aku akan mengguncang dunia persilatan, aku yang memiliki ingatan masa depan memiliki keunggulan yang akan menghacurkan segala yang merebut waktu dan duniaku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 - Malam Penyerbuan
Langit di atas Lembah Batu Pecah malam itu tampak hitam pekat, seolah tertutup jelaga tebal yang menelan seluruh cahaya bintang. Udara berembus sangat dingin, membawa aroma lembap tanah dan bau amis samar yang tak asing.
Sun Chen mendadak membuka matanya dari meditasi. Di dalam pusat dadanya, benih Qi bergetar hebat. Indra spiritual dasarnya yang baru mekar menangkap puluhan denyut gelombang tenaga dalam yang merayap turun dari segala penjuru tebing. Gerakan mereka sangat teratur, senyap, dan terkoordinasi dengan presisi yang mengerikan.
Sun Chen segera bangkit dan melangkah keluar dari gubuk bambu. Di tengah halaman yang remang, Chou Tian sudah berdiri tegak. Pria tua itu memegang sebatang kayu bakar di tangan kanannya, matanya menatap tenang ke arah kegelapan hutan seolah telah menanti momen ini tiba.
"Guru," panggil Sun Chen pelan, mendekat ke sampingnya.
Chou Tian tidak menoleh. "Kali ini jangan bersembunyi di balik gua, Sun Chen. Berdirilah di sudut gubuk itu dan perhatikan baik-baik. Ini adalah pelajaran terakhirmu tentang bagaimana menghadapi penyergapan dalam jumlah besar."
Sun Chen menahan napas. "Tetapi Guru—"
"Ingat setiap gerakan, setiap langkah, dan cara memanfaatkan medan di sekitarmu," potong Chou Tian tegas. "Jangan ikut campur kecuali aku yang memerintahkannya."
Sun Chen menelan ludah, lalu mengangguk mantap. Ia menyadari sepenuhnya bahwa situasi malam ini tidak lagi memungkinkan dirinya menjadi sekadar anak kecil yang bersembunyi. Ia mengambil posisi di dekat tiang gubuk, mengunci pandangannya ke tengah halaman.
Srek! Srek! Srek!
Dari balik kerapatan semak dan pepohonan pinus, belasan hingga puluhan sosok berbaju hitam melompat keluar bersamaan. Mereka mendarat tanpa suara, membentuk barisan lingkaran rapat yang mengurung gubuk bambu dari segala sisi. Senjata tajam mereka berkilat kebiruan di bawah temaram malam.
Langkah kaki yang berat terdengar dari arah depan. Dua sosok melangkah maju menembus barisan pembunuh tersebut.
Sosok pertama adalah Lu Gu, Tetua Bayangan yang dadanya masih dibebat kain kassa tebal akibat pukulan Chou Tian sebelumnya. Namun, yang menarik perhatian Sun Chen adalah sosok kedua: seorang pria tinggi tegap berJubah Merah gelap dengan wajah tertutup topeng perak setengah bagian. Aura tenaga dalam yang terpancar dari raga pria itu begitu pekat dan ganas, menekan udara lembah hingga terasa sesak.
"Lama tidak berjumpa, Setan Tinju Chou Tian," ucap pria berJubah Merah dengan suara berat yang bergema pelan. "Aku adalah Pelindung Merah dari organisasi. Suatu kehormatan bisa bertemu langsung dengan legenda lama sepertimu."
Chou Tian menatap pria itu tanpa riak emosi. "Seorang Pelindung turun tangan sendiri hanya untuk menjemput seorang anak kecil. Sepertinya organisasi kalian sangat putus asa."
Pelindung Merah tertawa kecil, suara tawanya terdengar dingin dan datar. "Aku akan memberimu satu kesempatan terakhir, Chou Tian. Serahkan bocah itu secara sukarela. Kau adalah pendekar senior yang dihormati, tidak perlu mengorbankan nyawamu yang tersisa demi anak yang baru kau kenal beberapa minggu."
Chou Tian merenggangkan posisi kakinya, menancapkan tumpuan tubuhnya ke tanah berdebu. "Muridku bukan barang dagangan yang bisa kau tawar dengan nyawa. Selama raga tua ini masih bisa berdiri, tak satu pun dari kalian yang boleh menyentuhnya."
"Sayang sekali," jawab Pelindung Merah singkat. Ia mengangkat tangan kanannya seraya memberi perintah tanpa ragu. "Bunuh tua bangkai itu! Tangkap bocah itu hidup-hidup!"
Seketika itu juga, pertempuran besar meletus.
Puluhan pembunuh elit menerjang maju bagaikan gelombang hitam yang hendak menelan gubuk bambu. Cahaya senjata tajam menyambar dari berbagai sudut, mengincar titik-titik mematikan di tubuh Chou Tian.
