Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ritme di Lantai Tiga
Pagi hari di lantai tiga sayap barat selalu dimulai sebelum matahari benar-benar menembus kabut tipis Bukit Permai. Bagi Kirana, jam empat subuh bukanlah siksaan, melainkan waktu luang yang berharga untuk menyusun strategi.
Dengan seragam pelayan yang sudah melekat rapi tanpa satu pun kerutan, ia melangkah membelah keheningan koridor menuju dapur kecil khusus yang terletak di ujung lorong lantai tiga.
Tugas pertamanya hari ini adalah menyiapkan nampan berisi handuk hangat beraroma minyak esensial kayu cendana, segelas air putih bersuhu kamar, dan pakaian ganti yang telah ia pilihkan dari ruang lemari walk-in milik Adrian.
"Pagi yang indah untuk menghadapi Tuan Muda yang beku," gumam Kirana dengan senyum kecil dikulum. Ia meletakkan selembar kemeja abu-abu gelap terbuat dari sutra Italia yang halus di atas lengannya.
Berdasarkan pengamatannya selama tiga hari terakhir—yang dikumpulkannya secara cermat dari catatan jadwal harian Adrian yang tergeletak di meja depan—hari ini Adrian memiliki rapat meja bundar dengan beberapa direksi legal Arseto Group. Warna abu-abu gelap akan mempertegas rahangnya yang tegas tanpa membuatnya terlihat terlalu mengintimidasi di depan para tetua bisnis.
Tepat pukul lima tiga puluh, Kirana mengetuk pintu kamar tidur utama.
"Masuk."
Suara itu sudah terdengar bugar, tanda bahwa pemiliknya telah terjaga sejak beberapa jam lalu untuk berolahraga di pusat kebugaran pribadi lantai bawah. Kirana mendorong pintu kayu berat itu dengan bahunya. Kamar tidur Adrian sangat luas, didominasi warna monokrom dengan dinding kaca besar yang langsung menghadap ke arah kolam renang infinity di bawah sana.
Adrian sedang berdiri di dekat jendela, hanya mengenakan celana olahraga hitam panjang. Tubuh bagian atasnya yang atletis mengekspos otot-otot yang terbentuk sempurna, lengkap dengan beberapa guratan luka parut samar di punggung dan bahu kirinya—saksi bisu dari gesekan dunia bawah yang pernah ia lalui.
Kirana merasakan tenggorokannya sedikit kering melihat pemandangan itu, namun sifat pemberani-nya segera mengambil kendali. Alih-alih memalingkan wajah dengan rona merah seperti gadis polos pada umumnya, Kirana justru melangkah maju dengan ritme konstan, matanya dengan berani menelusuri garis otot punggung Adrian tanpa berkedip.
"Selamat pagi, Tuan Muda Adrian," sapa Kirana dengan nada suara yang renyah dan ceria, kontras dengan atmosfer kamar yang dingin. "Saya membawakan handuk hangat dan pakaian Anda untuk pertemuan penting jam sembilan nanti."
Adrian berbalik perlahan. Handuk kecil yang melingkar di lehernya digunakan untuk menyeka sisa keringat di rahangnya. Sepasang mata hitamnya yang tajam langsung menangkap arah pandang Kirana yang begitu terang-terangan tertuju pada dadanya.
"Kau memiliki mata yang sangat lancang untuk seorang pelayan baru, Kirana," ujar Adrian, suaranya berat dan datar, namun ada tekanan intimidasi yang nyata di sana.
Kirana meletakkan pakaian di atas dipan ujung tempat tidur dengan gerakan anggun, lalu menegakkan tubuhnya, membalas tatapan Adrian dengan binar mata penuh selidik yang jenaka. "Saya hanya sedang mengagumi mahakarya Tuhan, Tuan Muda. Dan sebagai pelayan yang bertanggung jawab atas penampilan Anda, saya harus memastikan tidak ada satu pun detail yang terlewat, bukan? Termasuk... memastikan kemeja abu-abu ini akan pas membingkai bahu Anda yang kokoh ini."
Satu langkah kecil diambil Kirana mendekati Adrian, membawa nampan berisi segelas air putih. Jarak mereka kini hanya tersisa dua jengkal. Aroma maskulin khas Adrian yang bercampur keringat tipis menyergap indra penciuman Kirana, membuat jantung gadis itu berdesir hebat. Namun, ia tetap mempertahankan senyum menggoda di bibirnya.
Adrian tidak mundur. Ia justru sedikit menundukkan kepalanya, membuat wajah mereka berada di sejajar. Tekanan aura dari tubuh Adrian begitu besar, membuat atmosfer di sekitar mereka terasa pekat.
"Apakah kau tahu apa yang terjadi pada orang terakhir yang mencoba menggodaku di rumah ini?" bisik Adrian tepat di depan wajah Kirana. Napasnya yang hangat terasa di kulit pipi Kirana. "Dia berakhir di dasar sungai dengan kaki terikat rantai."
Ancaman itu nyata, bukan sekadar gertakan. Adrian adalah pria yang tidak segan-segan menumpahkan darah jika privasinya diusik. Namun, Kirana justru terkekeh pelan, tawa ringannya memecah ketegangan.
"Wah, kalau begitu saya harus memastikan bahwa saya berenang cukup baik sebelum Tuan Muda memutuskan untuk merantai saya," balas Kirana, mata bulatnya berkedip pintar. Ia mengulurkan segelas air putih itu ke tangan Adrian. "Silakan diminum, Tuan Muda. Air ini bagus untuk menetralkan racun... atau mungkin untuk mendinginkan kepala Anda yang selalu tegang."
Adrian menatap gelas di tangannya, lalu beralih ke wajah Kirana yang tampak tanpa beban. Ada kilatan ketidakpercayaan di dalam benak Adrian. Gadis ini bukan sekadar berani; dia memiliki ketahanan mental yang tidak biasa. Di bawah tatapannya yang sanggup membuat para kepala gangster gemetar, gadis yatim piatu ini justru menggunakannya sebagai panggung untuk menggodanya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Adrian menerima gelas itu dan meminumnya hingga kandas dalam sekali teguk. Ia meletakkan gelas kosong itu kembali ke atas nampan yang dipegang Kirana dengan sedikit ketukan keras.
"Keluar. Dan pastikan mobilku sudah siap di lobi dalam tiga puluh menit," perintah Adrian dingin, kembali membalikkan badannya membelakangi Kirana.
"Baik, Tuan Muda yang tampan. Tugas Anda adalah perintah bagi saya," sahut Kirana dengan penekanan pada kata 'tampan' sebelum melangkah mundur dengan tawa kecil yang sengaja ia sembunyikan di balik punggungnya.