Bagi Davina, Barra adalah cinta pertama masa kecil yang tiba-tiba menghilang. Sepuluh tahun berlalu tanpa kabar, Barra kembali ke desa, bukan lagi sebagai pemuda hangat yang ia kenal, melainkan pria asing yang dingin. Tanpa basa-basi, Barra menyodorkan penawaran gila: pernikahan kontrak.
Demi membiayai pengobatan neneknya, Davina terpaksa setuju. Namun, berharap bahagia, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Setelah menikah, Barra bersikap sangat kejam, hingga puncaknya pria itu pergi keluar negeri dan mengabaikannya selama dua tahun.
Saat masa kontrak hampir habis, Barra mendadak pulang. Anehnya, sikap pria itu berbalik 180 derajat menjadi sosok yang lembut, hangat, dan penuh perhatian, persis seperti Barra yang dulu ia cintai.
Perubahan drastis membuat Davina didera kecurigaan. Mengapa di saat kontrak akan berakhir, Barra justru ingin mempertahankannya? Rahasia besar apa yang sebenarnya disembunyikan Barra selama sepuluh tahun ini? Apa motif dibalik pernikahan kontrak mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SELAMAT DATANG DI NERAKA.
Sebuah rumah megah berarsitektur minimalis modern berdiri kokoh di kawasan elit ibu kota. Bagi Davina, bangunan dengan pilar-pilar tinggi dan dinding kaca yang mendominasi itu tidak tampak seperti sebuah tempat tinggal. Tempat itu lebih menyerupai sangkar emas yang dingin, mewah, namun sekaligus mencekam.
Setelah perjalanan panjang dari desa yang melelahkan, di sinilah Davina sekarang. Duduk terpaku di atas sofa kulit ruang tamu yang luas, sementara dua koper usangnya diletakkan begitu saja di dekat pintu masuk oleh asisten Barra. Semua biaya administrasi rumah sakit neneknya memang sudah dilunasi dalam sekejap mata, namun bayaran yang harus Davina tanggung baru saja dimulai.
"Biarkan koper-koper itu di sana. Pelayan yang akan memindahkannya nanti," suara bariton Barra memecah keheningan.
Pria itu berjalan masuk setelah melepas jas hitamnya, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka. Penampilannya tampak santai, namun aura intimidasi yang ia pancarkan sama sekali tidak berkurang.
Davina meremas jemarinya sendiri yang terasa dingin. "Lalu, di mana kamarku?"
Barra berjalan menuju meja bar di sudut ruangan, menuangkan air putih ke dalam gelas kaca sebelum berbalik menatap Davina dengan pandangan datar.
"Kamarmu ada di lantai dua, ujung koridor sebelah kiri. Kamar kita terpisah," jawab Barra lugas.
Davina mengembuskan napas lega yang cukup kentara. "Terima kasih. Aku menghargai privasi ini."
"Jangan senang dulu, Davina," potong Barra cepat. Ia berjalan mendekat, meletakkan gelasnya di atas meja dengan denting yang cukup keras. "Kamar kita memang terpisah karena aku tidak sudi berbagi ranjang denganmu. Tapi, ada beberapa aturan ketat di rumah ini yang wajib kamu patuhi selama dua tahun ke depan."
Davina mendongak, mencoba menantang sepasang mata elang pria itu. "Aturan apa lagi? Bukankah semuanya sudah tertulis jelas di dalam kontrak?"
"Di dalam kontrak hanya ada garis besarnya. Ini adalah aturan sehari-hari," kata Barra sembari mengeluarkan selembar kertas dari saku celananya dan melemparnya ke pangkuan Davina. "Pertama, jangan pernah menyentuh area pribadi atau ruang kerjaku. Kedua, dilarang ikut campur dalam urusan pribadiku, termasuk dengan siapa aku pergi atau pulang jam berapa."
Davina membaca poin-poin yang ditulis dengan ketikan rapi tersebut. Dadanya berdenyut agak nyeri saat membaca poin ketiga.
"Poin ketiga... dilarang ada kontak fisik dalam bentuk apa pun?" Davina membacanya keras-keras, lalu menatap Barra. "Kamu benar-benar menganggapku seperti wabah penyakit, ya?"
