NovelToon NovelToon
KULTIVATOR KEGELAPAN PESONA SURGAWI

KULTIVATOR KEGELAPAN PESONA SURGAWI

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: GEELANG

Setelah kehilangan adik perempuannya dan hancur di dunia fana, Han Yu terbangun di tubuh sesosok makhluk dari Sekte Iblis yang terdampar di wilayah suci Lembah Lingshu, ras suci yang sedang berperang melawan umat manusia karena perbudakan asmara. Bukannya mati dieksekusi, Han Yu justru membangkitkan warisan langka yang tabu: Jalur Kaisar Pesona.
​Berbekal ketampanan surgawi yang mutlak, stamina tiada tanding, dan teknik manipulasi sukma, Han Yu mengubah musuh-musuhnya menjadi pelayan yang patuh. Dari murid klan yang dingin, janda kultivator yang kesepian, hingga para tetua bijaksana dan Ratu Lembah, semuanya bertekuk lutut di bawah pesonanya. Di dunia kultivasi yang kejam ini, Han Yu tidak bertarung dengan pedang yang menghancurkan langit, melainkan menaklukkan dunia dari atas ranjang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 - Renungan Batin dan Peringatan sang Tupai

Kicauan merdu dari sekelompok burung spiritual terdengar menyapa dari balik kisi-kisi jendela kayu cendana paviliun, memecah keheningan pagi dan membangunkan Han Yu dari tidur lelapnya yang damai. Sambil mengusap matanya yang masih terasa berat oleh sisa-sisa kantuk, Han Yu mencoba untuk mendudukkan tubuhnya di atas ranjang. Namun, begitu merasakan adanya hambatan fisik yang cukup berat menahan pergerakan tubuhnya, dia memutuskan untuk menyerah dan memilih tetap berbaring pasrah. Dua pasang dada montok, besar, dan halus milik kedua pelayan pribadinya saat ini sedang menempel ketat memeluk tubuh kekarnya dari sisi kiri dan kanan. Meskipun dihadapkan pada pemandangan yang sanggup meruntuhkan iman pria mana pun, Han Yu tidak menunjukkan banyak gejolak fisik. Dia kembali memejamkan sepasang mata birunya, membiarkan berbagai pemikiran mengenai masa depan melintas bebas di dalam benaknya.

Dia mulai merenungkan arah tujuannya di dunia baru ini, melemparkan pertanyaan yang tak terhitung banyaknya kepada jiwanya sendiri. Apa sebenarnya yang harus dia lakukan di dunia kultivasi yang kejam ini? Apa tujuan hidupnya yang baru? Impian besar apa yang ingin dia capai setelah kehilangan adik perempuannya, Han Li? Apa yang ingin dia lakukan, dan hal luar biasa apa yang sanggup dia perbuat dengan modal kemampuan unik warisan Kaisar Pesona ini? Aliran pertanyaan filosofis itu berputar tiada henti di dalam kepalanya tanpa membuahkan satu pun jawaban yang tegas dan memuaskan. Han Yu tidak ingin membiarkan keraguan dan kekosongan batin ini merusak fokus spiritualnya, sehingga dia mencurahkan seluruh kapasitas otaknya untuk menenangkan diri dan mencari ketetapan hati.

Satu jam berlalu dalam keheningan kamar yang hanya diisi oleh suara napas halus kedua pelayannya. Han Yu perlahan menarik kesadaran jiwanya untuk masuk ke dalam dimensi batin dan memindahkan wujud sukmanya menuju Ruang Meditasi spiritual. Seperti biasa, kesadarannya bermanifestasi di sebuah tempat di mana dia duduk bersila di atas gumpalan awan spiritual yang melayang tinggi di angkasa, memejamkan mata rapat-rapat. Setiap menit yang mengalir membuat benaknya perlahan menjadi kosong, menghanyutkan seluruh pikiran tidak berguna dan beban emosional yang sempat mengganggunya di dunia nyata. Han Yu merasakan kepuasan, kedamaian, dan kehangatan yang sangat murni mengalir di sekujur meridian jiwanya, seolah-olah seluruh wujud sukmanya sedang didekap erat dalam pelukan hangat seorang ibu.

