NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Obsesi Putra Mahkota

Terjebak Dalam Obsesi Putra Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Saasaa

Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.

Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.

Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.

Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.

Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hal Tak Terduga

"Semua kebutuhan untuk berburu sudah siap, Yang Mulia. Dan sesuai perintah, hutan yang akan Anda datangi sudah diamankan. Para tamu Baginda Raja tidak akan mengganggu kegiatan berburu Anda," lapor Colin sambil menundukkan kepala.

Erlan hanya mengangguk pelan.

Kawasan istana kerajaan memiliki sebuah hutan buatan yang sangat luas. Pepohonan tinggi tumbuh rapat, sungai kecil mengalir di beberapa bagian, dan berbagai hewan buruan dipelihara di sana. Tempat itu memang dikhususkan sebagai kawasan berburu keluarga kerajaan, terutama bagi Pangeran Erlan yang sering menggunakannya untuk melepas penat setelah berhari-hari tenggelam dalam urusan kerajaan.

Hari ini sebenarnya hutan itu ramai. Banyak bangsawan tamu kerajaan yang juga ingin berburu sebagai bagian dari perayaan tahunan. Namun Erlan sama sekali tidak berniat berbagi kawasan dengan mereka.

Dia sudah cukup lelah menghadiri jamuan, mendengar pujian yang terdengar dibuat-buat, serta melayani percakapan basa-basi yang menurutnya membuang waktu.

Karena itulah sejak pagi ia memerintahkan para ksatria untuk menjaga jalur yang akan dilewatinya agar tidak ada seorang pun tamu kerajaan yang mendekat.

Erlan mengambil busur kebanggaannya, kemudian menyampirkan tabung berisi beberapa anak panah ke punggungnya. Colin mengikuti dari belakang.

Mereka keluar dari kediaman pribadi Erlan, sebuah istana megah yang berdiri terpisah dari istana utama Raja. Bangunan itu sengaja dibangun agar sang putra mahkota memiliki tempat yang tenang untuk bekerja maupun beristirahat.

Baru beberapa langkah melewati hamparan padang bunga, Erlan mendadak menghentikan langkahnya. Ia memejamkan mata sesaat. Hembusan angin membawa sebuah aroma yang begitu dikenalnya.

Manis.

Lembut.

Aroma itu langsung membangkitkan ingatannya pada seorang gadis yang beberapa hari terakhir terus memenuhi pikirannya. Tanpa sadar Erlan berbelok meninggalkan jalan menuju hutan.

"Yang Mulia?" Colin mengernyit."Bukankah arah hutannya bukan ke sana?"

Namun melihat Erlan terus berjalan tanpa berkata apa-apa, Colin memilih diam. Ia hanya mengikuti dari belakang walaupun dipenuhi rasa penasaran.

Sementara itu Erlan terus melangkah mengikuti arah datangnya aroma tersebut. Semakin dekat langkahnya, semakin jelas aroma itu tercium.

Hingga akhirnya pandangannya berhenti pada seorang gadis yang sedang berjongkok di tengah hamparan bunga. Gadis itu tampak sibuk memetik beberapa bunga, tanpa menyadari ada seseorang yang memperhatikannya.

Sudut bibir Erlan terangkat tipis, ternyata instingnya masih berfungsi dengan baik, tanpa perlu menebak dia sudah yakin jika gadis itu adalah...

"Nandikara Winter." Suara rendah itu membuat gadis tersebut langsung menoleh. Kedua mata bulatnya membesar karena terkejut.

"P-Pangeran Erlan?" Elisa berdiri tergesa-gesa sambil menepuk-nepuk rok sederhananya yang terkena tanah.

Gadis itu masih sama, kedua mata bulat yang indah, bibir mungil, dan dengan aroma tubuh yang manis, namun tiba-tiba alis Erlan berkerut, gadis itu kembali memakai pakaian pelayannya. Dan entah kenapa itu sangat membuatnya kesal? Dia berjalan sendirian tanpa pelayan, seolah tidak memperdulikan bahaya bagi dirinya sendiri.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Colin bergerak maju, suaranya terdengar begitu tegas. Tatapannya penuh curiga."Kawasan ini sudah di jaga ketat. Seharusnya tidak ada orang berkeliaran di sekitar sini."

Elisa membuka mulut hendak menjelaskan."Aku hanya..."

"Colin." Suara Erlan langsung memotong.

Colin menoleh cepat."Yang Mulia?"

"Pergilah."

Colin terdiam. Dia langsung mengerti maksud dari Pangeran Erlan.

"Hari ini aku ingin berburu sendiri."

Nada suara Erlan tetap datar, namun cukup untuk membuat Colin langsung menundukkan kepala.

"Baik, Yang Mulia." Sebelum pergi, Colin sempat melirik Elisa beberapa kali.

Siapa sebenarnya gadis itu? Dan sepertinya Pangeran Erlan mengenalnya? Meski dipenuhi rasa ingin tahu, Colin tetap memilih menaati perintah.

"Kalau begitu saya permisi." Tak lama kemudian, langkah Colin menghilang di balik pepohonan.

