NovelToon NovelToon
Janji Di Atas Kertas

Janji Di Atas Kertas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Neng Wendah

Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.

Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.

Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

~ Bantaian Di Hadapan Media

Suasana di Ballroom Adhyastha Tower dipenuhi kilatan lampu kilat flash kamera yang tak henti-hentinya menyilaukan mata. Puluhan wartawan dari berbagai media cetak papan atas, portal berita *online*, hingga jaringan stasiun televisi nasional sudah berjejal sejak setengah jam lalu. Kehadiran mereka yang begitu membludak dipicu oleh undangan konferensi pers darurat yang dikeluarkan secara mendadak oleh divisi Humas Adhyastha Group.

Di balik pintu kaca tebal ruang tunggu VIP, Reno berdiri tegap di depan cermin raksasa seraya merapikan kancing jas hitamnya. Raut wajah tampannya dingin bagaikan es, dipadu dengan sorot mata kelam dan tajam yang sanggup mengintimidasi siapa pun yang berani menatapnya secara langsung.

Pak Aslan melangkah mendekat dengan langkah cepat seraya menyerahkan sebuah tablet digital. "Tuan Reno, saham Hermawan Corp sempat melonjak naik delapan persen akibat klaim sepihak Miss Clara tadi pagi. Pihak Hermawan Corp bahkan sudah mulai menggiring opini pasar bahwa kerja sama ini diikat oleh aliansi keluarga. Saat ini, seluruh jaringan stasiun TV utama sudah terhubung secara siaran langsung menunggu pernyataan resmi dari Anda."

"Bagus," ujar Reno singkat, suaranya terdengar begitu berat, dingin, dan penuh intrik yang berbahaya. "Biarkan mereka menikmati puncak kebahagiaan dan lonjakan sementara itu... sebelum saya meruntuhkannya hingga ke dasar dalam hitungan detik."

Reno mendorong pintu kayu jati megah tersebut dan melangkah keluar menuju podium utama. Seketika itu juga, gemuruh suara jepretan kamera, serbuan sorot lampu kilat, dan bisik-bisik riuh para wartawan menggema memenuhi seluruh sudut ruangan yang megah tersebut. Dengan gerakan tenang, tegap, namun sarat akan kuasa dan wibawa, Reno duduk di kursi utama podium, didampingi Pak Aslan di sisi kiri dan tim hukum senior Adhyastha Group di sisi kanan.

Seorang wartawan senior dari media berita terkemuka langsung berdiri dan mengacungkan mikrofonnya dengan antusias. "Selamat siang, Tuan Reno Adhyastha! Terkait pernyataan resmi Miss Clara Hermawan pagi tadi mengenai rencana aliansi pernikahan antara Adhyastha Group dan Hermawan Corp, apakah hal tersebut membenarkan rumor yang beredar bahwa Anda dan Miss Clara memang akan segera melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat?"

Reno menarik mikrofon di depannya perlahan. Pandangan matanya yang tajam menatap lurus tepat ke arah puluhan kamera yang menyiarkan siaran tersebut secara langsung ke seluruh pelosok negeri.

"Selamat siang," panggil Reno, suaranya tenang namun menggelegar penuh wibawa yang tak tertandingi, membungkam seluruh keriuhan di ruangan. "Saya berdiri di sini untuk menyampaikan bantahan resmi, mutlak, dan tegas atas seluruh pernyataan tidak berdasar yang dikeluarkan oleh Clara Hermawan pagi tadi."

Ruangan konferensi pers yang tadinya bising seketika hening mencekam. Para wartawan saling pandang dengan riak terkejut yang luar biasa, tidak menyangka respons dari sang CEO akan sekeras dan setegas ini.

"Tidak ada aliansi pernikahan, tidak ada pertunangan, dan tidak ada hubungan personal apa pun antara saya, Reno Adhyastha, dengan Clara Hermawan," lanjut Reno tanpa ragu sedikit pun, setiap kata yang diucapkannya bernada mutlak. "Pernyataan yang disampaikan oleh pihak Hermawan Corp adalah kebohongan publik yang tidak memiliki landasan hukum maupun fakta sama sekali."

Para wartawan mendadak riuh kembali, berebut melempar pertanyaan berikutnya dengan penuh gairah. "Namun Tuan Reno, pihak Hermawan Corp menyebutkan adanya kesepakatan proyek investasi mega-properti yang mengikat kedua belah pihak secara emosional dan bisnis!"

Reno menyunggingkan senyum sinis yang amat tipis di bibir tegasnya. "Investasi bisnis adalah murni kerja sama korporasi secara profesional. Dan karena tindakan tidak profesional serta penyebaran informasi palsu yang merugikan nama baik Adhyastha Group hari ini, tim hukum kami resmi membatalkan seluruh rencana investasi dengan Hermawan Corp detik ini juga!"

Gebrakan pernyataan Reno bak petir yang menyambar di siang bolong! Keputusan tegas sang CEO Adhyastha Group itu secara otomatis meluluhlantakkan ambisi bisnis Hermawan Corp dan dipastikan akan membuat saham perusahaan milik keluarga Clara anjlok drastis dalam hitungan menit!