Setelah enam jam berlalu dalam meditasi mendalam di ruang batin tersebut, kapasitas tampung energi spiritual di dalam tubuhnya akhirnya mencapai batas maksimal untuk hari itu. Sebuah aliran informasi energi batin bermanifestasi di depan pandangan jiwanya, memberitahukan bahwa kekuatan batinnya telah meningkat secara bertahap, dan akumulasi poin pengalaman ranah Kaisar Pesona tingkat pertama kini telah berada pada angka delapan belas dari batas maksimal dua puluh lima untuk bisa menembus kenaikan tingkat berikutnya.

Han Yu menghela napas panjang dan bangkit berdiri di atas awan dengan perasaan sedikit kecewa. Seandainya bukan karena gejolak hasrat liar yang menguras sebagian besar energi vitalitasnya kemarin malam saat menghadapi lima wanita matang, dia pasti sudah berhasil menembus tingkat kedua dari ranah Kaisar Pesona saat ini. Han Yu memijat pelipisnya seraya tersenyum getir. Dia hanya membutuhkan tujuh poin pengalaman lagi untuk bisa naik ke tingkat berikutnya, di mana kemungkinan besar akan ada bonus pembukaan teknik mistis baru atau perluasan dimensi batinnya. Sepasang mata birunya menatap sekeliling Ruang Meditasi yang tampak sunyi dan membosankan. Han Yu memiliki keyakinan kuat bahwa begitu tingkat ranahnya naik, dia tidak hanya akan mahir dalam seni merayu, melainkan juga mampu menguasai manipulasi elemen alam seperti angin, air, petir, dan unsur spiritual lainnya untuk bertarung secara terbuka.

Karena tidak ada lagi yang bisa dia lakukan di Ruang Meditasi, Han Yu mengalihkan fokus jiwanya menuju dimensi Gerbang Arena Kerajaan yang terletak di sudut kesadarannya. Begitu gerbang batin itu tersentuh, sebuah aliran informasi bermanifestasi, menampilkan pilihan proyeksi ilusi dari makhluk-makhluk kuat yang pernah dia temui di dunia nyata dengan jaminan jiwanya akan langsung dihidupkan kembali tanpa cedera fisik sedikit pun jika tewas di dalam ruang simulasi ini. Target proyeksi pertarungan yang tertera di hadapannya saat ini secara mengejutkan adalah sang penguasa tertinggi klan, Ratu Lin Xian.

Han Yu menarik napas dalam-dalam, mengabaikan ketakutannya dan mempersiapkan seluruh fokus meridiannya untuk mencari celah dari kekuatan sang Ratu. Begitu dia memantapkan niat batinnya untuk memulai simulasi pertarungan, dia segera meledakkan teknik Seni Pemikat Jiwa dan menyunggingkan sebuah senyuman lembut yang paling memikat ke arah proyeksi tersebut.

Sebuah suara helaan napas yang sangat pelan dan halus terdengar bergaung di dalam arena.

Han Yu terbelalak lebar tanpa sempat mencerna apa yang terjadi pada sistem meridiannya. Pandangan matanya mendadak buram, kesadarannya langsung runtuh, dan jiwanya seketika kehilangan seluruh daya hidup dalam sekejap mata tanpa sempat melayangkan satu pun serangan balasan. Tidak jelas berapa menit waktu telah berlalu di dunia luar saat Han Yu akhirnya terbangun kembali di titik awal Arena Kerajaan dengan kejutan serta kengerian yang tak terselubung di dalam sepasang mata hitam pekatnya yang indah. Dia memeriksa seluruh tubuh jiwanya seperti orang gila sebelum akhirnya tertawa getir meratapi nasibnya. Informasi batin di arena menyatakan kekalahan mutlak bagi Han Yu, di mana pertarungan itu hanya mampu berlangsung selama lima milidetik saja sebelum jiwanya hancur berkeping-keping.