Kini hanya tersisa Erlan dan Elisa yang berdiri saling berhadapan di tengah padang bunga yang diterpa angin.

"Kau berkeliaran sendiri, dengan menggunakan pakaian pelayanmu lagi," Suara Erlan entah kenapa terdengar begitu tajam. Membuat Elisa gugup.

"A-aku..."

"Kalau begitu ikutlah denganku, kau ingin menjadi pelayan bukan?" Tanpa menunggu jawaban Elisa, Erlan berbalik."Kebetulan hari ini aku membutuhkan seorang Pelayan untuk menemaniku berburu."

Kalimat itu terdengar seperti putusan hukuman bagi Elisa, tetapi dia salah apa? Masa hanya karena memetik bunga dia dihukum seperti ini? Dan kenapa ekspresi wajah Pangeran Erlan terlihat begitu kesal?

***

Hutan buatan milik kerajaan itu begitu luas hingga ujungnya nyaris tak terlihat. Pepohonan tinggi menjulang rapat, membentuk lorong-lorong alami yang teduh. Cahaya matahari hanya mampu menyelinap melalui sela-sela dedaunan, menciptakan bercak-bercak keemasan di atas tanah. Suara burung saling bersahutan, sementara angin berembus pelan membawa aroma tanah basah dan dedaunan.

Di depan, Pangeran Erlan berjalan dengan langkah tenang. Pedang tergantung di pinggangnya, sementara busur panjang telah berada di tangannya. Sesekali ia mengamati sekitar dengan tatapan tajam, seolah mampu menangkap setiap pergerakan kecil di dalam hutan.

Sementara itu, Elisa berjalan beberapa langkah di belakangnya. Kedua tangannya memegang tempat anak panah milik sang pangeran yang terasa cukup berat. Meski hanya bertugas membawakan perlengkapan berburu, wajahnya sudah tampak pucat sejak memasuki kawasan hutan.

Baginya, tempat ini memang indah. Namun tujuan mereka sama sekali tidak, yaitu berburu.

Elisa menggigit bibir pelan. Dadanya terasa sesak setiap kali mengingat alasan mereka datang ke tempat ini. Ia adalah pecinta hewan. Sejak kecil ia selalu merasa iba melihat makhluk hidup terluka, bahkan seekor burung yang jatuh dari sarang pun pernah ia rawat sampai bisa terbang kembali.

Dan sekarang, Pangeran Erlan justru mengajaknya menyaksikan hewan-hewan itu dipanah.

"Kenapa harus aku..." gumamnya lirih hingga nyaris tak terdengar.

Erlan tiba-tiba mengangkat tangan, memberi isyarat agar Elisa berhenti berjalan.

Pandangan tajamnya tertuju ke balik semak-semak. Tak lama kemudian terdengar suara ranting patah. Seekor rusa muda muncul dengan langkah hati-hati, sama sekali tidak menyadari keberadaan mereka. Tanpa ragu Erlan mengambil satu anak panah dari tempat yang dibawa Elisa.

Gerakannya begitu cepat dan terlatih. Busur ditarik. Tatapannya lurus mengunci sasaran.

Elisa menahan napas."Jangan..." batinnya memohon.

Suara tali busur berdesing memecah keheningan.

Sret!

Anak panah melesat begitu cepat hingga nyaris tak terlihat. Sesaat kemudian...

Bruk!

Rusa itu roboh.

Elisa refleks memejamkan mata. Dadanya berdenyut nyeri. Ia benar-benar tidak sanggup melihatnya lebih lama. Namun perburuan belum berakhir. Beberapa saat kemudian Erlan kembali menemukan sasaran lain. Kali ini seekor kelinci putih yang sedang melompat di antara rerumputan.

Anak panah kembali dilepaskan. Tubuh kecil itu langsung terjatuh tanpa sempat melarikan diri.

Elisa membeku. Matanya mulai memanas. Ia hampir ingin menangis. Baginya, kelinci kecil itu sama sekali tidak pantas menerima nasib seperti itu.

"Ambil." Suara Erlan terdengar datar.

Elisa menoleh perlahan. Tatapan sang pangeran mengarah pada kelinci yang baru saja dipanahnya. Namun Elisa tetap mematung. Kakinya seolah kehilangan tenaga untuk melangkah.

"Ambil," ulang Erlan sekali lagi.

Tetapi Elisa masih tidak bergerak sedikit pun.

"Kau harus mendalami peranmu, bukankah kau sedang menjadi pelayan? Ambil itu dan bawa padaku, Nandikara."

Elisa hanya diam, tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Kepalanya terus menunduk. Jemarinya mencengkeram tempat anak panah semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia ingin menurut, namun setiap kali melihat tubuh kelinci itu, langkahnya seolah terkunci.

Tanpa Elisa sadari, Pangeran Erlan telah melangkah menghampirinya. Langkahnya nyaris tak bersuara. Hingga tiba-tiba bayangan tinggi itu sudah berdiri tepat di hadapannya. Jarak mereka kini begitu dekat.

Sangat dekat.