Chou Tian bergerak dengan ketenangan luar biasa. Bukannya bertarung di area terbuka halaman, ia justru mundur dua langkah, memancing rombongan musuh masuk ke celah sempit di antara dua batu kali raksasa di dekat gubuk. Medan yang sempit itu membuat jumlah musuh yang berlimpah menjadi tidak berguna karena mereka tidak bisa menyerang secara bersamaan.
Brak!
Pukulan lurus Chou Tian memecah udara, menghantam dada pembunuh pertama hingga tulang rusuknya hancur. Tanpa membuang momen, Chou Tian memanfaatkan tubuh musuh yang terlempar itu sebagai perisai untuk menahan sabetan golok dari samping, lalu membalasnya dengan tebasan telapak tangan yang mematahkan leher lawan kedua.
Sun Chen mengamati setiap detail gerakan itu dengan cermat. Gurunya tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik atau Qi, tetapi juga memanfaatkan sudut pandang, jarak, dan rintangan alam untuk melumpuhkan musuh yang berjumlah jauh lebih banyak.
Di tengah kecamuk pertempuran, Pelindung Merah berdiri mengawasi sambil bersedekap.
"Kau membuang tenagamu untuk hal yang sia-sia, Chou Tian!" seru Pelindung Merah dari balik topengnya. "Kau tidak tahu apa yang sedang kami bangun! Organisasi kami bukan sekadar kelompok penculik budak murahan! Kami sedang mengumpulkan benih-benih dengan bakat paling murni di Benua Tengah untuk menjalankan rencana besar yang telah dipersiapkan puluhan tahun!"
Mendengar ucapan itu, dada Sun Chen bergetar hebat. Di kehidupan lalunya, ia hanya tahu bahwa Kultus Demonic merekrut anak-anak untuk dijadikan alat perang melalui program rahasia. Namun, kata-kata Pelindung Merah mengisyaratkan jaringan konspirasi yang jauh lebih berakar dan luas di seluruh Benua Tengah daripada yang pernah ia bayangkan sebelumnya.
Sementara itu, pertempuran berlangsung semakin sengit. Chou Tian telah menumbangkan lebih dari belasan pembunuh elit, namun harga yang harus dibayarnya mulai terlihat. Setiap kali ia mengalirkan Qi dalam jumlah besar untuk melancarkan teknik Tinju Penghancur Gunung, racun di dalam meridian utamanya mengamuk ganas.
Goresan urat hitam di leher Chou Tian merayap semakin tinggi hingga menyentuh rahangnya. Langkah kakinya yang semula kokoh mulai melambat beberapa milidetik.
Hanya Sun Chen yang menyadari perubahan fatal itu. "Guru..." bisiknya cemas.
Pelindung Merah yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Chou Tian menangkap celah tersebut. Matanya berkilat dingin.
"Waktumu sudah habis, Tua Bangkai!" seru Pelindung Merah.
Dalam sekejap mata, raga Pelindung Merah meluncur deras bagaikan bayangan merah. Ia tidak menyerang Chou Tian, melainkan menggunakan kecepatan mutlaknya untuk menerobos celah barisan dan melesat lurus ke arah Sun Chen yang berdiri di dekat gubuk. Telapak tangannya yang diselimuti Qi berwarna merah darah terulur untuk mencengkeram leher Sun Chen.
Sun Chen mengepalkan tangan kecilnya, memaksakan benih Qi di dantiannya mengalir ke seluruh kakinya untuk melompat mengelak. Namun, perbedaan tingkat kekuatan mereka saat ini masih terlalu jauh. Tekanan aura Pelindung Merah mengunci pergerakan raga balitanya seketika.
Tepat saat jemari Pelindung Merah berada hanya beberapa inci dari leher Sun Chen—
Brak!
Sesosok raga tua mendadak muncul memotong di antara mereka. Chou Tian memaksakan seluruh sisa tenaga dalamnya meledak seketika. Wajah pria tua itu memerah hebat, dan dengan raungan yang menggelegar, ia melayangkan pukulan lurus terkuatnya tepat ke tengah telapak tangan Pelindung Merah.
Gelembung gelombang energi dahsyat meledak di udara. Dinding bambu gubuk di samping mereka hancur berantakan tersapu angin Qi.
Pelindung Merah membelalakkan mata saat merasakan gelombang kekuatan destruktif yang meremukkan persendian tangannya. Pria bergaya jubah merah itu terlempar belasan langkah ke belakang, mendarat terseret di atas tanah seraya memuntahkan darah segar dari balik topeng peraknya.
Akan tetapi, harga yang harus dibayar Chou Tian sangatlah mahal.
