NovelToon NovelToon
Pengantin 1,2 Triliun.

Pengantin 1,2 Triliun.

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa / Nikahmuda
Popularitas:702
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
​Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
​Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Semak yang cantik.

Fajar baru saja menyingsing, menyisakan bias abu-abu di langit pagi ketika Bora melangkah keluar dari paviliun belakang. Sebagai pelayan yang berdedikasi tinggi, Bora selalu menjadi orang pertama yang terbangun di mansion megah keluarga Tanubrata. Tugas pertamanya hari ini adalah menyiapkan pakaian ganti dan air mandi hangat untuk Prisha sebelum gadis itu terbangun dari tidurnya.

Namun, ketika Bora berjalan melintasi ruang tengah lantai dasar untuk menuju ke dapur, langkah kakinya seketika terhenti. Sepasang mata lempengnya sedikit melebar karena terkejut. Di atas sofa panjang beludru dekat area tangga, ia menemukan sesosok gadis tengah meringkuk dengan posisi tidak nyaman, dibungkus oleh sebuah selimut wol tebal yang tampak sangat familier di mata Bora.

Bora berdiri diam di samping sofa selama beberapa saat, menatap Prisha yang masih mendengkur halus. Kepalanya dipenuhi tanda tanya besar. Kenapa Prisha bisa terdampar di lantai bawah dan tidur di sofa ini?

Bora melirik jam dinding kuno di ruang tengah. Ini masih terlalu pagi untuk membangunkan Prisha. Bahkan, koki utama mansion pun belum datang ke dapur untuk memasak. Memutuskan untuk tidak mengganggu istirahat sang majikan baru yang tengah cedera, Bora memilih membiarkan Prisha tetap tertidur di sana sementara ia naik ke lantai atas untuk menjalankan tugasnya yang lain.

Begitu melangkah masuk ke dalam kamar tidur Prisha di lantai dua, teka-teki tentang keberadaan Prisha di lantai bawah langsung terjawab. Pandangan Bora seketika tertuju pada lantai di dekat meja samping tempat tidur. Di sana, berserakan pecahan teko dan gelas kaca yang hancur berkeping-keping, dikelilingi oleh genangan air yang sudah mulai mengering.

Bora menghela napas pelan, akhirnya mengerti kronologi kejadian semalam. Prisha pasti terbangun karena haus, berniat minum namun tidak sengaja menjatuhkan wadah airnya, dan terpaksa merangkak turun ke bawah sendirian karena tidak ada orang yang bisa dimintai tolong.

Tanpa membuang waktu, Bora segera mengambil alat pembersih. Ia menyapu dan memungut setiap serpihan kaca tajam itu dengan cekatan agar tidak membahayakan kaki Prisha yang lain, lalu mengepel lantainya hingga bersih dan kering.

Setelah semua urusan kamar selesai dan air mandi hangat telah disiapkan, Bora kembali turun ke lantai dasar. Sayup-sayup, aroma harum masakan mulai tercium dari arah dapur kotor, menandakan bahwa koki mansion telah menempati posisinya. Merasa waktunya sudah tepat, Bora berjalan mendekati sofa dan menepuk bahu Prisha dengan pelan.

"Nona Prisha, bangun. Sudah pagi. Mari bersiap untuk mandi dan sarapan," ucap Bora dengan nada suara datarnya yang khas.

Prisha melenguh pelan, kelopak matanya mengerjap-ngerjap menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang mulai benderang. Begitu kesadarannya terkumpul sepenuhnya, rasa nyeri dan kaku dari kaki kirinya yang digips langsung menyengat, membuat dahi mulusnya mengkerut dalam.

"Bora ..." rintih Prisha dengan suara serak khas bangun tidur. Ia menatap tangga besar karpet hitam di depannya dengan pandangan horor. "Aku tidak ingin berjalan. Kakiku sakit sekali, rasanya seperti mau lepas jika dipaksakan melangkah."

Bora menatap Prisha datar, lalu mengukur postur tubuh mereka berdua dalam hati. Secara fisik, tinggi badan Bora yang hanya 162 cm jelas berada di bawah Prisha yang memiliki tinggi semampai 167 cm.

Namun, Bora tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. "Tolong pegang leher saya dengan erat, Nona," titahnya tenang.