Ternyata, waktu yang dibutuhkan oleh proyeksi Ratu Lin Xian untuk menghancurkan pertahanan jiwanya hanyalah sebuah desahan napas pendek yang acuh tak acuh. Senyuman Han Yu terasa semakin pahit menyadari jurang kekuatan yang teramat sangat jauh layaknya langit dan bumi. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah mencari perkara, bertindak bodoh, atau memprovokasi sang Ratu di dunia nyata jika tidak ingin mati secara mengenaskan. Han Yu menghela napas panjang lalu segera melakukan proses keluar dari dimensi batin untuk kembali ke tubuh fisiknya.

Ketika Han Yu membuka kedua matanya di dunia nyata, Mei Li dan Qing Er ternyata sudah terbangun dari tidur mereka dan sedang merapikan hanfu pelayan mini mereka yang berantakan. Waktu di luar telah menunjukkan jam dua siang. Han Yu segera bangkit dari ranjang batu, meregangkan otot-ototnya yang kaku, dan mengganti pakaiannya dengan jubah hijau lumut yang baru. Tiba-tiba, pandangan mata Han Yu teralih ke arah ambang jendela paviliun. Di sana, seekor tupai spiritual kecil berbulu abu-abu tampak sedang berdiri tegak di atas kedua kaki belakangnya, memegang selembar amplop surat yang disegel dengan cap resmi berlambang tanaman merambat emas.

Han Yu melangkah maju untuk membuka jendela perunggu, membiarkan hewan kecil itu melompat masuk ke dalam ruangan paviliun. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling meja, menemukan beberapa butir kacang spiritual sisa camilan kemarin, lalu meletakkannya di hadapan sang tupai. Hewan kecil itu mengendus kacang tersebut dengan cepat, lalu tiba-tiba mengeluarkan suara manusia yang sangat renyah, memuji kualitas makanan yang diberikan Han Yu dengan nada yang cukup angkuh.

Han Yu terkejut bukan main, merasa sangat aneh dan tidak masuk akal melihat seekor hewan kecil bisa berbicara bahasa manusia dengan begitu lancar di dunia kultivasi ini. Namun, tupai spiritual itu tidak memedulikan keterkejutan Han Yu. Hewan itu meletakkan amplop surat disegel tersebut di atas meja giok, lalu segera berbalik dengan cepat menuju ke arah jendela untuk melompat pergi. Namun, seolah-olah baru saja melupakan sesuatu yang penting, tupai itu menghentikan langkahnya di ambang jendela, menggeleng-gelengkan kepalanya seraya memperingatkan Han Yu dengan nada ketus. Dia menyarankan agar Han Yu segera meminta Ratu Lin Xian memasang formasi pelindung kekedapan suara tingkat tinggi di sekeliling paviliun ini. Jika tidak, seluruh makhluk hidup dan satwa spiritual di sekitar dahan pohon dewa tidak akan pernah bisa tidur nyenyak di malam hari akibat suara erangan dan desah gaduh yang tak henti-henti dari dalam kamarnya. Setelah menyelesaikan kalimatnya yang memicu rasa malu, tupai itu melompat gesit ke dahan pohon lain dan menghilang di balik rimbunnya dedaunan.

Han Yu menatap ke arah Mei Li dan Qing Er yang wajahnya sudah memerah padam seperti kepiting rebus mendengar teguran blak-blakan dari sang tupai spiritual. Han Yu tersenyum menggoda menatap kedua pelayan pribadinya yang bertubuh montok tersebut. Dia melangkah mendekat, lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut di dahi mereka secara bergantian seraya berpamitan bahwa dirinya harus pergi menuju istana giok untuk urusan formal sesuai surat panggilan yang dibawa sang tupai, dan meminta mereka menjaga paviliun dengan baik. Kedua wanita itu mengangguk patuh dengan senyuman manis yang dipenuhi rasa cinta yang mendalam.