Barra mendengus sinis, senyuman meremehkan terukir di sudut bibirnya. "Aku hanya bersikap realistis. Pernikahan ini murni transaksi bisnis. Aku tidak ingin kamu salah paham dan berpikir bahwa pernikahan kontrak ini bisa berubah menjadi pernikahan sungguhan karena romansa masa kecil kita yang bodoh itu."
Kata-kata Barra terasa seperti tamparan keras yang telak mengenai harga diri Davina. Rasa hangat dan debaran yang sempat tersisa dari masa lalu seketika menguap, digantikan oleh rasa sesak yang menghimpit dada.
"Kamu tidak perlu memperingatkanku sampai sejauh itu, Barra," ucap Davina, suaranya mendadak berubah serak namun sebisa mungkin ia buat terdengar tegar. "Aku tahu diri. Aku sadar posisiku di sini hanya sebagai pajangan untuk syarat warisanmu."
"Bagus kalau kamu paham," sahut Barra dingin. "Satu hal lagi. Besok malam akan ada jamuan makan malam keluarga besar Alfarizi. Kamu harus berakting menjadi istri yang patuh dan penuh kasih sayang di depan media dan keluargaku. Jangan buat kesalahan yang bisa membatalkan kesepakatan kita."
Davina mengepalkan tangannya di atas pangkuan. "Aku bisa melakukannya. Tapi setelah itu, biarkan aku mengunjungi nenekku di rumah sakit."
"Tidak bisa," tolak Barra tanpa ragu.
"Kenapa?" Davina langsung berdiri dari sofanya, matanya berkilat marah. "Kamu sudah berjanji tidak akan membatasi kegiatanku selama tidak merugikanmu! Nenekku baru selesai operasi, aku harus melihat kondisinya!"
Barra melangkah maju, membuat Davina terpaksa mundur satu langkah hingga punggungnya membentur sandaran sofa. Pria itu menunduk, menatap Davina dari ketinggian dengan sorot mata yang begitu menusuk.
"Karena statusmu sekarang adalah istri dari Barra Alfarizi. Keluar masuk rumah sakit umum sendirian hanya akan memancing kecurigaan wartawan," desis Barra tepat di depan wajah Davina. "Jika kamu ingin tahu kondisi nenekmu, aku bisa menyuruh orang untuk mengirimkan laporan medisnya setiap minggu. Tapi untuk pergi ke sana, jawabannya adalah tidak."
Air mata Davina merebak di pelupuk matanya, namun ia sekuat tenaga menahannya agar tidak jatuh di depan pria kejam ini.
"Kamu benar-benar egois, Barra. Kamu berubah total," bisik Davina dengan nada bergetar penuh kekecewaan. "Di mana Barra yang dulu selalu membantuku saat aku menangis? Di mana pria yang berjanji akan menjagaku?"
Mendengar ucapan itu, rahang Barra tampak mengeras. Ada kilatan emosi yang melintas cepat di matanya, namun dalam sekejap mata, ekspresi itu kembali tertutup oleh topeng sedingin es yang angkuh.
"Barra yang kamu maksud sudah mati sepuluh tahun yang lalu, Davina," jawab Barra dengan suara yang rendah dan tajam. "Pria yang ada di depanmu sekarang adalah pria yang membeli kebebasanmu dengan uang ratusan juta. Jadi, patuhi aturanku jika kamu ingin nenekmu tetap mendapatkan perawatan terbaik di rumah sakit itu."
Setelah melontarkan kalimat ancaman yang sangat kejam itu, Barra berbalik badan. Ia melangkah pergi meninggalkan ruang tamu tanpa memedulikan Davina yang kini berdiri gemetar menahan tangis yang akhirnya pecah tanpa suara.
Davina menatap punggung tegap pria itu yang perlahan menghilang di balik tangga lantai dua. Di rumah semegah ini, ia merasa menjadi makhluk paling kesepian dan tak berarti. Cinta pertamanya telah menjelma menjadi sosok monster yang terus-menerus mengoyak hatinya.
Dengan langkah gontai, Davina menarik koper usangnya menuju kamar yang ditunjukkan Barra tadi. Setiap anak tangga yang ia injak rasanya seperti langkah yang membawanya semakin dalam masuk ke dalam neraka pernikahan yang sesungguhnya. Baru hari pertama berada di kota ini, Davina sudah menyadari bahwa dua tahun ke depan akan menjadi lembaran hidup yang paling menyiksa dalam hidupnya.