NovelToon NovelToon
Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Kakak Tiri Kuu Yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Terlarang
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: bulane

"Mama akan menikah."

Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.

"Aku tidak setuju, Ma..."

Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.

"Mama berhak bahagia, Amerta."

Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.

Amerta Bunga Adiguna.

Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.

Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.

Mahesa Putra Dirgantara.

Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 21

Dua minggu berlalu seperti mimpi indah yang terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan. Amerta benar-benar menikmati rutinitas barunya di flat kecil itu. Kamar kos berukuran minimalis tersebut telah menjadi tempat perlindungan paling sakral baginya. Hari-harinya dipenuhi dengan jadwal kuliah yang padat, tawa bersama teman-teman sekelas yang selama ini ia rindukan, dan malam-malam tenang tanpa ketakutan akan aroma sandalwood atau sepasang mata biru yang mengintai di balik kegelapan.

Namun, ketenangan itu hancur berkeping-keping pada suatu Kamis pagi yang cerah.

Amerta melangkah memasuki lobi utama gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis dengan dahi berkerut. Suasana lobi yang biasanya hanya dipenuhi mahasiswa yang mengobrol santai, hari ini tampak sangat formal dan sibuk. Beberapa dosen senior dan jajaran dekanat tampak mengenakan batik terbaik mereka, berdiri berjejer seolah sedang menyambut kedatangan seorang tamu agung dari kalangan pejabat negara. Bendera universitas dan umbul-umbul bertuliskan "Serah Terima Beasiswa Tahunan Dirgantara Group" terbentang megah di dinding utama lobi.

Jantung Amerta mencelos. Langkah kakinya mendadak lumpuh di atas lantai marmer.

Dirgantara Group.

Nama itu seperti racun yang seketika membekukan darah di dalam tubuhnya. Amerta mencoba menenangkan diri, meremas tali ranselnya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Tidak apa-apa, Amerta. Ini acara korporat. Ayah yang memimpin perusahaan, atau mungkin perwakilan direksi lain. Kak Esa tidak akan turun tangan sendiri untuk urusan beasiswa sekecil ini, bisik Amerta mencoba menipu logikanya sendiri.

"Amerta! Untung kamu sudah datang!"

Sebuah tepukan di bahu membuat Amerta tersentak. Prof. Baskoro, dosen pembimbing akademiknya yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan III bidang Kemahasiswaan, berdiri di sampingnya dengan senyuman lebar.

"Ada apa, Prof?" tanya Amerta, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya.

"Kamu adalah salah satu mahasiswa dengan IPK tertinggi di angkatanmu, Amerta. Kebetulan sekali, pihak Dirgantara Group secara khusus meminta perwakilan mahasiswa berprestasi untuk ikut dalam sesi foto bersama dan penyerahan plakat simbolis. Ayo, ikut saya ke ruang aula utama sekarang. Tamu kehormatan kita baru saja tiba," ujar Prof. Baskoro tanpa memberikan kesempatan bagi Amerta untuk menolak. Pria paruh baya itu langsung menuntun Amerta berjalan menuju kerumunan di depan aula.

Sebelum Amerta sempat menyusun alasan untuk kabur, pintu kaca lobi utama terbuka lebar. Beberapa pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam masuk terlebih dahulu, membuka jalan dengan gestur yang sangat protektif. Dan tepat di belakang mereka, melangkah sesosok pria yang paling ingin Amerta hapus dari ingatannya.

Mahesa Dirgantara.

Laki-laki itu melangkah dengan keanggunan seorang predator kelas atas. Ia mengenakan setelan jas mewah berwarna abu-abu gelap yang melekat sempurna di tubuh tegapnya, dipadukan dengan kemeja putih bersih tanpa dasi yang memberikan kesan modern namun tetap sangat berwibawa. Rambutnya ditata rapi ke belakang, mengekspos garis rahangnya yang tegas dan simetris. Di sampingnya, Dekan Fakultas berjalan sambil terus melempar senyuman lebar dan gestur menghormati.

Mahesa sedang mendengarkan penjelasan Dekan dengan anggukan kepala yang sopan, menampilkan topeng sebagai CEO muda yang karismatik dan dermawan. Namun, begitu melangkah ke tengah lobi, pergerakan Mahesa mendadak melambat. Sepasang mata birunya yang tajam bagai elang bergerak memotong kerumunan, dan dalam hitungan detik, tatapan itu langsung terkunci tepat pada sosok Amerta yang berdiri kaku di samping Prof. Baskoro.