Elisa bahkan dapat merasakan hawa hangat tubuh pria itu. Karena terus menunduk, wajahnya nyaris saja menabrak dada bidang sang pangeran. Tinggi badannya hanya sebatas dada Erlan, membuat sosok pria itu terasa semakin menjulang di hadapannya. Elisa tentu saja panik. Jantungnya berdegup semakin cepat, dia bahkan lupa bagaimana caranya bernapas dengan normal.

"Angkat wajahmu jika aku sedang berbicara, Nandikara." Dagu Elisa disentuh perlahan hingga wajahnya terangkat. Mau tak mau mata mereka bertemu. Tatapan Erlan tetap setenang biasanya, tetapi entah mengapa justru membuat Elisa semakin gugup.

"Kau seorang gadis bangsawan, berjalan seorang diri di tengah-tengah padang bunga, yang bahkan tidak setinggi badanmu. Bagaimana jika ada seorang pria asing yang mengikutimu dan melakukan hal yang tidak-tidak karena mengira kau hanya seorang pelayan, yang di mata para pria bajingan, pelayan tidak ada harganya? Kenapa kau selalu ceroboh? Apa kau tidak tahu jika kau memiliki wajah yang sangat cantik? Apa kau juga tidak tahu jika aroma tubuhmu bisa menjadi penyebab seorang pria menjadi lupa diri?"

Elisa hampir pingsan. Ucapan Pangeran Erlan itu sungguh di luar dugaan. Wajahnya memanas dalam sekejap. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin itu bisa mengucapkan kalimat seperti itu dengan ekspresi setenang langit.

Begitu sentuhan di dagunya terlepas, Elisa buru-buru mundur beberapa langkah dari sosok tinggi di hadapannya. Jantungnya masih berdetak kacau. Bahkan telinganya terasa berdenging. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tidak satu kata pun berhasil keluar dari bibirnya.

Erlan memandangnya sesaat, lalu mengembuskan napas pelan."Jika kau sudah mengerti, pergilah. Colin akan mengantarmu sampai ke tempat Winter."

Tanpa menunggu jawaban, Erlan berbalik dan kembali melangkah memasuki hutan, meninggalkan Elisa yang masih berdiri kaku seperti patung.

Beberapa saat kemudian terdengar langkah kaki mendekat.

"Lady Nandikara."

Colin membungkukkan badan dengan hormat. Rupanya dia sudah diberitahu jika Elisa adalah seorang bangsawan dari keluarga winter.

"Yang Mulia memerintahkan saya mengantar Anda kembali ke kediaman keluarga Winter."

Namun Elisa masih belum bergerak. Pikirannya benar-benar kosong. Ucapan sang pangeran terus terngiang-ngiang di dalam kepalanya.

"Apa kau tidak tahu jika kau memiliki wajah yang sangat cantik?"

"Apa kau juga tidak tahu jika aroma tubuhmu bisa menjadi penyebab seorang pria menjadi lupa diri?"

Elisa berkedip beberapa kali. Lalu tanpa sadar menepuk kedua pipinya sendiri pelan.

"Astaga..."

Ia benar-benar merasa seperti baru saja disambar petir.

1
Iin Istiana
kak....... lgiii yaaaaaa😄😄😄
Saasaa: siap, ditunggu ya
total 1 replies
Iin Istiana
kak klo bisa panjangin dikit yaaa🤭
Saasaa: sedang diusahakan, terimakasih udah baca 😄
total 1 replies
Riska Yulia
tambah lg ka
Saasaa: siap, udah di up ya.. selamat baca
total 1 replies
Iin Istiana
go go go ..... semangat.....
Saasaa: terimakasih sudah baca
total 1 replies
Iin Istiana
pokoknya harus selesai sampai hapy ending awasss aja klo mandek tengah jln
Riska Yulia
asupan nya kurang ka😭😭😭😭
Saasaa: besok lagi ya 🤭
total 1 replies
Iin Istiana
jangan lama² yaaa cuayannnnkuuu😄
Saasaa: udah di up bab baru, selamat baca
total 1 replies
Riska Yulia
ok cuma satu ka😭😭😭
Saasaa: udah diup ya bab yang baru, selamat baca
total 1 replies
Irmha febyollah
ko lama update nya kk
Saasaa: udah di up ya, bab barunya, selamat baca😍
total 1 replies
Iin Istiana
lagi yukkkkkk
Saasaa: besok 🤣
total 1 replies
Riska Yulia
lanjut ka tanggung🤭🤭
Saasaa: lanjut besok 🤣
total 1 replies
Iin Istiana
bagus ceritanya pokoknya harus hapy ending jangan mandek di jln
Saasaa: terimakasih sudah baca ya 😍
total 1 replies
Iin Istiana
up
Iin Istiana
lanjuuuuujttt pokoknya harus up lagiiii🤭
Riska Yulia: MLM ini juga lanjut nya ka,
total 2 replies
Riska Yulia
update lg ka, seru baca nya
Saasaa: done ya, selamat baca...
total 1 replies
Riska Yulia
semangat 💪,
Saasaa: terimakasih sudah baca 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!