Penggunaan Qi secara paksa itu membuat Racun Bayangan Hitam jebol dari tekanan meridiannya. Chou Tian terhuyung ke belakang, roboh berlutut di tanah tepat di depan Sun Chen. Darah hitam pekat mengalir deras dari mulut dan hidungnya, membasahi tanah kering di bawahnya.
"Pelindung Merah!" seru Lu Gu cemas seraya melangkah maju menopang pimpinannya.
Pelindung Merah memegangi tangannya yang terkulai lemas. Ia menatap Chou Tian yang terbatuk darah dengan pandangan tajam. Jumlah anak buah elitnya kini hanya tersisa kurang dari separuh, dan tangannya sendiri mengalami luka dalam yang parah.
"Cukup," kata Pelindung Merah seraya mengusap darah di balik topengnya. "Kita mundur."
Lu Gu terkejut. "Tapi Pelindung, bocah itu—"
"Tua bangkai itu sudah memakan racunnya sendiri," potong Pelindung Merah dengan suara serak. "Tanpa bantuan ahli medis tingkat tinggi, meridian utamanya akan hancur total dalam waktu dekat. Kita tidak perlu membuang sisa pasukan kita malam ini. Mundur!"
Dengan Isyarat tangan cepat, sisa-sisa pembunuh elit itu segera melompat mundur dan menghilang ke dalam kegelapan Hutan malam bersama Pelindung Merah dan Lu Gu.
Suasana Lembah Batu Pecah kembali sunyi. Puing-puing gubuk bambu dan tanah yang hancur menjadi saksi bisu keganasan pertempuran malam itu.
Sun Chen segera berlutut di samping gurunya. "Guru! Guru, tahan!"
Chou Tian merintih pelan, menyapu darah hitam dari bibirnya menggunakan lengan jubahnya yang koyak. Wajahnya kini sangat pucat, dan napasnya terdengar amat berat.
Pria tua itu menatap murid kecilnya, lalu tersenyum tipis. "Lembah ini... tidak bisa lagi kita tempati, Sun Chen. Mereka akan kembali dengan pasukan yang lebih besar."
"Saya paham, Guru," kata Sun Chen, matanya menunjukkan tekad bulat. "Kita harus pergi dari sini."
Chou Tian mengangguk pelan. "Ada seorang sahabat lama di Provinsi Selatan yang pernah berutang budi padaku. Dia memegang ilmu pengobatan yang tinggi dan memiliki bahan-bahan obat langka. Kita harus menuju ke sana untuk menekan racun ini, sekaligus memulai latihanmu di dunia luar."
Sun Chen membantu gurunya bangkit berdiri. Mereka melangkah ke dalam puing-puing gubuk yang tersisa.
Tidak banyak barang yang mereka rapikan. Chou Tian hanya mengambil sebuah kantong kain kecil berisi beberapa keping koin perak, wadah salep obat, dan sebatang jubah bersih. Pria tua itu tidak memedulikan harta benda atau peralatan lainnya yang hancur.
Melihat hal itu, rasa hormat Sun Chen kepada sang guru kian membumbung tinggi. Chou Tian mengajarkan kepadanya secara langsung bahwa seorang pendekar sejati tidak pernah terikat pada tempat atau harta duniawi; kekuatan sejati berada di dalam raga dan keteguhan jiwa.
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur, memancarkan garis-garis cahaya keemasan yang mengusir keabuan malam.
Di mulut celah tebing yang menjadi jalan keluar dari Lembah Batu Pecah, Sun Chen menghentikan langkahnya sejenak. Ia membalikkan badan, menatap ke arah gubuk bambu yang kini tinggal puing-puing di dasar lembah. Tempat itu telah menjadi rumahnya, tempat ia melangkah pertama kali di kehidupan keduanya ini, dan tempat ia menemukan seorang guru sejati.
Chou Tian berdiri di sampingnya, menepuk bahu kecil Sun Chen pelan. "Mari pergi, Muridku. Jalan di depanmu masih sangat panjang."
Sun Chen mengangguk mantap. Ia berbalik dan melangkah berdampingan bersama gurunya, meninggalkan Lembah Batu Pecah menuju perjalanan luas di Benua Tengah.
Namun, tanpa disadari oleh mereka berdua...
Jauh di atas puncak tebing batu yang paling tinggi, berselimutkan sisa kabut pagi yang dingin, sesosok pria berdiri diam. Ia mengenakan jubah abu-abu tanpa lambang sekte apa pun, memegang sebilah seruling kayu di jemarinya. Matanya yang dingin dan tajam mengawasi punggung Chou Tian dan Sun Chen yang perlahan menjauh dari lembah.
Pria bermata dingin itu mengangkat seruling kayunya ke bibir, membuahkan nada lembut yang tersapu angin pagi.
"Akhirnya mereka keluar dari persembunyian," bisiknya pelan pada keheningan fajar. "Mulai sekarang... permainan yang sesungguhnya dimulai."