke tempat cuci piring. "Tadi mau cerita apa, Ren?" Tanya Janet sambil lalu, seakan tidak terlalu tertarik akan issunya.
"Oh, iya. Kau tahu Nonya Valeri, kan?"
"Iya. Sekretaris boss. Ada apa?" Janet jadi bertanya santai, sebab tidak menyangkut dirinya.
"Yang aku bilang boss kita seperti rumah beruang kutub itu, benar. Beliau paku Nonya Valeri di kursinya. Jadi sekarang sudah gak bisa ke sana kemari perintah karyawan, terutama kita." Bisik Reni.
"Kau tahu dari mana?"
"Tadi aku masuk agak pagi, jadi ikut dengar bincang-bincang pagi karyawan di lobby." Reni makin berbisik.
"Oh, begitu. Mungkin yang dibilang lain lubuk lain ikannya, ya, itu. Lain pimpinan, lain kebijakannya. Jadi mari bekerja, jangan sampe kita dipaku juga di pantry." Ucap Janet sambil mencolek bahu Reni.
~▪︎▪︎
Di ruang kerja CEO yang luas dan mewah, Gevaro duduk diam ingat yang terjadi di lift. 'Mengapa gadis tadi menghindariku?' Gevaro heran dengan sikap Janet yang tidak seperti wanita muda pada umumnya, kalau bertemu dengannya. Hal itu menimbulkan rasa ingin tahu, siapa wanita yang berani menolak perintahnya.
"Jansen, panggil ke sini karyawan tadi yang tidak mau masuk lift."
"Karyawan yang tidak jadi masuk lift, Pak? Saya harus ke ruang keamanan untuk lihat cctv. Atau Pak Gevaro tahu dia di bagian mana?" Jensen heran dengan permintaan bossnya.
"Dia office girl. Tanya namanya dari Valeri. Bilang karyawan yang menumpahkan air kotor ke sepatu saya..." Gevaro menjelaskan, agar Jensen tidak bingung mencari.
"Baik, Pak." Jansen segera keluar ruangan untuk bicara dengan Valeri. Sedangkan Gevaro duduk bersandar di kursi kebesaran, sambil ingat kejadian di lift dan anak kecil di mobil yang memanggilnya Mama. 'Mengapa ini menggangguku? Siapa dia?' Gevaro bertanya dalam hati sambil berpikir.
Tidak lama kemudian, Jensen masuk bersama Janet. "Selamat pagi, Pak." Sapa Janet dengan nada sopan dan menunduk hormat.
Janet berdiri sambil menautkan jari, agar bisa fokus dan tidak terpengaruh dengan tatapan Gevaro yang seakan sedang menscan dia dari atas ke bawah. 'Apa dia sudah ingat aku?' Pertanyaan itu membuat Janet waspada, agar tidak terjebak. Dia ingat yang dikatakan Andri.
"Siapa namamu?" Tanya Gevaro dengan nada datar.
"Janet, Pak. Janet Mathilda." Janet mengatakan nama lengkap.
"Tadi mengapa menolak perintah saya masuk ke lift?" Janet sontak mengangkat kepala dengar pertanyaan Gevaro.
"Saya kira salah lift, Pak. Jadi secepatnya pindah." Janet mengatakan yang di pikirannya.
"Lain kali, turuti perintah saya." Ucap Gevaro masih bernada datar.
"Maaf, Pak. Kalau menyangkut pekerjaan, akan saya turuti." Janet menjawab dengan berani. Dia ingat yang dikatakan Andri, agar tidak terjebak. 'Kalau mau dipecat karna ini, aku ikhlas.' Janet berkata dalam hati.
Namun jawaban Janet membuat Gevaro menatapnya. Tidak ada lagi kemarahan, tapi keberanian. "Sekarang buatkan saya minuman." Perintah Gevaro.
"Baik, Pak." Janet menjawab tenang, sebab itu pekerjaannya.
"Berikan dua sachet padanya." Gevaro berkata kepada Jansen.
Jansen berdiri dan mengambil dua sachet kopi instan sambil bertanya dalam hati. 'Mengapa boss mau minumnya dibuat oleh office girl?' Jansen heran, sebab biasanya hanya dia yang diperbolehkan oleh bossnya.
"Ini dua sachet. Bikin satu saja. Satunya disimpan, mungkin dibutuhkan sewaktu-waktu." Ucap Jansen sambil memberikan dua sachet kopi instan.