Bora membalikkan tubuhnya, berjongkok membelakangi sofa, dan tanpa aba-aba langsung menyusupkan kedua lengannya ke bawah paha serta punggung Prisha. Dengan satu hentikan napas yang mantap, Bora berhasil mengangkat tubuh Prisha ke atas punggungnya.

Meskipun tubuh Prisha lebih tinggi, Bora mampu menggendong gadis itu dengan sangat kokoh, melangkah menaiki belasan anak tangga yang curam tanpa napas yang terengah-engah sedikit pun, membuktikan bahwa klaimnya tentang kemampuan fisik tingkat tinggi kemarin bukanlah sekadar bualan belaka.

Selesai mandi dan berganti pakaian dengan bantuan Bora, Prisha mendudukkan diri di ranjang kamarnya dengan nyaman. Tak lama kemudian, Bora masuk kembali membawa nampan berisi menu sarapan pagi yang hangat beserta beberapa butir obat pereda nyeri dari dokter.

Sambil menyuapkan potongan roti bakar ke dalam mulutnya, Prisha mulai meluapkan seluruh kekesalan yang dipendamnya sejak semalam. Wajah cantiknya cemberut total saat menceritakan kronologi kejadian dini hari tadi.

"Kau tahu, Bora? Tuan Muda-mu itu benar-benar monster tak punya hati! Es batu berjalan!" omel Prisha berapi-api, tangannya bergerak-gerak di udara mengekspresikan kekesalannya.

"Semalam aku jatuh tepat di depannya! Aku memohon dengan sangat manis agar dia mau menggendongku ke dapur karena tenggorokanku perih sekali. Tapi apa yang dia lakukan? Dia mengabaikanku seolah-olah aku ini kecoak busuk! Dia melangkah melewati tubuhku begitu saja dan menutup pintu kamarnya dengan keras! Benar-benar kejam! Manusia macam apa yang tega membiarkan orang sakit menderita sendirian di kegelapan?"

Bora berdiri tegak di samping ranjang, hanya mendengarkan celotehan kekesalan Prisha dengan wajah lempeng tanpa berniat memotong. Di dalam hatinya, Bora menahan senyum tipis yang sarat akan arti tersembunyi.

Bora tahu betul satu fakta yang tidak disadari oleh Prisha: selimut wol tebal yang membungkus tubuh Prisha di sofa tadi pagi bukanlah selimut sembarang. Itu adalah salah satu selimut pribadi milik Tuan Muda Saka yang biasanya disimpan rapat di ruang kerja atas.

Jika Saka benar-benar sekejam dan seacuh yang Prisha katakan, tidak mungkin selimut hangat itu bisa berpindah tempat dan menyelimuti tubuh Prisha yang kedinginan di lantai bawah. Namun, Bora memilih untuk mengunci mulutnya rapat-rapat, membiarkan dinamika aneh di antara kedua majikannya bergulir dengan sendirinya.

Menjelang siang, cuaca di luar mansion berubah menjadi mendung. Awan abu-abu tebal berarak menutupi matahari, dan embusan angin dingin yang cukup kencang mulai menggoyang dedaunan. Prisha, yang merasa bosan setengah mati di dalam kamar, meminta Bora untuk membawanya jalan-jalan.

Menggunakan kursi roda, Bora mendorong Prisha keluar menuju taman belakang mansion Tanubrata. Prisha menghirup udara dingin itu dengan senyum puas. Ia sangat menyukai suasana mendung berangin seperti ini, suasana sesaat sebelum hujan turun yang memberikan ketenangan tersendiri bagi jiwanya.

Begitu melewati gerbang kaca pembatas, pandangan Prisha dimanjakan oleh hamparan taman belakang yang luar biasa luas. Taman itu dirancang menyerupai kebun bunga kastil Eropa, dipenuhi oleh berbagai macam varietas bunga mawar, tulip, dan anggrek langka yang mekar dengan sangat rapi, simetris, dan terawat sempurna berkat sentuhan tangan para tukang kebun profesional.

Namun, ketika kursi rodanya didorong semakin jauh ke area paling belakang, pandangan Prisha menangkap pemandangan yang kontras. Di sudut terjauh taman, terdapat sehamparan bunga putih kecil berpusat kuning yang tumbuh liar dan acak-acakan.

