Suara tangisan bayi di ruang bersalin malam itu tidak membawa kebahagiaan bagi Husein. Bagi pria itu, jeritan napas pertama putri kecilnya adalah detik terakhir dari hembusan napas wanita yang paling dicintainya. Istrinya mengembuskan napas terakhir tepat setelah merenggang nyawa demi melahirkan sang buah hati.
"Namanya... Kirana Husein..." bisik Husein dengan suara bergetar, memeluk tubuh istrinya yang telah mendingin tanpa sedikit pun menatap bayi di dalam boks bayi.
Sejak hari itu, Kirana tumbuh bukan sebagai lambang cinta, melainkan sebagai bayangan duka yang teramat dalam bagi Husein. Setiap kali melihat wajah polos Kirana, yang terbayang di benak Husein hanyalah penderitaan dan kepergian istrinya. Rasa benci yang tidak adil mulai mengakar di dada Husein. Bagi Husein, kehadiran Kirana adalah alasan utama mengapa belahan jiwanya telah tiada.
Demi menjauhkan Kirana dari pandangannya, Husein mengirim putri tunggalnya itu ke sekolah asrama di tempat yang sangat jauh sejak usia K
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembalasan Tanpa Ampun
Melihat Kirana tersiksa oleh rasa panas yang membakar tubuhnya, dada Devan terasa bergemuruh hebat. Tatapan matanya yang tajam melunak, digantikan oleh kehangatan dan rasa cinta yang begitu mendalam.
Aku suamimu, aku yakin tindakanku kali ini tidak salah, ucap Devan mantap dalam hatinya.
Ia menyadari bahwa tindakan ini terpaksa melanggar perjanjian mereka untuk saling memberi waktu. Namun malam ini, keselamatan dan ketenangan Kirana adalah prioritas utamanya. Ia tidak akan membiarkan racun keji itu merusak wanita yang sangat dicintainya.
"Devan... tolong aku..." lirih Kirana, suaranya serak dan gemetar. Jemari lentiknya meremas kuat kemeja Devan, mencari kepastian di tengah kesadarannya yang kian menipis.
Devan mendaratkan kecupan lembut di dahi Kirana, menyalurkan rasa aman yang menenangkan gelombang panas di tubuh istrinya. "Aku di sini, Kirana. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Merasakan sentuhan hangat dan tatapan tulus dari Devan, perlahan ketakutan di dalam hati Kirana memudar. Di balik kabut pengaruh obat, nurani Kirana menyadari sepenuhnya siapa pria di hadapannya—seorang suami yang selalu pasang badan melindunginya, menghargainya, dan tak pernah memaksakannya.
Kirana menyunggingkan senyum tipis, lalu menyentuh rahang tegas Devan dengan jemarinya yang hangat, memberikan sinyal kerelaan dan kepasrahan yang utuh dari dasar hatinya.
Malam itu, di kamar utama yang hening dan temaram, tembok keraguan akhirnya runtuh sepenuhnya. Devan menyambut penyerahan diri istrinya dengan segala rasa hormat, kelembutan, dan kasih sayang yang membara. Tanpa ada lagi kebohongan atau bahaya yang mengancam, malam yang semula penuh intrik itu berubah menjadi malam pertama yang suci dan tak terlupakan bagi Devan dan Kirana.
Badai kehangatan yang menyatukan dua insan itu akhirnya mereda. Kirana tertidur begitu pulas di atas tempat tidur berukuran king size, napasnya kini teratur dan wajahnya tampak begitu damai. Tanpa sehelai pakaian pun yang menutupi kulit mulusnya, Devan menarik selimut tebal berbahan sutra hingga menutupi dada sang istri dengan sangat lembut, memastikan Kirana merasa hangat dan nyaman.
Ia mengecup dahi Kirana cukup lama, menyalurkan rasa cinta dan terima kasih atas malam pertama yang begitu indah dan berharga.
Namun, begitu Devan beranjak turun dari tempat tidur dan mengenakan celana panjang serta jubah tidurnya, kelembutan di wajahnya menguap tanpa bekas. Sorot matanya kembali berubah menjadi dingin, tajam, dan mengerikan—aura penguasa dunia gelap yang tak tersentuh kembali terpancar sempurna dari dirinya.
Devan melangkah menuju balkon kamar yang sepi, membiarkan angin malam menerpa wajah tegasnya. Ia merogoh ponselnya lalu menekan sebuah nomor terenkripsi.
Hanya dalam satu kali dering, panggilan itu langsung terhubung.
"Tuan Devan," suara berat di ujung telepon terdengar penuh penghormatan.
"Siska dan dua pria yang mencoba menyentuh istriku... di mana mereka sekarang?" tanya Devan dengan suara bernada rendah, sangat tenang namun sarat akan ancaman mematikan.
"Anak-anak sudah mengamankan mereka di gudang tua, Tuan. Mereka sudah 'diberi pelajaran' sesuai perintah Anda," jawab anak buahnya dari dunia bawah tanah.
Devan menyunggingkan senyum dingin yang mengerikan di balik kegelapan malam.
"Bagus. Sekarang serahkan mereka bertiga ke kantor polisi pusat. Pastikan seluruh bukti rekaman video di kantor, rekaman di restoran, hingga bukti pembelian obat berbahaya itu diserahkan ke meja kapolda," perintah Devan tanpa ampun. "Buat kasus ini terkunci rapat. Aku tidak mau melihat Siska atau dua pria itu menghirup udara bebas lagi. Pastikan hukuman penjara maksimal menjerat mereka."
"Baik, Tuan Devan! Perintah dilaksanakan segera."
Devan mematikan sambungan telepon. Ia melemparkan ponselnya ke meja, lalu melangkah kembali ke dalam kamar.
Begitu matanya menatap sosok Kirana yang masih terlapas tidur pulas di balik selimut tebal, raut wajah dingin Devan seketika mencair. Ia kembali naik ke atas ranjang, menyusup ke dalam selimut, dan merengkuh tubuh hangat istrinya ke dalam pelukan erat—siap menjaga Kirana dari bahaya apa pun di dunia ini.