"Baik, Pak. Terima kasih." Janet mengambil dengan kedua tangan. Tanpa disadari Janet, diam-diam Gevaro memperhatikan interaksinya dengan Jansen.
"Permisi, Pak." Janet berpamitan dengan sopan dan hormat sebagaimana kepada seorang pimpinan.
Setelah di luar ruangan, Janet menarik nafas panjang dan berjalan cepat ke pantry. 'Apa dia sedang mengetesku? Dia gak takut, kopinya aku luda'in?' Bisik hati Janet.
'Benar Mas Andri. Bersikaplah tidak mengenalnya. Padahal aku ingin menonjok mukanya.'
Kemudian Janet bekerja cepat, sesuai standar kerja menyediakan minuman bagi pejabat. Sambil memanaskan air, dia mencuci bersih dan melap kering cangkir yang diberikan Jansen.
Setelah selesai, Janet berjalan hati-hati ke ruangan Gevaro. "Hei, mau kemana?" Valeri mencegah sebelum Janet mendekati pintu ruangan kerja CEO.
"Mau antar minuman Pak Gevaro, Bu." Janet berkata sopan sambil menggerakan nampan di tangan.
"Kau berani menghadapnya langsung? Berikan pada saya." Valeri mengambil nampan dari tangan Janet.
"Terima kasih, Bu." Janet segera berbalik dengan hati senang. Sebab dia tidak akan berdiri kaku di depan Gevaro.
Setelah dipersilahkan masuk, Valeri berjalan mendekati meja Gevaro sambil membawa nampan. "Ini minumannya, Pak. Silahkan diminum." Valeri mempersilahkan dengan nada semanis madu.
"Kau membuat minuman buat saya?" Gevaro menatap tajam. Jansen terlambat menyadari situasi, untuk memberi peringatan kepada Valeri, agar tidak membuat minuman tanpa diminta.
"Iya, Pak. Sudah tugas saya sehari-sehari." Ucap Valeri yang mau mengambil hati.
"Lain kali, jangan berinisiatif. Saya sudah ingatkan, ikuti yang dikatakan asisten saya." Valeri terkejut. "Bawa keluar. Sudah ada yang sediakan." Ucap Gevaro sambil menggerakan tangan menyuruh keluar.
"Maaf, Pak. Minuman ini tadi diantar office girl." Valeri takut Janet ditelpon dan bilang kopi sudah diambil olehnya.
"Jadi minuman ini dibuat office girl?"
"Iya, Pak."
"Siapa yang suruh kau ambil darinya?"
"Saya kira itu masih tugas saya, Pak." Valeri coba memberikan alasan untuk menyelamatkan diri.
"Urus dia." Ucap Gevaro kepada Jensen. "Minta bikin minum lain." Gevaro melanjutkan.
"Baik, Pak." Jansen memberikan isyarat kepada Valeri keluar untuk dibriefing.
Tidak lama kemudian, Janet masuk membawa nampan berisi minuman yang baru. 'Untung dikasih dua sachet. Kalau gak, aku seperti setrikaan. Bolak-balik.' Janet membatin.
Namun ketika masuk, dia terkejut melihat nampan pertama ada di atas meja dan kopi belum disentuh. "Ini minumannya, Pak." Janet meletakan piring tatakan di depan Gevaro yang langsung diminum.
"Kau simpan sachet kopi di mana?" Tanya Gevaro setelah mencicipi.
"Dalam tas, Pak. Saya tidak letakan di lemari, karna khawatir ada yang ambil buat bikin minum..." Janet menjelaskan.
"Berikan lagi yang baru. Rasanya berubah." Ucap Gevaro kepada Jensen. Janet tercengang mendengar rasanya berubah. Padahal dia sudah berusaha bikin sesuai petunjuk.
'Apa dia gak tahu, aku harus pakai google translate untuk baca aturan pakai?' Janet mengomel dalam hati setelah berada di luar pintu.
"Oooh, ini maksudmu..." Valeri berjalan cepat mendekati Janet. "Jadi kemarin kau sengaja tumpahkan air kotor buat cari perhatian boss. Kau lagi carmuk dan mau menusukku dari belakang?" Valeri menuduh dengan nada sinis.
"Maaf, Bu. Saya tidak mengerti maksud ibu. Yang saya mengerti, sekarang harus bikin kopi lagi sebelum beliau melempar saya dengan cangkir kopi."
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~▪︎○¤○▪︎~...