Sementara itu, di sebuah kediaman mewah kawasan Jakarta Selatan, Clara Hermawan membanting cangkir porselen mahal di tangannya hingga hancur berkeping-keping di atas lantai marmer. Suara pecahan keramik yang keras memantul di dalam ruangan yang luas itu. Wajah cantiknya berlipat penuh amarah yang membara hebat saat menyaksikan siaran langsung konferensi pers Reno di layar televisi raksasa.

"Brengsek! Berani-beraninya kamu mempermalukan aku dan Hermawan Corp di hadapan seluruh media nasional, Reno?!" jerit Clara histeris penuh emosi yang membuncah.

Asisten pribadinya bergidik ketakutan di sudut ruangan, memegang tablet dengan tangan bergetar hebat. "M-Miss Clara... saham perusahaan kita langsung merosot tajam empat belas persen dalam waktu lima belas menit setelah pembatalan investasi oleh Tuan Reno..."

"Tutup mulutmu!" bentak Clara tajam, matanya menyipit penuh dendam yang membakar jiwa.

Clara mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga jemarinya memutih dan gemetar. Selama ini, Reno tidak pernah bertindak seekstrem ini hanya karena rumor media. Pria itu biasanya memilih bersikap acuh tak acuh, tenang, dan membiarkan divisi Humas mengurusnya secara berkala tanpa perlu melakukan eksekusi sekeras ini. Namun kali ini, Reno bergerak begitu cepat, tegas, dan seolah ingin membendung sesuatu dari publik dengan sangat protektif.

"Ada yang tidak beres..." gumam Clara dengan raut wajah penuh kecurigaan yang amat dalam. "Reno bukan tipe pria yang akan bereaksi secepat dan sekejam ini tanpa alasan kuat. Dia seperti sengaja ingin membendung rumor ini agar tidak terdengar atau menyakiti seseorang..."

Clara melangkah cepat mendekati meja kerjanya, lalu merengkuh ponsel mewahnya dan menghubungi seorang detektif swasta kepercayaan keluarganya.

"Halo? Ini Clara," ujar Clara dengan nada suara dingin, tajam, dan penuh intrik licik. "Saya mau kamu selidiki seluruh kegiatan pribadi Reno Adhyastha dalam dua bulan terakhir. Cari tahu dengan siapa dia tinggal, siapa saja wanita yang sedang dekat dengannya, dan apa yang dia sembunyikan dari media. Saya mau laporannya berada di meja saya secepatnya!"

Di saat yang sama, di dalam penthouse megah milik Reno, suasana terasa begitu hening, hangat, dan tenang. Udara siang yang damai menyelimuti ruangan besar bernuansa modern itu. Aura duduk di sofa ruang tengah, menatap layar televisi yang baru saja menyelesaikan penayangan siaran langsung konferensi pers Reno.

Melihat betapa tegas, cepat, dan lugasnya Reno membantah rumor tersebut demi menjaga nama baik keluarga serta kesehatan Nenek Ratna, dada Aura berdesir hangat. Rasa khawatir dan ketidaknyamanan yang sempat menyelimutinya perlahan surut sepenuhnya, berganti dengan rasa lega yang membuncah.

Pintu utama penthouse terbuka halus, memperlihatkan sosok Reno yang melangkah masuk seraya melepaskan ikatan dasinya yang terasa agak menjerat leher usai ketegangan di gedung konferensi. Pria itu tampak sedikit lelah, namun aura ketegasannya masih terpancar jelas.

Aura bangkit dari duduknya, melangkah pelan mendekati Reno dengan senyuman sejuk yang begitu menenangkan. "Kamu sudah pulang? Bagaimana situasinya di kantor?"

Reno menghentikan langkahnya, menatap Aura yang berdiri anggun di hadapannya dengan gamis santainya. Raut wajah dingin sang CEO perlahan melunak begitu melihat sorot kepedulian yang tulus di mata wanita itu.

"Semuanya sudah diatasi," jawab Reno dengan suara beratnya yang mengalun lega. "Media sudah memuat rilis resmi bantahan kita. Nenek tidak akan mendengar rumor aneh-aneh lagi."

Aura mengangguk penuh rasa bersyukur, mengukir senyum tipis yang amat menyejukkan hati. "Terima kasih banyak ya, Reno. Kamu bergerak cepat sekali demi menjaga perasaan Nenek dan meluruskan krisis ini."

Mendengar ucapan terima kasih dan melihat senyuman tulus dari Aura, Reno hanya berdehem pelan untuk menutupi getaran hangat yang mendadak menggebu di dadanya. Namun, jauh di balik rasa leganya, Reno tahu bahwa Clara Hermawan tidak akan tinggal diam begitu saja usai dipermalukan dan dirugikan secara publik.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
Neng Wendah: Terima kasih banyak Kak Rian sudah mampir! Selamat menikmati kisahnya ya 😊🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!