Bunga-bunga itu adalah bunga Daisy. Berbeda dengan mawar dan tulip di area depan yang dipangkas rapi, bunga Daisy di sini dibiarkan tumbuh begitu saja tanpa perawatan khusus, berbaur dengan rumput liar bagaikan semak biasa yang tidak dianggap penting.

Prisha mengerutkan keningnya, menunjuk ke arah sudut tersebut. "Bora, kenapa bunga Daisy di sebelah sana tidak dirawat sama sekali? Padahal bunga-bunga yang lain tampak begitu dijaga dan diperhatikan?"

Bora menghentikan dorongan kursi rodanya sejenak, melirik ke arah yang ditunjuk Prisha. "Itu karena menurut Tuan Muda Saka, bunga-bunga itu tidak ada bedanya dengan semak liar yang mengganggu pemandangan, Nona. Beliau tidak menyukai polanya yang tumbuh berantakan, jadi para tukang kebun dilarang membuang energi untuk merawatnya."

Prisha terdiam sejenak, menatap ribuan kelopak putih kecil yang bergoyang hebat diterpa angin kencang namun tidak satu pun dari mereka yang rontok atau patah.

"Benar ... Tuan Muda-mu ada benarnya," ucap Prisha pelan, sebuah senyuman misterius terukir di sudut bibirnya. "Tapi ini adalah semak yang sangat cantik."

Prisha kemudian menunjuk sebuah pohon ek tua yang berdiri kokoh tepat di tengah-tengah hamparan Daisy liar tersebut. "Bora, bawa aku ke bawah pohon itu. Aku ingin melihat mereka lebih dekat."

Bora mengangguk patuh dan kembali mendorong kursi roda Prisha, membelah jalan setapak kecil hingga mereka berdua sampai di bawah naungan pohon ek, dikelilingi oleh ribuan bunga Daisy yang tumbuh liar.

Bunga Daisy adalah lambang dari resilience, ketangguhan yang luar biasa di balik penampilan yang tampak rapuh dan sederhana. Bunga ini tidak membutuhkan tanah subur yang digemburkan atau pupuk mahal seperti mawar-mawar manja di depan sana; mereka bisa tumbuh dan bertahan hidup di sela-sela batu, di tanah kering, bahkan diabaikan sebagai semak liar sekalipun.

Mereka diinjak, didepak dari perhatian utama, namun tetap mampu mekar dengan kelopak putih yang bersih, menolak untuk mati.

Begitu pula dengan Prisha Kaelen. Di mata Saka, Prisha hanyalah seorang 'Putri Jahat' yang manja, yang dunianya dianggap runtuh total setelah kehilangan harta dan kehormatan keluarganya. Saka mengira Prisha adalah mawar hiasan yang akan layu dan mengemis belas kasihan saat badai kebangkrutan menghantamnya. Prisha sadar itu tanpa siapapun perlu menjelaskan.

Saka memandang rendah usahanya, menganggap cara hidupnya yang keras kepala sebagai bentuk ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan garis kemiskinan yang baru.

Namun, Saka salah besar. Prisha bukanlah mawar yang rapuh. Prisha adalah bunga Daisy liar ini.

Semakin Saka mengabaikannya, mencampakkannya ke sudut tergelap, dan memandangnya sebelah mata sebagai 'semak pengganggu', maka akan semakin kuat akar Prisha tertanam di dalam mansion ini. Di bawah injakan kaki dan dinginnya sikap Saka, Prisha tidak akan layu; ia justru akan menyerap segala rasa sakit itu untuk tumbuh menjadi sosok yang jauh lebih tangguh dan tak terkendali.

Memangnya dulu Prisha penggoda? Enggak! Dia beradaptasi untuk bertahan hidup, untuk tidak hancur. Lagipula bagaimana cara ia bertahan hidup dengan wajah yang ia miliki? Tanpa perlindungan status? Sendirian? Prisa hanya akan menjadi target empuk niat jahat.

Bersambung....

1
Amal Syafiqah
aa novel nya bagus, cepat update nya ye. aku tunggu
Rinnaya: Ok. Up setiap hari, tapi hari ini sibuk jadi besok malam ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!