Sudut bibir Mahesa tertarik sangat tipis, membentuk sebuah senyuman miring yang begitu dingin—sebuah ekspresi yang hanya dipahami oleh Amerta sebagai tanda bahaya mutlak. Laki-laki itu sama sekali tidak terkejut melihatnya di sini. Dan saat itulah Amerta menyadari satu hal yang mengerikan: acara beasiswa ini bukanlah sebuah kebetulan. Mahesa sengaja merancang pertemuan darurat ini untuk mengingatkannya bahwa pelariannya selama ini hanyalah sebuah lelucon.

"Mari, Pak Mahesa, ini adalah beberapa mahasiswa terbaik kami yang menerima manfaat dari program beasiswa Dirgantara Group," ujar Dekan sembari menuntun Mahesa mendekat ke arah Amerta dan beberapa mahasiswa lainnya.

Amerta menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap ujung sepatunya sendiri, berharap bumi berguncang dan menelannya detik itu juga. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sesak. Aroma sandalwood yang sangat familier kini kembali menginvasi indra penciumannya, menandakan bahwa sang predator kini telah berdiri tepat di hadapannya.

"Suatu kehormatan bisa berkontribusi bagi masa depan mahasiswi berbakat seperti Anda," suara bariton Mahesa yang berat dan serak menggema di udara, terdengar begitu formal dan profesional di telinga orang lain, namun terasa seperti bisikan ancaman yang mematikan bagi Amerta.

"Amerta, silakan maju. Terima plakatnya dan berikan jabat tangan sebagai bentuk apresiasi kepada Pak Mahesa," perintah Prof. Baskoro lembut, sedikit mendorong punggung Amerta.

Dengan tubuh yang gemetar hebat di balik kemeja kuliahnya, Amerta terpaksa melangkah maju satu langkah. Ia mengangkat wajahnya, menatap langsung ke dalam sepasang netra biru Mahesa yang kini memancarkan kilat kepemilikan yang sangat pekat dan gila. Amerta mengulurkan tangan kanannya yang terasa dingin dan kaku.

Begitu telapak tangan mereka bersentuhan, Mahesa tidak sekadar menjabatnya secara formal. Pria itu langsung menggenggam erat tangan Amerta, menyusupkan jemarinya yang besar dan hangat di antara jemari Amerta, mengunci pergerakan gadis itu sepenuhnya. Genggaman itu begitu kuat, dominan, dan posesif—sebuah gestur tersembunyi yang menegaskan bahwa Amerta masih berada di bawah kekuasaannya, sementara kamera-kamera jurnalis kampus terus memotret mereka dari berbagai arah.

Amerta mencoba menarik tangannya kembali, namun Mahesa justru mempererat cengkeramannya selama beberapa detik lebih lama. Pria itu sedikit condong ke depan, berpura-pura membisikkan kata penyemangat yang biasa diucapkan seorang donatur, namun kalimat yang keluar dari bibirnya justru membuat seluruh bulu kuduk Amerta berdiri tegak.

"Kehidupan mandirimu tampak sangat menyenangkan, Amerta. Makan ayam goreng krispi dan minum soda di lantai... bukankah itu sangat tidak higienis untuk tubuhmu yang baru sembuh?" bisik Mahesa dengan nada suara yang luar biasa tenang dan lembut, hampir seperti belaian.

Mata Amerta membelalak sempurna karena syok. Seluruh persendiannya mendadak lemas. Bagaimana Mahesa bisa tahu? Bagaimana pria itu bisa mengetahui secara detail apa yang ia makan dan apa yang ia lakukan di dalam flatnya yang terkunci rapat malam itu?

Sebelum Amerta sempat membalas atau berteriak ketakutan, Mahesa sudah melepaskan genggaman tangannya dengan gerakan yang sangat halus. Ia mundur satu langkah, kembali menegakkan tubuh tegapnya, dan memberikan anggukan hormat yang sopan kepada jajaran dekanat seolah tidak terjadi apa-apa.

"Saya berharap kerja sama ini bisa terus berlanjut. Permisi," ucap Mahesa formal. Ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan lobi fakultas, dikawal ketat oleh para pengawalnya, meninggalkan Amerta yang berdiri terpaku di tengah keramaian dengan wajah pucat pasi layaknya mayat. Kebebasan damai yang ia agung-agungkan selama dua minggu ini mendadak runtuh, menyisakan kenyataan pahit bahwa langit-langit flatnya yang sederhana sekalipun ternyata tidak pernah benar-benar aman dari pengawasan sang predator.

1
Tunik nur Agustina
seruu
Tunik nur Agustina
seruuuu thorr
azzura faradiva
Yach....cuma seuprit doang upnya😔
azzura faradiva
wow....keren poollll sekalinya up 7 bab sekaligus👏🏻👏🏻
azzura faradiva
lanjut....,bagus ceritanya
bulane: terimakasih atas dukungan nya🫶🏻🫶🏻
total 1 replies
seruuuu bangettt
ela
semangat kakk💪🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!