Beberapa menIt kemudian, Han Yu yang telah berpenampilan segar melangkah keluar meninggalkan paviliun pohon dewa. Demi menghadiri pertemuan formal di istana utama, dia diharuskan mengenakan pakaian resmi klan Lembah Lingshu yang telah disediakan. Pakaian itu terdiri dari setelan jubah hijau sutra, sebuah penutup kepala atau topi berwarna hijau murni, serta sepasang sepatu kain yang juga berwarna hijau. Han Yu menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya berulang kali melihat perpaduan warna tersebut di depan cermin. Meskipun konsep keselarasan alam dari pakaian ini masih bisa dia toleransi, namun mengenakan topi hijau di dalam budaya Tiongkok memiliki makna kiasan yang sangat buruk dan memalukan, yaitu melambangkan seorang pria yang dikhianati atau diselingkuhi oleh istrinya. Namun, karena tidak memiliki pilihan pakaian lain yang diizinkan, dia tetap melangkah maju dengan berat hati menuju istana giok.

Tidak butuh waktu lama bagi Han Yu untuk tiba di depan gerbang istana giok yang berdiri dengan sangat megah dan kokoh. Namun, begitu dia hendak melangkah melintasi pembatas gerbang batu kuno tersebut, sepasang tatapan mata yang sangat tajam, dingin, dan penuh permusuhan dari dua orang prajurit penjaga gerbang berzirah perak langsung mengunci pergerakannya, menghentikan langkah kakinya di tempat.

"Apa tujuan kunjunganmu ke istana giok yang suci ini, wahai makhluk asing? Apakah kamu memiliki lencana undangan resmi atau izin tertulis dari para tetua Aula Tetua?" salah satu penjaga bertanya dengan nada suara yang sangat kasar, tinggi, dan dipenuhi penghinaan yang jelas terhadap identitas Han Yu.

Saat Han Yu baru saja hendak merogoh saku jubahnya untuk mengeluarkan amplop surat bersegel yang dibawanya, salah satu penjaga yang bernama Ling Feng tiba-tiba bergerak menyerang tanpa ada peringatan atau aba-aba sedikit pun. Sepasang mata Ling Feng memancarkan amarah yang meledak-ledak. Dia mengacungkan telapak tangan kanannya yang langsung diselimuti oleh aliran energi spiritual hijau yang pekat, melepaskan seberkas tembakan sinar laser pemutus meridian yang melesat dengan kecepatan tinggi mengejar posisi Han Yu. Tembakan energi tajam itu menghantam telak bagian punggung Han Yu dengan suara hantaman yang keras.

Untungnya, serangan tersebut tidak berakibat fatal merenggut nyawanya karena insting pertahanan dari tubuh iblis Han Yu secara refleks membuat sepasang sayap hitam pekatnya mengepak lebar, menahan sebagian besar daya hancur energi hijau tersebut sebelum sayap itu kembali menghilang masuk ke balik punggungnya. Meskipun demikian, rasa sakit seperti terbakar hebat langsung menyebar luas di sepanjang punggung dan belikatnya, menyisakan luka bakar yang sangat nyeri dan mengeluarkan kepulan asap tipis.

Han Yu mengertakkan giginya rapat-rapat hingga berbunyi, menahan rasa sakit yang luar biasa dan memaksakan langkah kakinya untuk tetap berdiri tegak demi menjaga harga dirinya. Dadanya bergemuruh hebat, dipenuhi oleh rasa amarah yang membara serta keinginan yang sangat kuat untuk membalas dendam atas penghinaan fisik yang diterimanya secara sepihak ini. Namun, dengan ranah kekuatannya yang saat ini masih berada di tingkat Iblis Rendah yang sangat lemah, dia sadar secara rasional bahwa dirinya tidak akan mampu melakukan perlawanan fisik secara terbuka melawan seorang prajurit elit gerbang istana. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Han Yu bersumpah dengan sangat geram bahwa dia akan mencari tahu di mana letak paviliun kediaman pribadi penjaga keparat ini, lalu dia akan mendatangi dan memikat istri atau pendamping kultivasi ganda milik penjaga tersebut menggunakan seluruh teknik pesona surgawinya hingga penjaga itu bertekuk lutut menangis meratapi nasib malangnya.

1
Blue Manusia Biasa
jujur aja langsung capek mataku lihatnya thor😭 panjang banget paragraf nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!